Tampilkan postingan dengan label pokoknya random. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pokoknya random. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2020

Doa tapi nuntut?!

Kalau kamu gak percaya Tuhan, maka ini bukan entri yang sesuai untuk kamu. Tapi jika kamu percaya Tuhan, maka mari coba introspeksi masing-masing, siapa tahu kamu adalah salah satu pelakunya.


Blogger gak tahu dengan agama lain, tapi sebagai orang Kristen (Pentakosta), sejak kecil Blogger diajari bahwa 'doa' berarti bicara dengan Tuhan (Yesus). Semakin besar (umur), Blogger makin menyadari bahwa berdoa itu gak mesti selalu lipat tangan + tutup mata + ngomong 'amin' di akhir rangkaian doa. Jangan salah, tiga hal itu penting, ketiganya adalah sikap doa yang benar, tapi mereka bukanlah yang utama. Lipat tangan dan tutup mata adalah sikap agar kita fokus pada Tuhan, biar tangannya gak garuk-garuk (dan sebagainya), biar matanya gak kena distraksi macem-macem, dan itu juga diakui (di agama Kristen) sebagai sikap yang benar saat berdoa. Sedangkan kata 'amin' kata yang menyatakan bahwa pendoa percaya bahwa Tuhan akan (mendengar dan) mengabulkan apa yang didoakan. Dalam doa untuk memimpin jemaat atau syafaat berantai (A berdoa, lalu lanjut B berdoa, dst), kata ini sangat berguna untuk tahu kalau A (dan lainnya) telah selesai doa bagiannya.

Lalu, kenapa Blogger bilang bahwa ketiga sikap itu bukan yang utama? Iyalah, kembali pada arti kata 'doa' itu sendiri: bicara pada Tuhan! Ketika kamu dalam kondisi yang tidak bisa lipat tangan + tutup mata tapi dalam hati berseru 'Tuhan!', itu berarti kamu berdoa. Ketika kamu deg-degan parah di pinggir tebing, cemas banget bakal jatuh, kedua tangan sibuk pegangan biar gak terhempas ke bawah, gak mungkin kan kamu lepasin tangan kamu dari pegangan biar bisa lipat tangan? Enggak gitu! Dalam keadaan gak bisa lipat tangan + tutup mata tapi kamu berseru 'Tuhan, tolong aku', gak sempet ngomong 'amin' karena keburu jatoh, sebenernya tadi itu kamu udah berdoa, karena kamu BICARA pada Tuhan dan Dia denger!

Oke, mari sekarang omongin judul. Kebanyakan orang, ketika sedang doa, lupa tentang arti doa yang menyatakan 'bicara pada Tuhan'. Kadang, atau sering, orang kalau berdoa, mereka menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu. Enggak, tunggu, memang benar kalau ada apa-apa kita bisa bahkan harus minta ke Tuhan, itu benar. Tapi caranya tolong diperhatikan.

Contoh paling gampang dan yang mungkin merupakan doa sehari-hari adalah tentang cuaca. Setiap pagi Blogger mendoakan cuaca untuk seharian, malamnya Blogger mengucap syukur soal cuaca hari itu. Ayo ngaku, kamu doa untuk cuaca kayak gimana? Sebagian besar orang akan berdoa:

"Tuhan, berikan cuaca yang cerah."

Atau, kalau memang kebutuhanmu, atau sedang menghindari sesuatu, kamu akan berdoa biar hujan. Masalahnya, bagaimana jika itu tidak menjadi bagian rencana Tuhan? Gimana kalau besok kamu mau main ke lapangan lalu doa besok cerah, dikabulin, tapi saat main bola itu kamu tertimpa papan? Gimana kalau Tuhan berencana besok hujan lebat biar kamu gak ke lapangan, sebagai gantinya kamu dapat gadget baru? Itu cuman perumpamaan.

Terus, doanya gimana?

"Tuhan, berikan cuaca yang BAIK, yang SESUAI KEHENDAK-MU."

Gitu. Jadi mau terik, hujan, badai, salju sekali pun, kamu tahu bahwa Tuhan punya rencana!

Jangan menuntut Tuhan untuk melakukan A, B, C, dst. Jangan menyalahkan Tuhan jika terjadi A, B, C. Blogger juga manusia, sering mengeluh dan minta ini-itu seenaknya ke Tuhan. Tapi mari belajar sama-sama tentang ini.

Dalam agama Kristen, Tuhan Yesus bukan hanya Allah, tapi juga Bapa. Masalahnya, banyak orang yang mentang-mentang Dia adalah Bapa, lalu minta ini-itunya seenak jidat.

Yuk belajar.
Gak usah bilang 'Tuhan, aku udah melakukan ini-itu, sekarang aku minta ini-itu'. Enggak, lu kira ini barter.
Kalau memang gak hapal Doa Bapa Kami, seenggaknya kamu bisa mulai doa kamu dengan mengucap syukur. Banyak hal yang bisa kamu terimakasihin: 'Tuhan, terimakasih untuk HARI INI, terimakasih SEMALAM TIDUR PULAS/NYENYAK, terimakasih pagi ini bangun masih BISA BERNAFAS'. YES, SESIMPEL ITU!! Malemnya, sebelum bobok, belajar bilang: 'Tuhan, terimakasih aku bisa menjalani HARI INI. Susah sih, tapi terimakasih SUDAH SERTAI DALAM PERJALANAN." Loh, kok santai banget? Ya gapapa, kan kita sedang bicara, bukan laporan. Dan dalam agama Kristen, kita sedang ngomong dengan Bapa, loh, gak usah tegang (tapi tetep tau diri juga). Malah, Blogger hampir selalu sapa Tuhan dulu ketika berdoa formal (bukan doa spontan): "Selamat pagi/siang/sore/malam, Tuhan Yesus!". Yaaaahh, untungnya gak pernah kebablasan sampai tanya udah makan apa belom.

Setelah bilang terimakasih, coba kamu cerita hari ini kamu ngapain aja. Gak usah panjang lebar. Mau panjang juga gapapa sih, cuman kalau gak terbiasa ya kamu bakal kebingungan mau ngomong apa. Kalau udah terbiasa, kamu bakal semangat sendiri saat ceritain harimu. Misal kalau kamu masih pelajar, bisa aja kamu bilang bahwa Guru X tadi ngajarinnya bikin bingung sampai kamu minta tolong temen kelas sebelah ngajarin ulang. Bisa juga kamu cerita tentang berita di TV yang bikin kamu cemas (uhuk, corona, uhuk), lalu kamu berusaha ungkapin apa yang bikin kamu cemas.

Lalu, kamu ngomong apa yang kamu inginkan. Bisa aja kamu minta ini-itu sambil cerita tentang hari ini. Misalkan kamu gak ngerti pelajaran dari Guru X, lalu minta Tuhan agar otak kamu disegerin, atau minta Tuhan bantu kamu cari cara untuk mengerti pelajaran itu lebih lanjut (jangan sampai minta biar Guru X besok gak masuk loh ya). Inget, apa pun yang kamu minta, jangan maksa Tuhan, jangan nuntut, jangan ancam. Kalau Tuhan mau, saking sebelnya dengan doamu, Dia bisa aja petik jari agar kamu jadi abu (uhuk, Avengers, uhuk). Akrab dengan Tuhan itu harus, tapi tetap hormati Dia juga. 

Segala sesuatu yang terjadi itu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai izin Tuhan, sekali pun kamu pikir itu adalah sesuatu yang sangat merugikan kamu. Contoh nyata yang sedang dihadapi dunia saat ini: virus Corona. Blogger juga cemas parah. Blogger takut dan bingung dan sebal tentang penyebaran virus yang parah ini. Blogger sampai ngomong kata 'sebel' saat berdoa tentang ini. Tapi tetap ingat, Tuhan punya rencana. Tuhan akan mengganti segala kerugian yang kamu tanggung (uhuk, Ayub, uhuk).

Terakhir, ini juga penting. Jika inisiatif berdoa, berarti kamu percaya Tuhan akan dengar dan kabulkan jika sesuai kehendak-Nya. Tapi inget, jangan terlalu buta juga. Jangan mentang-mentang udah doa, lalu kamu santai gak mau ikut berjuang alias cuman mau terima bersih. Contoh paling gampang adalah kamu berdoa diberi kelancaran saat ulangan besok, tapi gak mau belajar, lalu besoknya dapat nilai jelek atau ketahuan nyontek, habis itu nyalahin Tuhan. GAK GITU CARANYA WOI. Elu harus tetep belajar, anggap aja bantuin Tuhan untuk mengabulkan doa lu sendiri.

Doa itu penting. Tetap ingat definisi 'berdoa' = 'bicara', bukan 'laporan'.
Akrab dengan Tuhan itu penting. Tetap hormati dan beri respek Penciptamu.
Percaya Tuhan itu penting. Tetap berusaha juga, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (uhuk, kitab Yakobus, uhuk).

Rabu, 26 Februari 2020

Genap Setahun!

Blogger gak nyangka, 26 Januari 2020 ini sudah genap setahun untuk blog super random ini! WOOOOO~~~~


Eh beneran, ketika awal buat blog baru ini, Blogger kirain bakal kayak 4 blog sebelumnya, yang musti tunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk muncul entri baru, bahkan pernah berapa tahun kemudian baru nongol! Enggak, gak udah cari blog yang jadul itu, karena genap tahun lalu mereka semua telah berhasil dihapus. MWAHAHAHAHAH //cukup

(anggap aja blog rewind 2019)

Padahal niatnya tahun lalu blog ini buat ajang membacot ria secara frontal untuk hal-hal yang gak mau Blogger omongin di FB dan IG. Kalau gak salah, pada akhirnya, curhatan yang beneran itu pakai Harvest Moon (yah ketahuan). Terus bacotan ringan yang sama sekali gak pakai fandom ada juga, kadang sebulan sekali, kadang gak pernah---padahal niatannya seminggu ada sekali entri tanpa bawa fandom, tapi gagal dilaksanakan. Tapi Blogger pribadi merasa bangga, bahwa setidaknya dalam sejak tahun lalu setidaknya ada satu entri dalam seminggu, walau biasanya itu hanya ulasan Boruto.

Ada banyak bahasan dalam otak yang Blogger niat untuk ngetik, tapi kemudian males, makanya isi Blog ini jadi terasa monoton. Tapi cinta ini tetap luar biasa.

Tahun lalu Blogger pernah ngetik tentang gak tahu mau dibawa ke mana hubungan kita blog ini. Iya tahu namanya random, tapi tetap saja harus punya inti, jangan semua dicampur (yah, kalau dilihat sekarang selama setahun ini beneran nyampur sih).
Blogger sempet mikir kalau blog ini mau berisi ulasan mengenai novel yang Blogger baca, tapi kok males gitu ngetiknya, apalagi sudah ada goodreads, dan Blogger males nulis hal yang sama dengan Blogger lakukan di IG (padahal di instagram juga bukannya Blogger mendedikasikan itu sebagai bookstagram). Tapi Blogger baru tahu bahwa di IG ada batas karakter untuk sekali unggah, jadi kalau memang bacotannya panjang, Blogger pernah taruh di sini.
Mau taruh ulasan manga, yah, di goodreads juga ada manga, kok. Dan belakangan, mungkin sudah dari 2 tahun lalu, Blogger pakai fitur instastory untuk ulas singkat manga bahkan yang hanya punya 5 chapter. Tapi pernah, saking sukanya dan banyak bacotan mengenai serial manga tertentu, Blogger tulis di sini.
Kalau ulas tontonan, Blogger bingung karena bukan orang film sama sekali. Kalau pun dibahas, biasanya itu karena memang ada yang ganjal di hati Blogger dan pengen dikeluarin. Dulu Blogger taruh begituan di FB, cuman makin ke sini pemikiran Blogger tentang hal-hal tersebut semakin banyak sehingga susah kalau ditulis di FB. Dan karena bukan orang film, jadi Blogger biasanya hanya ulas plot dan penokohan.

Jadi nulis ulasan Super Sentai per-season, Power Rangers per-season, perbandingan SS dan PR, Boruto perepisode (sejak episode 95), dan Detective Conan perkasus (sejak episode 943) itu pada mulanya gak masuk dalam pikiran Blogger. Yah, sekarang jadi rutinitas sih, biar tetep ada entri tiap minggu minimal untuk Boruto.

Beberapa bacotan tambahan tentang Super Sentai dan Power Rangers juga gak Blogger duga. Maksudnya kalau bahas tentang satu season dan perbandingan, masih okelah. Tapi Blogger gak habis pikir untuk ngetik semisal masalah Bibidebi di Megaranger atau tentang Justin Stewart. Dan mungkin saking gabutnya, Blogger inget pernah jadi sorting hat untuk para tokoh PR, pengandaian mereka masuk Hogwarts.

AMPUN RANDOM BANGET.

Jadi, yah, karena mengusung tema random, makanya isi blog ini gado-gado banget. Tapi dengan banyaknya review yang tidak berkualitas, Blogger seneng karena blog ini enggak dianggurin lebih dari 2 minggu selama setahun ini.

Untuk ke depannya, Blogger gak bisa janjiin apa-apa, karena selama ini janji di dalam entri juga belum bener direalisasikan. Kemungkinan besar gak bakal cari serial (anime) lain untuk dibahas perepisode seperti Boruto dan Detective Conan, setidaknya dalam waktu dekat. Gak janji untuk bahas suatu dorama atau serial per-season seperti Super Sentai dan Power Rangers. Tapi mungkin kalau terjun ke fandom besar, atau fandom yang tiba-tiba panas banget dalam otak Blogger (seperti kasus Mr Hiiragi's Homeroom), Blogger akan ketik di sini.


... yah, kemungkinan besar terima kasih pada jiwa fangirl Blogger.

Rabu, 01 Januari 2020

Bangun tidur: cari HP atau cari Tuhan dulu?

Judul di atas itu adalah pertanyaan yang mungkin sudah berapa kali kamu dengar dari tokoh agama (pendeta, pastur, ustad, biksu, dll) saat mereka khotbah. Atau, bagi orang yang sering baca renungan, mungkin bakal nemu pertanyaan begitu.

Jadi maksud dari pertanyaan itu adalah mengetes seberapa kita mendahuluhkan Tuhan dalam hidup orang yang memeluk agama tertentu. Pertanyaan pada judul entri ini adalah pertanyaan sederhana banget, basic. Karena memang, ketika bangun tidur, kamu mau cari Tuhan (dengan berdoa) atau langsung cari ponsel (lalu buka sosmed)?

Blogger adalah seorang Kristen sejak lahir. Dan ketika besar pun memutuskan untuk tetap mengikut Yesus, bahkan ambil pelayanan di Sekolah Minggu. Harusnya, karena mengajar anak-anak, Blogger akan jawab bahwa Blogger cari Tuhan dan bukan HP saat bangun tidur. Tapi benarkah begitu?

#timcariHP

Iya, Blogger memang selalu cari ponsel dulu ketika terbangun, bukannya berdoa. Ini bukan pengakuan dosa. Blogger gak merasa berdosa saat menjawab ini.

Loh, kok gak merasa berdosa?

Oke, begini penjelasan simpelnya: MAU LIHAT JAM.

Ketika terbangun, di luar masih gelap. Gak tahu saat itu jam berapa: entah masih sesubuh jam 2-3 pagi yang bisa Blogger lanjutkan tidur sebentar, atau sebenarnya sudah jam 6 tapi sedang mendung banget dan Blogger harus bangun. Nah, Blogger cari ponsel untuk lihat jam, untuk menentukan sudah saatnya bangun atau belum. Kalau masih jam 2 pagi, Blogger tidur lagi. Kalau sudah jam 5 pagi, ya Blogger memutuskan bener bangun dan doa pagi sebelum beraktivitas apa pun. Gitu.

Jadi kalau ditanya secara pribadi, sebagai orang Kristen yang beriman, Blogger saat bangun tidur cari HP dulu atau Tuhan, Blogger akan jawab cari HP. Iya, cari ponsel, nyalain layar, lihat jam, lalu memutuskan untuk balik tidur atau bangun. Kalau mau bangun, berdoa dulu, gitu.

Makanya kalian-kalian juga gak usah sok fanatik gitulah saat merespon pertanyaan gitu. Apa? Kamu gak ngecek jam di HP? Hmmm, tapi kamu ngelihat jam dinding/weker/dst kan?

Sudah tiga tahunan ini sejak pindah ke Jakarta, Blogger gak ngecek jam lewat ponsel saat bangun tidur. Blogger udah beli jam meja yang ada tombol untuk nyalain layarnya---jadi maksudnya karena Blogger selalu matiin lampu kamar untuk tidur, karena gelap, butuh jam yang bisa dinyalain layarnya (makanya Blogger awalnya lihat jam di layar HP saat terbangun). Ketika terbangun, daripada ponsel, tangan Blogger raba-raba cari jam di samping ranjang dulu. Ketika nginep di luar rumah, Blogger gak bawa jam yang bersangkutan, kembali pakai layar HP lagi.

Berarti, sebelum mencari Tuhan saat bangun tidur, sudah jadi naluri alami manusia untuk cari jam. Tapi kembali lagi, sebelum beraktivitas setelah bangun itu, memang sebaiknya sapa Tuhan dulu. Jadi, gak usah fanatik, lah, mentang-mentang ternyata beneran ada yang berani di umum bilang dia cari HP saat bangun tidur, belum tentu dia main/buka sosmed, siapa tahu dia cari HP untuk lihat jam.

Rabu, 25 Desember 2019

Tukar Kado

Bukan tradisi bagaimana sih, tapi memang biasanya ada acara tukar kado saat Natal. Blogger gak tahu gimana dengan agama lain, tapi banyak orang Kristen dan Katholik, dan biasanya anak muda, yang melakukan ini di bulan Desember.

Sebut saja Komunitas X. Jadi karena komunitas ini tergabung dalam gereja yang Blogger hadiri ibadahnya, Blogger jadi ikut tukar kado bareng mereka jika diadakan. Masalahnya, setiap kali tukar kado dengan Komunitas X ini, Blogger selalu dapat zonk. Oke, enggak, gini, jumlah kado yang ditukar jelas sesuai dengan jumlah peserta. Kalau kamu gak bawa kado untuk ditukar, berarti harusnya kamu gak boleh dapat juga---kecuali kalau ada yang berbaik hati banget. Tapi, kalau memang kamu gak punya atau gak bisa beli suatu barang layak untuk tukar kado, jangan memaksakan diri hanya karena ingin dapat hadiah.

Blogger ingat, 2 tahun lalu dapat zonk parah. Memang dikasih harga minimal kado adalah 25ribu, dan bukan barang yang bisa habis seperti makanan---karena biar bisa ada kenangannya. Kalau mau lebih ya silakan, tapi jangan sampai kurang. Ya Blogger kasih barang standar orang tukar kado: antara botol minum, kotak bekal, binder, atau figuran foto---yang pasti Blogger kasih harganya sesuai dengan ketentuan. Tebak apa yang Blogger dapat setelahnya:

6 buah gelas beling hadiah odol yang ada namanya pada gelas tersebut, dan kotaknya dari kotak nasi bekas yang masih ada nama merek dagang tahu.

Gila parah banget. Kalau memang gak ada kotak biar gampang bungkus, Blogger sama sekali gak masalah. Udah biasa kok, kotaknya apa, isinya apa. Orang bungkus kado ultah juga bisa begitu, walau selama ini gak ada yang pakai kotak bekas makanan. Tapi isinya itu loh. Gak masalah kalau kamu bungkus (untuk tukar kado) sesuatu yang memang ada di rumah, atau bekas hadiah yang lain. Tapi gak gitu juga bambaaaangg.

Tahun lalu Blogger gak ikutan, karena memang gak tahu kalau mereka mau tukar kado. Tapi tahun ini Blogger ikut lagi. Dapat zonk, walau iya masih lebih baik dari insiden gelas itu. Handuk kecil yang masih ada plastik segel minimarket terkenal dan sabun batang umum yang papa Blogger jual di pasar.

Handuk kecilnya masih okelah, walau plastik segelnya itu yang membuat orang putar mata, terlebih lagi tertera harganya di sana, yang kalau ditambah dengan harga sabun itu ternyata gak nyampe 15ribu. Masalahnya, sabun adalah sesuatu yang bisa habis. Jika sabunnya adalah sabun yang jarang ada, Blogger masih gak masalah. Tapi, yah, begitulah.

Itu adalah uneg-uneg Blogger. Bukan gak mau bersyukur, cuman kok kayaknya Blogger selalu tidak beruntung kalau tukar kado bareng mereka---Blogger juga ada tukar kado dengan 2 komunitas lain dan selalu baik-baik saja. Yah, namanya juga tukar kado sih, tapi sekali lagi, kalau memang gak ada barang layak untuk ditukar, jangan memaksakan diri untuk ikutan. Kamu kasih sesuatu yang buat orang kesel, tapi malah dapat sesuatu yang bagus.

Jadi, bagaimana tukar kado yang enak?

Selain Komunitas X, Blogger ada tukar kado dengan Y dan Z. Komunitas Y adalah dari gereja lain, dan Komunitas Z anggap saja genknya Blogger.
Sama seperti Komunitas X, kedua komunitas lainnya kasih batas harga juga. Tapi syarat lainnya bukan hanya tentang barang tersebut bisa dikenang (gak boleh habis).

Komunitas Y selalu buat daftar barang yang gak boleh diikutsertakan. Seperti, gak boleh botol minum merek A dan B, kotak bekal merek C, barang-barang bermerek D dan E, dan sebagainya. Saat suatu fandom sedang mencuat luar biasa sehingga banyak barang bergambarkan fandom tersebut, maka barang-barang dengan gambar fandom itulah yang dilarang. Bukan kami gak suka merek-merek dan fandom yang dimaksud, tapi pemikiran orang paling gampang saat cari hadiah tukar kado yang barang-barang itu, sehingga seperti di rumah Blogger aja udah numpuk baik dari hadiah tukar kado atau hadiah permainan dari Komunitas X. Omong-omong, barang-barang hadiah gratisan atas pembelian barang (seperti odol) dan nama mereknya ada pada barang tersebut juga masuk black list untuk tukar kado Komunitas Y.

Komunitas Z beda lagi. X dan Y itu, karena dari gereja, satu sama lain mungkin gak begitu mengenal menyeluruh. Tapi di Z, karena genk, jadi satu sama lain bisa lebih mengenal semua. Cara kami tukar kado, selain ada rentang harga (iya, bukan harga minimal, melainkan rentang), tiap tukar kado caranya beda.
Pernah kami sepakat untuk beli kado di toko F yang ada di mall G dengan rentang harga tertentu, tapi kami gak tahu apa yang masing-masing beli. Pergi belinya sendiri-sendiri, lalu ketemu di tempat H untuk tukar kado. Ada kemungkinan beli dan dapat barang yang sama, sih, tapi setidaknya gak bakal kena zonk.
Pernah juga kami sepakat untuk beli barang (untuk tukar kado) dengan suatu fandom tertentu, pakai rentang harga. Karena semuanya suka Harry Potter dan kebetulan fandom itu punya banyak merchandise dan buku, yaudah. Ada kemungkinan mendapat sesuatu yang sebenarnya kita sudah punya, tapi kami abaikan karena anggap tambah koleksi.
Tahun ini, kami sepakat untuk beli notebook sebagai hadiah tukar kado, dan itu harus dari fandom-fandom tertentu. Sejauh ini, yang Blogger sering lihat di suatu  toko langganan, notebook yang bisa diincar adalah dari Harry Potter, Fantastic Beasts, Grishaverse, Minecraft, dan Game of Thrones. Blogger beli Grishaverse dan dapat Harry Potter, entah dari fandom apa saja yang disertakan. Ada kemungkinan kita dapat dari fandom yang kita beli juga, bukan berarti dapat punya sendiri melainkan ada yang lain yang belinya samaan. Gapapa, anggap aja koleksi.

Begitulah. Mungkin benar-benar karena di Komunitas X itu ada orang yang gak tahu diri (?) dan memaksakan diri agar dapat hadiah, atau memang Blogger-nya aja yang sensi karena tukar kado bareng orang-orang yang saling mengenal.

Sabtu, 20 Juli 2019

Telor Pecahan

Ini terjadi kemarin, tepat sehari sebelum Blogger ngetik entri ini (entah kapan baru diunggah).
Papa punya toko sembako di pasar, barang dagangannya ada banyak sebangsa bawang putih, ketumbar, gula, garam, mi instan, bihun, terigu, micin, kopi, sabun mandi, sabun cuci, pewarna makanan, susu, telor, dsb.

Kalau gak salah kemarin telor papa kasih harga sekilo 24.000, yang pecah sebutir seribu. Persis di depan toko papa itu ada toko khusus jual telor (ayam dan bebek). Jadi beda dengan papa yang nyetok telor cuman berapa peti, di depannya berpeti-peti. Jadi maksudnya kalau mau beli banyak atau khusus beli telor ya silakan disana aja. Langganan papa yang udah beli sama papa sebelum toko telor itu ada, masih beli di papa sih, cuman kalau lagi habis ya pindah ke depan, toh harganya sama juga.

Kemarin, saat Blogger sedang jaga sendiri, ada kejadian yang entah Si Pembeli ini stres atau cuman becanda. Terjadinya di toko telor sih, bukan toko papa. Tapi karena pas ada Blogger, ya kedengeran. Begini:

Ibu 1: "Mbak, telornya sekilo berapa?" 

Mbak: "24.000." 

Ibu 2 (temen ibu 1): "Pecahannya berapa?" 

Mbak: "Satunya seribu."


Oke, jeda sebentar. Mungkin ada yang belum ngeh, tapi jelas pecahan sebutir harganya lebih murah dibanding sebutir yang bagus. Kalau kamu belum pernah beli telor sendiri, sini Blogger kasihtahu. Biasanya, entah di toko lain gimana, tapi selama ini Blogger nimbang telor buat orang beli itu, sekilo isinya sekitar 16 butir, tergantung besar dan kecilnya---kalau pas besar semua ya paling 15, kalau kecil semua ya 17. Sekarang anggaplah 16 butir (yang bagus) itu harganya 24.000. Kalau kamu beli yang pecah 16 butir, harganya hanya 16.000, beda 8.000 dari yang bagus. Blogger gak pernah beli telor yang pecah sih, tapi setiap hari pasti ada aja orang yang tanya dan beli pecahan. Seringnya kalau ada orang belanja terus total harganya nanggung, ya mereka bilang seribu/duaribunya pakai pecahan kalau pas ada (ini gak selalu, kadang mereka mintanya micin).

Lanjut lagi dengan toko telor ya.

Ibu 1: "Yaudah sekilo aja."

Ibu 2: *tanya temennya sambil Mbak ambil telor* "Eh ini kita jadi bikin telor dadar?"

Ibu 1: "Yaaa terserah."

Ibu 2: * ngomong sama Mbak* "Mbak, ini kan saya mau buat telor dadar, kocoknya disini aja ya."

Mbak: "Hah?"

Ibu 2: "Iya, saya pecahin telornya disini biar langsung dikocok, jadi harganya pecahan."


Gak bohong, dalam hati Blogger kaget dan bingung. Itu ibu-ibu becanda atau emang stres? Masalahnya mereka gak sambil cengengesan tanyanya, kayak beneran tanya. Blogger liat Mbak cuman ketawa miris sambil bilang 'Ya gak bisalah, bu'.

Kamis, 11 Juli 2019

Pengen bikin kayak CinemaSins

Blogger bukan penggila situs Youtube. Sangat bersyukur akan kehadiran situs tersebut, iya, tapi biasa ajalah. Jadi kalau pada ngomongin tentang Youtube, maka mungkin Youtuber-Youtuber terkenal yang kamu sebut belum tentu Blogger tahu, apalagi yang dari luar Indonesia, makanya Blogger gak nonton Youtube Rewind versi global karena percuma gak ada yang dikenal.

Walau begitu, tetap ada beberapa Youtuber luar Indonesia yang Blogger sering nonton videonya sampai subcribe. Salah satu Youtuber luar pertama yang Blogger ikutin adalah CinemaSins. Jadi video-videonya tentang mereka menemukan 'celah' atau kesalahan atau 'dosa' dari film-film. Naratornya lucu menurut Blogger, dan ada beberapa yang Blogger iyain karena setuju. Karena mungkin permintaannya makin banyak, CinemaSins buka cabang untuk anime (Anime Sins), serial TV (TV Sins), dan yang terbaru untuk kartun (Cartoon Sins)---kalau gak salah ada yang untuk game juga, tapi Blogger lupa. Blogger gak tau ada cabang (resmi) nya atau gak. Yang pasti belakangan Youtuber yang bikin video serupa tambah banyak, gak tau siapa duluan, tapi yang Blogger ikutin ya CinemaSins itu aja. Ada juga akun yang bersifat belain film/anime/serial/kartun, jadinya kebalikan CinemaSins itu, tapi Blogger males nonton karena lebih seru nyari kesalahan orang, betul?

Nah, Blogger gaptek. Dari entri pertama juga udah bilang gitu. Tapi gini, belakangan kalau nonton, Blogger sering kepikiran tentang 'dosa' para film dan serial yang Blogger tonton. Kadang nemuinnya saat nonton yang kedua atau ketiga kali. Tapi sekarang baru sekali nonton udah bisa komentar kayak Narator di CinemaSins. Jadinya kayak pengen bikin kayak CinemaSins itu, nge-sin yang ditonton.

Banyak yang bikin Blogger geregetan, terutama karena belakangan ini tontonannya adalah Detective Conan-Super Sentai-Power Rangers yang katanya tontonan anak kecil, nemu 'dosa'nya banyak.

Tepat sebelum ngetik entri ini, yang entah kapan kemudian baru diunggah, Blogger baru selesai nonton Gosei Sentai Dairanger episode 22, banyak banget sinnya. Sayang sih Blogger gak bisa bikin dan edit video. Bersyukurlah kalian.

Sabtu, 29 Juni 2019

Jago bahasa Inggris, bangga?

Blogger gak jago bahasa Inggris. Yang kenal Blogger di FB/IG/RL pasti bilang sebaliknya. Tapi beneran, Blogger gak jago bahasa Inggris. Blogger hanya lebih bisa menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia daripada sebaliknya. Makanya kalau disuruh ngomong/nulis pakai bahasa Inggris bisa amburadul, padahal bacaan dan tontonannya pakai bahasa Inggris.

Kalau kamu jago bahasa Inggris, selamat, kamu menguasai salah satu bahasa Internasional tersebut. Jadi kalau kamu ke luar negeri, sekalipun orang lokal sana gak fasih, tapi kamu bisa ajak cuap-cuap dikit dengan bahasa Inggris.

Sekali lagi, Blogger gak jago, hanya sekedar bisa, dan manfaatnya sangat terasa.
Seperti, gak semua novel diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ada serial novel yang terdiri dari 8 buku, tapi yang diterjemahkan hanya 3 pertama (CHARLIE BONE!!!). Blogger sedih banget gak bohong. Gak cuman novel, tapi artikel-artikel dunia bisa kamu baca duluan daripada harus tunggu penerjemah---kalau mereka mau terjemahin. Pakai gugeltranslet? Hmmm, Blogger malah bingung dengan terjemahannya.
Contoh lain, game, hampir semua yang didistribusikan di Indonesia itu berbahasa Inggris. Sekarang mungkin sudah banyak yang berbahasa Indonesia karena karya anak bangsa, tapi yang memang produksi luar?
Satu lagi contoh adalah tontonan yang bukan produksi Indonesia. VCD/DVD yang tersebar di Indonesia rerata dijualnya yang sudah ada terjemahan bahasa Indonesia, sih. Belakangan situs donlot juga udah banyak yang khusus terjemahan Indonesia. Tapi, gak semua film ada. Banyak film, serial, dan animasi yang tidak punya terjemahan bahasa Indonesia. Mereka yang dubbingnya bukan bahasa Inggris (karena bukan film berbahasa Inggris), lebih tersebar gratis pakai bahasa Inggris. Kalau kamu gak bisa bahasa Inggris, berarti kamu harus cari lagi terjemahan bahasa Indonesia-nya. Ribet, kan?

Sebenernya bangga itu boleh banget kok, tapi jangan sampai kebanggaan kamu pada kebisaan berbahasa Inggris mengatasi kebisaanmu pada bahasa Indonesia atau malah bahasa daerahmu. Harusnya kamu jauh lebih bangga saat kamu berbicara dengan bahasa Indonesia secara fasih, menulis dalam bahasa Indonesia dengan EYD. Tahu mana yang benar: apotek atau apotik, nasehat atau nasihat, kualitas atau kwalitas, aktivitas atau aktifitas, dsb.

Karena, gini. Saat kamu jago bahasa Inggris, itu sudah biasa. Karena dia bahasa Internasional, berarti walau hanya dasar, bahasa ini diajarkan di semua negara di dunia, walau benar-benar hanya dasar. Dan karena bahasa Internasional, walau secara formal mereka hanya diajari dasarnya (mungkin gak semua sekolah, tapi intinya kamu paham kan?), mungkin mereka akan belajar otodidak/les tambahan untuk belajar bahasa Inggris lebih lanjut. Dengan kata lain, kalau kamu jago, sainganmu untuk jadi yang paling jago adalah seluruh dunia ini. Kalau kamu jago bahasa Inggris, ya, itu harusnya bukan hal yang istimewa atau wow lagi.

Sedangkan kalau kamu jago bahasa Indonesia (yang baik dan benar sesuai KBBI) atau malah bahasa daerahmu (batak, betawi, manado, dsb), kamu harus sangat bangga.
Jumlah negara yang memasukkan pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum (formal) itu mungkin bisa dihitung jari. Mungkin ada sekolah yang memasukkan bahasa ini ke ekskul, atau ada les yang mengajari bahasa Indonesia. Seorang teman chatting Blogger saat SMP asal Polandia bilang bahwa di sekolahnya, pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib. Belum tentu semua sekolah Polandia juga begitu. Dibanding bahasa Inggris, pelajaran bahasa Indonesia di seluruh dunia jelas kalah. Sedihnya, sekolah-sekolah di Indonesia makin kesini semakin menomorduakan bahasa nasional ini (Blogger bukan ngomongin sekolah taraf Internasional, tapi taraf Internasional pun harusnya tetap mengajarkan bahasa negara ini sendiri).
Saat ini penduduk Indonesia adalah sekitar 3.5% dari total 100% penduduk dunia, dan itu masih termasuk banyak mengingat masih ada sangat banyak negara lain dalam dunia ini. Berarti saat kamu jago bahasa Indonesia, kamu menjadi orang yang istimewa, karena jumlah orang yang jago bahasa Indonesia di dunia ini sedikit. Iya, banyak penduduk negara lain yang populasinya lebih sedikit, tapi kita lagi omongin bahasa Indonesia.
Negara Cina sendiri yang penduduknya paling banyak, mereka lebih mengutamakan bahasa mereka dibanding bahasa Inggris, bahkan sejak sebelum bahasa Mandarin ikut dijadikan bahasa Internasional.

Ayo dong, bangga sama bahasa nasional sendiri. Jangan sok ngaku cinta Indonesia tapi melulu ngomongnya 'I LOVE INDONESIA' pada orang yang ngerti bahasa Indonesia. Coba deh ngomongnya 'AKU CINTA INDONESIA', kan adem gitu.

Minggu, 23 Juni 2019

Makanannya dianter sekarang?

Blogger gak inget persisnya, tapi memang kayaknya setelah lewat umur 16-17, suara Blogger direspon orang sebrang telepon sebagai 'ibu'. Ya kalau sensi bisa aja bilang belum ibu-ibu, tapi kalau dari telepon, suara perempuan memang biasa direspon sebagai 'dek' atau 'buk', kan?

Jadi saat itu Blogger sekeluarga belum punya android, dan kalau pesan makanan masih pake telepon. Biasanya yang nelpon buat pesan sih Blogger. Mau siapa yang pengen makan, yang disuruh ngomong di telpon ya Blogger.

Blogger lupa umur berapa, kalau gak salah masih sekitar SMP, saat itu sedang bulan puasa. Daerah rumah Blogger saat itu gak susah cari makanan sebenernya, tapi memang mau puasa atau enggak tetep aja mereka adanya sore. Dan omong-omong, Blogger sekeluarga memang bukan Muslim, jadi puasanya gak ikut mayoritas.

Balik lagi. Blogger mau pesan makan pakai telpon pada siang hari. Karena masih SMP, suara Blogger saat itu masih disambut dengan 'dek'. Blogger gak inget persis perkataannya, tapi kurang lebih beginilah yang terjadi.

XYZ: "Terimakasih telah menghubungi resto XYZ, ada yang bisa dibantu?"

Blogger: "Mbak, saya mau pesan A, B, C, ya."

XYZ: "Alamatnya masih sama ya?" (Blogger memang sudah beberapa pesan kesana, jadi data pembelinya sudah ada)

Blogger: "Iya."

XYZ: "Ini mau dianterin sekarang?"

Blogger: (jelas bingung, kirain Blogger-nya yang salah denger, karena selama ini gak pernah dapet pertanyaan begitu) "Hah?"

XYZ: "Iya, ini makanannya mau diantar sekarang?"

Blogger: (nada mbaknya gak kayak becanda, tapi Blogger masih bingung) "Iyalah."

XYZ: "Dek, ayah atau ibunya ada?"

Blogger: "Iya ada."

XYZ: "Coba dipanggil sebentar."


Blogger langsung panggil mama yang memang ada di ruang tengah dengan Blogger. Mama jelas bingung juga, tapi ambil teleponnya. Setelah sekitar 2-3 'iya' dari mama, telepon ditutup. Karena masih gak ngerti, Blogger tanya kenapa. Mama bilang:

"ITU MBAKNYA KIRAIN KAMU DIEM-DIEM MAU BATAL PUASA. SUARA KAMU MASIH SUARA ANAK-ANAK MAKANYA DIA KAYAK MAU LAPORIN MAMA KALAU KAMU GAK PUASA."


Gini ya, ingetin orang puasa saat bulan puasa memang hal yang baik, KALAU ORANG YBS MEMANG IKUT PUASA. Sungguhan, itu sama sekali bukan pertama kalinya Blogger telpon pesan makanan saat bulan puasa. Tahun-tahun sebelum dan sesudahnya, atau bahkan di bulan tahun yang sama itu pun, Blogger pernah pesan. Sampai detik ini, yang kejadian kayak gitu baru sekali.

Tolong ya, kalian-kalian yang kerja di resto dan bertugas untuk angkat telpon layanan begitu. Kalau ada yang pesan makanan saat bulang puasa, suaranya kayak anak kecil sekali pun, gak usah diselidik sampai sebegitunya. Untung saat itu memang ada mama dengan Blogger. Nah kalau pas mama sedang gak di tempat atau bener-bener gak bisa megang telpon, atau mungkin pada kasus orang lain gak bisa bicara, lantas kami yang memang gak ikutan puasa itu gak bakal kalian anterin gitu pesanannya?

Sekali lagi, ingetin orang puasa itu baik, tapi pastikan kalau orang yang kamu sok ingetin itu benar sedang jalanin puasa.

Kamis, 06 Juni 2019

Rumah baru, banyak bersyukur dan ganti alamat

Blogger baru pindah ke Jakarta belum sampai genap dua tahun. Banyak kisah penuh ucapan syukur sampai kami bisa menempati rumah yang ini. Jelas saja, saat itu, yang punya ponsel pintar di rumah hanya Blogger, dan saat itu tidak ada modem internet di rumah lama dengan kata lain internetan leluasa hanya bisa lewat ponsel pintar Blogger itu. Koko punya sih, tapi dia di kos, jadi bener hanya Blogger yang punya di rumah.

Awalnya Blogger tinggal di Bekasi, sedangkan papa dari masih bujang memang sudah buka toko di Jakarta. Dulu masih belum macet dimana-mana dan tenaga masih lebih banyak daripada sekarang, jadi perjalanan satu jam sekali jalan dengan mobil dari rumah ke toko masih kuat. Tapi papa udah mulai berumur dan macet mulai merajarela. Sekali jalan dengan mobil bisa sampai dua jam lebih karena macet. Jadinya papa pergi saat subuh Blogger masih tidur dan baru bisa sampai di rumah saat malam ketika Blogger sudah tidur. Awal Blogger masuk SMP, Blogger baru bisa bener ketemu papa di rumah saat hari Minggu.

Jadi papa memutuskan cari rumah dekat toko (pasar).

Sekitar tahun 2014, papa sudah mulau minta Blogger cari rumah daerah pasar lewat bantuan internet. Yaudah, Blogger yang gak tau harus ngetik keyword apa ke Mpok Gugel, nekad aja ngetik 'beli rumah'. Eeeeehh, nemu satu situs yang isinya buat jual-beli-kontrak rumah/tanah/apartemen! Blogger gak tahu gimana dengan situs lain, tapi situs yang Blogger temuin itu lengkap dari segi bisa disortir berdasarkan daerah-rentang harga-luas tanah! Jadilah satu-satu Blogger simpen biar malemnya saat papa pulang bisa cek bareng.

Papa juga bukannya mau terima bersih, loh. Karena dia orang lama di pasar, maka orang-orang banyak yang udah kenal papa. Beliau sering tanya pelanggan yang tinggal di daerah situ kalau-kalau ada rumah yang mau dijual. Nemu beberapa dan papa survei sendiri, tapi ada yang gak sreg entah dari posisi rumah, harga, luas tanah, dan lingkungan sekitar.

Setahun lebih kemudian Blogger nemu satu. Pas luasnya yang papa mau, buka harganya masih oke karena bisa nego, dan posisinya persis di dua gang belakang pasar. Pakai perantara sih, gapapalah, kita juga pakai perantara juga: MAMA. Kemudian papa survei ke rumahnya, ternyata papa kenal orangnya!

Si Perantara ini pas kampung halamannya satu kota dengan papa, dan dia serta keluarga yang tinggal di rumah itu seiman dengan keluarga Blogger. Wah kok bisa pas banget? Jalan Tuhan atau gimana nih? Kemudian secara resmi mereka omongin soal harga, lalu urus ini-itu ke notaris panjang banget, tapi negonya sama sekali gak lama, kami tidak dipersulit mungkin karena bantuan notaris. Mama-papa korek-korek tabungan dijadiin satu buat jadi deal sekaligus buat bangun rumah.

Yes, bangun rumah. Dari awal papa memang cuman mau luas tanahnya aja. Rumah bobrok gak masalah karena memang mau bikin sendiri. Jadi rumah yang udah dibeli itu pada awalnya hanya jadi gudang sementara kami nabung lagi untuk bangun rumah. Sembari itu Blogger nemenin mama bolak-balik ke kecamatan yang disini untuk urus izin bangun rumah.

Nyari tukangnya gak ribet kok, karena tinggal panggil tukang langganan yang biasa betulin rumah. Setelah izin diurus, mulailah bangun rumah. Tiap minggu mama kontrol kesana, kalau papa yang tinggal jalan kaki dari toko.

Habis itu masih belum selesai! Ketika tinggal penyelesaian, Blogger ditarik mama cari furnitur. Barang-barang dari rumah lama tetep dibawa kok, cuman memang ada beberapa hal yang udah kelewat tua, sekaligus sekalian cari pajangan. Sejak tahap penyelesaian itu, hampir tiap hari papa keluar rumah dengan barang-barang rumah dalam mobil, termasuk buku-buku Blogger yang kalau gak salah perlu sekitar 19 dus.

Masih belum selesai! Kami belum benar pindah rumah. Semua-semuanya udah ada di rumah baru, termasuk sebagian besar pakaian, tapi kami belum boleh tinggal di rumah baru. Karena, pertama, belum ada ibadah pengucapan syukur. Kedua, keluarga besar Blogger chinese-nya masih rada kental, jadi tunggu hari baik. Mama udah cek kalender, setelah yakin mana hari baiknya, beliau memutuskan agar ibadah syukur diadakan dua hari sebelum hari baik, karena kita pindahannya saat hari baik itu.

Soal ibadah syukur, seminggu setelah rumah dibeli, papa undang seorang pendeta yang adalah teman seangkatannya saat remaja di gereja untuk didoakan disana. Saat itu, Om Pendeta bilang, sebelum pindahan kami harus ada acara doa dulu. Beliau bukan bilang bikin ibadah, ya, tapi papa-mama pikir sekalian ajalah, toh orang-orang gereja yang deket sama kami juga tahu rumah ini adalah pergumulan selama beberapa tahun terakhir.

Lagi-lagi mama ajak Blogger ikut pusing. Ya soal cari katering, kursi lipat, siapa mau diundang, posisi barang yang sudah ada di rumah baru biar gak ganggu tamu, bingkisan terima kasih buat para pendeta, sebagainya. Soal biaya, udah urusan papa.
Mengenai tamu, ini membuat kami dilema. Kami jemaat biasa di gereja, gak terkenal, biasa aja beneran, tapi kami orang lama. Mama sering ngobrol dengan Kaum Wanita, Papa sering ngobrol dengan Kaum Pria, Koko aktif di Remaja, Blogger aktif di Sekolah Minggu. Kalau kami kasih pengumuman ke jemaat umum, kok kayaknya sok terkenal banget. Jadi kami memutuskan untuk menghubungi setiap ketua komisi saja bahwa kami mengundang komisi-komisi tersebut. Yang membuat dilema adalah, sekali lagi, kami hanya jemaat biasa, memang seberapa sih yang bakal mau datang?

TERNYATA BANYAK.

Soal keluarga, yang tinggal di daerah Jakarta dan Bekasi semua sudah pasti datang, Blogger terharu lihatnya. Tapi soal orang gereja, Blogger kaget banget. Mungkin ada sekitar 4-5 mobil yang datang (nebeng dari gereja), belum dengan anak remaja yang nyusul dengan motor. Oke, mungkin karena itu hari Minggu, tapi tetep aja. Yang paling membahagiakan adalah teman-teman Blogger dari gereja yang di Bekasi juga datang, JAUH-JAUH, pakai dua mobil plus satu motor. Orang gereja Bekasi dan keluarga gak ikut ibadah sih, tapi datang aja Blogger udah mau nangis saking terharunya.

Fiuh, mungkin sudah jalan Tuhan.

Nah sekarang, tentang ada salah alamat.
Di awal Blogger bilang belum genap dua tahun nempatin rumah ini. Kami pindah ke rumah baru saat September 2017. Berarti orang lama yang tinggal disini setidaknya sudah pindah sejak 2016. Tapiiii, 2019 ini, masih ada aja surat/paket mereka yang dikirim disini. Gak ngerti kenapa mereka gak mau urus data dengan ganti alamat. Awal-awal, Blogger sekeluarga akan suruh pengantar surat/paket ke rumah sebelah karena memang rumah sebelah itu saudaranya pemilik lama rumah ini. Tapi belakangan, kok masih terus ya, jadinya kami memutuskan untuk cukup bilang 'alamatnya bener, tapi disini gak ada yang namanya itu'. Omong-omong, pernah ada yang ngotot loh. Itu bukan salah dia sih, tapi kitanya yang sebel. Untungnya, sambungan telepon rumah Blogger yang sekarang beda dengan sambungan telepon si pemilik lama. Kalau sama siiiiihhh, hhhhhhhh (hembus nafas berat banget).

Minggu, 02 Juni 2019

es teh tawar hangat tanpa gula

Yang sering main internet lalu buka sosmed yang isinya banyak meme dan segala macem lucu-lucuan pasti udah gak asing dengan perkataan 'pesan es jeruk hangat satu!' atau sejenisnya. Rada lucu dan aneh ya, karena dia mau 'ES', tapi 'HANGAT'. Blogger gak tahu ada apa enggak, tapi berarti Si Pemesan pengen es yang hangat, kan? Atau kadang bukan pemesannya yang ngaco, melainkan daftar menunya.

Pertama kali Blogger lihat begitu, Blogger rada ketawa sih, lalu ya jadi nyengir biasa aja. Tapi belakangan Blogger mulai berpikir setidaknya ada tiga hal penyebab fenomena tersebut.

Contohnya adalah 'pesan ES TEH TAWAR HANGAT TANPA GULA'. Ada 'es' yang dalam hal minuman sudah berarti kebalikan dari 'hangat', lalu ada 'tawar' yang memang sudah pasti 'tanpa gula'. Padahal aslinya tiga kata aja udah cukup kan: ES TEH TAWAR, atau TEH TAWAR HANGAT. Tapi disitu ada enam kata. Panjang, aneh, dan terlalu berbelit.

Entah bagaimana dengan kalian, tapi Blogger kepikiran tiga alasan terjadinya fenomena absurd tersebut.

Pertama, memang error. Tipe begini biasanya ngotot pakai es dan harus hangat. Mungkin maksudnya bisa dengan teh panas lalu masukin es batu. Sebisa mungkin pelayan harus bawa minuman tersebut ke meja pemesan sebelum esnya mencair semua. Atau, masukin es batunya ketika sudah ditaruh di meja pemesan. Mungkin ada minuman yang kayak gini, tapi Blogger gak tahu.

Kedua, gugup. Bukan karena mbak/mas pelayan/pemesan tampan/cantik, cuman memang ada banyak orang di muka bumi ini sering gugup kalau bicara. Gugup, bukan gagap ya, ini pakai huruf 'u', bukan 'a', yang pakai 'a' itu Azis Gagap. Atau bisa juga lidahnya 'keseleo' alias kesel sama leo. Kadang otak dan mulut gak singkron, bisa juga. Jadi mungkin mau pesennya ES TEH TAWAR, tapi gak sengaja HANGATnya kesebut, atau sebaliknya. Gak jarang TEHnya lupa kesebut. Makanya kalau dia datang bareng orang lain, coba bantu tanya ulang maksudnya apa atau yang mana, atau bisa dibantu pelayannya. Tapi ini gak bisa menjelaskan bagian TANPA GULAnya sih.

Ketiga, gak ngerti kata TAWAR. Untuk ES masih umum orang tahu lah. HANGAT itu mungkin masih cukup umum bagi orang yang udah biasa ke rumah makan atau lihat daftar menu. Sedangkan kata TAWAR, seumum-umumnya, mungkin yang paling gak umum dari rangkaian pesanan tersebut. Kalau makanan gak ada rasanya, selain TAWAR bisa bilang HAMBAR. Sedangkan kalau minuman, lebih sering dipasangkan dengan TAWAR, bukan HAMBAR. Bukan berarti Si Pemesan bodoh, tapi mungkin bahasa yang biasa dia pakai beda, atau memang bener gak tau artinya. Jadi saat lihat tulisan TEH TAWAR, karena gak ngerti arti kata 'tawar', dia main ceplos bilang 'jangan pakai gula'. Blogger bisa nulis gini karena salah satu paman Blogger begitu. Setiap kali ada di antara kami yang pesan teh tawar, dia ingetin pelayan 'teh tawarnya jangan kasih gula ya' atau sejenisnya.

Itu aja sih yang Blogger kepikiran. Mungkin ada yang lain? Bisa aja.

Omong-omong ini hanya tentang minuman ya, mungkin gak bisa dipakai untuk menjelaskan kasus 'pesan warna green tapi dikasih warna hijau'.

Selasa, 14 Mei 2019

Berbuat baik, tapi dipamerin

Pencetus entri ini adalah saat makan siang, Blogger nonton berita infotaimen tentang ada artis yang nyamar jadi orang kekurangan dan minta-minta ke jalan, habis itu orang yang kasih sedekah dengan 'baik' misalkan kasih makan atau apa, artis ini setelahnya bakal kasih uang. Lalu acara infotaimen ini menyuguhkan beberapa video lain tentang aksi serupa para artis yang kebanyakan Youtuber.

Berbuat baik ya memang bagus, apalagi untuk orang yang membutuhkan. Kalau direkam lalu dibagikan? Bagi Blogger itu agak aneh.

Gini, video-video yang ditampilkan di acara infotaimen itu, semuanya direkam oleh kru si artis, dengan kata lain memang dari si artis ini yang pengen aksinya direkam lalu jadi konten di misalkan akun youtube-nya. Dari proses edit ini-itu, semua dari si artis dan atau krunya. Berarti video tersebut dibuat secara sadar dan sengaja. Terlepas dari dia sebenarnya tulus berbagi atau enggak, bagi Blogger, mereka terlihat pamer---berbuat baik kok harus dipamerin? Mungkin maksudnya biar kasihtahu bahwa berbuat baik ada banyak cara dan salah satunya dengan cara begitu. Tapi tetep, kenapa harus dipamerin?

Lain kalau misalkan saat sang artis nyamar dan berbuat baik, tahu-tahu ada orang sebut saja XYZ sadar bahwa orang itu adalah artis kemudian direkam-masuk sosmed-viral. Memang ada kemungkinan XYZ masih kru artis yang bersangkutan, tapi ini masih bisa terlihat tulus.

Blogger bukan bermaksud nyinggung atau suruh orang berhenti berbagi kebaikan. Bukan gitu. Blogger hanya ingin kasih pendapat tentang para tokoh publik yang ngakunya enggak pencitraan tapi yang mereka lakukan terlihat seperti pencitraan. Ini murni pendapat Blogger, mungkin seiring berjalannya waktu bisa berubah pikiran. Tapi untuk saat ini, ya begitu.

Minggu, 28 April 2019

OTP karam, Fanfiksi bertindak!

OTP Blogger ada banyak banget. Oke iya tahu OTP itu kependekan dari One True Pairing, one berarti satu. Tapi, fandom Blogger ada banyak banget, dari yang supernonmainstream sampai supersupermainstream, dari yang terdaftar di ffn sampai gak terdaftar pun hayuk. Jadi kalau bener OTP Blogger cuman satu, kasian fandom lain entar kiranya Blogger pilih kasih /bukangitu.

Uhuk.
Seperti kalimat pertama Blogger, OTPnya banyak, yah setidaknya setiap fandom ada satulah, atau fandom besar sebangsa Naruto dan Harry Potter mungkin bisa dua. Tapi untuk Blogger sendiri, OTP yang bener-bener OTP itu tidak hanya untuk yang buat ber-KYAAAAA-ria alias nge-fangirling(atau fanboying)-ria saat lihat A dan B barengan.

Misal, iya Blogger ship Harry Potter dengan Draco Malfoy, atau Draco Malfoy dengan Hermione Granger. Kalau mereka sedang bareng, Blogger cengin aja, terus mingkem-mingkem saat lihat fanfiksi atau fanart tentang mereka. Tapi Blogger gak pernah bener-bener nge-ship mereka. Biasa aja. OTP Blogger di fandom HP malah Fred Weasley dengan Hermione Granger.

Contoh lain, di fandom Naruto Blogger sangat cengin Uchiha Sasuke dengan Uzumaki Naruto, beneran deh. Tapi dari Blogger pun gak masalah Naruto dengan Hinata, dan Sasuke dengan Sakura. OTP Blogger di fandom ini adalah Kiba dengan Hinata, karena sampai saat ini masih percaya bahwa Kiba adalah satu-satunya orang selain Kurenai yang memahami Hinata (lebih lanjut akan di bahas suatu hari nanti di entri tersendiri jika ingat).

Blogger gak pernah dan berusaha untuk jangan sampai fanatik dengan suatu shipping, yang crack sekalipun, mau itu demen atau yang gak Blogger demen. Karena, terutama di fandom besar sebangsa Naruto dan Harry Potter, hater untuk beberapa karakter tertentu banyak, seperti Hinata atau Sakura, sampai-sampai ada yang rajin nge-flame fanfiksi SasuSaku atau SasuHina atau NaruHina atau NaruSaku. NIAT BANGET GITU.

Entah siapa duluan pencetusnya, yang pasti situs-situs fanfiksi yang sekarang makin berjamur dan mudah diakses itu menjadi semacam wadah bagi mereka yang ngeship suatu pasangan. Gak jarang loh ada shipping supernonmainstream yang kalian pikir kalian adalah satu-satunya manusia yang ngeship mereka ternyata ada orang lain selain kalian kemudian jadi temenan lalu merit. Dapat teman seperjuangan dalam ngeship suatu pasangan itu adalah kegunaan nomor sekian dari situs fanfiksi.

Jadi apa kegunaan nomor satu dari situs fanfiksi?

AJANG PELAMPIASAN.

Kalau soal belajar nulis itu sudah agak pasti, tapi nulis kan bisa dimana-mana. Nah kalau situs fanfiksi itu, baik penulis maupun pembacanya, biasanya itu menjadi pelampiasan mereka karena karakter A enggak jadi dengan B, atau C perasaan begitu banget, dll, dst, dsb. Alasan pasarannya sih gitu. Tapi kesannya serem ye, 'ajang pelampiasan', tapi bener kan? Demen sama karakter A tapi dia jadiannya dengan B yang kamu benci banget padahal kamu maunya dengan C, yaudah nulis fanfiksi A x C. Benci banget sama karakter A, lalu bikin fanfiksi tentang tokoh A yang disiksa disana. Kurang lebih begitulah.

Dan untuk OTP, yah, bener kan, OTP karam maka orang berbondong-bondong masuk situs fanfiksi entah untuk unggah fanfiksi mengenai OTP atau cari fanfiksi dengan pasangan OTP agar punya asupan? Gak usah ngeles, soalnya Blogger begitu. Mau fanatik atau enggak, semua fangirl dan fanboy butuh asupan.

Betul?
Salam super.

Minggu, 21 April 2019

Gombal

Tau gombal, kan? Itu tuh, kayak judul kartun, The Amazing World of Gombal /ngacobangetini/.

Wahai cewek-cewek, atau cowok-cowok juga, terserah deh, kalau kalian digombalin, jangan gampang terlena ya. Maksudnya, gini, kalian harus pinter, siapa tahu tersirat sesuatu yang lain selain pernyataan sayang ke kamu lewat gombalan itu. Dan tolong ya, para gombalers juga harus kreatif (biar kere yang penting akif). Jangan melulu bilang 'Papa kamu' dan 'Mama kamu'. Kalau pas orang yang digombalin itu cerdas, mereka bakal ilfil sama kamu. Misalnya gini:

A: "Papa kamu penabur benih ya?"
B: "Bukan."
A: "Kalau gitu papa kamu astronot ya?"
B: "Bukan! Kamu kepo banget deh tanya soal papa aku, kamu demen ya sama papaku?!"

Nah kan jadi salah sasaran.

A: "Mama kamu guru ya?"
B: "Kamu demen mamaku ya? Mamaku tuh udah bahagia sama papaku, gak usah ganggu-ganggu!"

Salah lagi.

A: "Kakak kamu dokter ya?"
B: "Iiiihh kamu tuh, papa-mama-kakakku kamu demen, dasar gak setia!!"

Malah tambah ngaco.

Dan lagi, gombalan-gombalan begitu udah gak kreatif, apalagi kalau situasinya enggak spontan alias memang kamu rencanain buat ngegombal. Lagian gombalan hasil sontekan serta terencana itu kalau gagal bakal lebih sakit daripada spontan. Misal spontan (uhuy) itu ya misalkan si A bilang 'panas banget sih', kemudian B bilang 'lebih panasan cinta kita berdua'. Itu gimana banget sih, dan bukan orisinil juga, tapi setidaknya spontan.

Para Gombalers Pemula, pelajaran buat kita semua, pertama, kalau gombal itu gak usah terlalu direncanain, soalnya (gombal) bukan masa depan. Kedua, kreatif, kalau sempet kepikiran pakailah kata-kata puitis. Ketiga, sebisa mungkin enggak pake embel-embel 'papa/mama/kakak/adik/om/tante/dst kamu', karena ada kemungkinan kode yang kamu masukin salah bagi dia.

Oke deh, salam cinta gombal buat semua.

Minggu, 14 April 2019

SPOILER

BLOGGER ❤ SPOILERS !!


Beneran, gak bohong. Mau tentang movie, TV series, game, novel, manga, anime, apa pun itu, Blogger sama sekali gak masalah kalau dapat spoiler. Bahkan, di awal-awal, Blogger sampai cari dulu spoiler-nya barulah mau nonton film. Belakangan gak bakal sampai nyari sih, tapi kalau misalkan lagi scroll FB atau IG kemudian kedapatan spoiler tentang sesuatu yang belum sempat ditonton atau dibaca, ya Blogger biasa aja, gak bakal kayak sebagian besar orang yang kayak gimana gitu.

Tunggu, tunggu, tunggu, Blogger bisa jelasin, ini bukan buat nyindir mereka yang gak mau dispoilerin tentang apa pun ya. Justru Blogger paham dan menghargai orang yang gak mau spoiler, makanya tiap kali ngobrol di dunia maya, Blogger akan bilang 'mau spoiler gak?' Maksudnya biar jangan sampai Blogger kasihtau kejauhan. Sedangkan untuk Blogger, kalau kamu mau bikin Blogger kesal lalu ngasih banyak spoiler tentang ini-itu, gak bakal mempan, yang ada malah berterimakasih. Oke, kecuali kalau ternyata Blogger lebih tahu tentang yang dispoilerin dan ternyata bocoran dari kamu itu ngaco, maka Blogger akan sebal.

Kenapa Blogger bisa suka banget sama spoiler? Ini gak ada hubungannya dengan Blogger yang memang pada dasarnya antimainstream banget. Walau memang benar, tapi itu gak ada hubungannya. Ada alasan tersendiri kenapa Blogger bisa sampai mencari-cari spoiler terutama sebelum nonton film.

Alasannya adalah film Black Swan yang dirilis tahun 2010.

Sebelum nonton itu, film-film yang Blogger tonton itu terpantau oleh orangtua, buku-buku yang dibaca juga terpantau. Bukan maksudnya ortu ikut nonton/baca, tapi maksudnya karena saat itu memang masih belum terlalu gila nonton/baca, jadi secara gak langsung tontonan dan bacaan Blogger masih terpantau setidaknya bahkan oleh sepupu terdekat yang usianya lebih tua, mereka tahu apa yang Blogger nonton, baca, dan dengar.

Suatu ketika, Blogger main ke rumah sepupu yang bersangkutan, pulangnya pinjem kaset DVD, salah satunya berjudul Black Swan. Sepupu sedang tidak ada di rumah, tapi ortunya bilang bawa aja entar dibilangin. Sampulnya tidak semenyeramkan (bagi Blogger) yang di official poster, dan tulisan sinopsisnya agak blur, jadi Blogger juga gak bisa baca. Tapi karena di tempat kasetnya diberi tulisan 'film baru' (ini kebiasaan sepupu kalau beli kaset), jadi Blogger ayuk aja.

Waktu itu Blogger nonton sendirian. Awal-awal ngerasa 'oke ini tentang balet tapi ada nuansa horornya'. Lalu mulai berasa bahwa 'oke horornya makin jadi, gapapa, sekali-kali nonton horor'. Kemudian ada adegan kissing, sekilas LGBT, sentuh-menyentuh, dan lainnya. Tahun 2010 itu Blogger sekitar kelas 10, berarti mungkin masih umur 14-15 tahun, dan belum pernah nonton film yang seperti itu. Kalau murni horor, Blogger masih agak gapapa walau iya tahu tidurnya bakal susah. Tapi di film ini banyak adegan yang baru pertama kali Blogger lihat. Adegan kekerasan yang sebegitunya pun Blogger belum pernah lihat, makanya saat itu Blogger gak nonton sampai selesai padahal kalau gak salah tinggal sekitar kurang dari setengah jam lagi.

Filmnya gak salah lah, apalagi ini kan bukan produksi Indonesia, harusnya wajar kalau nyerempet kesana. Masalahnya hanya di Blogger yang belum pernah menonton film dengan tema dan mengandung adegan seperti itu, salah satunya karena faktor umur. Padahal, ketika tahun 2017 Blogger coba nonton ulang sampai akhir, walau masih ngeri karena psychological horror, Blogger berpikir Black Swan adalah film yang bagus.

Tapi di tahun 2010 itu, karena film tersebut membawa segala sesuatu yang baru untuk Blogger, rasanya jadi agak trauma sendiri. Tiap kali mau nonton, Blogger berusaha caritahu dulu setidaknya untuk genre. Kalau perlu, cari plot lengkap. Maksudnya adalah biar Blogger jangan sampai melihat adegan-adegan yang tidak ingin Blogger lihat.

Begitulah, karena trauma, Blogger jadi berterimakasih pada penyedia spoiler.
Belakangan Blogger gak terlalu nyari, kok, biasa aja. Kalau nemu saat scroll sosmed ya gapapa juga, setidaknya bisa menyiapkan diri.

Kamis, 11 April 2019

Cara Mengunggah Fanfiksi di Situs Fanfiction.net

Bukan sekali-dua kali Blogger, sebagai author di ffn, dikirimi PM tentang bagaimana cara publish fict. Mereka gak tau tuh, bahwa pada zamannya, Blogger yang amat sangat gaptek ini setengah mati cari cara unggah fict sendiri tanpa tanya siapa-siapa.

Curcol dulu, masa kini kata 'fanfiksi' sudah mulai akrab terdengar di kalangan muda walau persepsinya sangat salah. Rerata orang kalau dengan kata fanfiksi, yang nyantol di otak mereka adalah cerita fiksi tentang boyband Korea. Gak salah sih, tapi tokoh K-Pop hanyalah segelintir bagian dari fanfiksi. Malah sebenernya mungkin yang memprakasai dunia fanfiksi itu justru dari anime/manga dan film, jauh dari unsur Korea.

Blogger pun dulu gak kenal kata 'fanfiksi'. Waktu kelas 7 akhir, Blogger akhirnya punya ponsel sendiri. Penasaran kenapa gak ada cerita romansa mengenai Hatake Kakashi (di manga Naruto, karena Blogger tidak begitu ikutin anime-nya), Blogger iseng cari ke Om Gugel, lupa deh keyword-nya apaan. Naaaahh, dapatnya situs fanfiction.net. Awalnya gak ngeh dengan kinerja situs ini, kirain cuman buat satu cerita itu doang. Tapi iseng-iseng pencet ini-itu, baru mulai paham. Karena hapenya masih agak jadul, alias Nokia 7610 (iya, masih inget), jadi gak begitu puas berselancar di situs itu, lalu mulai pakai komputer.

Selama dua tahun baca banyak fanfiksi disana, mulai nulis fanfiksi di kertas juga, akhirnya pengen publish juga. Tapi gimana caranya? Oke, yang pasti bikin akun dulu. Gini, bikin akun FB atau malah bikin email sendiri aja butuh setidaknya dua hari baru bener ngeh, itu pun dibantuin Koko. Lalu mau bikin akun ffn, yang saat itu masih sangat gak banyak orang tau, bahkan Koko gak tau, Blogger belum terlalu kenal Gugel, dan FB masih bener-bener terisi orang-orang yang kenal di dunia nyata alias keluarga dan orang sekolah. Jadi mau tanya siapa?

Ya pokoknya berhasil juga, deh.

EEEEEHH TAPI, kebingungan gak berhenti disitu, karena ternyata unggah fict tidak semudah bikin status FB eh itu gampang banget unggah catatan di FB.

Blogger bukan senior di ffn kok, ada banyak yang lebih senior, jauh lebih jago soal nulis fict. Tapi kalau ada yang tanya, ya Blogger akan berusaha jawab. Tolong diingat, ini adalah cara mengunggah fanfiksi di situs Fanfiction.net.

  1. Pastikan kamu hidup dan bisa mengetik.
    Ini mutlak. Kalau kamu gak hidup, gimana bisa bikin fict? Masalahnya gak semua makhluk hidup bisa bikin fict, makanya kamu harus bisa ngetik. Gak mesti pakai jari tangan. Kalau memang kamu gak punya tangan, coba pakai kaki. Kalau gak punya tangan dan kaki, ya usahalah gimana, pinjem tangan orang juga gapapa.
  2. Niat.
    Ini penting juga. Percuma kamu punya kemampuan ngetik, tapi niatnya gak ada. Yang ada bukannya unggah fict, malah balik mikirin mantan eh bobok.
  3. Buka situs ffn: https://www.fanfiction.net/ .
    Kan ini tata cara unggah fict disana, ya bukanya situs itu lah, bukan AO3. Oh iya, tapi sebelumnya pastikan ada ponsel/PC/apa pun buat internetan ya, kalau gak ada ya numpang warnet gih.
  4. Pastikan ada akun.
    Ya kalau gak punya akun, gimana kamu publish fict, kan? Kalau emang terlalu males bikin akun, numpang akun siapa kek.
  5. Document Manager.
    Masuk akun, pilih Publish, lalu Document Manager. Unggah file fict kamu yang tersimpan dalam format salah satu yang terdaftar disana. Blogger selama ini ngetik di Ms Word dulu, save, lalu masukin ke Doc Manager itu. Pencet tulisan Browse, pilih file, open, ketik nama file di kolom, Submit Document. Dari situ kalau mau edit dulu ya silakan. Biasanya Blogger edit disitu buat bikin garis pemisah. Tapi kalau mau publish lewat aplikasi (resmi) di ponsel pintar, bisa langsung ngetik disana, gak perlu bikin file terpisah, tapi gak bisa bikin garis pemisah.
    FYI, Blogger ngetik poin ini sambil bener buka situsnya.
  6. New Story.
    Setelah unggah file, pilih New Story, nanti bakal ada tulisan musti ke Rules & Guidelines, turutin aja. Baca peraturan disana. Setelah selesai, balik ke New Story. Kalau cuman satu fandom pilih Regular, kalau dua fandom berarti Crossover. Lalu pilih fandom di Select Category. Selesai, Continue. Di laman berikutnya isi hal-hal yang diminta disana mengenai fict yang mau kamu unggah. Disana kalau ada yang gak dimengerti, panduannya sudah tersedia sendiri. Harusnya kalau berani klik-klik, bisa. Kalau selesai semua, Publish New Story.
    Ini untuk bikin cerita baru. Maksudnya, kalau mau berseri, bab dua dan setelah-setelahnya itu bukan pilih yang ini ya.
  7. Manage Stories.
    Ini untuk ngatur fict yang sudah diunggah seperti mau hapus, edit sinopsis, ganti file, atau tambah bab. Untuk tambah bab, pilih Content/Chapters, Post New Chapter. Habis itu bisa dilihat sendiri apa yang kamu butuhkan. Yang pasti sih kamu butuh file bab 2 serta langkah 1-6. Iyalah, kalau dari awal gak punya bab 1, gimana bisa bikin bab 2?

Nah itu semua adalah langkah unggah fict di ffn. Loh, bener kan, cuman publish-nya aja dari awal Blogger bilang? Kalau soal cara bikin fict, itu bukan bagian Blogger, silakan tanya pada yang sudah pro, Blogger hanya bisa ajarin publish fictnya ajah~

Rabu, 03 April 2019

Konde. Eh salah, maksudnya 'Kode'.

Orang, terutama perempuan, kadang hobi kasih kode untuk apa pun dan siapa pun, terutama pada pacarnya. Bener, karena Blogger pun pernah. Karena zaman makin canggih, ngasih kode tuh sudah bukan lewat ngomong langsung, tapi lewat sosmed. Ya dari status FB, kicauan di Twitter, taruh gambar hitam (maksudnya ngambil foto tapi kameranya ditutupin tangan) di Instagram, dan semua-semua itu cuman ditaruh tulisan sebangsa 'huh', 'sebal', dkk, dst, dsb, lalala, yeyeye. Kalau pacarnya gak sampai nanyain dia kenapa? Makin berabe dan makin banyak postingan macam begini dari dia.

Sesuai paragraf satu, Blogger pernah ngasih kode. Dia bukan pacar bener sih, cuman Hubungan Tanpa Status, tapi dari kita masing-masing tahu suka satu sama lain. Dia pemain musik yang bagus, dan walau gak ngerti musik saat itu Blogger seneng nonton drama musikal tapi bukan karena dia pemusik. Memang agak telat dari zaman booming, tapi saat itu Blogger sedang seneng-senengnya nonton High School Musical, dan salah satu lagu favorit Blogger adalah You are the Music in Me. Blogger bukan mau ngode soal kegalauan atau gimana, tapi Blogger nulis 'you are the music in me' sebagai status FB, lalu SMSin dia bahwa ntuh status buat dia. Langsunglah setelahnya dia kasih komentar di status itu, kalau gak salah bilang kita membuat harmoni yang baik. Dengan kata lain itu antara dia gak ngeh atau memang gak tau ini maksudnya dari lagu. Dan omong-omong, dia tahu bahwa Blogger suka HSM. Karena bukan status FB yang serius atau apa, Blogger cuman ngasih tau bahwa itu dari lirik lagu, gak ada urusan ngambek.

Lucunya, bertahun-tahun kemudian, setelah Blogger menjadi pribadi yang hobi gombal di dumay, Blogger teringat soal ini dan mulai memikirkan skenario-skenario lain yang mungkin terjadi dari hal itu. Bayangin kalau saat itu Blogger ngambek dan bilang:

"Itu kan lagu! Kamu mah, gak peka!"

Atau.

"Kamu tau kan aku demen HSM?? Masak lagu begitu aja gak ngeh, sih?!"

Atau. Ini yang paling ngaco.

"Kamu payah! Kita putus aja, mending aku langsung pacaran sama Lucas Grabeel!"

Lah emang Lucas-nya mau apa sama lu?

Enggak, semua itu gak pernah terjadi pada Blogger setelahnya. Kalau gak salah setelahnya sampai sekarang Blogger berusaha untuk jangan kasih kode buat gebetan sekali pun lewat sosmed. Kenapa ya? Entah deh, rasanya kok, dibanding kirim kode, lebih kayak pamer perasaan. Misalnya kalau lagi kesel dan nulis 'huh' doang, belakangan Blogger kayak pikir itu orang lagi sebel aja dipamerin. Iya belum tentu dia lagi sebel, siapa tau cuman mau tes font baru di igstory. Tapi, ya, Blogger langsung berpikir begitu.

Tapi mungkin gaya orang unggah sesuatu di sosmed beda-beda. Misalnya, kayak blog ini, isinya bacotan random, gitu.

Sabtu, 23 Maret 2019

Sekilas Martabak

Blogger pernah nonton video youtube dari seorang komika, dia bilang kalau datang ke rumah pacar jangan lupa bawa sesuatu untuk orangtua pacar itu, dan dalam kasusnya Komika bawa martabak karena orangtua pacarnya memang demen martabak. Ini nasihat yang bagus dan Blogger setuju. Tapi semoga bukan hanya demi dapat restu, melainkan juga kesopanan dan sadar diri bahwa tidak hanya ada sang pacar di rumah tersebut.

Kemudian, tentang martabak dan apa pun buah tangan yang dikasih ke orangtua pacar, pastikan setidaknya sudah lebih dulu riset tentang suka atau tidaknya sang penerima akan yang dibawa. Kalau Si Penerima biasa aja yaudah. Lah, kalau elu secara spontan tanpa riset bawa misalnya martabak ke orangtua pacar, ternyata mereka gak suka banget, gimana? Bukannya dapat restu, malah elu dilarang ketemu anak mereka lagi. Kan, berabe.

Jadi tentang buah tangan disini, riset juga penting ya. Mau alasan se-absurd apa pun, kalau memang gak demen ya ga demen, gak usah jadi mediator antara orangua pacar dengan martabak.

Berikut adalah contoh kemungkinan gak baik jika bawa misalnya martabak ke orangtua pacar tanpa riset.

Elu: "Malem om, mau jemput Pacar saya makan malem."
Orangtua Pacar (OTP): "Oh iya duduk dulu."
Elu: "Ini ada martabak buat om."
OTP: "MARTABAK?! SAYA TUH BENCI MARTABAK! Istri saya tuh ya, ninggalin saya demi bisa menikah dengan abang-abang martabak!"

Nah kan.
Atau gini lagi.

Elu: "Ini ada martabak buat tante."
OTP: "MARTABAK?! SAYA TUH BENCI MARTABAK! Sejak suami saya pergi, hati saya selalu terasa dipotong-potong kayak martabak!"

Meh, gak si tante, gak si om, curhat dua-duanya.
Masih ada lagi.

Elu: "Ini ada martabak buat om."
OTP: "Martabak? Yang bikin mas-mas atau mbak-mbak?"
Elu: "Mas-mas, sih, om."
OTP: "Ih, emangnya saya gay?"

Ngaruh gitu hah?
Ada yang serupa tak sama.

Elu: "Ini ada martabak buat tante."
OTP: "Martabak? Yang bikin mas-mas atau mbak-mbak?"
Elu: "Mas-mas, sih, tante."
OTP: "Aduh kamu gimana sih, pengen hubungan tante sama om rusak gara-gara mas-mas itu ya?!"

Ampun deh tante.

Jadi, apa inti dari entri ini? Riset itu penting.
Terus apa hubungannya dengan martabak? Gak ada sih, bukannya promosi juga, tapi kebetulan karena videonya tentang martabak, jadi Blogger pakai contohnya martabak juga. Ya namanya juga SEKILAS, kenapa pada ngarepin kandungan apa yang ada pada martabak? Soal kandungan itu kan urusannya ibu hamil dan dokter kandungan.

Akhir kata, salam dari pecinta martabak keju, alias Blogger ini.

Jumat, 01 Maret 2019

Ayo Sama-sama Berjuang

Entah apa yang membuat tiba-tiba kepikiran begini, tahu-tahu pengen nulis tentang ini.
Gini.

Jangan bunuh diri.

Oke, tunggu, katanya kalau ngomong dengan kalimat negatif atau ada kata berunsur negatif sebangsa 'jangan', 'tidak', 'dilarang', dkk itu hasilnya malah ngaco, ya? Ya sudah.

Ayo berjuang.

Blogger gak pandai kasih nasihat. Lagian, orang-orang yang punya pemikiran untuk mengakhiri hidupnya sendiri itu ya, segiat apa pun orang lain berusaha semangatin dan menghalau orang-orang ini dari pikiran negatif, tetap aja bakal kejadian kalau orang-orang ini sendiri gak berusaha untuk mengalihkan perhatian dari berusaha minggat dari dunia ini. Dengan kata lain, setidaknya dari diri sendiri, harus ada pemikiran bahwa masih ingin hidup.

'Lah, kalau orang mau bunuh diri udah pasti gak pengen hidup lagi, dong?'
Iya, bener. Ini jawaban klise yang udah biasa, tapi gini: kamu yakin seluruh orang di dunia ini bakal rela kehilangan kamu begitu aja? Sengaja Blogger gak bilang 'orangtua', karena mungkin ada yang orangtuanya sudah gak ada atau justru orangtua merekalah alasan mereka mau minggat. Tapi, maaf kalau Blogger muluk banget, Blogger percaya setidaknya ada satu orang yang bener-bener peduli dan gak mau kamu pergi dari dunia ini.

'Blogger pasti gak pernah ngerasa pengen bunuh diri, makanya enteng banget ngetik ini.'
Kata siapa? Kata situ, kah?
Pernah kok Blogger ngerasa pengen pergi aja, hilang dari dunia ini saking kecewa dan sedihnya. Memang mungkin ada sangat banyak yang mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang dialami Blogger, pasti. Gini, Blogger gak tahu dan gak paham situasi kamu, tapi Blogger mengerti perasaan itu. Apalagi kamu-kamu yang kena bully.

Alasan Blogger pengen menghilang itu, bagi orang-orang pasti berpikir 'apaan sih lebai banget cuman begitu doang'. Hei, secuilnya alasan itu, bagi Si Penderita tetap besar tahu. Apalagi kalau misalnya seperti Blogger ini gak punya siapa pun di dunia nyata untuk mengadu, selain kepada Tuhan.
Selama, puncaknya tiga tahun, Blogger seakan terlupakan di 'tempat' Blogger berada. Mereka bisa bilang misalkan ada tiga puluh orang anggota di tempat itu, tapi kalau disuruh sebut satu-satu maka mereka tidak akan ingat tentang Blogger. Oke, ini alasan biasa yang kalian pikir ini seharusnya gak usah sampai bunuh diri. Blogger setuju.
Tiga tahun, dan bukan hanya terlupakan. Blogger dianggap cari muka pada sesepuh hanya karena selalu mengerjakan tugas yang memang sudah seharusnya dikerjakan. Saat itu Blogger punya seorang teman laki-laki yang kemudian dia punya pacar. Blogger masih berteman dengan laki-laki ini, tapi kemudian pacarnya melabrak Blogger dengan kata-kata kasar. Oke, ini masih biasa aja.
Selama tiga tahun, atas alasan-alasan penting yang Blogger enggan ungkapkan, blogger pernah kepikiran untuk mengakhiri hidup. Dan sekali lagi, Blogger tidak punya seorang pun yang cukup dipercaya untuk curhat selain pada Tuhan.

Blogger tidak berusaha mencari pertolongan dari siapa pun. Kalau gak salah saat itu pun bukan sedang tenar-tenarnya aksi bunuh diri. Tidak tahu juga kalau ternyata ada macam terapi-terapi yang bisa dicari online (gimana bisa tahu, saat itu belum terlalu kenal internet). Tidak tahu kalau ada nomor-nomor khusus yang bisa dihubungi jika butuh pertolongan dalam hal ini.

Tapi ternyata, Blogger memang tidak membutuhkan itu semua.
Blogger mendapatkan pemikiran-pemikiran yang membuat Blogger tidak jadi bunuh diri sama sekali.
Karena sekali lagi, ini memang harus dari diri sendiri.

Blogger akan kasih contoh.

'Belum bahagiain mama dan papa'.
Ini adalah alasan paling pasaran dari semua orang. Blogger gak bilang ini alasan yang salah atau apa. Ini adalah alasan yang wajar dan normal untuk semua orang. Jika ini adalah tujuan hidupmu, ini mulia banget, sangat wajar, sangat diharapkan.
Tapi dari Blogger, sepentingnya alasan ini, yang Blogger maksudkan sebagai contoh bukanlah yang ini, karena alasan yang ini berat.

'Belum lulus', 'belum dapat gelar', 'cita-cita belum tergapai', dan sejenisnya.
Ini alasan yang kurang lebih sama beratnya dengan yang di atas, jadi ini bukan contoh yang dimaksud.

Oke, tunggu, jadi contohnya gimana?
Maksudnya adalah, kamu harus mencari alasan yang hanya kamu yang punya. Seperti kata Blogger, 'bahagiain ortu' adalah alasan mulia yang hampir semua orang punya. Bukannya gak boleh punya alasan tersebut, tapi untuk kamu sendiri, apa alasan yang kamu punya tapi tidak untuk orang lain? Alasan yang, membuat kamu agak kepikiran, tapi orang lain gak kepikiran, dan gak muluk-muluk setidaknya buat kamu.

Blogger punya banyak pemikiran. Awalnya saat mau bunuh diri itu, Blogger hanya menemukan satu selain mikir bahwa 'Blogger adalah satu-satunya anak perempuan mama papa, kalau Blogger gak ada gimana?'. Makin lama, Blogger punya makin banyak pemikiran yang membuat pikiran negatif itu terlempar jauh. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

Satu. Bagaimana akhir dari serial Detective Conan?
Iya, banyak orang berspekulasi macam-macam, dan belakangan fanfiksi berupa tebakannya sudah banyak. Tapi beneran, Blogger penasaran. Conan kembali menjadi Shinichi, apakah dia akan jujur pada orang-orang di sekitarnya terutama Ran? Terus eksistensi Edogawa Conan yang orang-orang tahu gimana? Nasib BO gimana? Dan sebagainya.
'Lalu, kalau DC tamat gimana? Bunuh diri?'
Iya, Blogger sempat kepikiran pertanyaan ini juga. Apalagi ketika entri ini diketik, sepertinya perjalanan DC sudah lewat dari 50%. Nah, makanya, perbanyak pikiran-pikiran semacam ini.

Dua. Belum jadi Power Ranger Hitam perempuan pertama.
Blogger sangat suka Power Rangers, terutama 6 musim pertama. Season ke 18-21 itu mengecawakan banget sih, tapi itu tidak membuat Blogger berhenti senang dengan keseluruhan serial ini. Masalahnya, kalau diperhatikan, tidak ada perempuan yang menjadi Ranger Hitam. Padahal Ranger Merah-nya ada, loh. Makanya Blogger sempat kepikiran pengen jadi perempuan pertama yang menjadi Ranger Hitam.
'Terus kalau ternyata setelah Power Rangers Beast Morphers ada Ranger Hitam yang diperankan perempuan bagaimana?'
Kalau begitu, tinggal tetap berharap untuk menjadi Ranger Hitam walau bukan yang pertama. Dan lagi, Blogger masih punya segudang pemikiran.

Tiga. Inuzuka Kiba belum menyatakan cintanya pada Hyuuga Hinata.
Iya tahu sekarang Hinata sudah jadi Uzumaki Hinata, tapi Kiba x Hinata adalah OTP Blogger di fandom Naruto. Blogger selalu percaya bahwa selain Kurenai, Kiba adalah orang yang paling mengerti Hinata. Pemicu pikiran ini adalah saat Kiba kalah melawan Naruto saat ujian Chuunin, disitu Kiba bilang sama Hinata untuk mundur jika harus berhadapan dengan Neji atau Gaara. Blogger percaya bukannya Kiba menganggap remeh rekannya, tapi itu lebih kepada tidak ingin temannya kenapa-kenapa. Sekilas, iya kesannya merendahkan, ya, kalau tidak pernah diperlihatkan interaksi mereka berdua sama sekali maka Blogger gak bakal jadiin mereka OTP.

Contohnya tiga aja ya, sisanya kalian cari alasannya sendiri.

'Loh, kalau bukan fangirl/fanboy gimana? Itu contohnya kan berhubungan fandom semua.'
Eh iya juga ya, Blogger fangirl akut sih.
Kamu sendiri tertariknya dengan apa? Dari hal yang membuat kamu tertarik itu, buat satu pertanyaan yang belum pernah ada jawabannya.
Kamu seneng sepak bola? Coba penasaran kenapa rambut Messi gak pakai model rambut Ronaldo yang pernah ngetren.
Kamu seneng fisika dan atau ilmu eksak lainnya? Coba pengen bikin teori sendiri. Oke, ini susah sih, tapi karena Blogger gak tertarik dengan IPA ya jadi gak bisa kasih contoh yang bagus.
Sekali lagi, selain tertarik untuk minggat dari dunia ini? Apa yang pernah kamu senengin?

Entri ini tidak membantu, ya, maaf banget. Toh, sesuai perkataan Blogger, itu harus dari diri kamu sendiri. Entri ini adalah bantuan dari luar diri kamu, jadi gak bisa bantu. Blogger hanya kasihtahu, bahwa setidaknya pasti ada satu manusia di dunia ini yang akan sedih banget ketika kamu pergi, sedih banget karena merasa kamu gak percayain dia untuk jadi tempat curhat.

Apa yang Blogger alami mungkin terkesan ringan banget dibanding yang kamu alami, apa pun dan siapa pun kamu. Tapi ada orang yang butuh kamu. Apalagi, kamu hanya ada satu di dunia ini, gak ada yang bisa gantiin sama sekali.

Blogger gak mau maksa.

Tapi, ayo, kita sama-sama berjuang.

Rabu, 20 Februari 2019

Semalam di Singkawang, lalu balik Pontianak.

 Karena gak nyangka bakal ke Singkawang juga, jadi pesen hotelnya sudah telat, sudah deket banget Cap Go Meh. Tapi di hotel ini gak begitu masalah, karena ada pantainya.
Omong-omong, perjalanan dari Semitau ke Singkawang itu sekitar 13 jam dengan mobil.



 Sudah lama gak main ke pantai, enak deh. Sepi, pula, jadi bebas main air.

 Mau makan Choi Pan.

 Pesan 40 biji buat berenam.

 Lalu habis.

 Tahun lalu di stadion ada tempat jalan di atas kaca, gak tau sih Blogger gak pernah lihat di gugel, tapi papa lihat di yutup. Masalahnya tahun ini sudah ganti singa.





 Tugu khatulistiwa.


 Langitnya bikin galau ih.

 Makanan terakhir di pusat Pontianak sebelum balik ke Jakarta: Mi kepiting!

Oke, gini, Waktu pergi hanya bawa 7 terbawah itu, plus TTS + Sudoku. Di Bandara mau ke Malaysia, sambil nunggu, Blogger beli nomor 8 dan 9. Lalu sehari sebelum pulang, di Mega Mall Pontianak, Author beli nomor 10 dan 11. Untung beli, karena semua habis di bandara. 1 Light Novel itu mungkin hanya sekitar 30-40 menit, padahal isinya sekitar 200an halaman tapi ada beberapa halaman yang isinya memang gambar doang. Omong-omong, Blogger tidak baca dalam kamar, karena posisinya lebih enak buat isi TTS. Jadi lembar TTS yang habis adalah 72. Dan ini belum dengan 1 E-Book yang habis terbaca saat antri di bagian imigrasi.

Dua Malam di Semitau





























 Semitau itu jarang ada orang tau. Mungkin itu sebabnya dikasih nama semi(sebagian)tau. Itu kampung papa, daripada orang bingung, jadi selalu bilang di Pontianak aja. Jaraknya sekitar 500an Km dari Pontianak, sekitar 11 jam pakai mobil. Kesana hanya satu jalan, bener-bener satu, gak ada cabang, untung sudah diaspal. Perjalanan kesana itu anggap aja mau ke puncak, tapi ini lebih ngeri, mungkin karena ada jembatan yang bener-bener dari kayu.

Apa? Air keran? Keluarnya air sungai Kapuas, jadi kayak susu coklat. Sejernih-jernihnya itu teh yang kurang celup. Jadi Blogger sampai beli air galon untuk bilas badan (bukan mandi). Padahal, selain tentang air, Blogger mau aja lebih lama disini.



 Ada puskesmas kecil dan klinik yang cukup besar untuk ukuran Semitau, tapi ini adalah satu-satunya sekaligus yang pertama untuk rumah sakit. Posisinya ada di ujung banget, dimana tanah sekitarnya masih kosong.

Ini hidangan malam terakhir di Semitau, di rumah temen sekolah papa. Ada durian hutan (Blogger kurang suka duren), ada kerupuk basah, dan ada bakwan ikan bilis. Ikan bilis itu sedikit lebih besar dari ikan teri. Mama Blogger sesekali bikin bakwan teri, jadi Blogger gak masalah makan bakwan bilis ini. Tapi karena kebanyakan, sampai sekarang masih agak batuk.