Selasa, 30 Juli 2019

Boruto episode 117

Boruto itu entah polos, naif, atau hanya tidak sensitif. Ketika dia sudah sadar bahwa mungkin ada perasaan suka dari Remon ke Konohamaru dan atau sebaliknya, masih aja gak peka, bikin yang nonton gregetan.

Gak ada bacotan lebih lanjut dari Blogger tentang episode ini, mungkin karena isi episode ini lebih ke tentang cerita legenda nenek moyang Remon dan relasi masa lalu Remon dengan 'teman masa kecilnya'. Selebihnya belum ada perkembangan cerita yang signifikan.

Yang paling Blogger mau teriakin di episode ini justru adalah tentang Mitsuki. Loh, tapi Mitsuki kan gak muncul disana? Justru karena itu. Udah entah dari kapan Mitsuki gak nongol sama sekali walau hanya sekilas! Apa sebenernya pernah ada penjelasan (dalam anime ya, bukan pernyataan dari Kreator di luar episode yang berjalan) tapi Blogger kelewat?

Senin, 29 Juli 2019

The Fist of Blue Sapphire: tipe-tipe penonton DC di bioskop

Akhirnya waktu hari Sabtu Blogger nonton film Detective Conan ke 23. Sedih ya, di Jepang rilisnya kapan, di Indonesia kapan. Sedihnya, di antara negara-negara tetangga, Indonesia termasuk telat banget. Rerata selambatnya awal Juni, kita akhir Juli. Yah, bersyukur aja deh masih bisa ditayangin di negara ini.

Waktu Blogger nonton, mungkin karena ambil jam tayang pertama (di hari itu) atau apa, tapi penontonnya gak sampe setengah jumlah kursi. Blogger nontonnya jam 10.30, sedangkan Mall tempat Blogger nonton itu bukanya jam 10. Yang nonton DC kloter Blogger itu terbagi jadi beberapa tipe, dan itu bakal Blogger bahas nanti.

Pertama tentang filmnya sendiri.

Blogger pengidap hematophobia, fobia pada darah. Gak parah sih, tapi lumayan. Sudah biasa kalau DC ada adegan pembunuh secara on screen maupun off screen. Kalau ada pembunuhan, dan dalam kasus film ini dengan cara ditikam pisau, jelas ada adegan berdarahnya, dan Blogger gak masalah lihatnya. Tapi, yang bikin Blogger eneg, di menit-menit pertama itu ada adegan Merlion semburin cairan merah seperti darah. Gak bohong, Blogger gak nyangka itu bakal terjadi dan Blogger langsung eneg sendiri, padahal filmnya baru mulai. Yah, tapi adegan itu menurut Blogger pribadi cukup membuat tegang.
Masalahnya, di adegan pertama, tentang ada Perempuan yang jalan sempoyongan kemudian jatuh lalu orang-orang baru ngeh bahwa dia 'tertikam pisau', Blogger merasa aneh. Karena, saat zoom out, diperlihatkan bahwa ada tetesan darah di jalur Perempuan itu jalan tadi, dan sepanjang jalan itu gak ada seorang pun yang ngeh 'kondisi'nya. Bukannya itu plot hole?

Blogger gak bisa nge-ship Kid dengan Ran sama sekali, satu-satunya orang yang Blogger ship dengan (Kaito) Kid adalah Conan (bukan Shinichi). Di film ini, Blogger dan sejumlah penonton lainnya cekikikan kenceng tiap kali liat Conan cemburu lihat kebersamaan Kid dalam wujud Shinichi dengan Ran. Puncak lucunya mungkin ketika di kolam renang, Kid gak tau kalau saat itu Ran dan Shinichi MEMANG sudah pacaran (tidak persis langsung, tapi film ini terjadi setelah adegan karyawisata).
Balik tentang Kid x Conan, setiap ada adegan Kid BAWA Conan terbang, Blogger teringat dengan film The Lost Ship in the Sky, dimana Kid dengan sigap langsung lompat saat Conan dilempar keluar dari kapal (dan ini adalah pencetus fanfiksi Kenapa? yang Blogger unggah). Selama mereka berdua bareng di film ke-23 ini, Blogger bisa melihat bahwa Kid selalu mencemaskan Conan, dan Conan selalu percaya pada Kid. Terlepas sebenarnya mereka rival, bahwa jabatan mereka bertolak belakang, tapi mereka bisa menjadi tim yang luar biasa.
Sedangkan dengan Ran sendiri, wow, sudah bapaknya detektif -eks polisi (terlepas bahwa Kogoro payah, tapi Kogoro tetap bisa berpikir layaknya polisi), pacarnya pun detektif hebat, Ran-nya sendiri juga gak bisa dianggap remeh sama sekali. Blogger bukan omongin tentang hebatnya dia dalam karate (Blogger sempat takjub melihat duo ayah-putri ini menghajar penjahat disini), tapi dalam hal melihat penyamaran orang lain. Dalam canon sendiri, Blogger gak ngeh pernah berapa kali, tapi Blogger ingat bahwa pada suatu kali dia bisa tahu Azusa yang dia temui saat itu bukanlah Azusa yang asli. Dia memang gak tahu siapa orang dibalik muka Azusa, tapi dia tahu itu bukan orang yang asli. Dan kemampuan itu muncul lagi di film ini, dengan sangat tidak Blogger sangka di epilog (YES, PEOPLE, YOU NEED TO WATCH THE MOVIE TILL THE VERY LAST SECOND) ternyata Ran tahu Shinichi yang ada di gandengannya adalah Kid.

Makoto x Sonoko memang manis sih. Blogger dan sejumlah penonton lainnya cekikikan saat Makoto cemburu banget waktu Sonoko bahagia dengar Kid datang. Yah, sifat Sonoko memang begitu sih. Cuman, di film ini, sedemennya Sonoko terhadap cowok-cowok cakep, diperlihatkan bahwa dia memang hanya bener suka pada Makoto. Maksudnya, selama ini, sebelum bener jadi dengan Makoto, Sonoko selalu gebet banyak cowok dari berbagai kalangan. Ketika dia udah sama Makoto pun, dengan alasan bahwa mereka jarang ketemu, Sonoko masih sesekali ngegebet cowok cakep yang lewat. Dengan Kid pun, dia masih jadi fangirlnya. Tapi tetep aja, Blogger seneng, di bagian kedua Kid vs Makoto ini (yang pertama adalah versi canon di manga), Sonoko diperlihatkan bahwa dia bukan playgirl.

Dari semua adegan lucu dan keren di film ini, yang paling mengena buat Blogger secara pribadi adalah ketika Shinichi dalam wujud Conan putar otak mencari nama samaran saat Ran tanya di Singapura. Iya, jadi memang dia gak tahu sama sekali bahwa dia bakal beneran datang ke Singapura, tahu-tahu sudah di negara itu dengan busana yang bener-bener berbeda, serta entah gimana kulitnya lebih gelap dari biasanya. Terus sebelum benar-benar berpikir langkah apa yang harus dia ambil, Ran datang (hampiri Kid dalam wujud Shinichi) dengan Sonoko. Adegan nostalgia pun terjadi: Shinichi (dalam wujud Conan) bersembunyi, lalu dihampirin Ran untuk ditanya namanya. Potongan kilas balik ini pun terjadi.

Itu tuh, adegan dia lihat deretan buku di belakangnya lalu dapat ide nama samaran. Adegan di film itu cukup memberi nilai tersendiri buat Blogger karena 'Oh iya ya, serial ini udah panjang banget'.

Tentang Pelaku untuk kasus yang terjadi, Blogger berhasil tebak siapa Pelaku dan siapa Pelaku Utama. Tentang Pelaku Utama, sepertinya sudah agak jelas ya, karena Conan sendiri pancing orang itu dengan pertanyaan kurang lebih 'Menurutmu, Pelaku akan berada dimana saat itu terjadi?'. Tapi Blogger gak berhasil nebak tentang motif. Mengenai cara pembunuhan Perempuan di awal, Blogger juga gak tahu, tapi Blogger tahu adegan Pelaku tutup tubuh 'Perempuan' dengan kain itu adalah triknya.

Di preview film ke 24 (YES, PEOPLE, YOU NEED TO WATCH THE MOVIE TILL THE VERY LAST SECOND) itu hanya diperlihatkan dari sudut pandang sniper. Blogger gak hapal suara para karakter sih, cuman kalau omongin sniper di DC, yang langsung masuk otak Blogger ya Akai Shuichi. Tanpa lihat preview pun, sebenernya Blogger udah terlanjur lihat wiki (bahkan sebelum The Fist of Blue Sapphire rilis di Jepang) bahwa movie 24 itu nampilin keluarga Akai. Jadi karena gak begitu greget dan pasti di previewnya, fangirl Shuichi termasuk Blogger gak begitu teriak, biasa aja, sangat beda dengan tahun lalu saat dengan sangat jelas diperlihatkan Kaito Kid di preview---tahun lalu itu Blogger dan sejumlah fangirl di studio langsung teriak bahagia.
Tapi, karena movie depan ada Shuichi, kemungkinan besar bakal ada BO, dan Blogger seneng, karena walau gak canon (dari Aoyama Gosho) setidaknya alur cerita DC seakan jalan (gimana pun juga DC berawal dari BO). Terserah mau tampilin Amuro atau enggak (harusnya sih iya walau enggak jadi tokoh utama di movie itu), tapi Blogger harap ada selangkah lebih untuk menuju BO atau kejelasan keluarga Akai.


Sekarang tentang tipe-tipe penonton DC di bioskop menurut sampel (?) yang satu studio dengan Blogger saat nonton.

  • Pertama adalah anak-anak. Maksudnya benar anak kecil yang baik yang belum maupun sudah bisa baca subtitle. Mereka ini nonton entah karena film ini adalah animasi makanya ortunya bawa nonton, atau memang tahu DC tapi bukan bener ikutin dari awal (jadinya kayak Blogger zaman beberapa tahun lalu).
  • Kedua adalah penikmat setia. Maksudnya, mungkin gak ikutin sejak awal volume satu dan episode satu rilis, tapi mereka kejar nonton dan baca dari pertama sampai sekarang. Misalkan ya kayak Blogger ini. Dan meski tahu mungkin alurnya masih jauh dari tamat, masih aja ditungguin. Dan biasanya, karena mereka juga ikutin movienya, maka mereka bakal tetep duduk manis di bangku studio padahal credit filmnya udah habis, karena tahu bakal ada epilog saat credit, epilog setelah credit, serta preview  (YES, PEOPLE, YOU NEED TO WATCH THE MOVIE TILL THE VERY LAST SECOND). Situs-situs pendukung semacam wiki dan fanfiksi adalah makanan sehari-hari sebagai asupan DC, makanya mereka bisa tahu trivia DC yang gak penting sekali pun.
     
  • Ketiga adalah penostalgia. Ini adalah cabang dari tipe kedua. Ada orang yang bener nonton dan baca DC, tapi ya begitu aja. Kalau ada yang baru, ya nonton/baca. Tapi tipe ini, termasuk Blogger di dalamnya, bakal ngeh tentang hal-hal jadul yang direferensikan di episode/chapter/film baru. Seperti tentang Conan cari nama alias baru, Blogger dan beberapa penonton lainnya cekikikan dan ber-oh-iya-ria karena memang terkenang chapter/episode awal.
     
  • Keempat adalah asal nonton. Mereka bukan anak-anak, tapi mereka cuman sekedar tahu bahwa ada loh anime/manga judulnya Detective Conan, dan kebetulan sekarang ada film barunya, gak tahu mau nonton apa lagi yaudah nonton ini aja. Biasanya mereka ini wajahnya bakal datar ketika Penostalgia cekikikan lihat adegan tertentu. Mereka ini terbagi jadi dua: pertama itu nonton karena asal tanpa unsur penikmat DC sama sekali (atau normal), kedua itu karena diajak orang lain (seperti ortu yang demen DC lalu bawa anaknya ikut nonton juga, dalam kasus ini adalah mamanya Blogger yang pernah beliin manga DC ke Blogger dan Koko).
  • Kelima adalah fangirl/fanboy. Ini adalah cabangnya nomornya dua juga. Blogger gak tahu gimana tentang fanboy, tapi sebagai fangirl, yah, Blogger paham banget. Jadi misalnya ketika di film ini Shinichi muncul (ketahuan banget itu adalah Kid), penonton yang teriak bahagia (biasanya cewek) adalah fangirl, dan Blogger termasuk di dalamnya. Tapi biasanya fangirl/fanboy ini juga penostalgia yang hebat, karena mereka meresapi tiap chapter dan episode, makanya bisa terngiang-ngiang (oke makin lama kata-katanya makin ngaco).
 Oke, kesimpulan dari entri ini tentang movie Detective Conan kali ini adalah:

YES, PEOPLE, YOU NEED TO WATCH THE MOVIE TILL THE VERY LAST SECOND.

Minggu, 28 Juli 2019

Detective Conan episode 948

Sebagai episode filler, menurut Blogger eksekusinya cukup baik. Motif pelaku walau enggak begitu greget tapi juga enggak cetek, karena Pelaku bunuh Korban karena takut kena bunuh duluan. Sebagai oneshot juga baik, karena kalau dipaksa pakai ada bagian kedua mungkin bakal membosankan.

Dari tiga tersangka, yang awalnya Blogger curigain adalah Perempuan, karena hanya dari tangan yang tampak aja dia bisa tahu itu Korban. Lalu Blogger tahu yang paling inosen adalah Kacamata, karena ya biasalah, tokoh yang paling mencurigakan dan gak punya alibi biasanya inosen. Tapi Blogger beralih dari Perempuan ke MC, tindakan MC yang kirain bakal menengahi Perempuan dengan Kacamata ternyata malah sok menyusun kronologis untuk menyudutkan Kacamata. Kemudian noda di baju Ayumi juga jadi bukti, walau Blogger merasa aneh tentang gimana noda itu bisa nempel ke bagian bawah baju Ayumi sedangkan anak itu bajunya gak pernah nempel dengan baju Pelaku. Tapi semua bukti bahwa MC adalah Pelaku, walau diperlihatkan dan terbukti, tetep aja kesannya maksa. Mungkin karena filler?

Episode selanjutnya masih filler, 2 bagian pula. Duh.

Kamis, 25 Juli 2019

4 episode terakhir Ohranger

Saat bahas soal kehancuran Aquabase di episode akhir Power Rangers Lightspeed Rescue, Blogger udah bilang bahwa sudah biasa markas Ranger hancur di akhir serial atau setidaknya pasti ada kehancuran/kehilangan besar. Dan di Ohranger ini, dari empat season yang sudah Blogger, jelas yang paling parah. Zyuranger dan Dairanger mungkin kehilangan markas mereka, tapi markas tersebut bukan hancur karena dijarah lawan. Kakuranger bahkan gak punya markas karena mereka nomaden, kecuali kalau Yokai berhasil ambil Nekomaru. Tapi Ohranger, mereka punya markas resmi, dan itu dihancurkan habis-habisan. Gak sampai sesedih Kapten Mitchell, sih, rasanya, tapi tetep aja hancur.

Biasanya kehancuran PR/SS itu terjadi secara pelan-pelan, puncaknya dia 2 episode terakhir. Tapi Ohranger lain. Serial ini punya 48 episode, dan tanpa pelan-pelan, markas hancur di episode 45. Oke, iya, pelan-pelan sih, ada alasan gimana markas hancur, tapi semua terjadi langsung di episode itu. Berarti 4 episode terakhir Ohranger ini habis-habisan banget, walau menurut Blogger pribadi masih enggak sehabis Lightspeed Rescue yang Zord mereka kena rebut (bukan cuman sekedar dibuat gak terkontrol). Tapi mungkin masalah Ohranger lebih pelik karena mereka gak bisa berubah jadi Ranger sebab sistem mereka rusak---ini keren, mengingat semua arsenal Ohranger adalah mesin buatan manusia. Hm, apa Lightspeed Rescue terinspirasi dari sini?

Blogger nonton Ohranger setelah dia tamat dan tahu ada 48 episode. Nah, penonton yang dulu ikutin dari jadwal tayangnya itu tegang ya tegang deh karena ternyata episode 46 dan 47 Ohranger masih belum menang.

Selasa, 23 Juli 2019

Boruto episode 116

CIIEEE KONOHAMARU JATUH CINTA CIEEE

Eh tapi kan Konohamaru udah punya Moegi //bukan


Tentang Remon, dari sejak dia bilang bahwa dia semacam turis yang sedang jalan-jalan lalu gak sengaja nabrak sehingga dikejar, itu Blogger udah tahu bohong. Blogger gak tahu nih ke depannya Remon bakal jadi lawan atau enggak, tapi keliatan kok orang-orang yang kejar Remon sebenernya semacam orang-orangnya dia kayak pengawal gitu. Karena, kalau maksudnya ngejar untuk hal buruk, orang-orang itu pasti pakai kekerasan sambil ngejar.

Boruto itu, sebenernya dia sadar kok bahwa dia gak ngerti romance, tapi keukeuh banget menyangkal tentang romance yang (mungkin) terjadi di antara gurunya dengan Remon. Sebenernya, untuk anak terutama laki-laki umur 12 tahun, mungkin itu masih termasuk normal. Cewek umur 12nya aja yang centil kayak ChoCho bisa sok paham banget soal kisah cinta. Walau wajar, Boruto bikin geregetan juga ya, Blogger sebagai penonton melulu mikir tentang betapa Boruto gak bisa baca situasi di episode ini.

Mengenai Konohamaru, Blogger antara yakin atau enggak soal dia suka Remon. Gini, dari awal serial Boruto, Konohamaru versi dewasa itu cerdas. Walau gak begitu langsung bisa baca apa yang terjadi, tapi dia waspada. Jadi ketika Konohamaru pegang saputangan Remon, menurut Blogger itu ada dua kemungkinan. Pertama, memang dia jadi suka cewek itu. Kedua, dia mikir yang aneh-aneh/curiga soal sesuatu tentang Remon.

Di bagian akhir episode ini, terungkap bahwa ini adalah awal Arc baru, bukan oneshot. Agak kelihatan sih, karena jika ini oneshot, datar banget.

Omong-omong, awal kemunculan Remon di awal episode, tampangnya sangat membuat Blogger ingat tokoh Maya dari Ragnarok the Animation. Muka dan tinggi badan sangat beda sih, tapi pakaiannya itu mirip. Rambutnya beda dari kuning pucat dengan kuning krem. Tatanan rambutnya juga beda, tapi bisa tetap mengingatkan Blogger akan Maya.
Fiuh, untung enggak tiba-tiba pengen nonton ulang (Super Sentai dan Power Rangers masih jauh dari kelar).

Senin, 22 Juli 2019

Mr Hiiragi's Homeroom

Dari hari Jumat sampai Senin, Blogger nonton dorama '3 Nen A Kumi: Ima kara Mina-san wa, Hitojichi Desu'. Panjang ya judulnya, itu aja Blogger kopas dari wiki. Kalau diterjemahin ke bahasa Indonesia kurang lebih artinya 'Kelas 3A: Mulai sekarang, kalian adalah sandera (saya)'. Serem ya, apalagi poster resminya terlihat serius gitu. Tapi judul alternatifnya, dalam bahasa Inggris, hanya 'Mr Hiiragi's Homeroom'. Sesederhana itu, padahal isinya berat.



Ada 10 + 2 episode, masing-masing sekitar 40 menit (kecuali episode pertama sekitar 70 menitan) belum termasuk pembuka dan penutup episode. Menurut Blogger pribadi, tidak ada detik dan menit yang terbuang dalam serial ini, semuanya penting dan bermakna, padahal kasus awal yang mereka diskusikan itu simpel (oke, bukan simpel juga sih) tapi ternyata rantainya panjang.

Sangat sulit untuk bacotin serial ini tanpa spoiler sama sekali, tapi Blogger berusaha untuk jangan terlalu banyak.

Blogger tahu tentang serial ini karena follow instagramnya Ryota Katayose tepat setelah nonton Anikoma. Lihat poster dan judul ini di IG dia, Blogger pikir mungkin ini bakal kayak Ansatsu Kyoushitsu, apalagi karena repot-repot tulis 'Kelas 3A' (di Assassination Classroom itu tokoh utama kelas 3E, tapi nama kelasnya gak disebut di judul'). Lalu Blogger cari di situs dorama online langganan, belum juga nongol sampai berminggu-minggu padahal di IG Ryota bilang sudah episode berapa gitu, kemudian Blogger nyerah. Nah, Jumat kemaren entah gimana Blogger nemu ini, langsung nonton.

Sangat seru dan menegangkan secara bersamaan. Secara pribadi, Blogger merasakan vibe '35 Sai No Koukousei' (No Dropping Out: Back To School At 35) dan 'Gakkon No Kaidan' (The Girl's Speech) sepanjang nonton 10 episode dorama ini. Jalan ceritanya sangat berbeda, tapi format filmnya mengingatkan Blogger soal No Dropping Out, serta penuturan alurnya seperti The Girl's Speech.

Jadi keseluruhan 10+2 episode ini terjadi dalam 10 hari (dalam dorama). Kasus yang mereka bahas adalah tentang kasus bunuh diri seorang gadis kelas 3A yang adalah seorang atlit renang terkenal. Wali Kelas 3A, yakni Hiiragi, ketika sepuluh hari menjelang kelulusan, meledakkan satu bagian sekolah sehingga kelas 3A gak bisa kabur. Hampir di setiap episode (berarti hampir setiap hari disana) Hiiragi yang sering dianggap remeh para murid karena penampilannya itu memberikan tugas yang harus dituntaskan para murid (dan nantinya polisi) sebelum jam 8 malam. Jika tugas yang diberikan gagal dituntaskan, dia akan minta korban dari 29 murid yang ada di kelasnya.

Episode satu sangat menegangkan, benar-benar seru dan bikin penasaran. Apalagi walau secara implisit memperlihatkan Hiiragi benar menancapkan pisau ke dada salah satu muridnya di akhir episode pertama. Tapi, ada yang kurang sreg untuk Blogger di awal episode 2, yaitu ketika pembukaan, gambar ini muncul sama seperti episode 1.


Itu adalah wajah para murid kelas 3A. Yang membuat Blogger kurang sreg adalah, tidak ada tanda bahwa Hiiragi telah membunuh muridnya (di episode 1). Karena gini, karena temanya agak berat, Blogger mengharapkan ada tanda silang di wajah murid yang kena tusuk. Lalu ketika dia minta 5 korban, Blogger berharap tanda silang itu juga ada di wajah 5 murid tersebut. Tapi enggak ada tanda apa-apa. Darisitu Blogger bisa menyimpulkan, Hiiragi tidak akan membunuh siapa-siapa.

Konklusi di episode 10 sangat baik, walau geregetan juga karena ada tokoh-tokoh tak berwajah yang gak tahu diri. Jadi keseluruhan serial ini maksudnya adalah ingin memperlihatkan betapa kuatnya sosial media terutama di zaman sekarang. Apa pun yang ditaruh di sosmed itu bisa berpengaruh terhadap siapa pun, makanya orang-orang terutama lewat serial ini diminta untuk menjaga perkataan yang kamu taruh di sosmed, kalau taruh sesuatu di sosmed itu harus dipikirin dulu. Jangan sampai gara-gara kamu nulis sesuatu yang ngaco, kamu malah bersama-sama dengan orang lain 'membunuh orang'. Kalau ada suatu kasus yang ramai di internet, jalan langsung memaki, karena belum tentu sesuatu yang ramai itu benar. Boleh komentar, tapi tetap jaga omongan, bukan langsung menghakimi.

Gara-gara itu Blogger ingat kasus 'A' yang sempat ramai di Indonesia. Saat kasus itu muncul, langsung orang beramai-ramai (sok) semangatin A di sosmed, padahal kenal pribadi juga kagak. Iya oke, menyebarkan berita biar maksudnya doa sama-sama itu baik, tapi ya gak usah sambil memaki orang-orang yang katanya pelaku itu. Sungguh, Blogger ketawa saat tetiba muncul fakta lain tentang kasus A, bahwa tentang alasan dia dijahatin itu adalah karena dia duluan yang menghina keluarga pelaku. Terlepas itu benar atau enggak, mulai muncul tagar yang menyatakan bahwa A juga bersalah. Langsung saja orang-orang yang tadinya menghujat Pelaku berbalik menghujat A---disitu Blogger ketawa. Makanya sejak entah tahun berapa belas, Blogger berhenti ikut komentar tentang kasus viral, kalau pun bagiin kasus viral itu bakal Blogger sertai dengan pertanyaan dan bukannya ikut komentar yang sama dengan yang lain.
Memang kasusnya beda, tapi apa yang dikatakan tokoh Hiiragi di episode 10 itu sangat sesuai terutama di Indonesia---Blogger gak tahu kondisi permedsosan di Jepang sekarang---yakni tentang dalam waktu singkat (dalam dorama bilang 10 hari) opini orang tentang suatu kasus bisa berubah-ubah tergantung asupan (maksudnya berita) yang tersebar secara luas. Jika yang satu memaki, yang lain ikut memaki tanpa tahu kebenaran. Dikasih satu berita, main disebarin tanpa peduli itu benar apa enggak. Terutama di Indonesia, keadaannya memang semenyedihkan itu. Dan 'para tokoh tak berwajah'  di episode 10 itu juga merajarela di Indonesia, menunjukkan betapa tidak pedulinya banyak orang tentang apa pun yang mereka taruh di sosmed---tentang apakah itu menyakiti orang lain atau enggak, pokoknya itu adalah suara hati/pikiran mereka dan itu (memang) hak mereka untuk ditaruh dimana-mana.

Sebagai serial biasa, memang seru. Terlepas dari ledakan, perkelahian, dsb yang dilakukan Hiiragi, pesan yang diberikan sangat bagus. Setidaknya inilah yang paling Blogger bisa dapatkan dari dorama ini.

  1. Hormati guru/pengajar. Mau formal/non-formal/semi-formal, kalau dia seorang guru/pengajar, hormati mereka, kasih respek. Mereka juga manusia. Seaneh apa pun tampangnya, selama apa yang dia ajarkan tidak melenceng, hargai mereka. Jangan sampai kamu lulus dari sekolah/sejenisnya tapi tidak punya kualitas sebagai manusia.
  2. Hargai orang lain. Blogger gak tahu bagaimana di agama lain, tapi di Alkitab tertulis bahwa kurang lebih, kamu harus melakukan sesuatu kepada orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan. Kalau kamu ingin diperlakukan baik, kamu juga harus berbuat baik. Bukan berarti tentang tidak ikhlas, tentang berbuat baik karena ada maunya, bukan itu. Tapi memang di dunia nyata, orang hanya akan berbuat baik jika dia menerima yang baik kan? Sedangkan di dorama ini, mereka terus-terusan ingin mendapat yang baik tanpa mau menabur kebaikan itu.
  3. Keluarkan isi hati dan pikiran, tapi pikirkan perasaan dan pikiran orang lain juga. Ada hal yang gak perlu diomongin, tapi ada hal yang harus dibicarakan juga. Di episode-episode awal, 3 orang murid dijadikan 'jawaban' atas 'pertanyaan' Hiiragi karena alasan sepele: mereka gak mau tanya atau ngomong soal isi hati. Kalau gak suka, ya ngomong, bukan teror. Kalau butuh bantuan, ngomong, bukan salahin keadaan. Tapi mungkin karena dorama ini tentang anak umur 17-18 tahun (kelas 12), jadi pemikirannya masih seperti itu.
  4. Bijak dalam dunia sosial media. Ini yang paling krusial, apalagi aplikasi sosmed makin banyak. Tolong ya terutama yang punya adik/keponakan/anak/cucu, kalau di pendaftaran suatu akun sosmed ada batas umur, itu diturutin, bukan dilewatin. Kalau bilang minimal 13 tahun, yaudah berarti yang handle misalkan ortunya, jangan biarin anak itu pegang tanpa pengawasan. Seperti yang Blogger bilang tentang konlusi episode 10, apa pun yang kamu taruh di sosial media itu memberikan dampak. Dampak dari kamu mungkin cuman satu, tapi jika banyak orang melakukan yang sama, dampaknya akan sangat besar.
  5. Jangan ikut-ikutan. Ini berkaitan dengan poin sebelumnya. Kalau kamu tahu perkataan di sosmed yang viral itu salah, jangan ikut sebarin. Kalau bisa justru yang jadi energi positif disana. Kalau takut kena hujat karena punya pandangan yang berbeda, yaudah diem aja, gak usah ikut hujat. Kalau ada berita viral, entah benar atau salah, jangan langsung bilang iya dan atau enggak tanpa tahu kebenarannya. Diskusi boleh, menghakimi sendiri jangan---apalagi menghakiminya keroyokan.
Oke, daritadi di atas adalah tentang apa yang membuat blogger berpikir serial ini sangat baik. Blogger gak begitu nemu celahnya sih, mungkin karena lebih fokus soal 'ini mau tentang apa'. Konklusinya memang ada di episode 10, lalu yang plus 2 episode itu apa? Jawabannya adalah epilog. Iya, epilognya sampai 2 x 40 menit.

Di awal Blogger udah bilang bahwa Hiiragi meledakkan bagian di sekolah sepuluh hari menjelang kelulusan. Satu episode adalah satu hari, berarti episode 10 adalah hari kesepuluh, yang adalah hari kelulusan. 2 episode epilog itu terjadi setelah mereka berhasil keluar dari gedung sekolah, mereka siapin tas lagi di kelas, lalu ternyata Hiiragi sudah siapin kelulusan khusus buat mereka.

Nuansa 2 episode epilog ini jauh berbeda dengan beratnya 10 episode inti. Dan bagi yang gak bisa nonton film yang isinya kebanyakan ngomong, mungkin nonton 2 episode ini bakal sangat sulit. Yah, gak ditonton pun juga gak masalah, karena isinya benar hanya Hiiragi manggil satu-satu muridnya, dikasih kesan-pesan, lalu murid tersebut kasih kesan dan impian, lalu terima ijazah. Begitu terus selama 29 kali. Iya, 29, karena itu adalah total murid. Makanya Blogger bilang kalau gak kuat ya gak usah nonton, karena 2 episode epilog itu hanya menandakan bahwa murid 3A sudah berkembang selama 10 hari, dan juga Hiiragi adalah guru yang sangat sayang pada muridnya.

Omong-omong tentang 29 murid, yang Blogger senang dari serial ini adalah, setiap karakter yang muncul itu tidak muncul sia-sia. Tidak ada tokoh yang 'sekali lewat'. Semua tokoh yang punya dialog itu penting disini. Walau iya pasti ada tokoh yang ditonjolkan jauh dari yang lain, terutama dari 29 murid itu tetap masing-masing dikasih backstory walau sekilas.

Sekarang Blogger mau omongin di luar plot dorama ini. Beberapa aktor dan aktris sangat tidak asing untuk Blogger. Ada yang ternyata bener Blogger pernah nonton film lainnya, ada juga yang ternyata cuman mirip. Seperti Mei Nagano, Fuju Kamio, Rina Kawaei, Kaito Mifune, Tsuyoshi Furukawa, Mio Imada, Kippei Shiina, Kenichi Yajima. Yang pasti Blogger sih udah tahu Ryota Katayose, wong tahu serial ini dari IG dia. Tapi memang gak bisa fangirling-an di serial ini, jalan ceritanya terlalu berat, jadi harus fokus.

Aktor yang paling Blogger gak nyangka adalah Masaki Suda. Iya, di pembukaan juga sudah ada tulisan pemeran, tapi semua dalam huruf Kanji. Pemberi subtitle gak nulisin satu-satu nama aktor dan aktrisnya, dan itu gak masalah. Kembali lagi, berarti tulisan nama Masaki Suda itu juga pasti ada di pembukaan, tapi Blogger hanya bisa baca tulisan Hiragana dan Katakana, jadinya nama itu terlewatkan oleh Blogger. Itu pun Blogger baru tahu bahwa Hiiragi diperankan oleh Suda hanya gara-gara di episode 5 dia tiduran dan kacamatanya dilepas. Saat itu Blogger kaget dan mikir, "BUKANNYA DIA YANG DI KAMEN RIDER?!"

Blogger bukannya ikutin karir akting Suda, kenal nama dan muka dia pun itu dari Kamen Rider W. Setelahnya, tanpa sengaja Blogger nonton live-action High School Debut dan Ansatsu Kyoushitsu, merasa sangat gak asing dengan salah satu tokoh disana. Lalu, Blogger kan memang ikutin Death Note, dari manga dan live action (kecuali Netflix) (Blogger belum selesaiin animenya), jadi ketika nonton Death Note Light Up the New World itu Blogger tepok jidat karena nemu Suda lagi disana.

Sekali lagi, Blogger bukannya ikutin perkembangan akting Masaki Suda. Tapi karena masih inget tentang aktingnya di 3 film sebelumnya, Blogger langsung terkesima lihat akting dia disini. Memukau banget. Dan penempatan posisi dia sebagai guru di film ini juga sangat sempurna. Blogger bisa bilang sempurna karena gini:
  1. Dia yang paling tua. Maksudnya, semua pemeran murid kelas 3A kalau gak salah umurnya memang lebih muda dari Suda. Kan kadang ada tuh, pemeran murid ternyata seumuran atau ternyata lebih tua dari pemeran guru, karena yang penting tampangnya tua atau muda, atau berdasarkan dandanannya juga.
  2. Pengalamannya akting banyak. Sebelum Blogger memulai entri ini, Blogger udah cek satu-satu profil aktor dan aktris pemeran murid kelas 3A. Entah akurat atau enggak, atau mungkin situs tersebut hanya memasukkan judul yang terkenal, tapi beberapa di antara mereka melakukan debut akting di film ini. Ada juga yang ternyata ini adalah serial keberapa mereka. Tapi kalau soal jumlah judul dan pengalaman, daftar punya Suda lebih panjang. Ada satu-dua yang memang panjang juga daftarnya, mungkin kebetulan aja bisa Suda yang dapat tokoh ini.
  3. Aktingnya di dorama ini. Benaran. Blogger gak bilang bahwa dia sangat berkembang dari zaman KRW, Blogger juga gak bilang bahwa aktor lain terutama pemeran murid itu adalah aktor dan aktris yang payah. Tapi, akting Masaki Suda di serial ini sangat baik, dan para murid harus belajar. Entah karena skenario atau apan, tapi memang ada beberapa karakter murid di serial ini yang ekspresinya kurang. Makanya Blogger bilang, mereka harus belajar dari Suda.
Oke, ini adalah bacotan terakhir. Blogger nyaris keselek ketika muncul tokusatsu versi mereka disini. Blogger gak tahu apakah serial ini kerja sama dengan produksi tokusatsu mana atau enggak. Gak tahu apakah potongan video yang beberapa kali diputar selama serial ini itu orisinil atau pinjam. Yang pasti, terutama ketika ada 'tokoh pahlawan' benaran datang selamatin Hiiragi, Blogger langsung nyengir. Karena, hahahahah, kamen rider diselamatin kamen rider, berasa crossover //bukan.

Minggu, 21 Juli 2019

Detective Conan episode 946-947

Serial anime Detective Conan libur seminggu. Awalnya Blogger cek ke situs biasa nonton DC, waktu itu memang gak ada episode 946, akhirnya lihat ke wiki dan katanya 946 itu baru ada di minggu depannya.

Awal episode 946 itu berasa seperti awalan movie DC, mungkin karena kebanyakan ngomong. Sejujurnya, menurut Blogger pribadi, kasus 2 episode ini gak begitu seru. Oke, jadi ceritanya kasus 40 tahun itu menimbulkan kasus baru, tapi penuturannya bagi Blogger gak menarik. Bagian tutup kasus di episode 947 juga gak greget, mungkin kalau yang diungkap adalah kasus 40 tahun yang lalu itu duluan akan lebih menarik, tapi mungkin Blogger aja yang mikir kayak gitu.

Dan coba tebak apa yang lebih menyebalkan?

Iya, episode selanjutnya adalah filler lagi.