Tampilkan postingan dengan label cuman mau bilang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuman mau bilang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 26 Maret 2020

Doa tapi nuntut?!

Kalau kamu gak percaya Tuhan, maka ini bukan entri yang sesuai untuk kamu. Tapi jika kamu percaya Tuhan, maka mari coba introspeksi masing-masing, siapa tahu kamu adalah salah satu pelakunya.


Blogger gak tahu dengan agama lain, tapi sebagai orang Kristen (Pentakosta), sejak kecil Blogger diajari bahwa 'doa' berarti bicara dengan Tuhan (Yesus). Semakin besar (umur), Blogger makin menyadari bahwa berdoa itu gak mesti selalu lipat tangan + tutup mata + ngomong 'amin' di akhir rangkaian doa. Jangan salah, tiga hal itu penting, ketiganya adalah sikap doa yang benar, tapi mereka bukanlah yang utama. Lipat tangan dan tutup mata adalah sikap agar kita fokus pada Tuhan, biar tangannya gak garuk-garuk (dan sebagainya), biar matanya gak kena distraksi macem-macem, dan itu juga diakui (di agama Kristen) sebagai sikap yang benar saat berdoa. Sedangkan kata 'amin' kata yang menyatakan bahwa pendoa percaya bahwa Tuhan akan (mendengar dan) mengabulkan apa yang didoakan. Dalam doa untuk memimpin jemaat atau syafaat berantai (A berdoa, lalu lanjut B berdoa, dst), kata ini sangat berguna untuk tahu kalau A (dan lainnya) telah selesai doa bagiannya.

Lalu, kenapa Blogger bilang bahwa ketiga sikap itu bukan yang utama? Iyalah, kembali pada arti kata 'doa' itu sendiri: bicara pada Tuhan! Ketika kamu dalam kondisi yang tidak bisa lipat tangan + tutup mata tapi dalam hati berseru 'Tuhan!', itu berarti kamu berdoa. Ketika kamu deg-degan parah di pinggir tebing, cemas banget bakal jatuh, kedua tangan sibuk pegangan biar gak terhempas ke bawah, gak mungkin kan kamu lepasin tangan kamu dari pegangan biar bisa lipat tangan? Enggak gitu! Dalam keadaan gak bisa lipat tangan + tutup mata tapi kamu berseru 'Tuhan, tolong aku', gak sempet ngomong 'amin' karena keburu jatoh, sebenernya tadi itu kamu udah berdoa, karena kamu BICARA pada Tuhan dan Dia denger!

Oke, mari sekarang omongin judul. Kebanyakan orang, ketika sedang doa, lupa tentang arti doa yang menyatakan 'bicara pada Tuhan'. Kadang, atau sering, orang kalau berdoa, mereka menuntut Tuhan untuk melakukan sesuatu. Enggak, tunggu, memang benar kalau ada apa-apa kita bisa bahkan harus minta ke Tuhan, itu benar. Tapi caranya tolong diperhatikan.

Contoh paling gampang dan yang mungkin merupakan doa sehari-hari adalah tentang cuaca. Setiap pagi Blogger mendoakan cuaca untuk seharian, malamnya Blogger mengucap syukur soal cuaca hari itu. Ayo ngaku, kamu doa untuk cuaca kayak gimana? Sebagian besar orang akan berdoa:

"Tuhan, berikan cuaca yang cerah."

Atau, kalau memang kebutuhanmu, atau sedang menghindari sesuatu, kamu akan berdoa biar hujan. Masalahnya, bagaimana jika itu tidak menjadi bagian rencana Tuhan? Gimana kalau besok kamu mau main ke lapangan lalu doa besok cerah, dikabulin, tapi saat main bola itu kamu tertimpa papan? Gimana kalau Tuhan berencana besok hujan lebat biar kamu gak ke lapangan, sebagai gantinya kamu dapat gadget baru? Itu cuman perumpamaan.

Terus, doanya gimana?

"Tuhan, berikan cuaca yang BAIK, yang SESUAI KEHENDAK-MU."

Gitu. Jadi mau terik, hujan, badai, salju sekali pun, kamu tahu bahwa Tuhan punya rencana!

Jangan menuntut Tuhan untuk melakukan A, B, C, dst. Jangan menyalahkan Tuhan jika terjadi A, B, C. Blogger juga manusia, sering mengeluh dan minta ini-itu seenaknya ke Tuhan. Tapi mari belajar sama-sama tentang ini.

Dalam agama Kristen, Tuhan Yesus bukan hanya Allah, tapi juga Bapa. Masalahnya, banyak orang yang mentang-mentang Dia adalah Bapa, lalu minta ini-itunya seenak jidat.

Yuk belajar.
Gak usah bilang 'Tuhan, aku udah melakukan ini-itu, sekarang aku minta ini-itu'. Enggak, lu kira ini barter.
Kalau memang gak hapal Doa Bapa Kami, seenggaknya kamu bisa mulai doa kamu dengan mengucap syukur. Banyak hal yang bisa kamu terimakasihin: 'Tuhan, terimakasih untuk HARI INI, terimakasih SEMALAM TIDUR PULAS/NYENYAK, terimakasih pagi ini bangun masih BISA BERNAFAS'. YES, SESIMPEL ITU!! Malemnya, sebelum bobok, belajar bilang: 'Tuhan, terimakasih aku bisa menjalani HARI INI. Susah sih, tapi terimakasih SUDAH SERTAI DALAM PERJALANAN." Loh, kok santai banget? Ya gapapa, kan kita sedang bicara, bukan laporan. Dan dalam agama Kristen, kita sedang ngomong dengan Bapa, loh, gak usah tegang (tapi tetep tau diri juga). Malah, Blogger hampir selalu sapa Tuhan dulu ketika berdoa formal (bukan doa spontan): "Selamat pagi/siang/sore/malam, Tuhan Yesus!". Yaaaahh, untungnya gak pernah kebablasan sampai tanya udah makan apa belom.

Setelah bilang terimakasih, coba kamu cerita hari ini kamu ngapain aja. Gak usah panjang lebar. Mau panjang juga gapapa sih, cuman kalau gak terbiasa ya kamu bakal kebingungan mau ngomong apa. Kalau udah terbiasa, kamu bakal semangat sendiri saat ceritain harimu. Misal kalau kamu masih pelajar, bisa aja kamu bilang bahwa Guru X tadi ngajarinnya bikin bingung sampai kamu minta tolong temen kelas sebelah ngajarin ulang. Bisa juga kamu cerita tentang berita di TV yang bikin kamu cemas (uhuk, corona, uhuk), lalu kamu berusaha ungkapin apa yang bikin kamu cemas.

Lalu, kamu ngomong apa yang kamu inginkan. Bisa aja kamu minta ini-itu sambil cerita tentang hari ini. Misalkan kamu gak ngerti pelajaran dari Guru X, lalu minta Tuhan agar otak kamu disegerin, atau minta Tuhan bantu kamu cari cara untuk mengerti pelajaran itu lebih lanjut (jangan sampai minta biar Guru X besok gak masuk loh ya). Inget, apa pun yang kamu minta, jangan maksa Tuhan, jangan nuntut, jangan ancam. Kalau Tuhan mau, saking sebelnya dengan doamu, Dia bisa aja petik jari agar kamu jadi abu (uhuk, Avengers, uhuk). Akrab dengan Tuhan itu harus, tapi tetap hormati Dia juga. 

Segala sesuatu yang terjadi itu sesuai dengan kehendak-Nya, sesuai izin Tuhan, sekali pun kamu pikir itu adalah sesuatu yang sangat merugikan kamu. Contoh nyata yang sedang dihadapi dunia saat ini: virus Corona. Blogger juga cemas parah. Blogger takut dan bingung dan sebal tentang penyebaran virus yang parah ini. Blogger sampai ngomong kata 'sebel' saat berdoa tentang ini. Tapi tetap ingat, Tuhan punya rencana. Tuhan akan mengganti segala kerugian yang kamu tanggung (uhuk, Ayub, uhuk).

Terakhir, ini juga penting. Jika inisiatif berdoa, berarti kamu percaya Tuhan akan dengar dan kabulkan jika sesuai kehendak-Nya. Tapi inget, jangan terlalu buta juga. Jangan mentang-mentang udah doa, lalu kamu santai gak mau ikut berjuang alias cuman mau terima bersih. Contoh paling gampang adalah kamu berdoa diberi kelancaran saat ulangan besok, tapi gak mau belajar, lalu besoknya dapat nilai jelek atau ketahuan nyontek, habis itu nyalahin Tuhan. GAK GITU CARANYA WOI. Elu harus tetep belajar, anggap aja bantuin Tuhan untuk mengabulkan doa lu sendiri.

Doa itu penting. Tetap ingat definisi 'berdoa' = 'bicara', bukan 'laporan'.
Akrab dengan Tuhan itu penting. Tetap hormati dan beri respek Penciptamu.
Percaya Tuhan itu penting. Tetap berusaha juga, karena iman tanpa perbuatan adalah mati (uhuk, kitab Yakobus, uhuk).

Rabu, 26 Februari 2020

Genap Setahun!

Blogger gak nyangka, 26 Januari 2020 ini sudah genap setahun untuk blog super random ini! WOOOOO~~~~


Eh beneran, ketika awal buat blog baru ini, Blogger kirain bakal kayak 4 blog sebelumnya, yang musti tunggu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk muncul entri baru, bahkan pernah berapa tahun kemudian baru nongol! Enggak, gak udah cari blog yang jadul itu, karena genap tahun lalu mereka semua telah berhasil dihapus. MWAHAHAHAHAH //cukup

(anggap aja blog rewind 2019)

Padahal niatnya tahun lalu blog ini buat ajang membacot ria secara frontal untuk hal-hal yang gak mau Blogger omongin di FB dan IG. Kalau gak salah, pada akhirnya, curhatan yang beneran itu pakai Harvest Moon (yah ketahuan). Terus bacotan ringan yang sama sekali gak pakai fandom ada juga, kadang sebulan sekali, kadang gak pernah---padahal niatannya seminggu ada sekali entri tanpa bawa fandom, tapi gagal dilaksanakan. Tapi Blogger pribadi merasa bangga, bahwa setidaknya dalam sejak tahun lalu setidaknya ada satu entri dalam seminggu, walau biasanya itu hanya ulasan Boruto.

Ada banyak bahasan dalam otak yang Blogger niat untuk ngetik, tapi kemudian males, makanya isi Blog ini jadi terasa monoton. Tapi cinta ini tetap luar biasa.

Tahun lalu Blogger pernah ngetik tentang gak tahu mau dibawa ke mana hubungan kita blog ini. Iya tahu namanya random, tapi tetap saja harus punya inti, jangan semua dicampur (yah, kalau dilihat sekarang selama setahun ini beneran nyampur sih).
Blogger sempet mikir kalau blog ini mau berisi ulasan mengenai novel yang Blogger baca, tapi kok males gitu ngetiknya, apalagi sudah ada goodreads, dan Blogger males nulis hal yang sama dengan Blogger lakukan di IG (padahal di instagram juga bukannya Blogger mendedikasikan itu sebagai bookstagram). Tapi Blogger baru tahu bahwa di IG ada batas karakter untuk sekali unggah, jadi kalau memang bacotannya panjang, Blogger pernah taruh di sini.
Mau taruh ulasan manga, yah, di goodreads juga ada manga, kok. Dan belakangan, mungkin sudah dari 2 tahun lalu, Blogger pakai fitur instastory untuk ulas singkat manga bahkan yang hanya punya 5 chapter. Tapi pernah, saking sukanya dan banyak bacotan mengenai serial manga tertentu, Blogger tulis di sini.
Kalau ulas tontonan, Blogger bingung karena bukan orang film sama sekali. Kalau pun dibahas, biasanya itu karena memang ada yang ganjal di hati Blogger dan pengen dikeluarin. Dulu Blogger taruh begituan di FB, cuman makin ke sini pemikiran Blogger tentang hal-hal tersebut semakin banyak sehingga susah kalau ditulis di FB. Dan karena bukan orang film, jadi Blogger biasanya hanya ulas plot dan penokohan.

Jadi nulis ulasan Super Sentai per-season, Power Rangers per-season, perbandingan SS dan PR, Boruto perepisode (sejak episode 95), dan Detective Conan perkasus (sejak episode 943) itu pada mulanya gak masuk dalam pikiran Blogger. Yah, sekarang jadi rutinitas sih, biar tetep ada entri tiap minggu minimal untuk Boruto.

Beberapa bacotan tambahan tentang Super Sentai dan Power Rangers juga gak Blogger duga. Maksudnya kalau bahas tentang satu season dan perbandingan, masih okelah. Tapi Blogger gak habis pikir untuk ngetik semisal masalah Bibidebi di Megaranger atau tentang Justin Stewart. Dan mungkin saking gabutnya, Blogger inget pernah jadi sorting hat untuk para tokoh PR, pengandaian mereka masuk Hogwarts.

AMPUN RANDOM BANGET.

Jadi, yah, karena mengusung tema random, makanya isi blog ini gado-gado banget. Tapi dengan banyaknya review yang tidak berkualitas, Blogger seneng karena blog ini enggak dianggurin lebih dari 2 minggu selama setahun ini.

Untuk ke depannya, Blogger gak bisa janjiin apa-apa, karena selama ini janji di dalam entri juga belum bener direalisasikan. Kemungkinan besar gak bakal cari serial (anime) lain untuk dibahas perepisode seperti Boruto dan Detective Conan, setidaknya dalam waktu dekat. Gak janji untuk bahas suatu dorama atau serial per-season seperti Super Sentai dan Power Rangers. Tapi mungkin kalau terjun ke fandom besar, atau fandom yang tiba-tiba panas banget dalam otak Blogger (seperti kasus Mr Hiiragi's Homeroom), Blogger akan ketik di sini.


... yah, kemungkinan besar terima kasih pada jiwa fangirl Blogger.

Rabu, 01 Januari 2020

Bangun tidur: cari HP atau cari Tuhan dulu?

Judul di atas itu adalah pertanyaan yang mungkin sudah berapa kali kamu dengar dari tokoh agama (pendeta, pastur, ustad, biksu, dll) saat mereka khotbah. Atau, bagi orang yang sering baca renungan, mungkin bakal nemu pertanyaan begitu.

Jadi maksud dari pertanyaan itu adalah mengetes seberapa kita mendahuluhkan Tuhan dalam hidup orang yang memeluk agama tertentu. Pertanyaan pada judul entri ini adalah pertanyaan sederhana banget, basic. Karena memang, ketika bangun tidur, kamu mau cari Tuhan (dengan berdoa) atau langsung cari ponsel (lalu buka sosmed)?

Blogger adalah seorang Kristen sejak lahir. Dan ketika besar pun memutuskan untuk tetap mengikut Yesus, bahkan ambil pelayanan di Sekolah Minggu. Harusnya, karena mengajar anak-anak, Blogger akan jawab bahwa Blogger cari Tuhan dan bukan HP saat bangun tidur. Tapi benarkah begitu?

#timcariHP

Iya, Blogger memang selalu cari ponsel dulu ketika terbangun, bukannya berdoa. Ini bukan pengakuan dosa. Blogger gak merasa berdosa saat menjawab ini.

Loh, kok gak merasa berdosa?

Oke, begini penjelasan simpelnya: MAU LIHAT JAM.

Ketika terbangun, di luar masih gelap. Gak tahu saat itu jam berapa: entah masih sesubuh jam 2-3 pagi yang bisa Blogger lanjutkan tidur sebentar, atau sebenarnya sudah jam 6 tapi sedang mendung banget dan Blogger harus bangun. Nah, Blogger cari ponsel untuk lihat jam, untuk menentukan sudah saatnya bangun atau belum. Kalau masih jam 2 pagi, Blogger tidur lagi. Kalau sudah jam 5 pagi, ya Blogger memutuskan bener bangun dan doa pagi sebelum beraktivitas apa pun. Gitu.

Jadi kalau ditanya secara pribadi, sebagai orang Kristen yang beriman, Blogger saat bangun tidur cari HP dulu atau Tuhan, Blogger akan jawab cari HP. Iya, cari ponsel, nyalain layar, lihat jam, lalu memutuskan untuk balik tidur atau bangun. Kalau mau bangun, berdoa dulu, gitu.

Makanya kalian-kalian juga gak usah sok fanatik gitulah saat merespon pertanyaan gitu. Apa? Kamu gak ngecek jam di HP? Hmmm, tapi kamu ngelihat jam dinding/weker/dst kan?

Sudah tiga tahunan ini sejak pindah ke Jakarta, Blogger gak ngecek jam lewat ponsel saat bangun tidur. Blogger udah beli jam meja yang ada tombol untuk nyalain layarnya---jadi maksudnya karena Blogger selalu matiin lampu kamar untuk tidur, karena gelap, butuh jam yang bisa dinyalain layarnya (makanya Blogger awalnya lihat jam di layar HP saat terbangun). Ketika terbangun, daripada ponsel, tangan Blogger raba-raba cari jam di samping ranjang dulu. Ketika nginep di luar rumah, Blogger gak bawa jam yang bersangkutan, kembali pakai layar HP lagi.

Berarti, sebelum mencari Tuhan saat bangun tidur, sudah jadi naluri alami manusia untuk cari jam. Tapi kembali lagi, sebelum beraktivitas setelah bangun itu, memang sebaiknya sapa Tuhan dulu. Jadi, gak usah fanatik, lah, mentang-mentang ternyata beneran ada yang berani di umum bilang dia cari HP saat bangun tidur, belum tentu dia main/buka sosmed, siapa tahu dia cari HP untuk lihat jam.

Rabu, 25 Desember 2019

Tukar Kado

Bukan tradisi bagaimana sih, tapi memang biasanya ada acara tukar kado saat Natal. Blogger gak tahu gimana dengan agama lain, tapi banyak orang Kristen dan Katholik, dan biasanya anak muda, yang melakukan ini di bulan Desember.

Sebut saja Komunitas X. Jadi karena komunitas ini tergabung dalam gereja yang Blogger hadiri ibadahnya, Blogger jadi ikut tukar kado bareng mereka jika diadakan. Masalahnya, setiap kali tukar kado dengan Komunitas X ini, Blogger selalu dapat zonk. Oke, enggak, gini, jumlah kado yang ditukar jelas sesuai dengan jumlah peserta. Kalau kamu gak bawa kado untuk ditukar, berarti harusnya kamu gak boleh dapat juga---kecuali kalau ada yang berbaik hati banget. Tapi, kalau memang kamu gak punya atau gak bisa beli suatu barang layak untuk tukar kado, jangan memaksakan diri hanya karena ingin dapat hadiah.

Blogger ingat, 2 tahun lalu dapat zonk parah. Memang dikasih harga minimal kado adalah 25ribu, dan bukan barang yang bisa habis seperti makanan---karena biar bisa ada kenangannya. Kalau mau lebih ya silakan, tapi jangan sampai kurang. Ya Blogger kasih barang standar orang tukar kado: antara botol minum, kotak bekal, binder, atau figuran foto---yang pasti Blogger kasih harganya sesuai dengan ketentuan. Tebak apa yang Blogger dapat setelahnya:

6 buah gelas beling hadiah odol yang ada namanya pada gelas tersebut, dan kotaknya dari kotak nasi bekas yang masih ada nama merek dagang tahu.

Gila parah banget. Kalau memang gak ada kotak biar gampang bungkus, Blogger sama sekali gak masalah. Udah biasa kok, kotaknya apa, isinya apa. Orang bungkus kado ultah juga bisa begitu, walau selama ini gak ada yang pakai kotak bekas makanan. Tapi isinya itu loh. Gak masalah kalau kamu bungkus (untuk tukar kado) sesuatu yang memang ada di rumah, atau bekas hadiah yang lain. Tapi gak gitu juga bambaaaangg.

Tahun lalu Blogger gak ikutan, karena memang gak tahu kalau mereka mau tukar kado. Tapi tahun ini Blogger ikut lagi. Dapat zonk, walau iya masih lebih baik dari insiden gelas itu. Handuk kecil yang masih ada plastik segel minimarket terkenal dan sabun batang umum yang papa Blogger jual di pasar.

Handuk kecilnya masih okelah, walau plastik segelnya itu yang membuat orang putar mata, terlebih lagi tertera harganya di sana, yang kalau ditambah dengan harga sabun itu ternyata gak nyampe 15ribu. Masalahnya, sabun adalah sesuatu yang bisa habis. Jika sabunnya adalah sabun yang jarang ada, Blogger masih gak masalah. Tapi, yah, begitulah.

Itu adalah uneg-uneg Blogger. Bukan gak mau bersyukur, cuman kok kayaknya Blogger selalu tidak beruntung kalau tukar kado bareng mereka---Blogger juga ada tukar kado dengan 2 komunitas lain dan selalu baik-baik saja. Yah, namanya juga tukar kado sih, tapi sekali lagi, kalau memang gak ada barang layak untuk ditukar, jangan memaksakan diri untuk ikutan. Kamu kasih sesuatu yang buat orang kesel, tapi malah dapat sesuatu yang bagus.

Jadi, bagaimana tukar kado yang enak?

Selain Komunitas X, Blogger ada tukar kado dengan Y dan Z. Komunitas Y adalah dari gereja lain, dan Komunitas Z anggap saja genknya Blogger.
Sama seperti Komunitas X, kedua komunitas lainnya kasih batas harga juga. Tapi syarat lainnya bukan hanya tentang barang tersebut bisa dikenang (gak boleh habis).

Komunitas Y selalu buat daftar barang yang gak boleh diikutsertakan. Seperti, gak boleh botol minum merek A dan B, kotak bekal merek C, barang-barang bermerek D dan E, dan sebagainya. Saat suatu fandom sedang mencuat luar biasa sehingga banyak barang bergambarkan fandom tersebut, maka barang-barang dengan gambar fandom itulah yang dilarang. Bukan kami gak suka merek-merek dan fandom yang dimaksud, tapi pemikiran orang paling gampang saat cari hadiah tukar kado yang barang-barang itu, sehingga seperti di rumah Blogger aja udah numpuk baik dari hadiah tukar kado atau hadiah permainan dari Komunitas X. Omong-omong, barang-barang hadiah gratisan atas pembelian barang (seperti odol) dan nama mereknya ada pada barang tersebut juga masuk black list untuk tukar kado Komunitas Y.

Komunitas Z beda lagi. X dan Y itu, karena dari gereja, satu sama lain mungkin gak begitu mengenal menyeluruh. Tapi di Z, karena genk, jadi satu sama lain bisa lebih mengenal semua. Cara kami tukar kado, selain ada rentang harga (iya, bukan harga minimal, melainkan rentang), tiap tukar kado caranya beda.
Pernah kami sepakat untuk beli kado di toko F yang ada di mall G dengan rentang harga tertentu, tapi kami gak tahu apa yang masing-masing beli. Pergi belinya sendiri-sendiri, lalu ketemu di tempat H untuk tukar kado. Ada kemungkinan beli dan dapat barang yang sama, sih, tapi setidaknya gak bakal kena zonk.
Pernah juga kami sepakat untuk beli barang (untuk tukar kado) dengan suatu fandom tertentu, pakai rentang harga. Karena semuanya suka Harry Potter dan kebetulan fandom itu punya banyak merchandise dan buku, yaudah. Ada kemungkinan mendapat sesuatu yang sebenarnya kita sudah punya, tapi kami abaikan karena anggap tambah koleksi.
Tahun ini, kami sepakat untuk beli notebook sebagai hadiah tukar kado, dan itu harus dari fandom-fandom tertentu. Sejauh ini, yang Blogger sering lihat di suatu  toko langganan, notebook yang bisa diincar adalah dari Harry Potter, Fantastic Beasts, Grishaverse, Minecraft, dan Game of Thrones. Blogger beli Grishaverse dan dapat Harry Potter, entah dari fandom apa saja yang disertakan. Ada kemungkinan kita dapat dari fandom yang kita beli juga, bukan berarti dapat punya sendiri melainkan ada yang lain yang belinya samaan. Gapapa, anggap aja koleksi.

Begitulah. Mungkin benar-benar karena di Komunitas X itu ada orang yang gak tahu diri (?) dan memaksakan diri agar dapat hadiah, atau memang Blogger-nya aja yang sensi karena tukar kado bareng orang-orang yang saling mengenal.

Selasa, 15 Oktober 2019

Confessions (Kokuhaku), a novel by Minato Kanae

Dengan cover seperti itu (versi Indonesia), lalu di Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Haru, Blogger langsung saja mikir bahwa ini sensasinya jadi seperti novel-novelnya Akiyoshi Rikako, tapi ternyata cukup berbeda. Sama-sama membuat tegang dan ingin tahu 'kebenaran' di balik kasus yang dipaparkan, tapi Confessions karya Minato Kanae ini beda dengan novelnya Akiysohi Rikako.

Entah apakah ada novel lain dengan format cerita seperti ini atau tidak, tapi yang pasti ini pertama kalinya Blogger baca novel yang seperti ini. Sekelebat mirip dengan format cerita di novel Girls in the Dark dan Absolute Justice (keduanya karya Akiyoshi Rikako), tapi saat diperhatikan tetap berbeda. Makanya novel ini harus dibaca pelan-pelan, tidak bisa asal baca karena nanti tidak akan paham.

Dari sinopsis dan pengiklanan novel ini, yang melulu digemborkan adalah tentang 'saking sayangnya seorang ibu pada anaknya, sehingga Sang Ibu bisa melakukan hal-hal tak terduga'. Padahal kalau menurut Blogger pribadi sebagai pembaca, selain tentang Si Ibu, yang patut diperhatikan adalah Bocah A.

Sebelum lanjut, berikut adalah sinopsis punggung bukunya.

'Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.
Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk ... '

Dari sinopsis tersebut, jika kamu pikir tokoh Moriguchi Yuko ini ceritanya sedang mencari pelaku, maka itu salah. Dalam novel, Moriguchi ini sudah tahu siapa dua anak kelasnya yang menjadi pelaku, dia hanya mengungkapkan dan menjabarkan alur kejadiannya di awal novel, tapi tidak membeberkan nama kedua anak itu secara gamblang. Hanya saja, para warga kelas itu, karena guru mereka ini mendeskripsikan Bocah A dan Bocah B dengan sangat baik, mereka jadi tahu siapa yang dimaksud. Tentang pemakaian 'A' dan 'B' (di novel bahkan ada 'C' juga), itu berdasarkan pernyataan Moriguchi ya, jadi bukannya Blogger yang malas tulis nama pelaku.

Kembali tentang sebelum Blogger tulis sinopsisnya.
Ketika kamu baca novel ini, memang terkesan Moriguchi-sensei ini kok kejam banget cara balas dendamnya. Dapat dipahami bahwa karena anak SMP masih terlindungi hukum (di Jepang), sehingga guru ini ingin memberi pelajaran sendiri untuk kedua tersangka, tapi Blogger tidak sangka sampai sejauh itu di bab terakhir.
Tetapi, dalang kasus yang dipaparkan adalah Bocah A. Blogger cukup menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan pada anak ini. Sejak kecil, yang ditanam dalam otak A hanyalah sains melulu. Tidak peduli apakah suatu eksperimen itu punya dampak negatif, pokoknya yang penting temuannya berhasil. Tidak peduli kalau ada yang harus dikorbankan, yang penting harus uji coba. Nah, itulah, karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan, makanya A bisa seperti itu. Makanya ketika dia dan B melakukan pembunuhan itu, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan ketika tahu gurunya sedang balas dendam, dirinya malah kesenangan. Bocah A tidak gila, Blogger pun paham tentang dia yang ingin diperhatikan seseorang (dia bisa gila akan sains juga pengaruh dari orang tersebut), tapi kembali lagi dia menutup mata pada hal yang baik dan buruk.
Jadi kalau harus pilih, dibanding Si Guru, tokoh yang lebih menyeramkan bagi Blogger adalah A.

Selesai baca novel ini, Blogger baru tahu kalau filmnya sudah dibuat tahun 2010. Trailernya enggak banget---kalau bukan karena sudah baca novelnya, kemungkinan besar Blogger tidak bakal tertarik nonton. Bukannya jelek, tapi ya begitulah. Yang paling membuat Blogger semangat nonton mungkin karena sudah baca novelnya serta ada Okada Masaki (BRB mau nonton ulang Hana Kimi 2007 dan Otomen).

Filmnya baik. Kalau Blogger tidak kelewat, berarti alur dan elemen yang ada itu sesuai dengan novelnya. Ada beberapa detil seperti harusnya ngomong kalimat X baru Y dan sebagainya, tapi itu tidak masalah karena alur masih sesuai. Di bagian akhir saat Moriguchi telepon A, ada hal yang dibedakan dari versi novel, tapi masih tidak keluar jalur. Masalah pemilihan aktris dan aktor, ehem, saat baca novel Blogger tidak sempat bayangin/mengira-ngira tampang para karakter, jadi tidak bisa bilang kastingnya sesuai atau tidak. Yang pasti para aktor dan aktris berakting dengan baik, terutama pemeran Moriguchi. Tapi tetap saja, para warga kelas selain Si Guru seharusnya masih SMP, tapi kastingnya---ah ya sudahlah.

Jika kamu mengira versi novel akan lebih ringan daripada novel gara-gara trailer, kamu salah. Mungkin saat nonton, bagi kamu itu tidak terlihat riil, tapi bagi Blogger yang punya hematophobia, Blogger jijik saat lihat darah yang ada di film. Adegan menyangkut darah ini bukan sekedar luka, ya, tapi benar seperti terciprat, dan itu tidak sekali muncul.

Bagi yang tertarik nonton (baik sudah baca novelnya maupun belum), Blogger sarankan untuk tidak meleng, harus bener fokus nonton, karena adegannya sering berubah. Sedetik menampilkan A, tahu-tahu detik berikutnya sudah ganti jadi B, eh lalu balik ke A. Memang ada beberapa adegan pengulangan, tapi Blogger masih bisa memaklumi karena maksudnya sambil dijelaskan.
Dan ini hanya pendapat Blogger, tapi Blogger tidak suka adegan ledakan di bagian penghujung terakhir film. Di novel memang ada tentang ledakan yang terjadi, tapi versi filmnya seperti tidak nyambung dengan adegan keseluruhan film.

Omong-omong, tidak hanya ketika nonton, tapi ketika baca novel ini pun Blogger langsung teringat dengan Mr Hiiragi's Homeroom (3 Nen A Kumi: Ima kara Mina-san wa, Hitojichi Desu). Ceritanya beda, segalanya beda terutama bagian akhirnya. Tapi Blogger bisa merasakan vibe yang sama di bab pertama Confessions ini. Jika ada yang tertarik nonton, silakan, dan Blogger sudah pernah bahas Mr Hiiragi's Homeroom di entri tersendiri.

Paragraf terakhir ini akan membuat sebal sebagian orang karena Blogger menyangkutkan dengan agama walau tidak kental, jadi kalau mau dilewatkan, silakan sudahi baca entri ini sampai sini saja.
Bocah A masih SMP. Di mata orang yang sudah selesai SMA, berarti A masih kecil. Seperti yang sempat Blogger ketik sebelumnya, Blogger menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan kebaikan dan keburukan pada A. Mungkin saat sedang bersama keluarganya, A sempat diberi wejangan ringan, tapi dianggap angin lalu karena otaknya penuh dengan Sains yang dicekoki sejak kecil. Jangan salah, sains itu ilmu penting, tapi menjadi jelek jika mengabaikan sisi kemanusiaan.
Tidak mutlak, tapi itulah pentingnya program seperti Sekolah Minggu di rumah ibadah agama mana pun. Blogger percaya setiap agama mengajarkan mana yang baik, buruk, dan yang benar. Seperti Blogger di gereja, Sekolah Minggu bukan hanya mencekoki anak tentang kisah Yesus, tapi juga mengajarkan kebaikan dan keburukan menurut pandangan Alkitab. Seperti (lagi) pas minggu kemarin, di kelas Blogger cerita tentang bersikap sopan saat bertamu, tentang jangan menganggap diri lebih penting dari orang lain, jangan menganggap orang lebih rendah dari diri sendiri---ajarannya ada di Alkitab, tapi Blogger membahasnya sambil ngobrol dengan anak-anak sambil membicarakan tentang kondangan atau tentang bagaimana sikap mereka saat pergi ke rumah teman. Sekolah Minggu memang begitu, dan ini berbeda konteks dengan pelajaran agama yang disuguhkan di sekolah formal.
Nah, kembali tentang Bocah A. Blogger sangat berharap ini tidak terjadi di Indonesia yang setiap orang menganggap serius keyakinan apa pun yang dipeluk---orang atheis sekali pun. Yuk, para orangtua (dan atau wali), bawa anak-anak itu ikut Sekolah Minggu (dan sejenisnya). Bukan hanya mereka akan mendengarkan kisah dari kitab suci, tapi itu juga membantu para ortu agar anak-anak bisa tahu tentang kebaikan dan keburukan. Sains dan ilmu lain jelas penting, tapi jangan otak mereka melulu yang 'dikasih asupan', hati mereka juga butuh 'asupan'.

Sabtu, 29 Juni 2019

Jago bahasa Inggris, bangga?

Blogger gak jago bahasa Inggris. Yang kenal Blogger di FB/IG/RL pasti bilang sebaliknya. Tapi beneran, Blogger gak jago bahasa Inggris. Blogger hanya lebih bisa menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia daripada sebaliknya. Makanya kalau disuruh ngomong/nulis pakai bahasa Inggris bisa amburadul, padahal bacaan dan tontonannya pakai bahasa Inggris.

Kalau kamu jago bahasa Inggris, selamat, kamu menguasai salah satu bahasa Internasional tersebut. Jadi kalau kamu ke luar negeri, sekalipun orang lokal sana gak fasih, tapi kamu bisa ajak cuap-cuap dikit dengan bahasa Inggris.

Sekali lagi, Blogger gak jago, hanya sekedar bisa, dan manfaatnya sangat terasa.
Seperti, gak semua novel diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Ada serial novel yang terdiri dari 8 buku, tapi yang diterjemahkan hanya 3 pertama (CHARLIE BONE!!!). Blogger sedih banget gak bohong. Gak cuman novel, tapi artikel-artikel dunia bisa kamu baca duluan daripada harus tunggu penerjemah---kalau mereka mau terjemahin. Pakai gugeltranslet? Hmmm, Blogger malah bingung dengan terjemahannya.
Contoh lain, game, hampir semua yang didistribusikan di Indonesia itu berbahasa Inggris. Sekarang mungkin sudah banyak yang berbahasa Indonesia karena karya anak bangsa, tapi yang memang produksi luar?
Satu lagi contoh adalah tontonan yang bukan produksi Indonesia. VCD/DVD yang tersebar di Indonesia rerata dijualnya yang sudah ada terjemahan bahasa Indonesia, sih. Belakangan situs donlot juga udah banyak yang khusus terjemahan Indonesia. Tapi, gak semua film ada. Banyak film, serial, dan animasi yang tidak punya terjemahan bahasa Indonesia. Mereka yang dubbingnya bukan bahasa Inggris (karena bukan film berbahasa Inggris), lebih tersebar gratis pakai bahasa Inggris. Kalau kamu gak bisa bahasa Inggris, berarti kamu harus cari lagi terjemahan bahasa Indonesia-nya. Ribet, kan?

Sebenernya bangga itu boleh banget kok, tapi jangan sampai kebanggaan kamu pada kebisaan berbahasa Inggris mengatasi kebisaanmu pada bahasa Indonesia atau malah bahasa daerahmu. Harusnya kamu jauh lebih bangga saat kamu berbicara dengan bahasa Indonesia secara fasih, menulis dalam bahasa Indonesia dengan EYD. Tahu mana yang benar: apotek atau apotik, nasehat atau nasihat, kualitas atau kwalitas, aktivitas atau aktifitas, dsb.

Karena, gini. Saat kamu jago bahasa Inggris, itu sudah biasa. Karena dia bahasa Internasional, berarti walau hanya dasar, bahasa ini diajarkan di semua negara di dunia, walau benar-benar hanya dasar. Dan karena bahasa Internasional, walau secara formal mereka hanya diajari dasarnya (mungkin gak semua sekolah, tapi intinya kamu paham kan?), mungkin mereka akan belajar otodidak/les tambahan untuk belajar bahasa Inggris lebih lanjut. Dengan kata lain, kalau kamu jago, sainganmu untuk jadi yang paling jago adalah seluruh dunia ini. Kalau kamu jago bahasa Inggris, ya, itu harusnya bukan hal yang istimewa atau wow lagi.

Sedangkan kalau kamu jago bahasa Indonesia (yang baik dan benar sesuai KBBI) atau malah bahasa daerahmu (batak, betawi, manado, dsb), kamu harus sangat bangga.
Jumlah negara yang memasukkan pelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum (formal) itu mungkin bisa dihitung jari. Mungkin ada sekolah yang memasukkan bahasa ini ke ekskul, atau ada les yang mengajari bahasa Indonesia. Seorang teman chatting Blogger saat SMP asal Polandia bilang bahwa di sekolahnya, pelajaran bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib. Belum tentu semua sekolah Polandia juga begitu. Dibanding bahasa Inggris, pelajaran bahasa Indonesia di seluruh dunia jelas kalah. Sedihnya, sekolah-sekolah di Indonesia makin kesini semakin menomorduakan bahasa nasional ini (Blogger bukan ngomongin sekolah taraf Internasional, tapi taraf Internasional pun harusnya tetap mengajarkan bahasa negara ini sendiri).
Saat ini penduduk Indonesia adalah sekitar 3.5% dari total 100% penduduk dunia, dan itu masih termasuk banyak mengingat masih ada sangat banyak negara lain dalam dunia ini. Berarti saat kamu jago bahasa Indonesia, kamu menjadi orang yang istimewa, karena jumlah orang yang jago bahasa Indonesia di dunia ini sedikit. Iya, banyak penduduk negara lain yang populasinya lebih sedikit, tapi kita lagi omongin bahasa Indonesia.
Negara Cina sendiri yang penduduknya paling banyak, mereka lebih mengutamakan bahasa mereka dibanding bahasa Inggris, bahkan sejak sebelum bahasa Mandarin ikut dijadikan bahasa Internasional.

Ayo dong, bangga sama bahasa nasional sendiri. Jangan sok ngaku cinta Indonesia tapi melulu ngomongnya 'I LOVE INDONESIA' pada orang yang ngerti bahasa Indonesia. Coba deh ngomongnya 'AKU CINTA INDONESIA', kan adem gitu.

Minggu, 23 Juni 2019

Makanannya dianter sekarang?

Blogger gak inget persisnya, tapi memang kayaknya setelah lewat umur 16-17, suara Blogger direspon orang sebrang telepon sebagai 'ibu'. Ya kalau sensi bisa aja bilang belum ibu-ibu, tapi kalau dari telepon, suara perempuan memang biasa direspon sebagai 'dek' atau 'buk', kan?

Jadi saat itu Blogger sekeluarga belum punya android, dan kalau pesan makanan masih pake telepon. Biasanya yang nelpon buat pesan sih Blogger. Mau siapa yang pengen makan, yang disuruh ngomong di telpon ya Blogger.

Blogger lupa umur berapa, kalau gak salah masih sekitar SMP, saat itu sedang bulan puasa. Daerah rumah Blogger saat itu gak susah cari makanan sebenernya, tapi memang mau puasa atau enggak tetep aja mereka adanya sore. Dan omong-omong, Blogger sekeluarga memang bukan Muslim, jadi puasanya gak ikut mayoritas.

Balik lagi. Blogger mau pesan makan pakai telpon pada siang hari. Karena masih SMP, suara Blogger saat itu masih disambut dengan 'dek'. Blogger gak inget persis perkataannya, tapi kurang lebih beginilah yang terjadi.

XYZ: "Terimakasih telah menghubungi resto XYZ, ada yang bisa dibantu?"

Blogger: "Mbak, saya mau pesan A, B, C, ya."

XYZ: "Alamatnya masih sama ya?" (Blogger memang sudah beberapa pesan kesana, jadi data pembelinya sudah ada)

Blogger: "Iya."

XYZ: "Ini mau dianterin sekarang?"

Blogger: (jelas bingung, kirain Blogger-nya yang salah denger, karena selama ini gak pernah dapet pertanyaan begitu) "Hah?"

XYZ: "Iya, ini makanannya mau diantar sekarang?"

Blogger: (nada mbaknya gak kayak becanda, tapi Blogger masih bingung) "Iyalah."

XYZ: "Dek, ayah atau ibunya ada?"

Blogger: "Iya ada."

XYZ: "Coba dipanggil sebentar."


Blogger langsung panggil mama yang memang ada di ruang tengah dengan Blogger. Mama jelas bingung juga, tapi ambil teleponnya. Setelah sekitar 2-3 'iya' dari mama, telepon ditutup. Karena masih gak ngerti, Blogger tanya kenapa. Mama bilang:

"ITU MBAKNYA KIRAIN KAMU DIEM-DIEM MAU BATAL PUASA. SUARA KAMU MASIH SUARA ANAK-ANAK MAKANYA DIA KAYAK MAU LAPORIN MAMA KALAU KAMU GAK PUASA."


Gini ya, ingetin orang puasa saat bulan puasa memang hal yang baik, KALAU ORANG YBS MEMANG IKUT PUASA. Sungguhan, itu sama sekali bukan pertama kalinya Blogger telpon pesan makanan saat bulan puasa. Tahun-tahun sebelum dan sesudahnya, atau bahkan di bulan tahun yang sama itu pun, Blogger pernah pesan. Sampai detik ini, yang kejadian kayak gitu baru sekali.

Tolong ya, kalian-kalian yang kerja di resto dan bertugas untuk angkat telpon layanan begitu. Kalau ada yang pesan makanan saat bulang puasa, suaranya kayak anak kecil sekali pun, gak usah diselidik sampai sebegitunya. Untung saat itu memang ada mama dengan Blogger. Nah kalau pas mama sedang gak di tempat atau bener-bener gak bisa megang telpon, atau mungkin pada kasus orang lain gak bisa bicara, lantas kami yang memang gak ikutan puasa itu gak bakal kalian anterin gitu pesanannya?

Sekali lagi, ingetin orang puasa itu baik, tapi pastikan kalau orang yang kamu sok ingetin itu benar sedang jalanin puasa.

Rabu, 12 Juni 2019

Harvest Moon, pasti ada yang kena patah hati.

Dari semua macam game Harvest Moon, yang bener Blogger mainin hanya Back To Nature (PS1). Paling ada lagi Harvest Moon for Girl (PS1, segalanya berbahasa Jepang, gak ngerti apa-apa), Save the Homeland (PS2), dan A Wonderful Life (PS2), tapi mereka berempat ini gak begitu Blogger mainin, paling cuman satu musim doang. Harvest Moon for Girl itu sama seperti Back To Nature, cuman beda gender tokoh utama. Jadi iya, kalau omongin Harvest Moon, yang langsung nyantol di otak Blogger adalah nuansa Back To Nature + Claire.

Harvest Moon (Back To Nature) adalah salah satu game pertama yang Blogger mainin di PS1 selain Bishi Bashi dan Sim Theme Park. Blogger inget, saat itu masih awal SD dan masih buta bahasa Inggris, tapi penasaran main HM. Ketika muncul versi bahasa Indonesia, Blogger langsung seneng dan beli, langsung main. Tapi ternyata gak 100% bahasa Indonesia, pasti ada yang bahasa Inggris terutama untuk nama barang. Blogger inget sering manggil Koko cuman buat tanya arti kata ini-itu apa. Pernah Koko mungkin karena sebel ditanyain melulu, dia masuk kamar, keluar lagi, sodorin kamus. Waktu itu Koko sudah les bahasa Inggris, sedangkan Blogger entah kenapa kayak takut les. Nah, gara-gara pengen bisa main game, Blogger pun memutuskan untuk ikut les bahasa Inggris juga. Terimakasih klinik tongfang.

HMBTN juga adalah game yang membuat Blogger mengenal kata GAME SHARK. Itu juga dikenalin Koko. Awalnya Blogger bingung, itu Koko ngapain kok main PS tapi layarnya cuman tulisan doang. Setelah tau, Blogger jadi ikutan. HUUUUUUU.

Ehem.

Udahlah, ke judul yuk.

Awalnya Blogger gak kepikiran frasa 'patah hati', jelas. Mengaitkan istilah ini dengan HM pun juga belakangan, karena di dunia nyata terjadi sesuatu dan Blogger pikir mungkin beginilah perasaan para cowok/cewek di HM yang 'pacar'nya dinikahin tokoh utama. Apalagi kayaknya di setiap serial HM memang cewek yang bisa dinikahin tokoh utama itu punya semacam 'pacar', jadi kayak rival untuk tokoh utama. Bagi yang ngeh, sesuatu di dunia nyata itu ada hubungannya dengan fict Bukan Kebetulan. Ini bukan promosi.

Saat masih aktif main HM, mau PS1 ataupun PS2, lalu baca-baca fanfiksi di arsip HM, Blogger hanya anggap hiburan. Hanya pikir ya jalan ceritanya begitu, apa-apa aja yang harus dilakuin, karakter yang ini seperti apa, tahun pertama gimana, bakal game over kalau kenapa, dan sebagainya. Anggap angin lalu. Tapi ketika 'sesuatu' itu terjadi, Blogger baru kepikiran untuk mengaitkan frasa 'patah hati' pada HM.

Karena Blogger paling paham Back To Nature, jadi perumpamaannya dari sana aja ya.

Eh tunggu, Blogger perempuan, jadi Back To Nature yang tokoh utamanya perempuan aja ya (Harvest Moon for Girl).

Gini, karena suatu hal, tokoh utama yang disebut sebagai Claire memutuskan untuk tinggal di Kota Mineral. Dia bekerja dengan giat di ladang, dan dia berusaha untuk bergaul dengan penduduk. Karena orang baru, jelas orang-orang setidaknya pernah dengar tentang dia. Claire bukannya cari muka, tapi memang ramah pada semua orang tak terkecuali. Yang perempuan senang berteman dengannya, yang laki-laki jadi punya hati untuknya.

Kemudian ada tokoh Gray, yang sebelum kedatangan Claire di Kota Mineral, ia sangat dekat dengan pustakawati bernama Mary. Gray dan Mary sama-sama irit bicara. Gray adalah satu-satunya orang yang berhasil membuat Mary mau bergaul, makanya Mary bisa jatuh hati pada Gray yang tampaknya menaruh perhatian lebih padanya. Tapi semua berubah ketika Claire datang, benaran.

Claire ramah dan berusaha bergaul dengan orang-orang pendiam macam Gray dan Mary. Karena tidak pernah menyerah, kedua orang ini pun luluh dan mau berteman dengan Si Orang Baru. Awalnya Mary menganggap Claire dan Gray dekat seperti sebagaimana Claire dekat dengan semua orang. Tapi ternyata kelamaan Claire dan Gray memang jadi lebih sering ditemukan saat berduaan, dan akhirnya Gray menikahi Claire, meninggalkan Mary yang telah lama menyukainya.

Oke, gak hanya Gray-Mary, tapi juga Rick-Karen, Cliff-Ann, Kai-Popuri, Doctor-Elli. Blogger sengaja pakai Gray-Mary karena di antara kelima cewek itu, Blogger lebih mengarah ke Mary. Tapi ceritanya paham, kan?

Gini, 'orang baru' pasti selalu ada, tapi khusus Blogger, jalan ceritanya benar seperti HM, minus ladang pertanian versi harafiah, makanya Blogger bisa nyangkutin kesana.

Yah, hidup memang begitu. Siapa cepat, dia dapat.

Selasa, 14 Mei 2019

Berbuat baik, tapi dipamerin

Pencetus entri ini adalah saat makan siang, Blogger nonton berita infotaimen tentang ada artis yang nyamar jadi orang kekurangan dan minta-minta ke jalan, habis itu orang yang kasih sedekah dengan 'baik' misalkan kasih makan atau apa, artis ini setelahnya bakal kasih uang. Lalu acara infotaimen ini menyuguhkan beberapa video lain tentang aksi serupa para artis yang kebanyakan Youtuber.

Berbuat baik ya memang bagus, apalagi untuk orang yang membutuhkan. Kalau direkam lalu dibagikan? Bagi Blogger itu agak aneh.

Gini, video-video yang ditampilkan di acara infotaimen itu, semuanya direkam oleh kru si artis, dengan kata lain memang dari si artis ini yang pengen aksinya direkam lalu jadi konten di misalkan akun youtube-nya. Dari proses edit ini-itu, semua dari si artis dan atau krunya. Berarti video tersebut dibuat secara sadar dan sengaja. Terlepas dari dia sebenarnya tulus berbagi atau enggak, bagi Blogger, mereka terlihat pamer---berbuat baik kok harus dipamerin? Mungkin maksudnya biar kasihtahu bahwa berbuat baik ada banyak cara dan salah satunya dengan cara begitu. Tapi tetep, kenapa harus dipamerin?

Lain kalau misalkan saat sang artis nyamar dan berbuat baik, tahu-tahu ada orang sebut saja XYZ sadar bahwa orang itu adalah artis kemudian direkam-masuk sosmed-viral. Memang ada kemungkinan XYZ masih kru artis yang bersangkutan, tapi ini masih bisa terlihat tulus.

Blogger bukan bermaksud nyinggung atau suruh orang berhenti berbagi kebaikan. Bukan gitu. Blogger hanya ingin kasih pendapat tentang para tokoh publik yang ngakunya enggak pencitraan tapi yang mereka lakukan terlihat seperti pencitraan. Ini murni pendapat Blogger, mungkin seiring berjalannya waktu bisa berubah pikiran. Tapi untuk saat ini, ya begitu.

Kamis, 09 Mei 2019

Angkot disuruh Cepatan

Tentang judul, maksudnya bukan Blogger yang nyuruh angkot biar cepetan, ya, tapi tentang seseorang yang entah simpen otaknya dimana sampai pernah ngomong begitu ke Blogger.

Ini adalah semacam uneg-uneg masa lampau, yang sampai sekarang masih Blogger inget karena ini berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, mungkin ada yang lain yang alamin juga.

Sampai pertengahan 2017 lewat sedikit, Blogger masih tinggal di Bekasi. Saat itu, walau sudah punya ponsel pintar, tapi belum kenalan dengan ojek online, alias kemana-mana bener masih naik angkutan umum dari kuasi-metromini-busway. Sekali lagi, saat itu Blogger tinggal di daerah Bekasi. Karena Kristiani, berarti setiap hari Minggu Blogger pergi ke gereja, yang mana gereja Blogger itu di daerah Jakarta. Kalau naik mobil pribadi, perjalanan bisa sekitar 50 menit KALAU GAK MACET/TUNGGU KERETA LEWAT. Nah kalau naik angkot, itu belum termasuk dia ngetemnya.

Sekitar tahun 2008-2009, dengan kata lain bertahun-tahun sebelum Blogger kenal ponsel pintar dan ojek online, Blogger dijadikan bagian panitia suatu acara komisi remaja di gereja. Bagian Blogger sederhana, yaitu seksi doa. Dengan kata lain, Blogger dan orang-orang seksi doa lainnya tidak perlu pusingin apa-apa, karena yang penting kami bantu dalam doa (tunggu, gini, kepanitiaan itu banyak bagiannya, dan seluruh anggota remaja harus jadi panitia. Tapi jumlah bagian seksi dan jumlah anggota remaja jelas gak sebanding, maka yang tidak jadi panitia inti akan menjadi seksi doa) sambil bantu dikit-dikit kalau memang dibutuhkan. Berarti, ketika kami telat di hari-H, harusnya itu tidak jadi masalah karena kami bukan orang yang harus berurusan dengan panggung atau bagian yang harus tatap muka dengan tamu. Tapi, walau begitu, Blogger berusaha untuk gak telat. Hanya mentang-mentang jabatannya enggak dikejar waktu, Blogger gak mau telat, karena toh lima belas menit sebelum acara mulai kami akan doa bareng.

Nah, di hari-H, Blogger berangkat dari rumah dua jam SEBELUM JAM DOA. Berarti 135 menit sebelum acara mulai. Seperti biasa, dari rumah, Blogger harus nyebrang untuk bisa naik kuasi setidaknya 20-30 menit lalu nyambung metromini 30-40 menit, kemudian jalan kaki setidaknya 10 menit menuju gereja. Blogger naik metromini itu dari tempat mereka mangkal, jadi kalau belum penuh ya gak bakal jalan---itu yang membuat Blogger sebel.

Selama di kuasi gak ada masalah. Malah sempet mikir, kalau jalan lancar, maka Blogger bakal kepagian. Tapi ternyata, sampai di pangkalan metromini, semua masih kosong. Berarti harus nunggu lama. Mungkin nyaris dua puluh menit cuman sampai supirnya mau nyetir.

KOK GAK NAIK TAKSI AJA?

Pertama, mahal. Pernah nyoba loh, beneran, hampir seratus ribu, dan Blogger tidak sekaya itu.
Kedua, sebenarnya kalau udah kepepet banget (karena jamnya juga sebenarnya masih pagi, Blogger berusaha gak panik), mungkin Blogger akan cari taksi. Tapi Blogger inget banget, di hari itu, gak ada satu pun taksi kosong yang lewat.

KOK GAK NAIK OJEK AJA?

Maaf, Blogger pakai rok. Perjalanan jauh serta pakai rok dan tidak bawa jaket, makasih. Dan lagi, gak ada ojek yang mangkal disana saat itu.

KOK GAK NAIK MOBIL PRIBADI?

Gak ada supir. Satu-satunya orang di rumah yang bisa bawa mobil hanya papa, tapi saat itu papa hari Minggu masih kerja, jadi gak bisa antar.

Oke, lanjut lagi ya.

Supir metromini kalau nyetir memang angot-angotan, kadang bisa lelet banget, kadang tiba-tiba ngebut---biasanya kalau ada saingannya. Karena Blogger naik dari pangkalan, kursi sudah penuh, jadi selama beberapa belas menit pertama gak ada kata ngetem. Lalu entah kena sial apa, setelah lewat satu titik, kena lampu merah terus menerus. Setidaknya harus kena dua kali lampu merah di satu jalan dulu baru bisa lewat. Memang ada beberapa area yang Blogger sampai hapal mereka lampu merahnya lama, dan disitu Blogger kena juga.

Dan beberapa belas kilometer sebelum sampai posisi Blogger turun (untuk jalan kaki selama 10 menit), metromini harus lewatin rel kereta api. Sudah biasa sih kalau kena halang palang setidaknya dua kali disitu, karena memang ramai. Tapi Blogger inget, pada saat itu, mungkin lebih dari lima kali. Bayangkan betapa lamanya disitu.

KENAPA GAK TURUN DAN LANGSUNG JALAN LEWATIN REL?

Gini ya, pertama, gimana kalau tiba-tiba keretanya lewat saat Blogger masih di tengah jalan rel?
Kedua, untuk jalan kaki sampai gereja dari posisi rel itu masih lumayan banget dan kondisi kesehatan Blogger enggak sebagus kamu. Dan kalau maksudnya jalan lewatin rel lalu nyambung kendaraan lain, memangnya saat itu kamu mau nalangin ongkosnya? Sekali lagi, Blogger enggak sekaya itu.

Jadi saat itu, jam tangan Blogger sudah menunjukkan setidaknya 15 menit sebelum mulai acara, dengan kata lain panitia lain sudah mau mulai doa. Blogger berusaha untuk tetap tenang, karena sekali lagi, di acara tersebut Blogger gak kena tugas penting apa-apa, jadi Blogger gak perlu ngejar waktu.

Eeeehh tiba-tiba, Blogger ditelpon oleh ketua panitia. Tolong diketahui, ketua panitia ini tidak sama dengan ketua komisi remaja, dia juga bukan pengurus remaja sama sekali. Jadi kalau dia sampai panik, Blogger paham, tapi tolong otaknya dipakai juga, gitu.

Kurang lebih kata-katanya seperti ini.

Dia: "Blogger? Udah sampai mana?"
Blogger: "Masih di angkot, nunggu kereta lewat, sebentar lagi sampai."
Dia: "Wah, bisa dipercepat gak?? Kita udah mau mulai doa nih!"
Blogger: "Iya ini masih di dalam angkot, daritadi kereta lewat mulu!"
Dia: "Yaudah pokoknya cepetan ya!!"

ANU, GIMANA KALAU LU SENDIRI AJA YANG NGOMONG SAMA SUPIRNYA BIAR SURUH CEPET??

Entah dari dialog tersebut Blogger-nya yang salah paham atau dianya yang salah pengertian. Tapi yang Blogger bikin cetak miring itu gak beneran diucapin ya, karena habis dia suruh cepetan itu Blogger matiin hapenya.

Sejak tinggal di Jakarta, Blogger udah hampir gak pernah naik angkot, karena kemana-mana pesen ojek/taksi online. Kalau pas ada urusan di Bekasi, barulah Blogger naik kuasi sebelum dan setelah naik kereta. Tapi posisi rumah Blogger di Jakarta ini dikelilingi rel kereta. Ya bukan pas bener di kiri-kanan-depan-belakang, tapi kalau mau kemana-mana harus lewatin rel kereta dulu. Mending kalau perginya sendiri naik ojek, kalau pas pesennya mobil berarti pulang-pergi masih lewatin rel macat-macat. Huft.

Tapi Blogger gak pernah nemuin manusia lain yang seperti Si Ketua Panitia, sih, baguslah.

Kamis, 02 Mei 2019

Tamat, Tapi Ada Lanjutannya

Entah sudah berapa banyak jumlah novel yang Blogger baca, yakin juga pasti banyak yang bacaannya berkali lipat dari Blogger. Dari semua novelis yang karyanya sudah Blogger baca, setidaknya ada dua yang menganut prinsip 'tamat tapi ada lanjutannya'. Maksudnya gini, jadi mereka bikin serial namanya ABC, setelah ceritanya selesai tiba-tiba mereka bikin serial DEF yang berlatar setelah atau sebelum atau barengan dengan ABC, atau semacam panduan/ensiklopedia khusus fandom bersangkutan----'universe'-nya sama. Enggak salah, itu hak mereka, dan Blogger sebagai penggemar serial yang dimaksud pun senang dapat asupan terus. Tapi, sesenengnya Blogger, tetap aja sesekali mikir 'buset, itu orang belom bisa move on dari universe ABC apa?'.

Sampai sini mungkin udah ada yang kepikiran salah satu atau mungin kedua novelis yang dimaksud, atau mungkin ada yang kepikiran novelis lain selain yang Blogger pikirkan saat ngetik entri ini. Keduanya cukup terkenal walau belum tentu semua orang udah baca karya mereka. Kedua orang itu adalah Rick Riordan dan Cassandra Clare. Kalau novel-novel yang Blogger baca dijumlahkan berdasarkan pengarang, maka novelnya Riordan itu yang paling banyak gara-gara dia punya banyak semacam guidebook, disusul Clare. JK Rowling juga bikin buku dalam novel sih, tapi jumlahnya tetap kalah dibanding novelnya Clare. Dan kita gak ngomongin tentang jumlah halaman.

Disini bukan maksudnya nyindir, sekali lagi Blogger senang dapat asupan terus-menerus.
Mungkin Riordan pernah buat buku yang gak nyambung dengan Percy Jackson sama sekali, atau Clare diluar Pemburu Bayangan, mungkin, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, kedua fandom tersebut walau tidak sampai sebesar Harry Potter, merupakan 2 (dari sekian banyak, mungkin) fandom yang selalu dapat asupan yang baru.

Tentang dunia Percy Jackson, awalnya Blogger sama sekali gak tertarik, benar-benar. Koko punya novelnya pertama sampai ketiga, dan Blogger yang saat itu novel yang baru dibaca hanyalah Harry Potter - The Hunger Games - Divergent kepengen baca novel lain tapi begitu liat artwork yang ada dalam novel PJO langsung gak minat. Lagian, saat itu, pikirnya judul setiap bab kok begitu banget---padahal sekarang demen novelnya Riordan salah satu alasannya karena judul perbabnya. Lalu, saat itu, Blogger lebih tertarik dengan novel fantasi yang pakai dunia bikinan pengarangnya, bukan mendaurulang mitos yang sudah ada. PJO itu tentang dewa-dewi yang dari awal memang diyakini oleh bangsa Yunani, dan Blogger merasa gimana gitu kalau pakai 'karakter' yang 'memang ada'.
Suatu ketika Blogger nyerah, karena pengen baca novel baru tapi belom sempet ke toko buku, ya sudah baca PJO. LALU KETAGIHAN. Blogger inget saat itu sekitar kelas 11 atau 12, setelah baca novel ketiga langsung ke perpustakaan sekolah untuk pinjem yang keempat. Habis itu, lucunya, novel kelima walaupun ada di perpus tapi gak pernah kesampaian pinjem. Selalu telat ambil, kepinjem orang duluan. Pada akhirnya Blogger titip Pustakawati beli novel kelima.
Itu adalah zaman Blogger gak pernah kepikiran cari rekomendasi buku lewat internet, jadi gak tau tentang Heroes of Olympus. Padahal sekarang, dari semua serial di fandom ini, HOO itu favorit Blogger sepanjang masa mungkin karena ada Jason Grace. Dari situ Blogger pinjem The Kane Chronicles dari perpus. Ada Magnus Chase juga, dia sebelas duabelas sama TKC, Blogger kurang suka.
Naaaahh, konsep 'tamat tapi ada lanjutannya' ini paling kena di The Trials of Apollo. Jalan ceritanya gak masalah sih, dia lanjutan dari HOO. Blogger gak akan permasalahin apa yang terjadi di The Burning Maze walau yang satu itu membuat Blogger sangat ingin ketemu Rick Riordan untuk hajar dia habis-habisan gara-gara apa yang dia perbuat pada Jason Grace, tapi kejadian TToA itu bisa terjadi padahal bukan Apollo yang jadi tokoh sentral. Walau bahagia setiap baca ada karakter dari serial sebelumnya muncul di serial ini, tapi ya gitu, lanjut mulu.

Kemudian tentang dunia Pemburu Bayangan. Dari konsep ini oke banget, walau katanya bermula dari fanfiksi Harry Potter dan (banyak yang bilang) Clare kurang punya kepribadian yang baik. Mengesampingkan kedua hal itu, fandom ini dikasih asupan cerita yang kreatif.
Pertama kali Blogger tahu The Mortal Instruments itu saat kuliah dan jalam ke toko buku liat novel TMI tebel berjejer. Saat itu, kamar kos gak ada bacaan, dan Blogger pikir itu lumayan. Yaudah baca. Akhir dari novel pertama agak gantung untuk salah satu misteri, jadi Blogger baca lagi lanjutannya sampai kelar. Saat itu, buku keenamnya memang belum ada. Kemudian suatu hari Blogger main ke rumah sepupu. Ceritanya teman dia yang punya rental buku memutuskan untuk tutup dan pindah, tapi kiriman buku baru keburu datang sebelum dihentikan. Jadi, karena banyak novel baru, dia kasih banyak ke sepupu Blogger, dan ketika Blogger datang kebagian juga salah satunya adalah novel ketiga The Infernal Devices. Dari situ baru tahu ada prekuel TMI, jadi mulai baca dari novel pertama TDI. The Bane Chronicles dan Tales from Shadowhunter Academy oke kok, Blogger suka, dan anggap TFSA itu seperti semacam epilog TMI. Eeeeehh, ternyata muncul The Dark Artifices. Disini Blogger udah mulai mikir tentang 'tamat tapi ada lanjutannya'. Untungnya, sama seperti yang dilakukan Riordan pada The Kane Chronicles dan Magnus Chase, Clare pakai elemen yang lain. TDA masih tentang dunia yang sama dengan TMI, tapi Clare mencari permasalahan yang baru dari peraturan yang ada di TID dan TMI.
Daaaaannn, mungkin belum mau move on, Clare bikin serial The Last Hours yang novel pertamanya baru keluar September (di Indonesia mungkin Oktober), lalu katanya diundur jadi Maret 2020 (di Indonesia berarti sekitar April). Jangan sedih, ini bukan lanjutan dari TDA, melainkan TID sebelum alur waktunya nyatu dengan TMI. Secinta-cintanya Blogger pada Will Herondale, gak gitu jugalah. Omong-omong, TLH ini serial loh, bukan satuan seperti TBC dan TFSA, dengan kata lain dia bukan spin off. Hal pertama yang Blogger kurang senang adalah karena Clare bikin serial alurnya lompat-lompat, berarti seharusnya alurnya itu TBC, TID, TLH, TMI, TFSA, TDA----tapi urutan publikasinya malah TMI, TID, TBC, TFSA, TDA, TLH. Pusing gak lu? Sama sini juga. Itu sah aja sih, kan kalau namanya ide juga gak bisa diatur kapan muncul tentang apa.

Mungkin ada fandom lain yang begitu, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, yang novelnya kebetulan Blogger baca dan sampai sekarang masih menunggu kelanjutan dari sang penulis, hanya dua itu.

Eh iya, omong-omong, tentang Cassandra Clare dan gosip bahwa TMI berawal dari fanfiksi (punya dia) Harry Potter, gini, berarti maksudnya kasus yang sama dengan Fifty Shades of Grey dengan Twilight Saga, kan? Blogger pribadi gak begitu masalah. Sudah baca Twilight Saga tapi baru baca novel pertama FSOG, jadi gak bisa begitu ngoceh. Tapi tentang TMI dan HP, gini, sekalipun iya dari fanfiksi, toh Clare bisa membuat universe-nya sendiri alias dunia Pemburu Bayangan sampai lebih dari satu seri----dia bisa memikirkan setelah dan sebelum TMI. Blogger gak bilang JKR lebih payah karena hanya bisa buat satu seri HP tanpa sekuel/prekuel, tapi setiap orang beda-beda. Ada yang mau pindah genre atau bikin fandom baru, ada yang mau tetep lanjutin universe-nya. Sah aja kok, gak ada peraturannya.

Jumat, 01 Maret 2019

Ayo Sama-sama Berjuang

Entah apa yang membuat tiba-tiba kepikiran begini, tahu-tahu pengen nulis tentang ini.
Gini.

Jangan bunuh diri.

Oke, tunggu, katanya kalau ngomong dengan kalimat negatif atau ada kata berunsur negatif sebangsa 'jangan', 'tidak', 'dilarang', dkk itu hasilnya malah ngaco, ya? Ya sudah.

Ayo berjuang.

Blogger gak pandai kasih nasihat. Lagian, orang-orang yang punya pemikiran untuk mengakhiri hidupnya sendiri itu ya, segiat apa pun orang lain berusaha semangatin dan menghalau orang-orang ini dari pikiran negatif, tetap aja bakal kejadian kalau orang-orang ini sendiri gak berusaha untuk mengalihkan perhatian dari berusaha minggat dari dunia ini. Dengan kata lain, setidaknya dari diri sendiri, harus ada pemikiran bahwa masih ingin hidup.

'Lah, kalau orang mau bunuh diri udah pasti gak pengen hidup lagi, dong?'
Iya, bener. Ini jawaban klise yang udah biasa, tapi gini: kamu yakin seluruh orang di dunia ini bakal rela kehilangan kamu begitu aja? Sengaja Blogger gak bilang 'orangtua', karena mungkin ada yang orangtuanya sudah gak ada atau justru orangtua merekalah alasan mereka mau minggat. Tapi, maaf kalau Blogger muluk banget, Blogger percaya setidaknya ada satu orang yang bener-bener peduli dan gak mau kamu pergi dari dunia ini.

'Blogger pasti gak pernah ngerasa pengen bunuh diri, makanya enteng banget ngetik ini.'
Kata siapa? Kata situ, kah?
Pernah kok Blogger ngerasa pengen pergi aja, hilang dari dunia ini saking kecewa dan sedihnya. Memang mungkin ada sangat banyak yang mengalami hal yang jauh lebih menyakitkan dari apa yang dialami Blogger, pasti. Gini, Blogger gak tahu dan gak paham situasi kamu, tapi Blogger mengerti perasaan itu. Apalagi kamu-kamu yang kena bully.

Alasan Blogger pengen menghilang itu, bagi orang-orang pasti berpikir 'apaan sih lebai banget cuman begitu doang'. Hei, secuilnya alasan itu, bagi Si Penderita tetap besar tahu. Apalagi kalau misalnya seperti Blogger ini gak punya siapa pun di dunia nyata untuk mengadu, selain kepada Tuhan.
Selama, puncaknya tiga tahun, Blogger seakan terlupakan di 'tempat' Blogger berada. Mereka bisa bilang misalkan ada tiga puluh orang anggota di tempat itu, tapi kalau disuruh sebut satu-satu maka mereka tidak akan ingat tentang Blogger. Oke, ini alasan biasa yang kalian pikir ini seharusnya gak usah sampai bunuh diri. Blogger setuju.
Tiga tahun, dan bukan hanya terlupakan. Blogger dianggap cari muka pada sesepuh hanya karena selalu mengerjakan tugas yang memang sudah seharusnya dikerjakan. Saat itu Blogger punya seorang teman laki-laki yang kemudian dia punya pacar. Blogger masih berteman dengan laki-laki ini, tapi kemudian pacarnya melabrak Blogger dengan kata-kata kasar. Oke, ini masih biasa aja.
Selama tiga tahun, atas alasan-alasan penting yang Blogger enggan ungkapkan, blogger pernah kepikiran untuk mengakhiri hidup. Dan sekali lagi, Blogger tidak punya seorang pun yang cukup dipercaya untuk curhat selain pada Tuhan.

Blogger tidak berusaha mencari pertolongan dari siapa pun. Kalau gak salah saat itu pun bukan sedang tenar-tenarnya aksi bunuh diri. Tidak tahu juga kalau ternyata ada macam terapi-terapi yang bisa dicari online (gimana bisa tahu, saat itu belum terlalu kenal internet). Tidak tahu kalau ada nomor-nomor khusus yang bisa dihubungi jika butuh pertolongan dalam hal ini.

Tapi ternyata, Blogger memang tidak membutuhkan itu semua.
Blogger mendapatkan pemikiran-pemikiran yang membuat Blogger tidak jadi bunuh diri sama sekali.
Karena sekali lagi, ini memang harus dari diri sendiri.

Blogger akan kasih contoh.

'Belum bahagiain mama dan papa'.
Ini adalah alasan paling pasaran dari semua orang. Blogger gak bilang ini alasan yang salah atau apa. Ini adalah alasan yang wajar dan normal untuk semua orang. Jika ini adalah tujuan hidupmu, ini mulia banget, sangat wajar, sangat diharapkan.
Tapi dari Blogger, sepentingnya alasan ini, yang Blogger maksudkan sebagai contoh bukanlah yang ini, karena alasan yang ini berat.

'Belum lulus', 'belum dapat gelar', 'cita-cita belum tergapai', dan sejenisnya.
Ini alasan yang kurang lebih sama beratnya dengan yang di atas, jadi ini bukan contoh yang dimaksud.

Oke, tunggu, jadi contohnya gimana?
Maksudnya adalah, kamu harus mencari alasan yang hanya kamu yang punya. Seperti kata Blogger, 'bahagiain ortu' adalah alasan mulia yang hampir semua orang punya. Bukannya gak boleh punya alasan tersebut, tapi untuk kamu sendiri, apa alasan yang kamu punya tapi tidak untuk orang lain? Alasan yang, membuat kamu agak kepikiran, tapi orang lain gak kepikiran, dan gak muluk-muluk setidaknya buat kamu.

Blogger punya banyak pemikiran. Awalnya saat mau bunuh diri itu, Blogger hanya menemukan satu selain mikir bahwa 'Blogger adalah satu-satunya anak perempuan mama papa, kalau Blogger gak ada gimana?'. Makin lama, Blogger punya makin banyak pemikiran yang membuat pikiran negatif itu terlempar jauh. Beberapa di antaranya sebagai berikut.

Satu. Bagaimana akhir dari serial Detective Conan?
Iya, banyak orang berspekulasi macam-macam, dan belakangan fanfiksi berupa tebakannya sudah banyak. Tapi beneran, Blogger penasaran. Conan kembali menjadi Shinichi, apakah dia akan jujur pada orang-orang di sekitarnya terutama Ran? Terus eksistensi Edogawa Conan yang orang-orang tahu gimana? Nasib BO gimana? Dan sebagainya.
'Lalu, kalau DC tamat gimana? Bunuh diri?'
Iya, Blogger sempat kepikiran pertanyaan ini juga. Apalagi ketika entri ini diketik, sepertinya perjalanan DC sudah lewat dari 50%. Nah, makanya, perbanyak pikiran-pikiran semacam ini.

Dua. Belum jadi Power Ranger Hitam perempuan pertama.
Blogger sangat suka Power Rangers, terutama 6 musim pertama. Season ke 18-21 itu mengecawakan banget sih, tapi itu tidak membuat Blogger berhenti senang dengan keseluruhan serial ini. Masalahnya, kalau diperhatikan, tidak ada perempuan yang menjadi Ranger Hitam. Padahal Ranger Merah-nya ada, loh. Makanya Blogger sempat kepikiran pengen jadi perempuan pertama yang menjadi Ranger Hitam.
'Terus kalau ternyata setelah Power Rangers Beast Morphers ada Ranger Hitam yang diperankan perempuan bagaimana?'
Kalau begitu, tinggal tetap berharap untuk menjadi Ranger Hitam walau bukan yang pertama. Dan lagi, Blogger masih punya segudang pemikiran.

Tiga. Inuzuka Kiba belum menyatakan cintanya pada Hyuuga Hinata.
Iya tahu sekarang Hinata sudah jadi Uzumaki Hinata, tapi Kiba x Hinata adalah OTP Blogger di fandom Naruto. Blogger selalu percaya bahwa selain Kurenai, Kiba adalah orang yang paling mengerti Hinata. Pemicu pikiran ini adalah saat Kiba kalah melawan Naruto saat ujian Chuunin, disitu Kiba bilang sama Hinata untuk mundur jika harus berhadapan dengan Neji atau Gaara. Blogger percaya bukannya Kiba menganggap remeh rekannya, tapi itu lebih kepada tidak ingin temannya kenapa-kenapa. Sekilas, iya kesannya merendahkan, ya, kalau tidak pernah diperlihatkan interaksi mereka berdua sama sekali maka Blogger gak bakal jadiin mereka OTP.

Contohnya tiga aja ya, sisanya kalian cari alasannya sendiri.

'Loh, kalau bukan fangirl/fanboy gimana? Itu contohnya kan berhubungan fandom semua.'
Eh iya juga ya, Blogger fangirl akut sih.
Kamu sendiri tertariknya dengan apa? Dari hal yang membuat kamu tertarik itu, buat satu pertanyaan yang belum pernah ada jawabannya.
Kamu seneng sepak bola? Coba penasaran kenapa rambut Messi gak pakai model rambut Ronaldo yang pernah ngetren.
Kamu seneng fisika dan atau ilmu eksak lainnya? Coba pengen bikin teori sendiri. Oke, ini susah sih, tapi karena Blogger gak tertarik dengan IPA ya jadi gak bisa kasih contoh yang bagus.
Sekali lagi, selain tertarik untuk minggat dari dunia ini? Apa yang pernah kamu senengin?

Entri ini tidak membantu, ya, maaf banget. Toh, sesuai perkataan Blogger, itu harus dari diri kamu sendiri. Entri ini adalah bantuan dari luar diri kamu, jadi gak bisa bantu. Blogger hanya kasihtahu, bahwa setidaknya pasti ada satu manusia di dunia ini yang akan sedih banget ketika kamu pergi, sedih banget karena merasa kamu gak percayain dia untuk jadi tempat curhat.

Apa yang Blogger alami mungkin terkesan ringan banget dibanding yang kamu alami, apa pun dan siapa pun kamu. Tapi ada orang yang butuh kamu. Apalagi, kamu hanya ada satu di dunia ini, gak ada yang bisa gantiin sama sekali.

Blogger gak mau maksa.

Tapi, ayo, kita sama-sama berjuang.