Itu judul episode 24 dan 25 di Power Rangers Wild Force, episode team-up dengan Power Ranger Time Force. Beda dengan season sebelumnya, kali ini episode team-upnya kembali menjadi 2 episode. Kalau Blogger mau mikir jelek, maka Blogger akan bilang karena PRTF dianak-emaskan sebab sampai sekarang di kalangan fans pun begitu. Tapi dibanding crossover PRTF x PRLR kemarin, team-up kali ini jauh lebih bagus: alurnya ada, jalan ceritanya jelas, karakter PRTF muncul tidak tampak maksa, dan menciptakan shipping baru walau ke-canon-annya dipertanyakan. Ada plothole kecil-kecil Blogger temukan, tapi okelah. Kalau ternyata ada plothole besar yang Blogger kelewat, mungkin karena Blogger terlalu menikmati.
Episode 24, berarti bagian pertama, awal pertemuan (gak disengaja) antara Taylor dan Eric terjadi. Disitu plothole kecilnya udah ada, tentang berarti Silver Guardian ada di sekitar tempat-tempat yang biasa didatangi tim Wild Force, tapi kok sepertinya Taylor tampak tidak tahu-menahu soal mereka serta tentang Wes dan Eric (Blogger gak ngomong soal kedua cowok itu adalah Ranger). Dan, masih dengan pemikiran yang sama, jika Silver Guardian berpatroli disana, mereka kemana saat Org muncul selama season ini? Mungkin ada penjelasannya tapi Blogger kelewat.
Mungkin karena dibagi jadi dua bagian, karakter PRTF tidak langsung dimunculkan plek begitu untuk bareng dengan tim PRWF. Sudah muncul, tapi belum gabung disana barengan. Bahkan Blogger cukup senang karena kelanjutan hidup Nadira dan Ransik diperlihatkan, ada penjelasan singkatnya, bahkan mereka ikut berperan dalam team-up ini sebagai allies. Yah, soal Ransik mungkin karena memang musuh mereka di episode ini bisa ada karena Ransik. Tapi, Blogger seneng dengan akhir episode 25.
Love/hate relationship antara Taylor dan Eric itu menarik. Gini, biasanya kalau ada percikan asmara antar Ranger atau dengan tokoh lain, itu hanya untuk di season tertentu saja. Sedangkan kali ini, mereka ada di tim yang berbeda: Taylor dari PRWF, Eric dari PRTF. Benci memang gak jauh dari cinta. Memang gak jelas apakah setelahnya mereka jalan bareng atau enggak, tapi percikannya ada, dan Kreator seakan cengin mereka di akhir episode 25. Gapapalah, seenggaknya Eric gak usah gabung ke klub jomblonya Alex di masa depan.
Dari team-up PRLG x PRiS, PRLR x PRLG, PRTF x PRLR, menurut Blogger PRWF x PRTF inilah yang eksekusinya paling baik. Lost Galaxy dengan In Space itu menang di hati penonton karena gak terduga, Lightspeed dengan Lost Galaxy itu eksekusinya kurang greget, Time Force dengan Lightspeed hanya menang karena all-out dan keeksklusifannya, sedangkan Wild Force dengan Time Force ini sangat baik untuk alurnya.
Minggu, 27 Oktober 2019
Kamis, 24 Oktober 2019
Maleficent 2: Red Wedding versi Disney
Kamu tahu Red Wedding? Itu loh, pernikahan yang semuanya serba merah: gaun, jas, dekorasi, dll.
Erm, enggak, entri ini bukan omongin Red Wedding yang itu, melainkan adegan ikonik dari serial Game of Thrones. Jadi adegan ini isinya-----
Oke ini spoiler banget. Walau episodenya ada di season 3, belum setengah seluruh season, tetap aja.
Udah dikasih peringatan loh ya.
Jadi intinya, Red Wedding yang terkenal di GoT itu tentang pembantaian saat pernikahan A dengan B. Tuan rumahnya ada di pihak perempuan A. Aula tempat A dan B menikah tiba-tiba dikunci, alias tamu dari B terkurung di dalam. Pada saat itulah pembantaian pihak B terjadi oleh pihak A, yang sedang di luar ruangan pun kena imbas juga. Makanya disebut Red Wedding.
Tadi siang Blogger nonton Maleficent: Mistress of Evil, dan Blogger kaget sendiri karena Disney membuat Red Wedding versi mereka. Tapi, yah, namanya juga Disney, pembantaian yang dilakukan gak sekasar seperti GoT, dan gak ada darah juga karena yang dibantai adalah para peri.
Uhuk spoiler lagi uhuk.
Dari awal kemunculannya, Blogger langsung gak suka Ingrith dan Gerda. Jangan salah, Blogger gak dapat spoiler sama sekali sebelum nonton, paling banter cuman cari kalau ada adegan setelah credit. Tapi iya, Blogger bahkan gak nonton teaser, trailer, bahkan baca sinopsisnya sama sekali. Blogger memutuskan untuk nonton ini benar-benar hanya karena ini sekuel dari film pertamanya. Jadi ketika nonton, walau mikir Ingrith cantik dan Gerda keren, tetap saja Blogger tahu gak suka dengan tokoh mereka.
Blogger turut merasakan kekecewaan Maleficent ketika Aurora memintanya tutupin tanduk. Blogger paham, jadi biar warga dan orang istana gak merasa terlalu risih saat lihat. Tapi gini, tanduk (dan sayap) itu merupakan bagian dari jati diri seorang Maleficent. Jadi jika Aurora, orang yang sangat disayanginya, minta untuk tutupin hal itu, rasanya seperti Aurora malu akan Maleficent---walaupun mungkin Aurora bukan malu.
Makanya Blogger mikir 'sukurin lu!' saat Aurora yang dengan senangnya pamerin gaun karya peri di hadapan Ingrith lalu memaksakan diri untuk memutuskan pakai gaun BEKAS Ingrith.
Kemudian saat makan malam di istana. Wajar jika mereka tidak tahu bahwa kaum peri musuhan dengan besi. Tapi toh ya kasih gantinya gitu loh, masak disuruh pakai tangan? Dan Aurora sama sekali tampak gak peduli ke depannya.
Gini ya, jangan membuat orang seneng dengan versi kepura-puraan. Kalau mereka gak suka diri lu apa adanya, berarti ya begitu saja. Selama sebenarnya tidak buruk, jangan berubah hanya demi orang lain, apalagi sok menjadi yang orang lain harapkan padahal berkebalikan dengan aslinya elu.
Maleficent adalah tokoh antagonis Disney klasik favorit Blogger. Kenapa?
Karena tidak ada jaminan bahwa dia memang jahat. Loh, dia kutuk bayi yang belum lama lahir, kan? Iya, tapi dia melakukan itu karena marah.
Yes. Blogger gak tahu versi lain, tapi Blogger sedang omongin versi Disney: Maleficent mengutuk Aurora karena dia tidak diundang saat pembaptisan.
Ini kekanakan banget sih, cuman gara-gara gak diundang, langsung baper kayak gitu. Tapi bagaimana pun, alasan kenapa kutukan itu dilontarkan yang karena itu. Memang tidak ada jaminan bahwa jika dari awal Maleficent diundang maka Aurora akan selamat, tapi sekali lagi, Aurora kena kutuk karena Maleficent tidak diundang. Jadi, sebenarnya dengan mengenyampingkan kekesalan Maleficent yang gak diundang, gak ada jaminan bahwa dia adalah pribadi yang jahat.
Apalagi di live-action ini. Yah, mungkin karena dianya yang jadi tokoh utama, makanya dibuat jadi dia punya alasan kenapa sampai balas dendam begitu, dan ini bukan lagi hal kekanakan sebangsa 'gak diundang'.
Sebaliknya, Aurora adalah putri Disney klasik yang Blogger gak suka. Kenapa?
Totally useless, for real.
Mau di kartun, mau di live action (Maleficent), sama aja. Kontribusinya dalam film ini hanyalah menjadi subyek kutukan Maleficent. Dia gak bisa apa-apa.
Kesalahan terbesar Maleficent pada Aurora adalah menjadikan ratu di Moors, seperti yang dikatakan di film kedua ini. Mungkin maksud Maleficent biar ini menjadi langkah awal Moor dan dunia manusia kerjasama. Tapi, Aurora adalah satu-satunya manusia di Moors, yang lain adalah peri. Aurora tidak mengerti sepenuhnya lahir-batin tentang kehidupan peri, makanya peri membutuhkan sesama peri untuk memimpin mereka.
Di film kedua ini Blogger makin gak suka dengan Aurora. Sudah menginginkan agar Maleficent bersikap baik di saat Ingrith terus nyerang (lewat kata-kata), lalu dia dengan mudahnya nuduh saat John kena kutuk. Oke tunggu, siapa pun tokoh disana pasti langsung mikir bahwa Maleficent-lah pelakunya, tapi adegan itu menunjukan betapa tipisnya rasa percaya Aurora pada peri yang dianggap sebagai ibunya.
Ketika Lickspittle membuat serbuk merah dan diujicoba, Blogger langsung tahu bahwa Ingrith akan berhenti serang peri dengan butiran besi. Saat Gerda mengumumkan agar warga Moors semua hadir dalam pernikahan, Blogger tahu serbuk merah itu bakal disemprot saat itu. Tapi Blogger gak nyangka semprotnya ketika seluruh warga Moors dalam kapel, pikir cuman serang lewat udara karena toh serbuk itu gak ngaruh apa-apa ke manusia.
Lalu Red Wedding pun terjadi. Ketika Moors datang dan dipersilakan masuk wilayah istana tapi manusia dilarang masuk, Blogger belum terlalu ngeh. Tapi ketika yang di dalam kapel hanya para peri, Blogger baru kepikiran bahwa serbuk itu bakal disemprot di dalam ruangan saja. Eh, eh, eh, sampai pintunya ditahan dari luar, beneran deh. Lalu Gerda masuk dan main organ, ternyata serbuknya disemprot tiap kali dia pencet tuts yang sudah disiapkan, jadi serbuknya keluar dari pipa organ. Dan karena serbuknya warna merah lalu banyak peri yang tumbang, makanya ini jadi seperti Red Wedding, tapi versi Disney, jadi gak ada darah.
Omong-omong, Blogger gak nyangka bahwa Flittle akan melakukan hal seheroik itu. Lalu, Blogger kecewa karena adegan Gerda jatuh malah dipotong dan ganti ke adegan lain, padahal kalau sampai bener jatuh dan dikonfirmasi tewas (dalam film) Blogger pasti langsung teriak kesenangan.
Tentang Maleficent menjadi phoenix, Blogger gak akan bilang itu klise. Bagian yang klise adalah tokoh utama bangkit dari kematian, jadi kayak mati suri gitu, lagian walau tampak menyakitkan tapi kok gampang banget dia kena bunuhnya. Jadi untunglah di pertengahan sudah ada omongan tentang phoenix, penonton yang tahu tentang makhluk mitologi (?) ini bakal gak merasa aneh karena burung phoenix itu lahir kembali dari abunya. Tapi bahkan mama Blogger yang sebenernya gak tahu-menahu tentang mitologi ini tetap bisa tahu berkat film Harry Potter and the Chamber of Secrets.
Blogger sangat berharap Ingrith mati. Karena, di film pertama, mereka mau bikin Stefan mati karena dijatuhin Maleficent. Kenapa di film ini gak sekalian Ingrith-nya?
Omong-omong, adegan Ingrith dorong Aurora itu, sudah ketahuan bahwa dia bakal kalah. Iyalah, itu adalah tindakan yang paling mudah jika sudah gak ada rencana apa-apa lagi.
Bagian pernikahan Aurora dengan Phillip, Blogger sangat senang karena ada adegan dari kartun, yakni ketika para peri berebutan gonta-ganti warna gaun Aurora. Tidak sama persis dengan kartun, tapi yang pernah nonton kartunnya akan tahu referensi ini.
Pantasan Blogger gak merasa asing dengan wajah tokoh Borra, ternyata aktornya pernah main jadi Daario Naharis di season 3 GoT! Iya, Blogger sampe gugling saking penasarannya.
Katanya belum ada omongan tentang film ketiga ya? Blogger pikir gak usah lah. Walau Blogger sangat senang karena salah satu antagonis klasik favorit Blogger dijadikan film sendiri, tapi kalau memang sudah tidak ada konflik ya jangan dipaksa berputar-putar, bakal ketahuan kalau mereka cuman mau panen duitnya. Film pertama sudah konflik dengan orangtua Aurora sekaligus penyebab kenapa Maleficent dianggap antagonis. Film kedua sudah konflik dengan orangtua Phillip sekaligus fakta bahwa kawanannya Maleficent masih ada. Berarti kalau dipaksakan, nanti konflik selanjutnya itu berhubungan dengan kawanan Dark Fey dan pembaptisan anak Aurora-Phillip, kan? Muter lagi berarti. Atau mungkin Ingrith bakal balas dendam (lagi) karena belum ada cerita yang pasti tentang saudaranya yang dipercaya mati di tangan peri? Hmmm.
Kacau, Blogger masih sangat nge-ship Aurora dengan Diaval.
Erm, enggak, entri ini bukan omongin Red Wedding yang itu, melainkan adegan ikonik dari serial Game of Thrones. Jadi adegan ini isinya-----
Oke ini spoiler banget. Walau episodenya ada di season 3, belum setengah seluruh season, tetap aja.
Udah dikasih peringatan loh ya.
Jadi intinya, Red Wedding yang terkenal di GoT itu tentang pembantaian saat pernikahan A dengan B. Tuan rumahnya ada di pihak perempuan A. Aula tempat A dan B menikah tiba-tiba dikunci, alias tamu dari B terkurung di dalam. Pada saat itulah pembantaian pihak B terjadi oleh pihak A, yang sedang di luar ruangan pun kena imbas juga. Makanya disebut Red Wedding.
Tadi siang Blogger nonton Maleficent: Mistress of Evil, dan Blogger kaget sendiri karena Disney membuat Red Wedding versi mereka. Tapi, yah, namanya juga Disney, pembantaian yang dilakukan gak sekasar seperti GoT, dan gak ada darah juga karena yang dibantai adalah para peri.
Uhuk spoiler lagi uhuk.
Dari awal kemunculannya, Blogger langsung gak suka Ingrith dan Gerda. Jangan salah, Blogger gak dapat spoiler sama sekali sebelum nonton, paling banter cuman cari kalau ada adegan setelah credit. Tapi iya, Blogger bahkan gak nonton teaser, trailer, bahkan baca sinopsisnya sama sekali. Blogger memutuskan untuk nonton ini benar-benar hanya karena ini sekuel dari film pertamanya. Jadi ketika nonton, walau mikir Ingrith cantik dan Gerda keren, tetap saja Blogger tahu gak suka dengan tokoh mereka.
Blogger turut merasakan kekecewaan Maleficent ketika Aurora memintanya tutupin tanduk. Blogger paham, jadi biar warga dan orang istana gak merasa terlalu risih saat lihat. Tapi gini, tanduk (dan sayap) itu merupakan bagian dari jati diri seorang Maleficent. Jadi jika Aurora, orang yang sangat disayanginya, minta untuk tutupin hal itu, rasanya seperti Aurora malu akan Maleficent---walaupun mungkin Aurora bukan malu.
Makanya Blogger mikir 'sukurin lu!' saat Aurora yang dengan senangnya pamerin gaun karya peri di hadapan Ingrith lalu memaksakan diri untuk memutuskan pakai gaun BEKAS Ingrith.
Kemudian saat makan malam di istana. Wajar jika mereka tidak tahu bahwa kaum peri musuhan dengan besi. Tapi toh ya kasih gantinya gitu loh, masak disuruh pakai tangan? Dan Aurora sama sekali tampak gak peduli ke depannya.
Gini ya, jangan membuat orang seneng dengan versi kepura-puraan. Kalau mereka gak suka diri lu apa adanya, berarti ya begitu saja. Selama sebenarnya tidak buruk, jangan berubah hanya demi orang lain, apalagi sok menjadi yang orang lain harapkan padahal berkebalikan dengan aslinya elu.
Maleficent adalah tokoh antagonis Disney klasik favorit Blogger. Kenapa?
Karena tidak ada jaminan bahwa dia memang jahat. Loh, dia kutuk bayi yang belum lama lahir, kan? Iya, tapi dia melakukan itu karena marah.
Yes. Blogger gak tahu versi lain, tapi Blogger sedang omongin versi Disney: Maleficent mengutuk Aurora karena dia tidak diundang saat pembaptisan.
Ini kekanakan banget sih, cuman gara-gara gak diundang, langsung baper kayak gitu. Tapi bagaimana pun, alasan kenapa kutukan itu dilontarkan yang karena itu. Memang tidak ada jaminan bahwa jika dari awal Maleficent diundang maka Aurora akan selamat, tapi sekali lagi, Aurora kena kutuk karena Maleficent tidak diundang. Jadi, sebenarnya dengan mengenyampingkan kekesalan Maleficent yang gak diundang, gak ada jaminan bahwa dia adalah pribadi yang jahat.
Apalagi di live-action ini. Yah, mungkin karena dianya yang jadi tokoh utama, makanya dibuat jadi dia punya alasan kenapa sampai balas dendam begitu, dan ini bukan lagi hal kekanakan sebangsa 'gak diundang'.
Sebaliknya, Aurora adalah putri Disney klasik yang Blogger gak suka. Kenapa?
Totally useless, for real.
Mau di kartun, mau di live action (Maleficent), sama aja. Kontribusinya dalam film ini hanyalah menjadi subyek kutukan Maleficent. Dia gak bisa apa-apa.
Kesalahan terbesar Maleficent pada Aurora adalah menjadikan ratu di Moors, seperti yang dikatakan di film kedua ini. Mungkin maksud Maleficent biar ini menjadi langkah awal Moor dan dunia manusia kerjasama. Tapi, Aurora adalah satu-satunya manusia di Moors, yang lain adalah peri. Aurora tidak mengerti sepenuhnya lahir-batin tentang kehidupan peri, makanya peri membutuhkan sesama peri untuk memimpin mereka.
Di film kedua ini Blogger makin gak suka dengan Aurora. Sudah menginginkan agar Maleficent bersikap baik di saat Ingrith terus nyerang (lewat kata-kata), lalu dia dengan mudahnya nuduh saat John kena kutuk. Oke tunggu, siapa pun tokoh disana pasti langsung mikir bahwa Maleficent-lah pelakunya, tapi adegan itu menunjukan betapa tipisnya rasa percaya Aurora pada peri yang dianggap sebagai ibunya.
Ketika Lickspittle membuat serbuk merah dan diujicoba, Blogger langsung tahu bahwa Ingrith akan berhenti serang peri dengan butiran besi. Saat Gerda mengumumkan agar warga Moors semua hadir dalam pernikahan, Blogger tahu serbuk merah itu bakal disemprot saat itu. Tapi Blogger gak nyangka semprotnya ketika seluruh warga Moors dalam kapel, pikir cuman serang lewat udara karena toh serbuk itu gak ngaruh apa-apa ke manusia.
Lalu Red Wedding pun terjadi. Ketika Moors datang dan dipersilakan masuk wilayah istana tapi manusia dilarang masuk, Blogger belum terlalu ngeh. Tapi ketika yang di dalam kapel hanya para peri, Blogger baru kepikiran bahwa serbuk itu bakal disemprot di dalam ruangan saja. Eh, eh, eh, sampai pintunya ditahan dari luar, beneran deh. Lalu Gerda masuk dan main organ, ternyata serbuknya disemprot tiap kali dia pencet tuts yang sudah disiapkan, jadi serbuknya keluar dari pipa organ. Dan karena serbuknya warna merah lalu banyak peri yang tumbang, makanya ini jadi seperti Red Wedding, tapi versi Disney, jadi gak ada darah.
Omong-omong, Blogger gak nyangka bahwa Flittle akan melakukan hal seheroik itu. Lalu, Blogger kecewa karena adegan Gerda jatuh malah dipotong dan ganti ke adegan lain, padahal kalau sampai bener jatuh dan dikonfirmasi tewas (dalam film) Blogger pasti langsung teriak kesenangan.
Tentang Maleficent menjadi phoenix, Blogger gak akan bilang itu klise. Bagian yang klise adalah tokoh utama bangkit dari kematian, jadi kayak mati suri gitu, lagian walau tampak menyakitkan tapi kok gampang banget dia kena bunuhnya. Jadi untunglah di pertengahan sudah ada omongan tentang phoenix, penonton yang tahu tentang makhluk mitologi (?) ini bakal gak merasa aneh karena burung phoenix itu lahir kembali dari abunya. Tapi bahkan mama Blogger yang sebenernya gak tahu-menahu tentang mitologi ini tetap bisa tahu berkat film Harry Potter and the Chamber of Secrets.
Blogger sangat berharap Ingrith mati. Karena, di film pertama, mereka mau bikin Stefan mati karena dijatuhin Maleficent. Kenapa di film ini gak sekalian Ingrith-nya?
Omong-omong, adegan Ingrith dorong Aurora itu, sudah ketahuan bahwa dia bakal kalah. Iyalah, itu adalah tindakan yang paling mudah jika sudah gak ada rencana apa-apa lagi.
Bagian pernikahan Aurora dengan Phillip, Blogger sangat senang karena ada adegan dari kartun, yakni ketika para peri berebutan gonta-ganti warna gaun Aurora. Tidak sama persis dengan kartun, tapi yang pernah nonton kartunnya akan tahu referensi ini.
Pantasan Blogger gak merasa asing dengan wajah tokoh Borra, ternyata aktornya pernah main jadi Daario Naharis di season 3 GoT! Iya, Blogger sampe gugling saking penasarannya.
Katanya belum ada omongan tentang film ketiga ya? Blogger pikir gak usah lah. Walau Blogger sangat senang karena salah satu antagonis klasik favorit Blogger dijadikan film sendiri, tapi kalau memang sudah tidak ada konflik ya jangan dipaksa berputar-putar, bakal ketahuan kalau mereka cuman mau panen duitnya. Film pertama sudah konflik dengan orangtua Aurora sekaligus penyebab kenapa Maleficent dianggap antagonis. Film kedua sudah konflik dengan orangtua Phillip sekaligus fakta bahwa kawanannya Maleficent masih ada. Berarti kalau dipaksakan, nanti konflik selanjutnya itu berhubungan dengan kawanan Dark Fey dan pembaptisan anak Aurora-Phillip, kan? Muter lagi berarti. Atau mungkin Ingrith bakal balas dendam (lagi) karena belum ada cerita yang pasti tentang saudaranya yang dipercaya mati di tangan peri? Hmmm.
Kacau, Blogger masih sangat nge-ship Aurora dengan Diaval.
Senin, 21 Oktober 2019
Boruto episode 129
Episode ini alurnya sangat lambat menurut Blogger. Oke, iya, ternyata mereka masuk ke masa lalu di hari yang kecepatan dibanding Urashiki, jadi jelas gak bakal ada pertarungan atau apa pun berhubungan dengan plot utama. Apalagi karena Boruto dan Sasuke baru banget tiba di masa lalu, jadi pasti ya ada semacam kecurigaan dari Hokage, kemudian ketemu dengan orang-orang di masa lalu---sampai episode depan pun tampaknya masih tentang Boruto yang ketemu dengan angkatan bapaknya zaman mereka umur 12 tahun.
Boruto dan Naruto benar-benar mirip luar-dalam, dan episode ini cukup membuktikan ketika mereka ketabrak di awal. Hubungan antara Naruto-Jiraiya cukup membuat Blogger geli dan senang sendiri. Karena, yah, salah satu percakapan mereka itu hampir sama persis dengan yang terjadi pada Boruto dan Naruto sebelum Boruto terdampar di masa lalu.
Lewat episode ini, Blogger berharap Boruto akan lebih memahami ayahnya. Gini, Boruto tahu kok, kalau bapaknya itu gak punya orangtua sejak kecil, tapi ya dia hanya tahu begitu saja. Sedangkan sekarang, Boruto di masa lalu ini ikut Naruto versi 12 tahun ke apartemennya. Di situ kontras banget loh, ya bangunannya, ya kondisi dalam rumah. Blogger berharap pengetahuan Boruto tentang keyatimpiatuan bapaknya tidak lagi hanya sekedar wacana, tapi mulai memahami karena dia sudah melihat sendiri lingkungan tinggal bapaknya zaman seumurnya.
Mungkin cuman perasaan Blogger, tapi mungkin memang ketika Urashiki belum mendarat ini, sepertinya memang banyak fanservice untuk penikmat serial Naruto. Makanya banyak meme tentang penggemar Naruto yang gak suka Boruto tapi mendadak pengen nonton Boruto gara-gara lihat akhir episode 128 itu tentang Boruto dan Sasuke terjebak di masa lalu alias zaman Naruto masih 12 tahun.
Buat episode depan, Blogger berharap timelinenya diperjelas. Seperti, apakah saat itu tim Shikamaru sudah pergi kejar Sasuke atau belum (sepertinya belum, tapi mungkin Blogger salah paham).
WAH BLOGGER LUPA KALAU BORUTO MUNGKIN BAKAL KETEMU KONOHAMARU VERSI MINI!!
Boruto dan Naruto benar-benar mirip luar-dalam, dan episode ini cukup membuktikan ketika mereka ketabrak di awal. Hubungan antara Naruto-Jiraiya cukup membuat Blogger geli dan senang sendiri. Karena, yah, salah satu percakapan mereka itu hampir sama persis dengan yang terjadi pada Boruto dan Naruto sebelum Boruto terdampar di masa lalu.
Lewat episode ini, Blogger berharap Boruto akan lebih memahami ayahnya. Gini, Boruto tahu kok, kalau bapaknya itu gak punya orangtua sejak kecil, tapi ya dia hanya tahu begitu saja. Sedangkan sekarang, Boruto di masa lalu ini ikut Naruto versi 12 tahun ke apartemennya. Di situ kontras banget loh, ya bangunannya, ya kondisi dalam rumah. Blogger berharap pengetahuan Boruto tentang keyatimpiatuan bapaknya tidak lagi hanya sekedar wacana, tapi mulai memahami karena dia sudah melihat sendiri lingkungan tinggal bapaknya zaman seumurnya.
Mungkin cuman perasaan Blogger, tapi mungkin memang ketika Urashiki belum mendarat ini, sepertinya memang banyak fanservice untuk penikmat serial Naruto. Makanya banyak meme tentang penggemar Naruto yang gak suka Boruto tapi mendadak pengen nonton Boruto gara-gara lihat akhir episode 128 itu tentang Boruto dan Sasuke terjebak di masa lalu alias zaman Naruto masih 12 tahun.
Buat episode depan, Blogger berharap timelinenya diperjelas. Seperti, apakah saat itu tim Shikamaru sudah pergi kejar Sasuke atau belum (sepertinya belum, tapi mungkin Blogger salah paham).
WAH BLOGGER LUPA KALAU BORUTO MUNGKIN BAKAL KETEMU KONOHAMARU VERSI MINI!!
Minggu, 20 Oktober 2019
Detective Conan episode 956-957
Ehem.
Pembuka di episode 956 bagus kok, Blogger suka. Memang kalau nonton atau baca kisah misteri, Blogger lebih tertarik jika cerita tersebut dibuka dengan kasus, dan itu bukan prolog. Jadi biar inti ceritanya tentang mencari kebenaran dari kasus yang terjadi. Makanya Blogger cukup suka dengan pemaparan cerita di dua episode DC ini.
Blogger bingung bagaimana dengan Kogoro saat dia masih jadi polisi bawahan Megure. Maksudnya, gini, sebagai detektif dia sangat payah. Sering Conan lempar banyak petunjuk, tapi masih juga dia gak ngeh. Harus Conan juga yang ingetin untuk periksa ini-itu. Makanya, itu gimana tuh saat dia masih jadi polisi?
Dari analisis di episode 957, Blogger gak puas. Memang benar akhirnya terungkap pelaku dari dua kasus tersebut, tapi Blogger tertarik dengan komplotan Takase.
Jadi menurut analisis Kogoro mengenai alibi Takase (yang ternyata benar), Takase ini punya komplotan yang kebetulan punya postur tubuh yang mirip. Padahal kasus ini dibagi jadi 2 bagian loh, tapi komplotan-mirip-dan-benar itu tidak ada ulasan diluar analisis, seperti misalnya mungkin ketemu rekan kerja Takase, atau setelahnya di epilog ada dialog yang menyatakan bahwa komplotan ini ditemukan, dan sebagainya.
Walau filler, pelajarannya bagus sih. Memang manusia gak boleh langsung percaya dengan apa pun yang didengar. Takase memang bukan curi dengar gosip ketika dia lewat, dia tanya tetangga tentang keluarga gurunya. Tapi tetap saja, jangan langsung percaya. Mungkin gurunya gak bakal jujur tentang perilaku anaknya di rumah, tapi itu tidak membuat Takase berhak melakukan apa yang dia lakukan---ujungnya dia salah sasaran malah.
Jadi, iya, jangan langsung percaya dengan rumor. Konfirmasi secara pasti dulu dengan yang bersangkutan.
Kamis, 17 Oktober 2019
Lightspeed Rescue dan GoGoFive
Blogger sudah pernah bilang bahwa Power Rangers Lightspeed Rescue adalah salah satu season PR yang Blogger agak malas nonton ulang. Karena hal tersebut, makanya nonton Kyukyu Sentai GoGoFive pun jadi angot-angotan, berhasil selesai nonton pun karena dalam hati memang ingin nonton ulang PR dan nonton counterpartnya. Alhasil, kalau harus milih, Blogger gak bisa bilang mana yang lebih baik: karena menurut Blogger pribadi PRLR menang di jalan cerita, sedangkan GoGoFive menang di penokohan dan konsep.
'Jalan cerita' yang Blogger maksud menang di PRLR itu gak ada hubungannya dengan bahwa PR kelanjutan tiap seasonnya lebih kelihatan daripada SS (walau memang benar). Tapi dalam satu musim itu sendiri, jalan cerita PRLR memang bagus. Dibanding GoGoFive, Blogger menganggap fakta markas dan arsenal Ranger dibuat oleh banyak tim bersama-sama itu lebih masuk akal daripada hanya dikerjakan oleh seorang profesor serta satu robot asisten buatannya (dan nantinya seorang rekan membantu ketika Zord tidak bisa terpakai sementara). Iya, bisa aja karena Mondo saking jeniusnya, selama 10 tahun dia kerja habis-habisan dan berhasil menciptakan itu semua, sendirian, itu masuk akal juga. Cuman di perbandingan ini, otak Blogger lebih bisa terima versi Kapten Mitchell kerja bareng timnya. Dan lagi, soal arsenal, Blogger senang di PRLR diperlihatkan bagian uji cobanya (walau gak selalu), itu memperlihatkan bahwa memang mereka semua kerja keras untuk membuat arsenal yang lebih baik, gak cuman Ranger terima bersih. Di 555 juga pernah adegan uji coba, tapi menurut Blogger PRLR lebih baik. Jadi dari season PR sebelum-sebelumnya, mengenai arsenal, PRLR menang juga.
Penokohan GoGoFive memang lebih mantap dan tegas, itu wajar. Bahkan kalau menurut Blogger, urusan penokohan memang SS lebih baik daripada PR karena SS itu 'orisinil' 100%, PR harus mengolah keorisinilan SS dengan hati-hati makanya mereka gak bisa mantep di penokohan (mereka jadi lebih fokus soal penggunaan footage, mana yang dipakai untuk episode mana).
Mengenai konsep, walaupun tema 'Ghostbuster vs Demon'nya juga terasa seperti di PRLR, GoGoFive lebih ngena di hati karena ini keluarga manusia vs keluarga Demon. Segala yang terjadi di musim SS ini adalah tentang keluarga, baik dari sisi Ranger maupun sisi lawan. Perbedaan besar bagaimana ibu dari dua keluarga ini sangat berbeda sikapnya terhadap anak-anak mereka. Iya, ini masih tentang Ranger vs Monster, tapi bagian konflik internal keluarga itulah yang membuat musim ini ngena di hati.
Wajar jika di bagian akhir tiap season SS (PR tidak selalu) itu Ranger dapat akhir yang bahagia, tapi (terhitung dari Zyuranger) kebahagiaan GoGoFive itu mengharukan karena ibu mereka pulang ke rumah.
Walau memang 'mengadaptasi' dari SS, footage banyak dipakai, beberapa episode ada yang ikutin episode SS, foot soldiers ikut SS, tapi Blogger senang minimal ada 4 hal orisinil yang diciptakan oleh PR untuk season ini.
Pertama Cyborg Ranger. Oke, konsep untuk episode itu ada dari GoGoFive, tapi jalan ceritanya beda, dan Cyborg Ranger hanya ada di PR. Iya memang tim Cyborg Ranger itu kostumnya cuman kostum Lightspeed (555) biasa yang ditambah antena dan mesin di dada mereka, tapi itu tidak ada di GoGoFive, berarti ini orisinil.
Kedua Titanium Ranger. Ini adalah Ranger (protagonis dan canon) orisinil pertama di PR, makanya dia istimewa banget di hati Blogger. Karena Ranger ini orisinil banget (kecuali Zordnya), jelas mereka gak bisa pakai footage SS untuk adegan Ryan bertarung sebagai Ranger. Bahkan Ryan sendiri itu ada Arcnya loh.
Ketiga Battlelizer Merah. Sebenarnya frasa ini di PR dimulai oleh Andros di season In Space, dan sampai season SS ini kostum Battlelizer Andros-Leo-Carter gak ada di SS, berarti ketiganya orisinil. Mungkin adegan ketiga Ranger Merah ini pakai kostum tersebut untuk nembak jarak jauh itu hanya sekali rekam dan footagenya dipakai terus untuk setiap hancurin monster, tapi gak masalah, yang pasti kostum mereka orisinil.
Keempat arsenal Biru dan Hijau tambahan. Blogger lupa Kuning dan Pink dapat juga atau enggak, tapi di team-up dengan Time Force sih yang pakai cuman Biru dan Hijau. Jadi itu seperti Battlelizer juga buat Biru dan Hijau. Blogger nonton GoGoFive dan gak nemuin arsenal tersebut, berarti memang itu orisinil.
Sekarang perbandingan tim.
Matoi dan Carter kalau Matoi lagi kalem ya mirip lah. Tapi Matoi itu sering resek sih, sedangkan Carter memang selalu kalem.
Nagare dan Chad cukup beda walau gak mencolok. Mereka sama-sama kalem dan cukup pendiam dalam tim mereka. Dari segi pekerjaan di luar Ranger itu mereka beda banget. Dan Chad bukanlah tokoh cerdas dalam tim---PRLR gak perlu anggota cerdas karena punya Angela.
Shou dan Joel itu beda banget, dan Blogger bukan omongin kulitnya. Pekerjaan mereka memang sama-sama pilot, tapi konsep pilotnya beda. Shou kalau sama perempuan ya biasa aja, sedangkan Joel demennya dikerebutin orang-orang dan narsis dan langsung kepincut Angela.
Daimon dan Kelsey mau dibilang beda ya beda, mungkin karena gender. Dari awal kepribadian Kelsey memang kelihatan keras kok. Sedangkan Daimon, Blogger pikir dia bukan keras, tapi karena dia seorang polisi makanya sikapnya bisa seperti itu.
Matsuri dan Dana gak jauh beda kayaknya, tapi Blogger lihat Dana lebih halus aja tingkahnya, padahal lingkungan kerja di luar Ranger sih sama. Dibanding yang lain, dua ini memang yang paling gak jauh beda.
Mungkin karena repot kostum monster-nya banyak untuk adegan markas lawan, PR hanya pakai aktris baru untuk Vypra, karena Venus adalah satu-satunya antagonis berwajah manusia. PR masih pakai footage SS untuk markas mereka kok, cuman mereka cukup hati-hati agar wajah Venus gak kelihatan jelas---makanya kostum Vypra sama persis dengan Venus dari ujung kepala sampai kaki.
Omong-omong, tentang akhir masing-masing season, Blogger tadi udah bilang GoGoFive ngena banget karena soal keluarga. Tapi Blogger senang dengan PRLR karena adegan Aquabase hancur itu footage mereka orisinil banget, tambah lagi ada Ryan.
'Jalan cerita' yang Blogger maksud menang di PRLR itu gak ada hubungannya dengan bahwa PR kelanjutan tiap seasonnya lebih kelihatan daripada SS (walau memang benar). Tapi dalam satu musim itu sendiri, jalan cerita PRLR memang bagus. Dibanding GoGoFive, Blogger menganggap fakta markas dan arsenal Ranger dibuat oleh banyak tim bersama-sama itu lebih masuk akal daripada hanya dikerjakan oleh seorang profesor serta satu robot asisten buatannya (dan nantinya seorang rekan membantu ketika Zord tidak bisa terpakai sementara). Iya, bisa aja karena Mondo saking jeniusnya, selama 10 tahun dia kerja habis-habisan dan berhasil menciptakan itu semua, sendirian, itu masuk akal juga. Cuman di perbandingan ini, otak Blogger lebih bisa terima versi Kapten Mitchell kerja bareng timnya. Dan lagi, soal arsenal, Blogger senang di PRLR diperlihatkan bagian uji cobanya (walau gak selalu), itu memperlihatkan bahwa memang mereka semua kerja keras untuk membuat arsenal yang lebih baik, gak cuman Ranger terima bersih. Di 555 juga pernah adegan uji coba, tapi menurut Blogger PRLR lebih baik. Jadi dari season PR sebelum-sebelumnya, mengenai arsenal, PRLR menang juga.
Penokohan GoGoFive memang lebih mantap dan tegas, itu wajar. Bahkan kalau menurut Blogger, urusan penokohan memang SS lebih baik daripada PR karena SS itu 'orisinil' 100%, PR harus mengolah keorisinilan SS dengan hati-hati makanya mereka gak bisa mantep di penokohan (mereka jadi lebih fokus soal penggunaan footage, mana yang dipakai untuk episode mana).
Mengenai konsep, walaupun tema 'Ghostbuster vs Demon'nya juga terasa seperti di PRLR, GoGoFive lebih ngena di hati karena ini keluarga manusia vs keluarga Demon. Segala yang terjadi di musim SS ini adalah tentang keluarga, baik dari sisi Ranger maupun sisi lawan. Perbedaan besar bagaimana ibu dari dua keluarga ini sangat berbeda sikapnya terhadap anak-anak mereka. Iya, ini masih tentang Ranger vs Monster, tapi bagian konflik internal keluarga itulah yang membuat musim ini ngena di hati.
Wajar jika di bagian akhir tiap season SS (PR tidak selalu) itu Ranger dapat akhir yang bahagia, tapi (terhitung dari Zyuranger) kebahagiaan GoGoFive itu mengharukan karena ibu mereka pulang ke rumah.
Walau memang 'mengadaptasi' dari SS, footage banyak dipakai, beberapa episode ada yang ikutin episode SS, foot soldiers ikut SS, tapi Blogger senang minimal ada 4 hal orisinil yang diciptakan oleh PR untuk season ini.
Pertama Cyborg Ranger. Oke, konsep untuk episode itu ada dari GoGoFive, tapi jalan ceritanya beda, dan Cyborg Ranger hanya ada di PR. Iya memang tim Cyborg Ranger itu kostumnya cuman kostum Lightspeed (555) biasa yang ditambah antena dan mesin di dada mereka, tapi itu tidak ada di GoGoFive, berarti ini orisinil.
Kedua Titanium Ranger. Ini adalah Ranger (protagonis dan canon) orisinil pertama di PR, makanya dia istimewa banget di hati Blogger. Karena Ranger ini orisinil banget (kecuali Zordnya), jelas mereka gak bisa pakai footage SS untuk adegan Ryan bertarung sebagai Ranger. Bahkan Ryan sendiri itu ada Arcnya loh.
Ketiga Battlelizer Merah. Sebenarnya frasa ini di PR dimulai oleh Andros di season In Space, dan sampai season SS ini kostum Battlelizer Andros-Leo-Carter gak ada di SS, berarti ketiganya orisinil. Mungkin adegan ketiga Ranger Merah ini pakai kostum tersebut untuk nembak jarak jauh itu hanya sekali rekam dan footagenya dipakai terus untuk setiap hancurin monster, tapi gak masalah, yang pasti kostum mereka orisinil.
Keempat arsenal Biru dan Hijau tambahan. Blogger lupa Kuning dan Pink dapat juga atau enggak, tapi di team-up dengan Time Force sih yang pakai cuman Biru dan Hijau. Jadi itu seperti Battlelizer juga buat Biru dan Hijau. Blogger nonton GoGoFive dan gak nemuin arsenal tersebut, berarti memang itu orisinil.
Sekarang perbandingan tim.
Matoi dan Carter kalau Matoi lagi kalem ya mirip lah. Tapi Matoi itu sering resek sih, sedangkan Carter memang selalu kalem.
Nagare dan Chad cukup beda walau gak mencolok. Mereka sama-sama kalem dan cukup pendiam dalam tim mereka. Dari segi pekerjaan di luar Ranger itu mereka beda banget. Dan Chad bukanlah tokoh cerdas dalam tim---PRLR gak perlu anggota cerdas karena punya Angela.
Shou dan Joel itu beda banget, dan Blogger bukan omongin kulitnya. Pekerjaan mereka memang sama-sama pilot, tapi konsep pilotnya beda. Shou kalau sama perempuan ya biasa aja, sedangkan Joel demennya dikerebutin orang-orang dan narsis dan langsung kepincut Angela.
Daimon dan Kelsey mau dibilang beda ya beda, mungkin karena gender. Dari awal kepribadian Kelsey memang kelihatan keras kok. Sedangkan Daimon, Blogger pikir dia bukan keras, tapi karena dia seorang polisi makanya sikapnya bisa seperti itu.
Matsuri dan Dana gak jauh beda kayaknya, tapi Blogger lihat Dana lebih halus aja tingkahnya, padahal lingkungan kerja di luar Ranger sih sama. Dibanding yang lain, dua ini memang yang paling gak jauh beda.
Mungkin karena repot kostum monster-nya banyak untuk adegan markas lawan, PR hanya pakai aktris baru untuk Vypra, karena Venus adalah satu-satunya antagonis berwajah manusia. PR masih pakai footage SS untuk markas mereka kok, cuman mereka cukup hati-hati agar wajah Venus gak kelihatan jelas---makanya kostum Vypra sama persis dengan Venus dari ujung kepala sampai kaki.
Omong-omong, tentang akhir masing-masing season, Blogger tadi udah bilang GoGoFive ngena banget karena soal keluarga. Tapi Blogger senang dengan PRLR karena adegan Aquabase hancur itu footage mereka orisinil banget, tambah lagi ada Ryan.
Selasa, 15 Oktober 2019
Confessions (Kokuhaku), a novel by Minato Kanae
Dengan cover seperti itu (versi Indonesia), lalu di Indonesia diterbitkan oleh Penerbit Haru, Blogger langsung saja mikir bahwa ini sensasinya jadi seperti novel-novelnya Akiyoshi Rikako, tapi ternyata cukup berbeda. Sama-sama membuat tegang dan ingin tahu 'kebenaran' di balik kasus yang dipaparkan, tapi Confessions karya Minato Kanae ini beda dengan novelnya Akiysohi Rikako.
Entah apakah ada novel lain dengan format cerita seperti ini atau tidak, tapi yang pasti ini pertama kalinya Blogger baca novel yang seperti ini. Sekelebat mirip dengan format cerita di novel Girls in the Dark dan Absolute Justice (keduanya karya Akiyoshi Rikako), tapi saat diperhatikan tetap berbeda. Makanya novel ini harus dibaca pelan-pelan, tidak bisa asal baca karena nanti tidak akan paham.
Dari sinopsis dan pengiklanan novel ini, yang melulu digemborkan adalah tentang 'saking sayangnya seorang ibu pada anaknya, sehingga Sang Ibu bisa melakukan hal-hal tak terduga'. Padahal kalau menurut Blogger pribadi sebagai pembaca, selain tentang Si Ibu, yang patut diperhatikan adalah Bocah A.
Sebelum lanjut, berikut adalah sinopsis punggung bukunya.
Dari sinopsis tersebut, jika kamu pikir tokoh Moriguchi Yuko ini ceritanya sedang mencari pelaku, maka itu salah. Dalam novel, Moriguchi ini sudah tahu siapa dua anak kelasnya yang menjadi pelaku, dia hanya mengungkapkan dan menjabarkan alur kejadiannya di awal novel, tapi tidak membeberkan nama kedua anak itu secara gamblang. Hanya saja, para warga kelas itu, karena guru mereka ini mendeskripsikan Bocah A dan Bocah B dengan sangat baik, mereka jadi tahu siapa yang dimaksud. Tentang pemakaian 'A' dan 'B' (di novel bahkan ada 'C' juga), itu berdasarkan pernyataan Moriguchi ya, jadi bukannya Blogger yang malas tulis nama pelaku.
Kembali tentang sebelum Blogger tulis sinopsisnya.
Ketika kamu baca novel ini, memang terkesan Moriguchi-sensei ini kok kejam banget cara balas dendamnya. Dapat dipahami bahwa karena anak SMP masih terlindungi hukum (di Jepang), sehingga guru ini ingin memberi pelajaran sendiri untuk kedua tersangka, tapi Blogger tidak sangka sampai sejauh itu di bab terakhir.
Tetapi, dalang kasus yang dipaparkan adalah Bocah A. Blogger cukup menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan pada anak ini. Sejak kecil, yang ditanam dalam otak A hanyalah sains melulu. Tidak peduli apakah suatu eksperimen itu punya dampak negatif, pokoknya yang penting temuannya berhasil. Tidak peduli kalau ada yang harus dikorbankan, yang penting harus uji coba. Nah, itulah, karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan, makanya A bisa seperti itu. Makanya ketika dia dan B melakukan pembunuhan itu, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan ketika tahu gurunya sedang balas dendam, dirinya malah kesenangan. Bocah A tidak gila, Blogger pun paham tentang dia yang ingin diperhatikan seseorang (dia bisa gila akan sains juga pengaruh dari orang tersebut), tapi kembali lagi dia menutup mata pada hal yang baik dan buruk.
Jadi kalau harus pilih, dibanding Si Guru, tokoh yang lebih menyeramkan bagi Blogger adalah A.
Selesai baca novel ini, Blogger baru tahu kalau filmnya sudah dibuat tahun 2010. Trailernya enggak banget---kalau bukan karena sudah baca novelnya, kemungkinan besar Blogger tidak bakal tertarik nonton. Bukannya jelek, tapi ya begitulah. Yang paling membuat Blogger semangat nonton mungkin karena sudah baca novelnya serta ada Okada Masaki(BRB mau nonton ulang Hana Kimi 2007 dan Otomen).
Filmnya baik. Kalau Blogger tidak kelewat, berarti alur dan elemen yang ada itu sesuai dengan novelnya. Ada beberapa detil seperti harusnya ngomong kalimat X baru Y dan sebagainya, tapi itu tidak masalah karena alur masih sesuai. Di bagian akhir saat Moriguchi telepon A, ada hal yang dibedakan dari versi novel, tapi masih tidak keluar jalur. Masalah pemilihan aktris dan aktor, ehem, saat baca novel Blogger tidak sempat bayangin/mengira-ngira tampang para karakter, jadi tidak bisa bilang kastingnya sesuai atau tidak. Yang pasti para aktor dan aktris berakting dengan baik, terutama pemeran Moriguchi. Tapi tetap saja, para warga kelas selain Si Guru seharusnya masih SMP, tapi kastingnya---ah ya sudahlah.
Jika kamu mengira versi novel akan lebih ringan daripada novel gara-gara trailer, kamu salah. Mungkin saat nonton, bagi kamu itu tidak terlihat riil, tapi bagi Blogger yang punya hematophobia, Blogger jijik saat lihat darah yang ada di film. Adegan menyangkut darah ini bukan sekedar luka, ya, tapi benar seperti terciprat, dan itu tidak sekali muncul.
Bagi yang tertarik nonton (baik sudah baca novelnya maupun belum), Blogger sarankan untuk tidak meleng, harus bener fokus nonton, karena adegannya sering berubah. Sedetik menampilkan A, tahu-tahu detik berikutnya sudah ganti jadi B, eh lalu balik ke A. Memang ada beberapa adegan pengulangan, tapi Blogger masih bisa memaklumi karena maksudnya sambil dijelaskan.
Dan ini hanya pendapat Blogger, tapi Blogger tidak suka adegan ledakan di bagian penghujung terakhir film. Di novel memang ada tentang ledakan yang terjadi, tapi versi filmnya seperti tidak nyambung dengan adegan keseluruhan film.
Omong-omong, tidak hanya ketika nonton, tapi ketika baca novel ini pun Blogger langsung teringat dengan Mr Hiiragi's Homeroom (3 Nen A Kumi: Ima kara Mina-san wa, Hitojichi Desu). Ceritanya beda, segalanya beda terutama bagian akhirnya. Tapi Blogger bisa merasakan vibe yang sama di bab pertama Confessions ini. Jika ada yang tertarik nonton, silakan, dan Blogger sudah pernah bahas Mr Hiiragi's Homeroom di entri tersendiri.
Paragraf terakhir ini akan membuat sebal sebagian orang karena Blogger menyangkutkan dengan agama walau tidak kental, jadi kalau mau dilewatkan, silakan sudahi baca entri ini sampai sini saja.
Bocah A masih SMP. Di mata orang yang sudah selesai SMA, berarti A masih kecil. Seperti yang sempat Blogger ketik sebelumnya, Blogger menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan kebaikan dan keburukan pada A. Mungkin saat sedang bersama keluarganya, A sempat diberi wejangan ringan, tapi dianggap angin lalu karena otaknya penuh dengan Sains yang dicekoki sejak kecil. Jangan salah, sains itu ilmu penting, tapi menjadi jelek jika mengabaikan sisi kemanusiaan.
Tidak mutlak, tapi itulah pentingnya program seperti Sekolah Minggu di rumah ibadah agama mana pun. Blogger percaya setiap agama mengajarkan mana yang baik, buruk, dan yang benar. Seperti Blogger di gereja, Sekolah Minggu bukan hanya mencekoki anak tentang kisah Yesus, tapi juga mengajarkan kebaikan dan keburukan menurut pandangan Alkitab. Seperti (lagi) pas minggu kemarin, di kelas Blogger cerita tentang bersikap sopan saat bertamu, tentang jangan menganggap diri lebih penting dari orang lain, jangan menganggap orang lebih rendah dari diri sendiri---ajarannya ada di Alkitab, tapi Blogger membahasnya sambil ngobrol dengan anak-anak sambil membicarakan tentang kondangan atau tentang bagaimana sikap mereka saat pergi ke rumah teman. Sekolah Minggu memang begitu, dan ini berbeda konteks dengan pelajaran agama yang disuguhkan di sekolah formal.
Nah, kembali tentang Bocah A. Blogger sangat berharap ini tidak terjadi di Indonesia yang setiap orang menganggap serius keyakinan apa pun yang dipeluk---orang atheis sekali pun. Yuk, para orangtua (dan atau wali), bawa anak-anak itu ikut Sekolah Minggu (dan sejenisnya). Bukan hanya mereka akan mendengarkan kisah dari kitab suci, tapi itu juga membantu para ortu agar anak-anak bisa tahu tentang kebaikan dan keburukan. Sains dan ilmu lain jelas penting, tapi jangan otak mereka melulu yang 'dikasih asupan', hati mereka juga butuh 'asupan'.
Entah apakah ada novel lain dengan format cerita seperti ini atau tidak, tapi yang pasti ini pertama kalinya Blogger baca novel yang seperti ini. Sekelebat mirip dengan format cerita di novel Girls in the Dark dan Absolute Justice (keduanya karya Akiyoshi Rikako), tapi saat diperhatikan tetap berbeda. Makanya novel ini harus dibaca pelan-pelan, tidak bisa asal baca karena nanti tidak akan paham.
Dari sinopsis dan pengiklanan novel ini, yang melulu digemborkan adalah tentang 'saking sayangnya seorang ibu pada anaknya, sehingga Sang Ibu bisa melakukan hal-hal tak terduga'. Padahal kalau menurut Blogger pribadi sebagai pembaca, selain tentang Si Ibu, yang patut diperhatikan adalah Bocah A.
Sebelum lanjut, berikut adalah sinopsis punggung bukunya.
'Moriguchi Yuko adalah seorang guru SMP. Saat anaknya yang berusia 4 tahun ditemukan meninggal, semua orang mengira itu cuma kecelakaan nahas.
Akan tetapi, Moriguchi yakin anaknya dibunuh oleh dua dari anak didiknya. Karena itu, dia tidak akan membiarkan kedua anak itu bebas. Dia ingin membalas dendam, dan balas dendam yang dia lakukan itu hanyalah awal dari sebuah mimpi buruk ... '
Dari sinopsis tersebut, jika kamu pikir tokoh Moriguchi Yuko ini ceritanya sedang mencari pelaku, maka itu salah. Dalam novel, Moriguchi ini sudah tahu siapa dua anak kelasnya yang menjadi pelaku, dia hanya mengungkapkan dan menjabarkan alur kejadiannya di awal novel, tapi tidak membeberkan nama kedua anak itu secara gamblang. Hanya saja, para warga kelas itu, karena guru mereka ini mendeskripsikan Bocah A dan Bocah B dengan sangat baik, mereka jadi tahu siapa yang dimaksud. Tentang pemakaian 'A' dan 'B' (di novel bahkan ada 'C' juga), itu berdasarkan pernyataan Moriguchi ya, jadi bukannya Blogger yang malas tulis nama pelaku.
Kembali tentang sebelum Blogger tulis sinopsisnya.
Ketika kamu baca novel ini, memang terkesan Moriguchi-sensei ini kok kejam banget cara balas dendamnya. Dapat dipahami bahwa karena anak SMP masih terlindungi hukum (di Jepang), sehingga guru ini ingin memberi pelajaran sendiri untuk kedua tersangka, tapi Blogger tidak sangka sampai sejauh itu di bab terakhir.
Tetapi, dalang kasus yang dipaparkan adalah Bocah A. Blogger cukup menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan pada anak ini. Sejak kecil, yang ditanam dalam otak A hanyalah sains melulu. Tidak peduli apakah suatu eksperimen itu punya dampak negatif, pokoknya yang penting temuannya berhasil. Tidak peduli kalau ada yang harus dikorbankan, yang penting harus uji coba. Nah, itulah, karena tidak ada yang mengajarkan tentang kebaikan dan keburukan, makanya A bisa seperti itu. Makanya ketika dia dan B melakukan pembunuhan itu, dia sama sekali tidak merasa bersalah. Bahkan ketika tahu gurunya sedang balas dendam, dirinya malah kesenangan. Bocah A tidak gila, Blogger pun paham tentang dia yang ingin diperhatikan seseorang (dia bisa gila akan sains juga pengaruh dari orang tersebut), tapi kembali lagi dia menutup mata pada hal yang baik dan buruk.
Jadi kalau harus pilih, dibanding Si Guru, tokoh yang lebih menyeramkan bagi Blogger adalah A.
Selesai baca novel ini, Blogger baru tahu kalau filmnya sudah dibuat tahun 2010. Trailernya enggak banget---kalau bukan karena sudah baca novelnya, kemungkinan besar Blogger tidak bakal tertarik nonton. Bukannya jelek, tapi ya begitulah. Yang paling membuat Blogger semangat nonton mungkin karena sudah baca novelnya serta ada Okada Masaki
Filmnya baik. Kalau Blogger tidak kelewat, berarti alur dan elemen yang ada itu sesuai dengan novelnya. Ada beberapa detil seperti harusnya ngomong kalimat X baru Y dan sebagainya, tapi itu tidak masalah karena alur masih sesuai. Di bagian akhir saat Moriguchi telepon A, ada hal yang dibedakan dari versi novel, tapi masih tidak keluar jalur. Masalah pemilihan aktris dan aktor, ehem, saat baca novel Blogger tidak sempat bayangin/mengira-ngira tampang para karakter, jadi tidak bisa bilang kastingnya sesuai atau tidak. Yang pasti para aktor dan aktris berakting dengan baik, terutama pemeran Moriguchi. Tapi tetap saja, para warga kelas selain Si Guru seharusnya masih SMP, tapi kastingnya---ah ya sudahlah.
Jika kamu mengira versi novel akan lebih ringan daripada novel gara-gara trailer, kamu salah. Mungkin saat nonton, bagi kamu itu tidak terlihat riil, tapi bagi Blogger yang punya hematophobia, Blogger jijik saat lihat darah yang ada di film. Adegan menyangkut darah ini bukan sekedar luka, ya, tapi benar seperti terciprat, dan itu tidak sekali muncul.
Bagi yang tertarik nonton (baik sudah baca novelnya maupun belum), Blogger sarankan untuk tidak meleng, harus bener fokus nonton, karena adegannya sering berubah. Sedetik menampilkan A, tahu-tahu detik berikutnya sudah ganti jadi B, eh lalu balik ke A. Memang ada beberapa adegan pengulangan, tapi Blogger masih bisa memaklumi karena maksudnya sambil dijelaskan.
Dan ini hanya pendapat Blogger, tapi Blogger tidak suka adegan ledakan di bagian penghujung terakhir film. Di novel memang ada tentang ledakan yang terjadi, tapi versi filmnya seperti tidak nyambung dengan adegan keseluruhan film.
Omong-omong, tidak hanya ketika nonton, tapi ketika baca novel ini pun Blogger langsung teringat dengan Mr Hiiragi's Homeroom (3 Nen A Kumi: Ima kara Mina-san wa, Hitojichi Desu). Ceritanya beda, segalanya beda terutama bagian akhirnya. Tapi Blogger bisa merasakan vibe yang sama di bab pertama Confessions ini. Jika ada yang tertarik nonton, silakan, dan Blogger sudah pernah bahas Mr Hiiragi's Homeroom di entri tersendiri.
Paragraf terakhir ini akan membuat sebal sebagian orang karena Blogger menyangkutkan dengan agama walau tidak kental, jadi kalau mau dilewatkan, silakan sudahi baca entri ini sampai sini saja.
Bocah A masih SMP. Di mata orang yang sudah selesai SMA, berarti A masih kecil. Seperti yang sempat Blogger ketik sebelumnya, Blogger menyayangkan karena tidak ada yang mengajarkan kebaikan dan keburukan pada A. Mungkin saat sedang bersama keluarganya, A sempat diberi wejangan ringan, tapi dianggap angin lalu karena otaknya penuh dengan Sains yang dicekoki sejak kecil. Jangan salah, sains itu ilmu penting, tapi menjadi jelek jika mengabaikan sisi kemanusiaan.
Tidak mutlak, tapi itulah pentingnya program seperti Sekolah Minggu di rumah ibadah agama mana pun. Blogger percaya setiap agama mengajarkan mana yang baik, buruk, dan yang benar. Seperti Blogger di gereja, Sekolah Minggu bukan hanya mencekoki anak tentang kisah Yesus, tapi juga mengajarkan kebaikan dan keburukan menurut pandangan Alkitab. Seperti (lagi) pas minggu kemarin, di kelas Blogger cerita tentang bersikap sopan saat bertamu, tentang jangan menganggap diri lebih penting dari orang lain, jangan menganggap orang lebih rendah dari diri sendiri---ajarannya ada di Alkitab, tapi Blogger membahasnya sambil ngobrol dengan anak-anak sambil membicarakan tentang kondangan atau tentang bagaimana sikap mereka saat pergi ke rumah teman. Sekolah Minggu memang begitu, dan ini berbeda konteks dengan pelajaran agama yang disuguhkan di sekolah formal.
Nah, kembali tentang Bocah A. Blogger sangat berharap ini tidak terjadi di Indonesia yang setiap orang menganggap serius keyakinan apa pun yang dipeluk---orang atheis sekali pun. Yuk, para orangtua (dan atau wali), bawa anak-anak itu ikut Sekolah Minggu (dan sejenisnya). Bukan hanya mereka akan mendengarkan kisah dari kitab suci, tapi itu juga membantu para ortu agar anak-anak bisa tahu tentang kebaikan dan keburukan. Sains dan ilmu lain jelas penting, tapi jangan otak mereka melulu yang 'dikasih asupan', hati mereka juga butuh 'asupan'.
Senin, 14 Oktober 2019
Boruto episode 128
PANTESAN OPENING YANG BARU KAYAK GITU!!
Blogger lupa kalau Shikadai sudah jadi Chuunin, mungkin karena dia gak pakai rompi Chuunin. Barulah di episode ini saat dia bareng para Genin lainnya Blogger baru ngeh soal itu.
Jurus Mirai memang sangat berguna untuk Urashiki, tapi Blogger gak bisa nebak bagaimana cara dia pakai jurus Mirai. Hanya saja, sebagai penonton Blogger pikir, kok bisa-bisanya mereka yakin bahwa yang diikutin adalah Urashiki. Karena gini, dia diikutin tidak sebentar, loh. Dan dalam rentang waktu tersebut, Urashiki yang dianggap merepotkan itu kok seakan gak sadar bahwa dirinya diikutin. Makanya dari awal ketika ada yang kasih laporan sedang ikutin dia, Blogger langsung tahu itu jebakan. Mungkin karena sudah sering nonton jebakan serupa di fandom lain, jadi Blogger makin yakin itu jebakan saat sudah banyak Shinobi yang nyusul keluar dari Konoha.
Tapi, kembali tentang pemikiran Blogger yang bilang bahwa kok yang diikutin gak sadar, itu bikin Blogger bingung karena ternyata 'Urashiki' adalah Mirai. Ketika terlepas dari Genjutsu, Mirai bilang bahwa ia pikir sedang bertarung dengan Urashiki, lalu selama dia lari dan diikutin itu, kok dia gak ngeh kalau sedang diikutin?
Itu pemikiran Blogger sebagai penonton aja sih.
Blogger seneng disini ada Tenten. Sama sekali bukan tokoh favorit, tapi Blogger seneng aja. Wajar jika dia sebagai salah satu ninja penting di angkatan Naruto turun tangan dalam misi ini, tapi kewajaran itulah yang membuat Blogger lega dia ditampilkan. Cuman mungkin untuk berikutnya Blogger ingin lihat tokoh-tokoh serial Naruto lainnya di Konoha untuk ikut serta dalam 'perang' ini. Seperti Kakashi, Guy, Tsunade, bahkan Kurenai, dan sebagainya.
Omong-omong, Blogger gak sreg dengan ekspresi Shikamaru saat melaporkan bahwa Mirai hilang di awal episode. Gini, Mirai adalah salah satu sosok penting untuk Shikamaru, karena dia adalah anak Asuma. Jadi Blogger pikir, walau gak bakal sampai panik, Shikamaru bakal menunjukan rasa cemas karena anak asuhnya hilang, gak sesantuy itulah. Blogger jadi kasihan dengan Kurenai kalau begitu.
Terakhir, merujuk ke kalimat pertama entri ini. Ketika Boruto dan Sasuke mendarat di hutan, Blogger sudah menebak bahwa mereka pasti ke masa lalu. Petunjuknya ada 2 (sebelum Sasuke ngeh): pertama adalah ketika Naruto bilang bahwa dia sedikit lebih bertanggungjawab saat seumur Boruto, kedua ketika Urashiki bilang mereka (Sasuke dan Boruto) keluar terlalu cepat.
Blogger sempet kaget bahwa mereka terdampar sejauh itu, mereka masuk ke masa saat wajah Tsunade belum ada di jajaran patung Hokage. Kemudian Blogger baru inget bahwa memang wajah Tsunade baru ada disana ketika serial Naruto masuk Shippuden. Sedangkan kalau di awal memang ceritanya tentang Boruto yang melihat tingkah bapaknya zaman umur 12 tahun, berarti memang harus masuk ke masa yang mereka masukin itu.
Blogger gak sabar nunggu episode depan. Karena di previewnya memperlihatkan Jiraiya, yang berarti Sasuke dan Boruto masuk ke era dimana Sasuke-umur-12 tahun sedang ikut Orochimaru. Kalau gak salah sih gitu ya.
CIIEEE SASUKE NGELIAT BININYA ZAMAN MASIH 12 TAHUN CIIEEE
Blogger lupa kalau Shikadai sudah jadi Chuunin, mungkin karena dia gak pakai rompi Chuunin. Barulah di episode ini saat dia bareng para Genin lainnya Blogger baru ngeh soal itu.
Jurus Mirai memang sangat berguna untuk Urashiki, tapi Blogger gak bisa nebak bagaimana cara dia pakai jurus Mirai. Hanya saja, sebagai penonton Blogger pikir, kok bisa-bisanya mereka yakin bahwa yang diikutin adalah Urashiki. Karena gini, dia diikutin tidak sebentar, loh. Dan dalam rentang waktu tersebut, Urashiki yang dianggap merepotkan itu kok seakan gak sadar bahwa dirinya diikutin. Makanya dari awal ketika ada yang kasih laporan sedang ikutin dia, Blogger langsung tahu itu jebakan. Mungkin karena sudah sering nonton jebakan serupa di fandom lain, jadi Blogger makin yakin itu jebakan saat sudah banyak Shinobi yang nyusul keluar dari Konoha.
Tapi, kembali tentang pemikiran Blogger yang bilang bahwa kok yang diikutin gak sadar, itu bikin Blogger bingung karena ternyata 'Urashiki' adalah Mirai. Ketika terlepas dari Genjutsu, Mirai bilang bahwa ia pikir sedang bertarung dengan Urashiki, lalu selama dia lari dan diikutin itu, kok dia gak ngeh kalau sedang diikutin?
Itu pemikiran Blogger sebagai penonton aja sih.
Blogger seneng disini ada Tenten. Sama sekali bukan tokoh favorit, tapi Blogger seneng aja. Wajar jika dia sebagai salah satu ninja penting di angkatan Naruto turun tangan dalam misi ini, tapi kewajaran itulah yang membuat Blogger lega dia ditampilkan. Cuman mungkin untuk berikutnya Blogger ingin lihat tokoh-tokoh serial Naruto lainnya di Konoha untuk ikut serta dalam 'perang' ini. Seperti Kakashi, Guy, Tsunade, bahkan Kurenai, dan sebagainya.
Omong-omong, Blogger gak sreg dengan ekspresi Shikamaru saat melaporkan bahwa Mirai hilang di awal episode. Gini, Mirai adalah salah satu sosok penting untuk Shikamaru, karena dia adalah anak Asuma. Jadi Blogger pikir, walau gak bakal sampai panik, Shikamaru bakal menunjukan rasa cemas karena anak asuhnya hilang, gak sesantuy itulah. Blogger jadi kasihan dengan Kurenai kalau begitu.
Terakhir, merujuk ke kalimat pertama entri ini. Ketika Boruto dan Sasuke mendarat di hutan, Blogger sudah menebak bahwa mereka pasti ke masa lalu. Petunjuknya ada 2 (sebelum Sasuke ngeh): pertama adalah ketika Naruto bilang bahwa dia sedikit lebih bertanggungjawab saat seumur Boruto, kedua ketika Urashiki bilang mereka (Sasuke dan Boruto) keluar terlalu cepat.
Blogger sempet kaget bahwa mereka terdampar sejauh itu, mereka masuk ke masa saat wajah Tsunade belum ada di jajaran patung Hokage. Kemudian Blogger baru inget bahwa memang wajah Tsunade baru ada disana ketika serial Naruto masuk Shippuden. Sedangkan kalau di awal memang ceritanya tentang Boruto yang melihat tingkah bapaknya zaman umur 12 tahun, berarti memang harus masuk ke masa yang mereka masukin itu.
Blogger gak sabar nunggu episode depan. Karena di previewnya memperlihatkan Jiraiya, yang berarti Sasuke dan Boruto masuk ke era dimana Sasuke-umur-12 tahun sedang ikut Orochimaru. Kalau gak salah sih gitu ya.
Langganan:
Postingan (Atom)
