Tampilkan postingan dengan label to all the boys i've loved before. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label to all the boys i've loved before. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2019

To All the Boys I've Loved Before, by Netflix, still not me.

KECEWA BANGET!
Heran kenapa saat awal-awal tayang pada bilang bagus, sungguh, ini terasa lebih ngaco dari Percy Jackson.
Terlalu banyak perbedaan, dan alasan Kitty kirim surat-surat itu beda banget.
Dan lagi, film tidak terlalu menjelaskan apa-apa mengenai judul besar, Lara Jean sendiri terlihat tidak mau meluruskan apa pun disana.
Kalau dijabar satu-satu, mungkin kepanjangan, lalu galau kalau teringat ada yang belum ditulis. Jadi yaudah sebagian aja ya. Dan ini tidak semua tentang kritik, cuman pengen ngebacot aja.

Pertama, tentang pemeran.
Pemilihan cast tidak terlalu buruk. Terutama Josh, dia kurang lebih yang Blogger bayangkan. Kitty juga okelah. Margot itu enggak asing (belakangan baru ngeh dia main di Pretty Little Liars), dia cantik kok tapi ngarep seseorang yang cantiknya beda. Lara Jean, potongan badan dan rambut oke, tapi mukanya kurang sreg. Peter itu, Blogger tahu dia atlit, tapi Blogger membayangkan badannya sedikit lebih kecil dari itu. Papanya LJ, saat baca, mikirnya kayak papanya Kat dan Bianca dari 10 Things I Hate About You, lalu kaget sendiri saat lihat film ini.

Kedua, jalan cerita.
Plot garis besar sama. Tapi, sepertinya para penggemar buku fanatik setuju untuk menyuarakan:
'MANA ADEGAN PESTA HALLOWEEN-NYA?!?!?!?'
Itu adalah bagian yang paling Blogger suka, benaran, karena disitu perbedaan hubungan LJ dengan Josh dan Peter kelihatan sangat. Katanya dari pihak produser juga sudah berniat masukin adegan itu, tapi izin untuk penggunaan nama Spiderman untuk kostum tokoh Josh itu gak ada, jadi adegan Halloween ditiadakan. Tapi, tapi, tapi setidaknya bisa dimasukin dalam obrolan, kan? Seperti misalnya Peter dan LJ ngomong tentang saat Halloween dan setelahnya mungkin Peter ngomong mau coba nonton HP? Penonton kan tetap kecewa karena adegan aslinya gak ada sih, tapi setidaknya tidak akan sekecewa yang sekarang.

Ketiga, Kitty.
Kacau. Di buku, Kitty melakukan apa yang dia lakukan karena mau balas dendam gara-gara LJ cengin dia mulu. Iya, mungkin lebai banget sampai sebegitunya, tapi mungkin anak kelas enam disana gaya balas dendamnya memang begitu.
Di film, itu karena dia pengen LJ punya pacar. WTF? Jika ini bukan berdasarkan buku, sebenarnya motivasi ini gak salah, baik banget malah.
Dan lagi, di film, itu ketahuan jelas banget dari awal bahwa dia pelakunya. Ini sudah gak seru banget.

Keempat, Spin the Bottle.
Iya, di film, itu adalah adegan yang menyebabkan Gen memusuhi LJ. Tapi gini ya. Satu, adegan itu gak ada di buku. Dua, iya, LJ dan Josh ciuman di tahun itu, tapi bukan begitu caranya. Tiga, adegan Gen ngasihtau LJ alasan dia melakukan hal buruk itu adanya di buku dua.

Kelima, Hot Tub Video.
Adegan ini memang ada di buku, caranya beda sih. Yang jadi permasalahan adalah, itu terjadi di buku kedua. Ketika LJ memperlihatkan video itu ke Margot (film), tampaknya sang kakak telah urus soal penghapusan video (harusnya dilakukan oleh Peter di buku dua). Saat LJ ke sekolah pun, dia sudah langsung dipeletotin orang-orang. Sebenarnya ini adalah salah satu konflik utama di buku dua. Film pertama tidak memasukkan banyak elemen penting buku, lalu mereka nyomot bahan di buku dua, kemudian sok-sokan tampilin John di detik-detik terakhir yang menandakan akan adanya sekuel. Masalahnya jika elemen penting buku dua sudah masuk film pertama, mereka mau ngapain di film kedua? Mau ngurusin cinta segitiganya doang? Pengen jadi film New Moon (Twilight Saga) kedua gitu??
Maap, jadi emosi sesaat.

Keenam, Margot.
Versi movie gak begitu masalah, sih. Hanya saja, konflik Margot dan LJ setelah tahu tentang Josh di buku cukup jelas, sedangkan di film kok rasanya datar, sehingga Blogger ber-hah-ria saat nonton.

Ketujuh, kotak penyimpanan.
Di sinopsis novel itu sudah jelas ya, dia simpan kotak dimana dia sembunyiin surat-surat itu di bawah ranjang dimana orang tidak bisa lihat, bukan di paling atas lemari dimana semua orang bisa lihat dengan mata telanjang. Duh 😠

Kedelapan, tentang film itu sendiri.
To All the Boys I've Loved Before bukanlah film yang bagus menurut Blogger. Bukan masalah banyak perbedaan dengan buku. Tapi film itu sendiri, tanpa melihat novelnya, itu tidak bagus. Bukan soal akting atau editing, dst, tapi filmnya itu. Gimana ya bilangnya? Bingung mau gimana kata-katanya. Tapi salah satunya adalah seperti mengajarkan bahwa hidup ini simpel banget. Tunggu, sebenarnya memang hidup gak usah ribet-ribet, dan memang pasti akan ada sesuatu yang baik dibalik sesuatu yang tidak mengenakan. Tapi apa yang dialami LJ itu, kok kayaknya enak banget. Di buku aja dia beruntung. Dan di film ini tidak ada yang bisa dijadikan role-model.

Itu semua menurut Blogger. Mungkin pemikiran Blogger akan berubah, tapi itulah untuk saat ini.
Tidak bisa berharap apa-apa dari film keduanya, karena lihat yang pertama sudah kelewat kecewa.
Dan iya, Blogger sudah baca buku keduanya, yang ketiga masih belum. Kalau ternyata ada adegan ngaco di film pertama yang ternyata adalah adegan di buku tiga, berarti Blogger gak tahu ya.

Jumat, 08 Februari 2019

P.S. I Still Love You (bukan 'Dear Mantan')

Ini adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before. Secara pribadi, untuk alur cerita, Blogger lebih suka yang ini. Novel pertamanya hanya menang di ide cerita. Tapi, isi dari PSISLY ini, walau iya kelihatan bahwa dia kelanjutan dari TATBILB, tapi kedua novel ini hanya bisa nyambung karena ada Peter dan John.

Nama Josh hampir gak disinggung sama sekali, Blogger sempat pikir bahwa mungkin hanya disebut-sebut di awal, tapi ternyata muncul untuk beberapa paragraf sebelum hilang lagi.

Mengenai Gen, penokohannya kuat banget, jadi mengingatkan diri akan Cersei Lannister di GoT. Dari buku pertama, Jenny Han berhasil sangat konsisten untuk Gen (menurut Blogger). Memang menyebalkan, Blogger sendiri saat baca itu geregetan luar biasa. Kesal juga pada Peter karena dia terus-terusan bilang bahwa Gen sedang ada masalah tapi gak mau kasih tahu masalahnya apa---YA JELASLAH LJ SEBAL! Walaupun iya, wajar kalau Peter mau jaga rahasia Gen, tapi emangnya LJ bakal umbar-umbar, gitu? Kan enggak, dan setidaknya jika Peter memberitahu LJ maka tidak akan ada kesalahpahaman.
Mungkin Peter memang yang terbaik untuk Gen walau Blogger membenci karakter perempuan satu itu. Jadi Peter adalah tokoh yang paling Blogger tidak suka nomor dua di fandom ini.

Tentang John. Ah, John, itu nama yang sama dengan gebetan Blogger sewaktu TK (HAHAHAHAHAH). Tapi bener, waktu TK, Blogger pernah sekelas dengan cowok bernama John. Dulu, dia cukup tinggi, putih (banget), rambutnya coklat, mukanya seperti orang bule-chinese gitu. Jadi ketika Blogger baca tentang tokoh John, tanpa sadar langsung memikirkan John-nya Blogger itu (dan ternyata di film, pemeran John malah jadi mirip dengan yang ada di pikiran Blogger!).
Uhuk. Lanjut lagi tentang John, Blogger berpikir dia adalah laki-laki yang tepat untuk Lara Jean. Memang benar Josh itu cocok dengan LJ, tapi kasihan kalau LJ jadi dengan Josh. Sedangkan John, dia mungkin perpaduan antara Josh dengan Peter, makanya (terlepas kenangan waktu TK) Blogger dukung John untuk jadi dengan LJ. Iya tahu di buku ketiga LJ tetap dengan Peter, tapi ya gitulah:

OTP KANDAS, FANFIKSI BERTINDAK.

Karakterisasi Lara Jean di buku dua ini malah ada penurunan, dia malah jadi seperti Drama Queen. Blogger pribadi merasa dia jadi menyebalkan, dan Jenny Han seperti tidak mau memperlihatkan sifat-sifat LJ yang muncul di buku pertama. Sama seperti di buku pertama, hidup LJ di sekitar para lelaki seperti sangat beruntung, jatuhnya hampir Mary-Sue. Jika tidak ada karakter John, mungkin Blogger sudah tutup bukunya di pertengahan gara-gara LJ yang seperti itu.

Lalu untuk judul, err, tidak begitu terasa. Di buku pertama bagian akhir itu LJ memang nulis surat buat Peter, dan itu menjadi petunjuk untuk buku kedua. Nah di buku kedua, memang di 3 chapter awal itu terasa mengenai tentang LJ yang masih punya perasaan untuk Peter. Masalahnya ber-chapter-chapter di tengah itu gak ada rasanya, baru ada lagi di sekitar 2 chapter terakhir.
Sekarang gini, misalnya, ternyata semua chapter di tengah, yang Blogger bilang gak berasa judulnya, ternyata adalah rangkaian cerita yang membuat LJ sadar dia masih suka Peter. ITU, berarti adegan LJ dengan John harusnya berlatar sebelum LJ nulis surat pada Peter yang di halaman terakhir buku satu, kan? Atau, tunggu, apa Blogger kelewat? Mungkin ada penjelasannya?

Saat menulis entri ini, Blogger telah selesai membaca buku ketiga.
Percaya deh, buku ketiga itu lebih berasa stand-alone book daripada bagian dari trilogi.

Sabtu, 02 Februari 2019

To All the Boys I've Loved Before, by Jenny Han, not me.

Sebelum dijadikan film oleh Netflix, Blogger sudah beberapa kali melihat novel dengan judul tersebut di toko buku. Kesan-kesan pertama saat itu adalah:
  1. Judulnya panjang.
  2. Kurang tertarik dengan cover-nya.
  3. Saat baca sinopsis dan ternyata tokoh utamanya beretnis Korea, langsung tidak tertarik.
Tentang poin ketiga itu bukannya rasis, tapi memang sampai detik ini Blogger sama sekali tidak tertarik dengan apa pun yang berbaru Korea. Novel Indonesia, jika tokoh utamanya seorang K-Pop-er, pasti tidak akan berniat baca. Kalau sudah ada label sebangsa K-Novel, pasti tidak akan sentuh. Bukan karena rasis, tapi memang sangat tidak tertarik. Namun, kadang jika memang iklannya (untuk movie) atau memang ide ceritanya menarik, Blogger akan coba lihat.

Kembali tentang novel yang judulnya panjang ini (sebenarnya kalau tidak salah ada novel yang judulnya lebih panjang dari ini sih tapi yasudahlah).
Tidak pernah kepikiran untuk beli novel tersebut, dan saat itu pun belum tertarik untuk mencoba baca e-book. Lagian baca e-book itu bikin mata cepat lelah, lebih cepat lelah daripada melihat gebetan jalan dengan sahabat. Uhuk.
Tiba-tiba di instagram, karena follow hashtag bookstagram, dapat kabar bahwa novel ini akan difilmkan di Netflix, dan disambut oleh cukup banyak Bookstagrammer. Dari situ baru ngeh bahwa ternyata novel ini banyak peminatnya, bahkan setelahnya movie-nya tayang pun banyak yang suka. Walau gak ngebet, tapi jadi penasaran juga. Karena sudah download aplikasi e-book, dapatlah novel ini.

To All the Boys I've Loved Before adalah novel pertama dari trilogi ini. Saat menulis entri ini, Blogger belum membaca buku kedua dan atau menonton filmnya, jadi ini murni cuap-cuap habis baca TATBILB.


Idenya menarik, sebenarnya, tapi eksekusi di banyak chapter itu sering keluar dari judul besar novel.
Ada lima surat cinta yang terkirim, dan dari lima itu hanya ada dua orang yang benar muncul di depan Lara Jean. Antara Peter dan Josh, Blogger tidak bisa menge-ship salah satu dari mereka dengan tokoh utama.

Peter mungkin tipikal cowok sempurna dan idaman setiap gadis pada umumnya. Masalahnya, Lara Jean bukan gadis yang umum. Bukan salah Peter, sebenarnya, tapi keduanya tidak cocok, Peter tidak terlihat tercipta untuk Lara Jean.

Josh sangat cocok dengan Lara Jean, terutama tentang perfandoman. Tapi bahkan Josh sendiri bilang bahwa, kurang lebih, dia baru mulai menyortir ulang cara pandang dan perasaannya pada Lara Jean setelah ia membaca suratnya. Ini hal wajar yang sangat bisa terjadi di dunia nyata: orang baru akan lebih ngeh pada orang yang menyatakan cinta padanya, ujungnya bisa jadi suka juga. Tapi dari jalan cerita di buku pertama ini, Blogger berharap Lara Jean tidak berpacaran dengan Josh. Mereka sangat klop, tapi mungkin mereka bisa jadi sahabat saja.

Lucas itu ... yah, berarti gak masuk hitungan, kan? Senang dia masih bisa berteman dengan Lara Jean.

Masih ada dua cowok yang tidak muncul di buku ini, entah ke depannya akan dimunculkan atau tidak.

Omong-omong, bahkan di sinopsis juga sudah dibilang, bahwa surat-surat Lara Jean terkirim oleh entah siapa. Saat baca sinopsis itu, Blogger tidak punya petunjuk. Kemudian saat baca isinya dan tahu bahwa ia tinggal dengan ayah dan kedua saudarinya, Blogger langsung curiga pada adiknya.

EH IYA INI SPOILER YA.

Orang-orang pertama yang Blogger curigai adalah orang rumah Lara Jean. Dia bilang menyimpan surat-surat itu di kamarnya, dimasukin ke kotak, disembunyiin di kolong ranjang. Dengan kata lain, sangat mudah untuk mencurigai orang rumah ditambah orang yang sudah biasa keluar masuk rumah tanpa dicurigai, misalnya Josh dan Chris. Tapi, pada bagian disembunyiin itu, Blogger percaya, kotak itu begitu penting sehingga Lara Jean pasti sangat berhati-hati agar kotak itu tidak mudah dijangkau atau mudah terlihat. Berarti siapa pun itu pasti punya banyak waktu untuk keluar-masuk kamar Lara Jean tanpa dicurigai, punya waktu banyak untuk menggeledah kamar tanpa terlalu cemas kalau tiba-tiba ada orang datang. Dari sini, Josh dan Chris sudah dikeluarkan dari daftar curiga.

Blogger tidak tahu bagaimana dengan orang-orang lain, tapi di rumah, papa tidak pernah masuk kamar Blogger kecuali jika dipanggil untuk melihat kejanggalan dalam kamar. Jika Blogger ada di dalam kamar, maka beliau akan panggil dan ketuk pintu tapi tidak akan langsung buka sendiri. Entah, mungkin beliau telah membuat ketetapan sendiri untuk tidak masuk ke kamar anak perempuannya.
Dari situ, Blogger langsung berpikir bahwa papanya Lara Jean mungkin sama.

Sekarang tinggal Margot dan Kitty. Antara mereka berdua, Blogger lebih curiga pada Kitty. Dari lima surat, ada satu surat untuk Josh, dan sepertinya Margot tidak akan melakukan itu. Jika memang dia yang mengirim surat-surat itu, reaksinya akan berbeda. Tapi Blogger sendiri juga tidak yakin dengan Kitty. Maksudnya, di antara semua karakter yang muncul, Blogger tidak menaruh kecurigaan pada mereka, hanya berpikir mungkin pelakunya Kitty.

Sebenarnya bisa saja pelakunya Gen. Mengingat dulu katanya dia dan Lara Jean pernah bersahabat lalu entah kenapa sekarang Gen jadi menyebalkan. Entah bagaimana dia bisa masuk kamar Lara Jean, cari-cari apalah gitu. Kalau ketahuan orang bahwa dia di kamar itu, tinggal bilang lagi tunggu yang empunya kamar buat balikan jadi sahabat. Tapi sepertinya enggak, Margot dan Kitty pasti gak bakal percaya.