Last Arc di season ini menggambarkan walau para antagonis bukan manusia, tapi diperlihatkan sisi buruk yang manusia biasanya punya: ya lebih cinta harta (sehingga pepatah 'ada uang abang sayang, tak ada uang abang melayang' itu benar), ya ada yang benar saking egoisnya gak mau peduli dengan yang lain, ya ada yang haus kekuasaan. Para antagonis sebagian besar bukan manusia, tapi nyatanya, manusia di dunia nyata memang ada yang seperti itu.
Blogger gak nyangka twist tentang Don Dolnero dengan Gien, mengingat versi Power Rangers Time Force tidak seperti itu. Tentang Lila pun sama, Blogger jadi miris dengan Don.
Dari semua ketegangan yang tercipta di season ini, ada satu hal yang sangat Blogger gak nyangka, serta ada satu hal yang kurang sreg untuk Blogger.
Pertama, tentang hal yang Blogger amat sangat gak nyangka. Bukan tentang Ryuya, melainkan tentang Naoto. Iya, Blogger jelas kaget tentang 'apa yang sebenarnya harusnya terjadi pada Ryuya', tapi yang Blogger tidak sangka adalah takdir 'buatan' untuk Naoto. Mengingat target umur penonton Super Sentai sepertinya di bawah Kamen Rider, Blogger sama sekali tidak menduga bahwa Kreator akan membuat tokoh penting--seorang Ranger yang bukan sekilas lewat pula--untuk tewas selama serial berjalan. Adegan Naoto tewas itu memang baik, dalam artian memberi warna beda untuk season ini, sekaligus mempertegas karakter Ryuya. Dan walau season ini tayang belasan tahun lalu sehingga spoiler sudah tersebar dimana-mana, tetap saja Blogger gak habis pikir di sini.
Kemudian tentang yang Blogger kurang sreg, yakni tentang Domon.
Kisah asmara dalam serial sepanjang Super Sentai (dan tokusatsu lainnya) memang kadang dibutuhkan untuk agak mencairkan suasana, jangan melulu tegang, sekaligus seperti memberi kesan adanya harapan untuk para tokoh. Blogger gak masalah jika asmara yang digali bukan tentang Tatsuya x Yuri, melainkan Domon x Honami. Kisah cinta sesama Ranger memang lebih klise, makanya Blogger senang cengin Domon dengan Honami.
Bagian yang Blogger merasa kurang sreg adalah anaknya Honami dengan Domon tersebut. Gini, Domon itu dari masa depan. Tidak tahu siapa nenek moyangnya di era 2000-2001, yang jelas, Domon datang dari masa depan. Kepikiran gak sih, kalau bisa aja anaknya Honami dengan Domon itu ternyata 'nenek/kakek moyang' Domon? Seriusan, itu membuat Blogger merasa kurang sreg karena, itu berarti, Domon bisa ada karena dirinya sendirilah yang menciptakan keturunan. Anaknya Honami itu dalam sekian generasi akan muncul Domon, dan akan muter lagi siklusnya. Tunggu, pernah ada penjelasannya tentang ini gak sih?
Sabtu, 02 November 2019
Kamis, 31 Oktober 2019
Forever Red, hanya Ranger Merah
'Forever Red' adalah judul episode ke 34 Power Rangers Wild Force, episode team-up spesial dalam rangka season kesepuluh, episode team-up kedua di PRWF, sekaligus sampai saat ini adalah episode team-up terpopuler dalam sejarah Power Rangers. Iya, ada team-up keren di Operation Overdrive (ultah ke 15), Super Megaforce (ultah ke 21, yang keren cuman saat ada Ranger lawas yang buka helm, kalau dari segi cerita mah reseh) dan Super Ninja Steel (ultah ke 25), tapi memang yang paling terkenal adalah Forever Red.
Walau terkenal dan Blogger sendiri pun sangat suka, tetap saja ada satu hal yang sangat Blogger gak demen, yakni: KENAPA HANYA RANGER MERAH?
Iya, Blogger tahu 'red' artinya 'merah', jadi wajar jika dalam episode berjudul ini isinya Ranger Merah. Tapi kenapa harus yang Merah aja? Toh kalau mau pakai warna lain, entar judulnya bisa dibuat judul lain, kan?
Kalau dibilang Ranger Merah adalah Ranger terkuat dalam tim, Blogger gak setuju, karena selain Jason, Tommy, dan TJ (sebagai Red Turbo), yang lain bukanlah Ranger terkuat di tim masing-masing.
Kalau dibilang Ranger Merah adalah pemimpin tim, ini ngaco juga. Pasalnya, kepemimpinan Jason sebagai Ranger Merah Mighty Morphin sudah digeser Tommy saat dia jadi Ranger Putih. Atau yang lebih konkrit, Wes dan Eric jelas bukan pemimpin Power Rangers Time Force, yang jadi pemimpin adalah Jen---dan Blogger tidak memusingkan tentang aktor Rocky yang tidak hadir sehingga Eric-lah yang muncul. Contoh lain, Delphine adalah pemimpin, bukan Aurico.
Kalau dibilang Ranger Merah adalah Ranger sentral tiap seri, uhuk, Eric, uhuk.
Blogger gak masalah sih kalau yang diundang di episode spesial ini hanya Ranger Merah saja, tapi kenapa sampai saat ini gak ada Forever Blue/Green/Yellow/Pink/Black/White/Sixth dst? Kenapa untuk misi ini, Tommy hanya mau pakai yang warna merah?
Tommy Oliver bukan Ranger favorit Blogger sama sekali. Oh, Blogger fangirling-an parah ketika pertama kali lihat dia di Power Rangers Dino Thunder (apalagi Blogger nontonnya di saluran televisi swasta pertama kali), tapi itu tidak membuat karakter ini menjadi tokoh favorit, Blogger senang dia hanya sebatas karena nostalgia. Dibanding Tommy, Blogger lebih seneng ketika Jason muncul di Power Rangers Beast Morphers.
Kedua kali Blogger nonton Forever Red, Blogger mikir tentang 'kenapa Tommy yang jadi ketua dalam misi ini? Apa karena dia yang paling terkenal?'. Tapi ketika ketiga kalinya Blogger nonton, Blogger baru paham, yakni karena misi ini berhubungan dengan Machine Empire yang adalah musuh Power Rangers Zeo, dimana yang jadi Red Zeo adalah Tommy.
Memang ini adalah tontonan dengan target anak-anak. Tapi ketika Blogger nonton yang ketiga kalinya, selain masih lagi-lagi fangirlingan, Blogger nemuin plothole parah: GIMANA CARA MEREKA BERNAFAS DI BULAN? Hahahah, iya, mungkin ada caranya, cuman, yah, Blogger jadi kepikiran aja apalagi mereka sempat gak pake kostum Ranger saat di bulan itu (kalau pakai helm Ranger sih okelah apalagi Carter).
Dan, walau iya banyak sana-sini yang Blogger gak demen dari Forever Red, episode ini tetap menjadi salah satu favorit Blogger, karena walau CGI soal Serpentera bikin nangis tapi episode ini orisinil PR, dan ada banyak referensi tentang season-season sebelumnya apalagi era Zordon. Seperti ada Bulk dan Skull, Astro Megaship, Mirinoi, dan yang paling Blogger suka sebenarnya adalah di bagian akhir banget saat sepuluh Ranger mau pencar pulang, masing-masing ngomong sekalimat tentang saat mereka jadi Ranger---itu nostalgia parah, dan orang yang hanya sekedar nonton loncat-loncat gak bakal paham.
Walau terkenal dan Blogger sendiri pun sangat suka, tetap saja ada satu hal yang sangat Blogger gak demen, yakni: KENAPA HANYA RANGER MERAH?
Iya, Blogger tahu 'red' artinya 'merah', jadi wajar jika dalam episode berjudul ini isinya Ranger Merah. Tapi kenapa harus yang Merah aja? Toh kalau mau pakai warna lain, entar judulnya bisa dibuat judul lain, kan?
Kalau dibilang Ranger Merah adalah Ranger terkuat dalam tim, Blogger gak setuju, karena selain Jason, Tommy, dan TJ (sebagai Red Turbo), yang lain bukanlah Ranger terkuat di tim masing-masing.
Kalau dibilang Ranger Merah adalah pemimpin tim, ini ngaco juga. Pasalnya, kepemimpinan Jason sebagai Ranger Merah Mighty Morphin sudah digeser Tommy saat dia jadi Ranger Putih. Atau yang lebih konkrit, Wes dan Eric jelas bukan pemimpin Power Rangers Time Force, yang jadi pemimpin adalah Jen---dan Blogger tidak memusingkan tentang aktor Rocky yang tidak hadir sehingga Eric-lah yang muncul. Contoh lain, Delphine adalah pemimpin, bukan Aurico.
Kalau dibilang Ranger Merah adalah Ranger sentral tiap seri, uhuk, Eric, uhuk.
Blogger gak masalah sih kalau yang diundang di episode spesial ini hanya Ranger Merah saja, tapi kenapa sampai saat ini gak ada Forever Blue/Green/Yellow/Pink/Black/White/Sixth dst? Kenapa untuk misi ini, Tommy hanya mau pakai yang warna merah?
Tommy Oliver bukan Ranger favorit Blogger sama sekali. Oh, Blogger fangirling-an parah ketika pertama kali lihat dia di Power Rangers Dino Thunder (apalagi Blogger nontonnya di saluran televisi swasta pertama kali), tapi itu tidak membuat karakter ini menjadi tokoh favorit, Blogger senang dia hanya sebatas karena nostalgia. Dibanding Tommy, Blogger lebih seneng ketika Jason muncul di Power Rangers Beast Morphers.
Kedua kali Blogger nonton Forever Red, Blogger mikir tentang 'kenapa Tommy yang jadi ketua dalam misi ini? Apa karena dia yang paling terkenal?'. Tapi ketika ketiga kalinya Blogger nonton, Blogger baru paham, yakni karena misi ini berhubungan dengan Machine Empire yang adalah musuh Power Rangers Zeo, dimana yang jadi Red Zeo adalah Tommy.
Memang ini adalah tontonan dengan target anak-anak. Tapi ketika Blogger nonton yang ketiga kalinya, selain masih lagi-lagi fangirlingan, Blogger nemuin plothole parah: GIMANA CARA MEREKA BERNAFAS DI BULAN? Hahahah, iya, mungkin ada caranya, cuman, yah, Blogger jadi kepikiran aja apalagi mereka sempat gak pake kostum Ranger saat di bulan itu (kalau pakai helm Ranger sih okelah apalagi Carter).
Dan, walau iya banyak sana-sini yang Blogger gak demen dari Forever Red, episode ini tetap menjadi salah satu favorit Blogger, karena walau CGI soal Serpentera bikin nangis tapi episode ini orisinil PR, dan ada banyak referensi tentang season-season sebelumnya apalagi era Zordon. Seperti ada Bulk dan Skull, Astro Megaship, Mirinoi, dan yang paling Blogger suka sebenarnya adalah di bagian akhir banget saat sepuluh Ranger mau pencar pulang, masing-masing ngomong sekalimat tentang saat mereka jadi Ranger---itu nostalgia parah, dan orang yang hanya sekedar nonton loncat-loncat gak bakal paham.
Selasa, 29 Oktober 2019
Takdir dari Tatsuya Asami dan Wesley Collins
Di entri ini sebenernya Blogger bukan cuman mau fokus ke dua episode Mirai Sentai Timeranger ini, melainkan hampir keseluruhan serial Timeranger ditambah Power Rangers Time Force. Tapi memang baru 'panas' dalam otak gara-gara episode 43 dan 44 Timeranger, padahal dua episode ini bukan 2 part gitu ya, hanya kebetulan memang nyambung.
Inti dari dua episode ini (bersama counterpartnya) adalah tentang Ryuuya (dan Alex) datang ke tahun 2000 (PR 2001) untuk nyusul Ranger lainnya, memastikan bahwa tahun 2000 tidak berubah alur agar masa depan tidak menjadi kacau, memastikan bahwa Tatsuya (PR Wes) tetap menjadi penerus ayahnya agar masa depan tidak berubah. Blogger paham tujuan Ryuuya dan Alex, Blogger paham jika ada perubahan di masa lalunya mereka maka akan berpengaruh pada masanya mereka. Tapi mereka melulu ngomong seakan Tatsuya dan Wes gak boleh punya pilihan sendiri, harus ikut perkataan 'orang dari masa depan'.
Tatsuya dan Wes, walau kepribadian mereka cukup berbeda, tapi mereka sama-sama berjuang untuk masa depan sendiri, tidak ingin terikat dengan nama marga mereka. Ketika mereka bergabung dengan 4 Ranger dari masa depan, mereka masih berusaha untuk menjadi diri sendiri tanpa embel-embel keluarga mereka. Tapi Ryuuya dan Alex semena-mena ngatur jalan hidup mereka (yang paling parah Ryuuya sih). Sekali pun sekali lagi Blogger paham bahwa perubahan pada keluarga Asami dan Collins pada tahun 2000-2001 akan berpengaruh pada orang tahun 3000-3001 ketika mereka balik, tetap saja itu terkesan egois. Memang, jika Tatsuya dan Wes ngotot tentang jalan hidupnya maka tahun 3000-3001 yang merupakan waktu teman-temannya menjadi berubah. Tatsuya dan Wes jelas sangat peduli dengan teman-temannya sehingga mau melakukan apa pun untuk menolong. Tapi Tatsuya dan Wes juga adalah manusia yang punya kehendak bebas. 'Masa depan' tempat Tatsuya dan Wes sudah gak ada lagi itu mungkin akan berubah, tapi masa depannya mereka tetap di tangan mereka dan bukan di tangan orang tahun 3000-3001.
Sesuai kata Wes, bahwa takdir tidak tertulis di atas batu. Di tahun 3000-3001, takdir Tatsuya dan Wes mungkin sudah tercatat sebagai sejarah. Tapi di tahun 2000-2001, takdir mereka masih belum selesai, masih harus mereka jalani sendiri.
Omong-omong, Alex enggak sengotot Ryuuya ya, karena Alex hanya gak ingin banyak perubahan di tahun 3001. Sedangkan Ryuuya atur ini-itu untuk kepentingan pribadi, makanya bisa ngotot banget.
Inti dari dua episode ini (bersama counterpartnya) adalah tentang Ryuuya (dan Alex) datang ke tahun 2000 (PR 2001) untuk nyusul Ranger lainnya, memastikan bahwa tahun 2000 tidak berubah alur agar masa depan tidak menjadi kacau, memastikan bahwa Tatsuya (PR Wes) tetap menjadi penerus ayahnya agar masa depan tidak berubah. Blogger paham tujuan Ryuuya dan Alex, Blogger paham jika ada perubahan di masa lalunya mereka maka akan berpengaruh pada masanya mereka. Tapi mereka melulu ngomong seakan Tatsuya dan Wes gak boleh punya pilihan sendiri, harus ikut perkataan 'orang dari masa depan'.
Tatsuya dan Wes, walau kepribadian mereka cukup berbeda, tapi mereka sama-sama berjuang untuk masa depan sendiri, tidak ingin terikat dengan nama marga mereka. Ketika mereka bergabung dengan 4 Ranger dari masa depan, mereka masih berusaha untuk menjadi diri sendiri tanpa embel-embel keluarga mereka. Tapi Ryuuya dan Alex semena-mena ngatur jalan hidup mereka (yang paling parah Ryuuya sih). Sekali pun sekali lagi Blogger paham bahwa perubahan pada keluarga Asami dan Collins pada tahun 2000-2001 akan berpengaruh pada orang tahun 3000-3001 ketika mereka balik, tetap saja itu terkesan egois. Memang, jika Tatsuya dan Wes ngotot tentang jalan hidupnya maka tahun 3000-3001 yang merupakan waktu teman-temannya menjadi berubah. Tatsuya dan Wes jelas sangat peduli dengan teman-temannya sehingga mau melakukan apa pun untuk menolong. Tapi Tatsuya dan Wes juga adalah manusia yang punya kehendak bebas. 'Masa depan' tempat Tatsuya dan Wes sudah gak ada lagi itu mungkin akan berubah, tapi masa depannya mereka tetap di tangan mereka dan bukan di tangan orang tahun 3000-3001.
Sesuai kata Wes, bahwa takdir tidak tertulis di atas batu. Di tahun 3000-3001, takdir Tatsuya dan Wes mungkin sudah tercatat sebagai sejarah. Tapi di tahun 2000-2001, takdir mereka masih belum selesai, masih harus mereka jalani sendiri.
Omong-omong, Alex enggak sengotot Ryuuya ya, karena Alex hanya gak ingin banyak perubahan di tahun 3001. Sedangkan Ryuuya atur ini-itu untuk kepentingan pribadi, makanya bisa ngotot banget.
Senin, 28 Oktober 2019
Boruto episode 130
Sangat banyak fanservice bagi penikmat serial Naruto di episode ini, karena para Genin kecuali Sasuke bermunculan. Dan karena tampaknya sepanjang episode ini lebih mengarah pada penarikan minat penonton serial Naruto, jadi alurnya gak begitu ada, karena toh memang dari episode kemarin sudah dibilang Urashiki belum sampai.
Hanya saja, Boruto mulutnya ember luar biasa. Sudah dibilang di episode lalu bahwa apa pun yang mereka lakukan dan katakan pada orang-orang yang mereka temui di era tersebut bisa berpengaruh pada masa depan. Tapi toh ya anak satu itu nyerocos terus tentang masa depan walau dia gak ngomong bahwa yang dia katakan itu dari masa yang akan datang. Yang paling parah mungkin ketika mereka ketemu Kaminarimon.
Padahal Blogger sangat menantikan adegan yang lebih seru ketika Boruto ketemu Konohamaru, tapi yah kenyataannya Konohamaru di umur segitu ya masih seperti itu. Blogger juga mengharapkan adegan menyesakkan tentang Boruto yang akhirnya tahu tentang masa lalu Sasuke, tapi di episode ini hanya seperti angin lalu.
Episode ini ditutup dengan tibanya Urashiki. Blogger penasaran apakah nantinya Boruto dan Sasuke bakal ngaku mereka dari masa depan atau enggak. Dan ketika Arc ini kelar, bagaimana dengan ingatan para tokoh penting di era itu? Maksudnya, Boruto itu hanya satu generasi di bawah angkatan Naruto, berarti seharusnya orang-orang di masa depan (era Boruto datang) itu masih ingat tentang sosok seorang Boruto kan?
Hanya saja, Boruto mulutnya ember luar biasa. Sudah dibilang di episode lalu bahwa apa pun yang mereka lakukan dan katakan pada orang-orang yang mereka temui di era tersebut bisa berpengaruh pada masa depan. Tapi toh ya anak satu itu nyerocos terus tentang masa depan walau dia gak ngomong bahwa yang dia katakan itu dari masa yang akan datang. Yang paling parah mungkin ketika mereka ketemu Kaminarimon.
Padahal Blogger sangat menantikan adegan yang lebih seru ketika Boruto ketemu Konohamaru, tapi yah kenyataannya Konohamaru di umur segitu ya masih seperti itu. Blogger juga mengharapkan adegan menyesakkan tentang Boruto yang akhirnya tahu tentang masa lalu Sasuke, tapi di episode ini hanya seperti angin lalu.
Episode ini ditutup dengan tibanya Urashiki. Blogger penasaran apakah nantinya Boruto dan Sasuke bakal ngaku mereka dari masa depan atau enggak. Dan ketika Arc ini kelar, bagaimana dengan ingatan para tokoh penting di era itu? Maksudnya, Boruto itu hanya satu generasi di bawah angkatan Naruto, berarti seharusnya orang-orang di masa depan (era Boruto datang) itu masih ingat tentang sosok seorang Boruto kan?
Minggu, 27 Oktober 2019
Reinforcements from the Future
Itu judul episode 24 dan 25 di Power Rangers Wild Force, episode team-up dengan Power Ranger Time Force. Beda dengan season sebelumnya, kali ini episode team-upnya kembali menjadi 2 episode. Kalau Blogger mau mikir jelek, maka Blogger akan bilang karena PRTF dianak-emaskan sebab sampai sekarang di kalangan fans pun begitu. Tapi dibanding crossover PRTF x PRLR kemarin, team-up kali ini jauh lebih bagus: alurnya ada, jalan ceritanya jelas, karakter PRTF muncul tidak tampak maksa, dan menciptakan shipping baru walau ke-canon-annya dipertanyakan. Ada plothole kecil-kecil Blogger temukan, tapi okelah. Kalau ternyata ada plothole besar yang Blogger kelewat, mungkin karena Blogger terlalu menikmati.
Episode 24, berarti bagian pertama, awal pertemuan (gak disengaja) antara Taylor dan Eric terjadi. Disitu plothole kecilnya udah ada, tentang berarti Silver Guardian ada di sekitar tempat-tempat yang biasa didatangi tim Wild Force, tapi kok sepertinya Taylor tampak tidak tahu-menahu soal mereka serta tentang Wes dan Eric (Blogger gak ngomong soal kedua cowok itu adalah Ranger). Dan, masih dengan pemikiran yang sama, jika Silver Guardian berpatroli disana, mereka kemana saat Org muncul selama season ini? Mungkin ada penjelasannya tapi Blogger kelewat.
Mungkin karena dibagi jadi dua bagian, karakter PRTF tidak langsung dimunculkan plek begitu untuk bareng dengan tim PRWF. Sudah muncul, tapi belum gabung disana barengan. Bahkan Blogger cukup senang karena kelanjutan hidup Nadira dan Ransik diperlihatkan, ada penjelasan singkatnya, bahkan mereka ikut berperan dalam team-up ini sebagai allies. Yah, soal Ransik mungkin karena memang musuh mereka di episode ini bisa ada karena Ransik. Tapi, Blogger seneng dengan akhir episode 25.
Love/hate relationship antara Taylor dan Eric itu menarik. Gini, biasanya kalau ada percikan asmara antar Ranger atau dengan tokoh lain, itu hanya untuk di season tertentu saja. Sedangkan kali ini, mereka ada di tim yang berbeda: Taylor dari PRWF, Eric dari PRTF. Benci memang gak jauh dari cinta. Memang gak jelas apakah setelahnya mereka jalan bareng atau enggak, tapi percikannya ada, dan Kreator seakan cengin mereka di akhir episode 25. Gapapalah, seenggaknya Eric gak usah gabung ke klub jomblonya Alex di masa depan.
Dari team-up PRLG x PRiS, PRLR x PRLG, PRTF x PRLR, menurut Blogger PRWF x PRTF inilah yang eksekusinya paling baik. Lost Galaxy dengan In Space itu menang di hati penonton karena gak terduga, Lightspeed dengan Lost Galaxy itu eksekusinya kurang greget, Time Force dengan Lightspeed hanya menang karena all-out dan keeksklusifannya, sedangkan Wild Force dengan Time Force ini sangat baik untuk alurnya.
Episode 24, berarti bagian pertama, awal pertemuan (gak disengaja) antara Taylor dan Eric terjadi. Disitu plothole kecilnya udah ada, tentang berarti Silver Guardian ada di sekitar tempat-tempat yang biasa didatangi tim Wild Force, tapi kok sepertinya Taylor tampak tidak tahu-menahu soal mereka serta tentang Wes dan Eric (Blogger gak ngomong soal kedua cowok itu adalah Ranger). Dan, masih dengan pemikiran yang sama, jika Silver Guardian berpatroli disana, mereka kemana saat Org muncul selama season ini? Mungkin ada penjelasannya tapi Blogger kelewat.
Mungkin karena dibagi jadi dua bagian, karakter PRTF tidak langsung dimunculkan plek begitu untuk bareng dengan tim PRWF. Sudah muncul, tapi belum gabung disana barengan. Bahkan Blogger cukup senang karena kelanjutan hidup Nadira dan Ransik diperlihatkan, ada penjelasan singkatnya, bahkan mereka ikut berperan dalam team-up ini sebagai allies. Yah, soal Ransik mungkin karena memang musuh mereka di episode ini bisa ada karena Ransik. Tapi, Blogger seneng dengan akhir episode 25.
Love/hate relationship antara Taylor dan Eric itu menarik. Gini, biasanya kalau ada percikan asmara antar Ranger atau dengan tokoh lain, itu hanya untuk di season tertentu saja. Sedangkan kali ini, mereka ada di tim yang berbeda: Taylor dari PRWF, Eric dari PRTF. Benci memang gak jauh dari cinta. Memang gak jelas apakah setelahnya mereka jalan bareng atau enggak, tapi percikannya ada, dan Kreator seakan cengin mereka di akhir episode 25. Gapapalah, seenggaknya Eric gak usah gabung ke klub jomblonya Alex di masa depan.
Dari team-up PRLG x PRiS, PRLR x PRLG, PRTF x PRLR, menurut Blogger PRWF x PRTF inilah yang eksekusinya paling baik. Lost Galaxy dengan In Space itu menang di hati penonton karena gak terduga, Lightspeed dengan Lost Galaxy itu eksekusinya kurang greget, Time Force dengan Lightspeed hanya menang karena all-out dan keeksklusifannya, sedangkan Wild Force dengan Time Force ini sangat baik untuk alurnya.
Kamis, 24 Oktober 2019
Maleficent 2: Red Wedding versi Disney
Kamu tahu Red Wedding? Itu loh, pernikahan yang semuanya serba merah: gaun, jas, dekorasi, dll.
Erm, enggak, entri ini bukan omongin Red Wedding yang itu, melainkan adegan ikonik dari serial Game of Thrones. Jadi adegan ini isinya-----
Oke ini spoiler banget. Walau episodenya ada di season 3, belum setengah seluruh season, tetap aja.
Udah dikasih peringatan loh ya.
Jadi intinya, Red Wedding yang terkenal di GoT itu tentang pembantaian saat pernikahan A dengan B. Tuan rumahnya ada di pihak perempuan A. Aula tempat A dan B menikah tiba-tiba dikunci, alias tamu dari B terkurung di dalam. Pada saat itulah pembantaian pihak B terjadi oleh pihak A, yang sedang di luar ruangan pun kena imbas juga. Makanya disebut Red Wedding.
Tadi siang Blogger nonton Maleficent: Mistress of Evil, dan Blogger kaget sendiri karena Disney membuat Red Wedding versi mereka. Tapi, yah, namanya juga Disney, pembantaian yang dilakukan gak sekasar seperti GoT, dan gak ada darah juga karena yang dibantai adalah para peri.
Uhuk spoiler lagi uhuk.
Dari awal kemunculannya, Blogger langsung gak suka Ingrith dan Gerda. Jangan salah, Blogger gak dapat spoiler sama sekali sebelum nonton, paling banter cuman cari kalau ada adegan setelah credit. Tapi iya, Blogger bahkan gak nonton teaser, trailer, bahkan baca sinopsisnya sama sekali. Blogger memutuskan untuk nonton ini benar-benar hanya karena ini sekuel dari film pertamanya. Jadi ketika nonton, walau mikir Ingrith cantik dan Gerda keren, tetap saja Blogger tahu gak suka dengan tokoh mereka.
Blogger turut merasakan kekecewaan Maleficent ketika Aurora memintanya tutupin tanduk. Blogger paham, jadi biar warga dan orang istana gak merasa terlalu risih saat lihat. Tapi gini, tanduk (dan sayap) itu merupakan bagian dari jati diri seorang Maleficent. Jadi jika Aurora, orang yang sangat disayanginya, minta untuk tutupin hal itu, rasanya seperti Aurora malu akan Maleficent---walaupun mungkin Aurora bukan malu.
Makanya Blogger mikir 'sukurin lu!' saat Aurora yang dengan senangnya pamerin gaun karya peri di hadapan Ingrith lalu memaksakan diri untuk memutuskan pakai gaun BEKAS Ingrith.
Kemudian saat makan malam di istana. Wajar jika mereka tidak tahu bahwa kaum peri musuhan dengan besi. Tapi toh ya kasih gantinya gitu loh, masak disuruh pakai tangan? Dan Aurora sama sekali tampak gak peduli ke depannya.
Gini ya, jangan membuat orang seneng dengan versi kepura-puraan. Kalau mereka gak suka diri lu apa adanya, berarti ya begitu saja. Selama sebenarnya tidak buruk, jangan berubah hanya demi orang lain, apalagi sok menjadi yang orang lain harapkan padahal berkebalikan dengan aslinya elu.
Maleficent adalah tokoh antagonis Disney klasik favorit Blogger. Kenapa?
Karena tidak ada jaminan bahwa dia memang jahat. Loh, dia kutuk bayi yang belum lama lahir, kan? Iya, tapi dia melakukan itu karena marah.
Yes. Blogger gak tahu versi lain, tapi Blogger sedang omongin versi Disney: Maleficent mengutuk Aurora karena dia tidak diundang saat pembaptisan.
Ini kekanakan banget sih, cuman gara-gara gak diundang, langsung baper kayak gitu. Tapi bagaimana pun, alasan kenapa kutukan itu dilontarkan yang karena itu. Memang tidak ada jaminan bahwa jika dari awal Maleficent diundang maka Aurora akan selamat, tapi sekali lagi, Aurora kena kutuk karena Maleficent tidak diundang. Jadi, sebenarnya dengan mengenyampingkan kekesalan Maleficent yang gak diundang, gak ada jaminan bahwa dia adalah pribadi yang jahat.
Apalagi di live-action ini. Yah, mungkin karena dianya yang jadi tokoh utama, makanya dibuat jadi dia punya alasan kenapa sampai balas dendam begitu, dan ini bukan lagi hal kekanakan sebangsa 'gak diundang'.
Sebaliknya, Aurora adalah putri Disney klasik yang Blogger gak suka. Kenapa?
Totally useless, for real.
Mau di kartun, mau di live action (Maleficent), sama aja. Kontribusinya dalam film ini hanyalah menjadi subyek kutukan Maleficent. Dia gak bisa apa-apa.
Kesalahan terbesar Maleficent pada Aurora adalah menjadikan ratu di Moors, seperti yang dikatakan di film kedua ini. Mungkin maksud Maleficent biar ini menjadi langkah awal Moor dan dunia manusia kerjasama. Tapi, Aurora adalah satu-satunya manusia di Moors, yang lain adalah peri. Aurora tidak mengerti sepenuhnya lahir-batin tentang kehidupan peri, makanya peri membutuhkan sesama peri untuk memimpin mereka.
Di film kedua ini Blogger makin gak suka dengan Aurora. Sudah menginginkan agar Maleficent bersikap baik di saat Ingrith terus nyerang (lewat kata-kata), lalu dia dengan mudahnya nuduh saat John kena kutuk. Oke tunggu, siapa pun tokoh disana pasti langsung mikir bahwa Maleficent-lah pelakunya, tapi adegan itu menunjukan betapa tipisnya rasa percaya Aurora pada peri yang dianggap sebagai ibunya.
Ketika Lickspittle membuat serbuk merah dan diujicoba, Blogger langsung tahu bahwa Ingrith akan berhenti serang peri dengan butiran besi. Saat Gerda mengumumkan agar warga Moors semua hadir dalam pernikahan, Blogger tahu serbuk merah itu bakal disemprot saat itu. Tapi Blogger gak nyangka semprotnya ketika seluruh warga Moors dalam kapel, pikir cuman serang lewat udara karena toh serbuk itu gak ngaruh apa-apa ke manusia.
Lalu Red Wedding pun terjadi. Ketika Moors datang dan dipersilakan masuk wilayah istana tapi manusia dilarang masuk, Blogger belum terlalu ngeh. Tapi ketika yang di dalam kapel hanya para peri, Blogger baru kepikiran bahwa serbuk itu bakal disemprot di dalam ruangan saja. Eh, eh, eh, sampai pintunya ditahan dari luar, beneran deh. Lalu Gerda masuk dan main organ, ternyata serbuknya disemprot tiap kali dia pencet tuts yang sudah disiapkan, jadi serbuknya keluar dari pipa organ. Dan karena serbuknya warna merah lalu banyak peri yang tumbang, makanya ini jadi seperti Red Wedding, tapi versi Disney, jadi gak ada darah.
Omong-omong, Blogger gak nyangka bahwa Flittle akan melakukan hal seheroik itu. Lalu, Blogger kecewa karena adegan Gerda jatuh malah dipotong dan ganti ke adegan lain, padahal kalau sampai bener jatuh dan dikonfirmasi tewas (dalam film) Blogger pasti langsung teriak kesenangan.
Tentang Maleficent menjadi phoenix, Blogger gak akan bilang itu klise. Bagian yang klise adalah tokoh utama bangkit dari kematian, jadi kayak mati suri gitu, lagian walau tampak menyakitkan tapi kok gampang banget dia kena bunuhnya. Jadi untunglah di pertengahan sudah ada omongan tentang phoenix, penonton yang tahu tentang makhluk mitologi (?) ini bakal gak merasa aneh karena burung phoenix itu lahir kembali dari abunya. Tapi bahkan mama Blogger yang sebenernya gak tahu-menahu tentang mitologi ini tetap bisa tahu berkat film Harry Potter and the Chamber of Secrets.
Blogger sangat berharap Ingrith mati. Karena, di film pertama, mereka mau bikin Stefan mati karena dijatuhin Maleficent. Kenapa di film ini gak sekalian Ingrith-nya?
Omong-omong, adegan Ingrith dorong Aurora itu, sudah ketahuan bahwa dia bakal kalah. Iyalah, itu adalah tindakan yang paling mudah jika sudah gak ada rencana apa-apa lagi.
Bagian pernikahan Aurora dengan Phillip, Blogger sangat senang karena ada adegan dari kartun, yakni ketika para peri berebutan gonta-ganti warna gaun Aurora. Tidak sama persis dengan kartun, tapi yang pernah nonton kartunnya akan tahu referensi ini.
Pantasan Blogger gak merasa asing dengan wajah tokoh Borra, ternyata aktornya pernah main jadi Daario Naharis di season 3 GoT! Iya, Blogger sampe gugling saking penasarannya.
Katanya belum ada omongan tentang film ketiga ya? Blogger pikir gak usah lah. Walau Blogger sangat senang karena salah satu antagonis klasik favorit Blogger dijadikan film sendiri, tapi kalau memang sudah tidak ada konflik ya jangan dipaksa berputar-putar, bakal ketahuan kalau mereka cuman mau panen duitnya. Film pertama sudah konflik dengan orangtua Aurora sekaligus penyebab kenapa Maleficent dianggap antagonis. Film kedua sudah konflik dengan orangtua Phillip sekaligus fakta bahwa kawanannya Maleficent masih ada. Berarti kalau dipaksakan, nanti konflik selanjutnya itu berhubungan dengan kawanan Dark Fey dan pembaptisan anak Aurora-Phillip, kan? Muter lagi berarti. Atau mungkin Ingrith bakal balas dendam (lagi) karena belum ada cerita yang pasti tentang saudaranya yang dipercaya mati di tangan peri? Hmmm.
Kacau, Blogger masih sangat nge-ship Aurora dengan Diaval.
Erm, enggak, entri ini bukan omongin Red Wedding yang itu, melainkan adegan ikonik dari serial Game of Thrones. Jadi adegan ini isinya-----
Oke ini spoiler banget. Walau episodenya ada di season 3, belum setengah seluruh season, tetap aja.
Udah dikasih peringatan loh ya.
Jadi intinya, Red Wedding yang terkenal di GoT itu tentang pembantaian saat pernikahan A dengan B. Tuan rumahnya ada di pihak perempuan A. Aula tempat A dan B menikah tiba-tiba dikunci, alias tamu dari B terkurung di dalam. Pada saat itulah pembantaian pihak B terjadi oleh pihak A, yang sedang di luar ruangan pun kena imbas juga. Makanya disebut Red Wedding.
Tadi siang Blogger nonton Maleficent: Mistress of Evil, dan Blogger kaget sendiri karena Disney membuat Red Wedding versi mereka. Tapi, yah, namanya juga Disney, pembantaian yang dilakukan gak sekasar seperti GoT, dan gak ada darah juga karena yang dibantai adalah para peri.
Uhuk spoiler lagi uhuk.
Dari awal kemunculannya, Blogger langsung gak suka Ingrith dan Gerda. Jangan salah, Blogger gak dapat spoiler sama sekali sebelum nonton, paling banter cuman cari kalau ada adegan setelah credit. Tapi iya, Blogger bahkan gak nonton teaser, trailer, bahkan baca sinopsisnya sama sekali. Blogger memutuskan untuk nonton ini benar-benar hanya karena ini sekuel dari film pertamanya. Jadi ketika nonton, walau mikir Ingrith cantik dan Gerda keren, tetap saja Blogger tahu gak suka dengan tokoh mereka.
Blogger turut merasakan kekecewaan Maleficent ketika Aurora memintanya tutupin tanduk. Blogger paham, jadi biar warga dan orang istana gak merasa terlalu risih saat lihat. Tapi gini, tanduk (dan sayap) itu merupakan bagian dari jati diri seorang Maleficent. Jadi jika Aurora, orang yang sangat disayanginya, minta untuk tutupin hal itu, rasanya seperti Aurora malu akan Maleficent---walaupun mungkin Aurora bukan malu.
Makanya Blogger mikir 'sukurin lu!' saat Aurora yang dengan senangnya pamerin gaun karya peri di hadapan Ingrith lalu memaksakan diri untuk memutuskan pakai gaun BEKAS Ingrith.
Kemudian saat makan malam di istana. Wajar jika mereka tidak tahu bahwa kaum peri musuhan dengan besi. Tapi toh ya kasih gantinya gitu loh, masak disuruh pakai tangan? Dan Aurora sama sekali tampak gak peduli ke depannya.
Gini ya, jangan membuat orang seneng dengan versi kepura-puraan. Kalau mereka gak suka diri lu apa adanya, berarti ya begitu saja. Selama sebenarnya tidak buruk, jangan berubah hanya demi orang lain, apalagi sok menjadi yang orang lain harapkan padahal berkebalikan dengan aslinya elu.
Maleficent adalah tokoh antagonis Disney klasik favorit Blogger. Kenapa?
Karena tidak ada jaminan bahwa dia memang jahat. Loh, dia kutuk bayi yang belum lama lahir, kan? Iya, tapi dia melakukan itu karena marah.
Yes. Blogger gak tahu versi lain, tapi Blogger sedang omongin versi Disney: Maleficent mengutuk Aurora karena dia tidak diundang saat pembaptisan.
Ini kekanakan banget sih, cuman gara-gara gak diundang, langsung baper kayak gitu. Tapi bagaimana pun, alasan kenapa kutukan itu dilontarkan yang karena itu. Memang tidak ada jaminan bahwa jika dari awal Maleficent diundang maka Aurora akan selamat, tapi sekali lagi, Aurora kena kutuk karena Maleficent tidak diundang. Jadi, sebenarnya dengan mengenyampingkan kekesalan Maleficent yang gak diundang, gak ada jaminan bahwa dia adalah pribadi yang jahat.
Apalagi di live-action ini. Yah, mungkin karena dianya yang jadi tokoh utama, makanya dibuat jadi dia punya alasan kenapa sampai balas dendam begitu, dan ini bukan lagi hal kekanakan sebangsa 'gak diundang'.
Sebaliknya, Aurora adalah putri Disney klasik yang Blogger gak suka. Kenapa?
Totally useless, for real.
Mau di kartun, mau di live action (Maleficent), sama aja. Kontribusinya dalam film ini hanyalah menjadi subyek kutukan Maleficent. Dia gak bisa apa-apa.
Kesalahan terbesar Maleficent pada Aurora adalah menjadikan ratu di Moors, seperti yang dikatakan di film kedua ini. Mungkin maksud Maleficent biar ini menjadi langkah awal Moor dan dunia manusia kerjasama. Tapi, Aurora adalah satu-satunya manusia di Moors, yang lain adalah peri. Aurora tidak mengerti sepenuhnya lahir-batin tentang kehidupan peri, makanya peri membutuhkan sesama peri untuk memimpin mereka.
Di film kedua ini Blogger makin gak suka dengan Aurora. Sudah menginginkan agar Maleficent bersikap baik di saat Ingrith terus nyerang (lewat kata-kata), lalu dia dengan mudahnya nuduh saat John kena kutuk. Oke tunggu, siapa pun tokoh disana pasti langsung mikir bahwa Maleficent-lah pelakunya, tapi adegan itu menunjukan betapa tipisnya rasa percaya Aurora pada peri yang dianggap sebagai ibunya.
Ketika Lickspittle membuat serbuk merah dan diujicoba, Blogger langsung tahu bahwa Ingrith akan berhenti serang peri dengan butiran besi. Saat Gerda mengumumkan agar warga Moors semua hadir dalam pernikahan, Blogger tahu serbuk merah itu bakal disemprot saat itu. Tapi Blogger gak nyangka semprotnya ketika seluruh warga Moors dalam kapel, pikir cuman serang lewat udara karena toh serbuk itu gak ngaruh apa-apa ke manusia.
Lalu Red Wedding pun terjadi. Ketika Moors datang dan dipersilakan masuk wilayah istana tapi manusia dilarang masuk, Blogger belum terlalu ngeh. Tapi ketika yang di dalam kapel hanya para peri, Blogger baru kepikiran bahwa serbuk itu bakal disemprot di dalam ruangan saja. Eh, eh, eh, sampai pintunya ditahan dari luar, beneran deh. Lalu Gerda masuk dan main organ, ternyata serbuknya disemprot tiap kali dia pencet tuts yang sudah disiapkan, jadi serbuknya keluar dari pipa organ. Dan karena serbuknya warna merah lalu banyak peri yang tumbang, makanya ini jadi seperti Red Wedding, tapi versi Disney, jadi gak ada darah.
Omong-omong, Blogger gak nyangka bahwa Flittle akan melakukan hal seheroik itu. Lalu, Blogger kecewa karena adegan Gerda jatuh malah dipotong dan ganti ke adegan lain, padahal kalau sampai bener jatuh dan dikonfirmasi tewas (dalam film) Blogger pasti langsung teriak kesenangan.
Tentang Maleficent menjadi phoenix, Blogger gak akan bilang itu klise. Bagian yang klise adalah tokoh utama bangkit dari kematian, jadi kayak mati suri gitu, lagian walau tampak menyakitkan tapi kok gampang banget dia kena bunuhnya. Jadi untunglah di pertengahan sudah ada omongan tentang phoenix, penonton yang tahu tentang makhluk mitologi (?) ini bakal gak merasa aneh karena burung phoenix itu lahir kembali dari abunya. Tapi bahkan mama Blogger yang sebenernya gak tahu-menahu tentang mitologi ini tetap bisa tahu berkat film Harry Potter and the Chamber of Secrets.
Blogger sangat berharap Ingrith mati. Karena, di film pertama, mereka mau bikin Stefan mati karena dijatuhin Maleficent. Kenapa di film ini gak sekalian Ingrith-nya?
Omong-omong, adegan Ingrith dorong Aurora itu, sudah ketahuan bahwa dia bakal kalah. Iyalah, itu adalah tindakan yang paling mudah jika sudah gak ada rencana apa-apa lagi.
Bagian pernikahan Aurora dengan Phillip, Blogger sangat senang karena ada adegan dari kartun, yakni ketika para peri berebutan gonta-ganti warna gaun Aurora. Tidak sama persis dengan kartun, tapi yang pernah nonton kartunnya akan tahu referensi ini.
Pantasan Blogger gak merasa asing dengan wajah tokoh Borra, ternyata aktornya pernah main jadi Daario Naharis di season 3 GoT! Iya, Blogger sampe gugling saking penasarannya.
Katanya belum ada omongan tentang film ketiga ya? Blogger pikir gak usah lah. Walau Blogger sangat senang karena salah satu antagonis klasik favorit Blogger dijadikan film sendiri, tapi kalau memang sudah tidak ada konflik ya jangan dipaksa berputar-putar, bakal ketahuan kalau mereka cuman mau panen duitnya. Film pertama sudah konflik dengan orangtua Aurora sekaligus penyebab kenapa Maleficent dianggap antagonis. Film kedua sudah konflik dengan orangtua Phillip sekaligus fakta bahwa kawanannya Maleficent masih ada. Berarti kalau dipaksakan, nanti konflik selanjutnya itu berhubungan dengan kawanan Dark Fey dan pembaptisan anak Aurora-Phillip, kan? Muter lagi berarti. Atau mungkin Ingrith bakal balas dendam (lagi) karena belum ada cerita yang pasti tentang saudaranya yang dipercaya mati di tangan peri? Hmmm.
Kacau, Blogger masih sangat nge-ship Aurora dengan Diaval.
Senin, 21 Oktober 2019
Boruto episode 129
Episode ini alurnya sangat lambat menurut Blogger. Oke, iya, ternyata mereka masuk ke masa lalu di hari yang kecepatan dibanding Urashiki, jadi jelas gak bakal ada pertarungan atau apa pun berhubungan dengan plot utama. Apalagi karena Boruto dan Sasuke baru banget tiba di masa lalu, jadi pasti ya ada semacam kecurigaan dari Hokage, kemudian ketemu dengan orang-orang di masa lalu---sampai episode depan pun tampaknya masih tentang Boruto yang ketemu dengan angkatan bapaknya zaman mereka umur 12 tahun.
Boruto dan Naruto benar-benar mirip luar-dalam, dan episode ini cukup membuktikan ketika mereka ketabrak di awal. Hubungan antara Naruto-Jiraiya cukup membuat Blogger geli dan senang sendiri. Karena, yah, salah satu percakapan mereka itu hampir sama persis dengan yang terjadi pada Boruto dan Naruto sebelum Boruto terdampar di masa lalu.
Lewat episode ini, Blogger berharap Boruto akan lebih memahami ayahnya. Gini, Boruto tahu kok, kalau bapaknya itu gak punya orangtua sejak kecil, tapi ya dia hanya tahu begitu saja. Sedangkan sekarang, Boruto di masa lalu ini ikut Naruto versi 12 tahun ke apartemennya. Di situ kontras banget loh, ya bangunannya, ya kondisi dalam rumah. Blogger berharap pengetahuan Boruto tentang keyatimpiatuan bapaknya tidak lagi hanya sekedar wacana, tapi mulai memahami karena dia sudah melihat sendiri lingkungan tinggal bapaknya zaman seumurnya.
Mungkin cuman perasaan Blogger, tapi mungkin memang ketika Urashiki belum mendarat ini, sepertinya memang banyak fanservice untuk penikmat serial Naruto. Makanya banyak meme tentang penggemar Naruto yang gak suka Boruto tapi mendadak pengen nonton Boruto gara-gara lihat akhir episode 128 itu tentang Boruto dan Sasuke terjebak di masa lalu alias zaman Naruto masih 12 tahun.
Buat episode depan, Blogger berharap timelinenya diperjelas. Seperti, apakah saat itu tim Shikamaru sudah pergi kejar Sasuke atau belum (sepertinya belum, tapi mungkin Blogger salah paham).
WAH BLOGGER LUPA KALAU BORUTO MUNGKIN BAKAL KETEMU KONOHAMARU VERSI MINI!!
Boruto dan Naruto benar-benar mirip luar-dalam, dan episode ini cukup membuktikan ketika mereka ketabrak di awal. Hubungan antara Naruto-Jiraiya cukup membuat Blogger geli dan senang sendiri. Karena, yah, salah satu percakapan mereka itu hampir sama persis dengan yang terjadi pada Boruto dan Naruto sebelum Boruto terdampar di masa lalu.
Lewat episode ini, Blogger berharap Boruto akan lebih memahami ayahnya. Gini, Boruto tahu kok, kalau bapaknya itu gak punya orangtua sejak kecil, tapi ya dia hanya tahu begitu saja. Sedangkan sekarang, Boruto di masa lalu ini ikut Naruto versi 12 tahun ke apartemennya. Di situ kontras banget loh, ya bangunannya, ya kondisi dalam rumah. Blogger berharap pengetahuan Boruto tentang keyatimpiatuan bapaknya tidak lagi hanya sekedar wacana, tapi mulai memahami karena dia sudah melihat sendiri lingkungan tinggal bapaknya zaman seumurnya.
Mungkin cuman perasaan Blogger, tapi mungkin memang ketika Urashiki belum mendarat ini, sepertinya memang banyak fanservice untuk penikmat serial Naruto. Makanya banyak meme tentang penggemar Naruto yang gak suka Boruto tapi mendadak pengen nonton Boruto gara-gara lihat akhir episode 128 itu tentang Boruto dan Sasuke terjebak di masa lalu alias zaman Naruto masih 12 tahun.
Buat episode depan, Blogger berharap timelinenya diperjelas. Seperti, apakah saat itu tim Shikamaru sudah pergi kejar Sasuke atau belum (sepertinya belum, tapi mungkin Blogger salah paham).
WAH BLOGGER LUPA KALAU BORUTO MUNGKIN BAKAL KETEMU KONOHAMARU VERSI MINI!!
Langganan:
Postingan (Atom)