Pencetus entri ini adalah saat makan siang, Blogger nonton berita infotaimen tentang ada artis yang nyamar jadi orang kekurangan dan minta-minta ke jalan, habis itu orang yang kasih sedekah dengan 'baik' misalkan kasih makan atau apa, artis ini setelahnya bakal kasih uang. Lalu acara infotaimen ini menyuguhkan beberapa video lain tentang aksi serupa para artis yang kebanyakan Youtuber.
Berbuat baik ya memang bagus, apalagi untuk orang yang membutuhkan. Kalau direkam lalu dibagikan? Bagi Blogger itu agak aneh.
Gini, video-video yang ditampilkan di acara infotaimen itu, semuanya direkam oleh kru si artis, dengan kata lain memang dari si artis ini yang pengen aksinya direkam lalu jadi konten di misalkan akun youtube-nya. Dari proses edit ini-itu, semua dari si artis dan atau krunya. Berarti video tersebut dibuat secara sadar dan sengaja. Terlepas dari dia sebenarnya tulus berbagi atau enggak, bagi Blogger, mereka terlihat pamer---berbuat baik kok harus dipamerin? Mungkin maksudnya biar kasihtahu bahwa berbuat baik ada banyak cara dan salah satunya dengan cara begitu. Tapi tetep, kenapa harus dipamerin?
Lain kalau misalkan saat sang artis nyamar dan berbuat baik, tahu-tahu ada orang sebut saja XYZ sadar bahwa orang itu adalah artis kemudian direkam-masuk sosmed-viral. Memang ada kemungkinan XYZ masih kru artis yang bersangkutan, tapi ini masih bisa terlihat tulus.
Blogger bukan bermaksud nyinggung atau suruh orang berhenti berbagi kebaikan. Bukan gitu. Blogger hanya ingin kasih pendapat tentang para tokoh publik yang ngakunya enggak pencitraan tapi yang mereka lakukan terlihat seperti pencitraan. Ini murni pendapat Blogger, mungkin seiring berjalannya waktu bisa berubah pikiran. Tapi untuk saat ini, ya begitu.
Selasa, 14 Mei 2019
Senin, 13 Mei 2019
Boruto episode 106
HAHAHAHAHAH KAKASHI ASTAGA HAHAHAHAHAH
Ehem.
Pertengahan awal episode ini memang kebanyakan omong. Untung ternyata bukan oneshot, karena kalau oneshot ini bakal agak ngebosenin.
Agak gak nyangka bahwa Mirai bisa kayak OOC, padahal emak-bapaknya kayaknya kalem, kok anaknya bisa kayak gitu. Tapi mengingat sepupunya yakni Konohamaru juga pernah lebai, yaudah mungkin memang keturunan Sandaime punya bibit lebai. Mirai juga lebih kelihatan seperti cowok daripada cewek, sejak tadi nonton berusaha untuk ingai bahwa dia perempuan.
Di awal, Shikamaru sudah kasihtahu Mirai bahwa dia selalu mikir terlalu jauh, dan setelahnya di episode ini menunjukkan bahwa memang dia mikir kejauhan. Blogger paham perasaannya, tapi gimana gitu. Dan inner Mirai malah menunjukkan dia cocok jadi murid Guy, hahahah. Mungkin Mirai gak bisa menjadi 'orang biasa'. Dan jika misi, mungkin dia hanya jago saat benar berkelahi secara bebas tanpa strategi lebih lanjut serta sebab-akibat. Dia jadi kebalikannya Shikamaru yang lebih jago menilai situasi daripada benar bertarungnya.
Jangankan Mirai, Blogger saat nonton juga kirain 'tempat keramat' yang dimaksud Kakashi dan Guy berhubungan dengan misi yang sesungguhnya. Ternyataaaaaa semua memang kembali ke Icha-Icha Paradise!! Gak bohong Blogger ketawa ngakak di sekitar menit kelimabelas. Kacau HAHAHAHAHAH. Gak nyangka kok Guy bisa-bisanya mau nemenin Kakashi ya? Kalau cuman sekedar nemenin pergi kesana okelah, tapi ikut bahagia juga saat Kakashi nemuin tempat keramatnya astaganagakeceburdigot! Jadi disitu Blogger berpikir bahwa Guy memang orang yang paling bisa menjadi sahabat Kakashi.
Lalu Mirai pakai acara nanya soal Icha-Icha Paradise. HAHAHAHA kacau. Pokoknya setelah pulang dari nemenin Kakashi dan Guy ini, jika Kurenai menemukan buku Icha-Icha di rumahnya, SALAHKAN KAKASHI DAN GUY!
Di bagian preview, gak ada insiden bahaya, mungkin memang ini tentang liburannya Kakashi dan Guy aja. Kalau gak salah ini berdasarkan novel, ya? Blogger belum pernah baca dan nemu sih.
Eh iya, bagi yang enggak ngeh, saat Mirai pantau Kakashi dan Guy makan malam, itu ada dikasih lihat cara Kakashi makan loh, beneran. Jadi dia buka kain penutup muka, lalu nyuap, langsung tutup lagi. Cepet banget. Enggak diperlihatkan secara jelas, tapi Blogger bisa lihat rahang telanjangnya Kakashi dari samping.
Omong-omong, di awal episode, ada perkataan bahwa nemenin Kakashi dan Guy ini bisa lebih penting dari misi tingkat S. Disitu Blogger jadi keinget fanfict Masker.
Kamis, 09 Mei 2019
Angkot disuruh Cepatan
Tentang judul, maksudnya bukan Blogger yang nyuruh angkot biar cepetan, ya, tapi tentang seseorang yang entah simpen otaknya dimana sampai pernah ngomong begitu ke Blogger.
Ini adalah semacam uneg-uneg masa lampau, yang sampai sekarang masih Blogger inget karena ini berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, mungkin ada yang lain yang alamin juga.
Sampai pertengahan 2017 lewat sedikit, Blogger masih tinggal di Bekasi. Saat itu, walau sudah punya ponsel pintar, tapi belum kenalan dengan ojek online, alias kemana-mana bener masih naik angkutan umum dari kuasi-metromini-busway. Sekali lagi, saat itu Blogger tinggal di daerah Bekasi. Karena Kristiani, berarti setiap hari Minggu Blogger pergi ke gereja, yang mana gereja Blogger itu di daerah Jakarta. Kalau naik mobil pribadi, perjalanan bisa sekitar 50 menit KALAU GAK MACET/TUNGGU KERETA LEWAT. Nah kalau naik angkot, itu belum termasuk dia ngetemnya.
Sekitar tahun 2008-2009, dengan kata lain bertahun-tahun sebelum Blogger kenal ponsel pintar dan ojek online, Blogger dijadikan bagian panitia suatu acara komisi remaja di gereja. Bagian Blogger sederhana, yaitu seksi doa. Dengan kata lain, Blogger dan orang-orang seksi doa lainnya tidak perlu pusingin apa-apa, karena yang penting kami bantu dalam doa (tunggu, gini, kepanitiaan itu banyak bagiannya, dan seluruh anggota remaja harus jadi panitia. Tapi jumlah bagian seksi dan jumlah anggota remaja jelas gak sebanding, maka yang tidak jadi panitia inti akan menjadi seksi doa) sambil bantu dikit-dikit kalau memang dibutuhkan. Berarti, ketika kami telat di hari-H, harusnya itu tidak jadi masalah karena kami bukan orang yang harus berurusan dengan panggung atau bagian yang harus tatap muka dengan tamu. Tapi, walau begitu, Blogger berusaha untuk gak telat. Hanya mentang-mentang jabatannya enggak dikejar waktu, Blogger gak mau telat, karena toh lima belas menit sebelum acara mulai kami akan doa bareng.
Nah, di hari-H, Blogger berangkat dari rumah dua jam SEBELUM JAM DOA. Berarti 135 menit sebelum acara mulai. Seperti biasa, dari rumah, Blogger harus nyebrang untuk bisa naik kuasi setidaknya 20-30 menit lalu nyambung metromini 30-40 menit, kemudian jalan kaki setidaknya 10 menit menuju gereja. Blogger naik metromini itu dari tempat mereka mangkal, jadi kalau belum penuh ya gak bakal jalan---itu yang membuat Blogger sebel.
Selama di kuasi gak ada masalah. Malah sempet mikir, kalau jalan lancar, maka Blogger bakal kepagian. Tapi ternyata, sampai di pangkalan metromini, semua masih kosong. Berarti harus nunggu lama. Mungkin nyaris dua puluh menit cuman sampai supirnya mau nyetir.
KOK GAK NAIK TAKSI AJA?
Pertama, mahal. Pernah nyoba loh, beneran, hampir seratus ribu, dan Blogger tidak sekaya itu.
Kedua, sebenarnya kalau udah kepepet banget (karena jamnya juga sebenarnya masih pagi, Blogger berusaha gak panik), mungkin Blogger akan cari taksi. Tapi Blogger inget banget, di hari itu, gak ada satu pun taksi kosong yang lewat.
KOK GAK NAIK OJEK AJA?
Maaf, Blogger pakai rok. Perjalanan jauh serta pakai rok dan tidak bawa jaket, makasih. Dan lagi, gak ada ojek yang mangkal disana saat itu.
KOK GAK NAIK MOBIL PRIBADI?
Gak ada supir. Satu-satunya orang di rumah yang bisa bawa mobil hanya papa, tapi saat itu papa hari Minggu masih kerja, jadi gak bisa antar.
Oke, lanjut lagi ya.
Supir metromini kalau nyetir memang angot-angotan, kadang bisa lelet banget, kadang tiba-tiba ngebut---biasanya kalau ada saingannya. Karena Blogger naik dari pangkalan, kursi sudah penuh, jadi selama beberapa belas menit pertama gak ada kata ngetem. Lalu entah kena sial apa, setelah lewat satu titik, kena lampu merah terus menerus. Setidaknya harus kena dua kali lampu merah di satu jalan dulu baru bisa lewat. Memang ada beberapa area yang Blogger sampai hapal mereka lampu merahnya lama, dan disitu Blogger kena juga.
Dan beberapa belas kilometer sebelum sampai posisi Blogger turun (untuk jalan kaki selama 10 menit), metromini harus lewatin rel kereta api. Sudah biasa sih kalau kena halang palang setidaknya dua kali disitu, karena memang ramai. Tapi Blogger inget, pada saat itu, mungkin lebih dari lima kali. Bayangkan betapa lamanya disitu.
KENAPA GAK TURUN DAN LANGSUNG JALAN LEWATIN REL?
Gini ya, pertama, gimana kalau tiba-tiba keretanya lewat saat Blogger masih di tengah jalan rel?
Kedua, untuk jalan kaki sampai gereja dari posisi rel itu masih lumayan banget dan kondisi kesehatan Blogger enggak sebagus kamu. Dan kalau maksudnya jalan lewatin rel lalu nyambung kendaraan lain, memangnya saat itu kamu mau nalangin ongkosnya? Sekali lagi, Blogger enggak sekaya itu.
Jadi saat itu, jam tangan Blogger sudah menunjukkan setidaknya 15 menit sebelum mulai acara, dengan kata lain panitia lain sudah mau mulai doa. Blogger berusaha untuk tetap tenang, karena sekali lagi, di acara tersebut Blogger gak kena tugas penting apa-apa, jadi Blogger gak perlu ngejar waktu.
Eeeehh tiba-tiba, Blogger ditelpon oleh ketua panitia. Tolong diketahui, ketua panitia ini tidak sama dengan ketua komisi remaja, dia juga bukan pengurus remaja sama sekali. Jadi kalau dia sampai panik, Blogger paham, tapi tolong otaknya dipakai juga, gitu.
Kurang lebih kata-katanya seperti ini.
ANU, GIMANA KALAU LU SENDIRI AJA YANG NGOMONG SAMA SUPIRNYA BIAR SURUH CEPET??
Entah dari dialog tersebut Blogger-nya yang salah paham atau dianya yang salah pengertian. Tapi yang Blogger bikin cetak miring itu gak beneran diucapin ya, karena habis dia suruh cepetan itu Blogger matiin hapenya.
Sejak tinggal di Jakarta, Blogger udah hampir gak pernah naik angkot, karena kemana-mana pesen ojek/taksi online. Kalau pas ada urusan di Bekasi, barulah Blogger naik kuasi sebelum dan setelah naik kereta. Tapi posisi rumah Blogger di Jakarta ini dikelilingi rel kereta. Ya bukan pas bener di kiri-kanan-depan-belakang, tapi kalau mau kemana-mana harus lewatin rel kereta dulu. Mending kalau perginya sendiri naik ojek, kalau pas pesennya mobil berarti pulang-pergi masih lewatin rel macat-macat. Huft.
Tapi Blogger gak pernah nemuin manusia lain yang seperti Si Ketua Panitia, sih, baguslah.
Ini adalah semacam uneg-uneg masa lampau, yang sampai sekarang masih Blogger inget karena ini berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, mungkin ada yang lain yang alamin juga.
Sampai pertengahan 2017 lewat sedikit, Blogger masih tinggal di Bekasi. Saat itu, walau sudah punya ponsel pintar, tapi belum kenalan dengan ojek online, alias kemana-mana bener masih naik angkutan umum dari kuasi-metromini-busway. Sekali lagi, saat itu Blogger tinggal di daerah Bekasi. Karena Kristiani, berarti setiap hari Minggu Blogger pergi ke gereja, yang mana gereja Blogger itu di daerah Jakarta. Kalau naik mobil pribadi, perjalanan bisa sekitar 50 menit KALAU GAK MACET/TUNGGU KERETA LEWAT. Nah kalau naik angkot, itu belum termasuk dia ngetemnya.
Sekitar tahun 2008-2009, dengan kata lain bertahun-tahun sebelum Blogger kenal ponsel pintar dan ojek online, Blogger dijadikan bagian panitia suatu acara komisi remaja di gereja. Bagian Blogger sederhana, yaitu seksi doa. Dengan kata lain, Blogger dan orang-orang seksi doa lainnya tidak perlu pusingin apa-apa, karena yang penting kami bantu dalam doa (tunggu, gini, kepanitiaan itu banyak bagiannya, dan seluruh anggota remaja harus jadi panitia. Tapi jumlah bagian seksi dan jumlah anggota remaja jelas gak sebanding, maka yang tidak jadi panitia inti akan menjadi seksi doa) sambil bantu dikit-dikit kalau memang dibutuhkan. Berarti, ketika kami telat di hari-H, harusnya itu tidak jadi masalah karena kami bukan orang yang harus berurusan dengan panggung atau bagian yang harus tatap muka dengan tamu. Tapi, walau begitu, Blogger berusaha untuk gak telat. Hanya mentang-mentang jabatannya enggak dikejar waktu, Blogger gak mau telat, karena toh lima belas menit sebelum acara mulai kami akan doa bareng.
Nah, di hari-H, Blogger berangkat dari rumah dua jam SEBELUM JAM DOA. Berarti 135 menit sebelum acara mulai. Seperti biasa, dari rumah, Blogger harus nyebrang untuk bisa naik kuasi setidaknya 20-30 menit lalu nyambung metromini 30-40 menit, kemudian jalan kaki setidaknya 10 menit menuju gereja. Blogger naik metromini itu dari tempat mereka mangkal, jadi kalau belum penuh ya gak bakal jalan---itu yang membuat Blogger sebel.
Selama di kuasi gak ada masalah. Malah sempet mikir, kalau jalan lancar, maka Blogger bakal kepagian. Tapi ternyata, sampai di pangkalan metromini, semua masih kosong. Berarti harus nunggu lama. Mungkin nyaris dua puluh menit cuman sampai supirnya mau nyetir.
KOK GAK NAIK TAKSI AJA?
Pertama, mahal. Pernah nyoba loh, beneran, hampir seratus ribu, dan Blogger tidak sekaya itu.
Kedua, sebenarnya kalau udah kepepet banget (karena jamnya juga sebenarnya masih pagi, Blogger berusaha gak panik), mungkin Blogger akan cari taksi. Tapi Blogger inget banget, di hari itu, gak ada satu pun taksi kosong yang lewat.
KOK GAK NAIK OJEK AJA?
Maaf, Blogger pakai rok. Perjalanan jauh serta pakai rok dan tidak bawa jaket, makasih. Dan lagi, gak ada ojek yang mangkal disana saat itu.
KOK GAK NAIK MOBIL PRIBADI?
Gak ada supir. Satu-satunya orang di rumah yang bisa bawa mobil hanya papa, tapi saat itu papa hari Minggu masih kerja, jadi gak bisa antar.
Oke, lanjut lagi ya.
Supir metromini kalau nyetir memang angot-angotan, kadang bisa lelet banget, kadang tiba-tiba ngebut---biasanya kalau ada saingannya. Karena Blogger naik dari pangkalan, kursi sudah penuh, jadi selama beberapa belas menit pertama gak ada kata ngetem. Lalu entah kena sial apa, setelah lewat satu titik, kena lampu merah terus menerus. Setidaknya harus kena dua kali lampu merah di satu jalan dulu baru bisa lewat. Memang ada beberapa area yang Blogger sampai hapal mereka lampu merahnya lama, dan disitu Blogger kena juga.
Dan beberapa belas kilometer sebelum sampai posisi Blogger turun (untuk jalan kaki selama 10 menit), metromini harus lewatin rel kereta api. Sudah biasa sih kalau kena halang palang setidaknya dua kali disitu, karena memang ramai. Tapi Blogger inget, pada saat itu, mungkin lebih dari lima kali. Bayangkan betapa lamanya disitu.
KENAPA GAK TURUN DAN LANGSUNG JALAN LEWATIN REL?
Gini ya, pertama, gimana kalau tiba-tiba keretanya lewat saat Blogger masih di tengah jalan rel?
Kedua, untuk jalan kaki sampai gereja dari posisi rel itu masih lumayan banget dan kondisi kesehatan Blogger enggak sebagus kamu. Dan kalau maksudnya jalan lewatin rel lalu nyambung kendaraan lain, memangnya saat itu kamu mau nalangin ongkosnya? Sekali lagi, Blogger enggak sekaya itu.
Jadi saat itu, jam tangan Blogger sudah menunjukkan setidaknya 15 menit sebelum mulai acara, dengan kata lain panitia lain sudah mau mulai doa. Blogger berusaha untuk tetap tenang, karena sekali lagi, di acara tersebut Blogger gak kena tugas penting apa-apa, jadi Blogger gak perlu ngejar waktu.
Eeeehh tiba-tiba, Blogger ditelpon oleh ketua panitia. Tolong diketahui, ketua panitia ini tidak sama dengan ketua komisi remaja, dia juga bukan pengurus remaja sama sekali. Jadi kalau dia sampai panik, Blogger paham, tapi tolong otaknya dipakai juga, gitu.
Kurang lebih kata-katanya seperti ini.
Dia: "Blogger? Udah sampai mana?"
Blogger: "Masih di angkot, nunggu kereta lewat, sebentar lagi sampai."
Dia: "Wah, bisa dipercepat gak?? Kita udah mau mulai doa nih!"
Blogger: "Iya ini masih di dalam angkot, daritadi kereta lewat mulu!"
Dia: "Yaudah pokoknya cepetan ya!!"
ANU, GIMANA KALAU LU SENDIRI AJA YANG NGOMONG SAMA SUPIRNYA BIAR SURUH CEPET??
Entah dari dialog tersebut Blogger-nya yang salah paham atau dianya yang salah pengertian. Tapi yang Blogger bikin cetak miring itu gak beneran diucapin ya, karena habis dia suruh cepetan itu Blogger matiin hapenya.
Sejak tinggal di Jakarta, Blogger udah hampir gak pernah naik angkot, karena kemana-mana pesen ojek/taksi online. Kalau pas ada urusan di Bekasi, barulah Blogger naik kuasi sebelum dan setelah naik kereta. Tapi posisi rumah Blogger di Jakarta ini dikelilingi rel kereta. Ya bukan pas bener di kiri-kanan-depan-belakang, tapi kalau mau kemana-mana harus lewatin rel kereta dulu. Mending kalau perginya sendiri naik ojek, kalau pas pesennya mobil berarti pulang-pergi masih lewatin rel macat-macat. Huft.
Tapi Blogger gak pernah nemuin manusia lain yang seperti Si Ketua Panitia, sih, baguslah.
Rabu, 08 Mei 2019
No Exit, a manga by Haruhi Seta
Nama lainnya adalah Deguchi Zero, atau Zero Exit, atau beberapa judul alternatif lainnya. Ini adalah salah satu manga favorit Blogger, yang Blogger yakin dan percaya sangat banyak yang gak kenal manga ini. Blogger kenal manga No Exit ini dari majalah komik (manga) Nakayoshi, yang ketika manga ini sudah sampai chapter kesekianpuluh tiba-tiba Nakayoshi gak terbit lagi. Ketika Nakayoshi sudah gak ada sedangkan manga ini masih lanjut, Blogger menderita parah, karena saat itu di situs manga online manga ini mandek di chapter 4 semua (ketika entri ini ditulis pun baru sampai chapter 16). Entah berapa lama kemudian Blogger lupa, versi tankobon-nya muncul, berarti Blogger harus ngikutin dari volume 1 chapter 1. Entri ini mulai diketik tepat setelah Blogger baca volume 10 chapter 40 (volume 11 baru keluar tapi Blogger belum ke toko buku), dan itu sudah mulai mendekati chapter yang terakhir kali nongol di Nakayoshi, mungkin sekitar 3 volume lagi.
Bagi para anime lover dan fanficcer, gak usah nyari anime dan atau fandomnya di ffn ya, karena memang gak ada, atau belum ada setidaknya ketika entri ini mulai diketik. Artwork-nya kurang menarik (sekali lagi, Blogger tahu manga ini karena bagian dari Nakayoshi, kalau karena iseng-iseng nyari online juga gak bakal tertarik dengan gambarnya), terlalu banyak yang hitam padahal katanya tergolong shoujo, mungkin karena salah satu genrenya adalah horor/thriller. Kalau dibuat sebagai anime, mungkin Blogger akan mendapat kesan seperti Vampire Knight. Sedangkan di fanfiction dot net, ENGGAK TERDAFTAR IIIIHHH SEDIH BANGET PADAHAL BANYAK IDE SERUPA SURAT UNTUK MEREKA!!!
No Exit, atau Deguchi Zero, ceritanya tentang seorang anak perempuan masuk ke sekolah khusus akting. Dia dan orang-orang seangkatannya harus berakting secara sangat nyata dalam kehidupan mereka, dan gak bisa keluar dari lingkup sekolah kecuali kalau berhasil lulus yang mereka beri nama 'debut'. Mereka dikemplang habis-habisan, setiap kesalahan yang mereka buat itu hukumannya kejam parah banget. Kalau mereka sampai di drop out, maka akan ada kemungkinan eksistensi mereka bakal direbut oleh orang lain dan kamu harus hidup sebagai peran lain seumur hidup. Karena, seperti yang tadi Blogger tulis, hanya bisa keluar sekolah kalau berhasil debut. Drop out versi sekolah ini beda dengan drop out versi sekolah pada umumnya. Kalau mereka berpikir akhirnya mereka sudah keluar dari lingkungan sekolah padahal belum lulus, coba diteliti lagi.
Dengan mengenyampingkan soal artwork (karya Haruhi Seta memang kayak begitu sih gambarnya, cuman yang ini mungkin yang paling hitam yang Blogger tahu, sekaligus ceritanya yang paling menarik), secara keseluruhan yang sudah Blogger baca itu menarik. Banyak tanda tanya yang terus bertambah, ada teka-teki yang sudah terjawab tapi menimbulkan pertanyaan baru. Jadi untuk ukuran shoujo, ini sama sekali gak manis, malah bikin tegang dan penasaran untuk tahu bagaimana kelanjutannya.
Hanya saja, kalau setelah ini ada yang tertarik untuk baca dari chapter satu, kalian harus sabar. Karena memang chapter-chapter awal itu agak membosankan gimana gitu. Blogger pun baru benar-benar tertarik ketika anak-anak angkatan tokoh utama naik ke kelas dua.
Di manga ini, Blogger paling demen sama Reiji Mochizuki. Blogger juga ngeship banget dia dengan Yuhi Akabane. Omong-omong, kalau pada penasaran tampang Reiji Mochizuki, agak susah dicarinya, yang ada malah om gugel bakal arahin ke Ryoji Mochizuki dari Persona 3, padahal karakter dan fandomnya beda banget. Yah, maklum deh, kalah tenar jauh sih.
Selain No Exit, masih ada beberapa manga lain yang belum tamat di edisi terakhir Nakayoshi. Tapi di antara mereka semua, yang Blogger minatin untuk teuteup cari lanjutannya hanya yang satu ini.
Bagi para anime lover dan fanficcer, gak usah nyari anime dan atau fandomnya di ffn ya, karena memang gak ada, atau belum ada setidaknya ketika entri ini mulai diketik. Artwork-nya kurang menarik (sekali lagi, Blogger tahu manga ini karena bagian dari Nakayoshi, kalau karena iseng-iseng nyari online juga gak bakal tertarik dengan gambarnya), terlalu banyak yang hitam padahal katanya tergolong shoujo, mungkin karena salah satu genrenya adalah horor/thriller. Kalau dibuat sebagai anime, mungkin Blogger akan mendapat kesan seperti Vampire Knight. Sedangkan di fanfiction dot net, ENGGAK TERDAFTAR IIIIHHH SEDIH BANGET PADAHAL BANYAK IDE SERUPA SURAT UNTUK MEREKA!!!
No Exit, atau Deguchi Zero, ceritanya tentang seorang anak perempuan masuk ke sekolah khusus akting. Dia dan orang-orang seangkatannya harus berakting secara sangat nyata dalam kehidupan mereka, dan gak bisa keluar dari lingkup sekolah kecuali kalau berhasil lulus yang mereka beri nama 'debut'. Mereka dikemplang habis-habisan, setiap kesalahan yang mereka buat itu hukumannya kejam parah banget. Kalau mereka sampai di drop out, maka akan ada kemungkinan eksistensi mereka bakal direbut oleh orang lain dan kamu harus hidup sebagai peran lain seumur hidup. Karena, seperti yang tadi Blogger tulis, hanya bisa keluar sekolah kalau berhasil debut. Drop out versi sekolah ini beda dengan drop out versi sekolah pada umumnya. Kalau mereka berpikir akhirnya mereka sudah keluar dari lingkungan sekolah padahal belum lulus, coba diteliti lagi.
Dengan mengenyampingkan soal artwork (karya Haruhi Seta memang kayak begitu sih gambarnya, cuman yang ini mungkin yang paling hitam yang Blogger tahu, sekaligus ceritanya yang paling menarik), secara keseluruhan yang sudah Blogger baca itu menarik. Banyak tanda tanya yang terus bertambah, ada teka-teki yang sudah terjawab tapi menimbulkan pertanyaan baru. Jadi untuk ukuran shoujo, ini sama sekali gak manis, malah bikin tegang dan penasaran untuk tahu bagaimana kelanjutannya.
Hanya saja, kalau setelah ini ada yang tertarik untuk baca dari chapter satu, kalian harus sabar. Karena memang chapter-chapter awal itu agak membosankan gimana gitu. Blogger pun baru benar-benar tertarik ketika anak-anak angkatan tokoh utama naik ke kelas dua.
Di manga ini, Blogger paling demen sama Reiji Mochizuki. Blogger juga ngeship banget dia dengan Yuhi Akabane. Omong-omong, kalau pada penasaran tampang Reiji Mochizuki, agak susah dicarinya, yang ada malah om gugel bakal arahin ke Ryoji Mochizuki dari Persona 3, padahal karakter dan fandomnya beda banget. Yah, maklum deh, kalah tenar jauh sih.
Selain No Exit, masih ada beberapa manga lain yang belum tamat di edisi terakhir Nakayoshi. Tapi di antara mereka semua, yang Blogger minatin untuk teuteup cari lanjutannya hanya yang satu ini.
Senin, 06 Mei 2019
Boruto episode 105
Blogger gak suka.
Beneran.
Blogger belum nonton terlalu banyak anime, sih, tapi mungkin memang setiap beberapa episode sekali bakal ada episode khusus seperti kilas balik doang. Kalau anime-nya panjang ya berarti setiap beberapa puluh sekali. Dan kalau gak salah hitung, dengan episode 105 ini, maka anime Boruto udah ada episode kilas baliknya dua kali. Isi episodenya gak bener copy paste dari episode-episode sebelumnya sih, mereka tetep nyisipin cerita yang membuat adanya kilas balik ini, tapi tetep aja Blogger kurang suka.
Kilas balik pertama dalam anime ini adalah ketika angkatannya Boruto mau ujian Chuunin. Tepat episode sebelum ujian dimulai, guru pada Next Gen minum sambil ngobrol mengenai perkembangan para murid. Disitu walau gak detil tapi banyak kilas baliknya.
Nah, yang kedua ini, intinya ada pada Mitsuki. Iya tahu beberapa episode belakangan Blogger hobi nanyain keberadaan Orochimaru, tapi ya gak gitu juga lah.
Jadi ceritanya di episode ini Mitsuki gak enak badan, makanya konsultasi kedokter Orochimaru. Ini wajar. Lalu sang dokter Orochimaru periksa kepala Mitsuki. Masih wajar. Orochimaru mau lihat ingatan Mitsuki sejak kasus Ohnoki karena Mitsuki bilang mulai berasa gak enak sejak itu. Wajar. Yang bikin kesel adalah, eeeehhh ternyata malah nostalgia kilas balik sampai akhir episode.
Mungkin ini semacam filler untuk menuju Arc baru, sekaligus memperlihatkan perkembangan Mitsuki. Mungkin. Dari sejak sadar ini adalah semacam episode kilas balik, Blogger udah geregetan pengen skip-skip aja, tapi ternyata Orochimaru ada banyak komentar tentang apa yang dia lihat, jadinya Blogger gak bisa main skip.
Untungnya, seperti yang Blogger bilang, kilas balik ini ada ceritanya kenapa mereka ber-kilas-balik-ria, gak cuman sekedar kasih lihat kisahnya sudah sejauh mana.
Tentang preview, sekalipun ada tampang Kakashi, Blogger gak sampai jerit, karena memang sudah tahu. Di facebook, Blogger sudah dapat kabar bahwa Arc selanjutnya berdasarkan novel, dan tokoh pentingnya adalah Mirai, Guy, dan Kakashi. Jadi fangirling gila-gilaannya sudah saat dapat kabar itu, tinggal tunggu harinya aja.
Beneran.
Blogger belum nonton terlalu banyak anime, sih, tapi mungkin memang setiap beberapa episode sekali bakal ada episode khusus seperti kilas balik doang. Kalau anime-nya panjang ya berarti setiap beberapa puluh sekali. Dan kalau gak salah hitung, dengan episode 105 ini, maka anime Boruto udah ada episode kilas baliknya dua kali. Isi episodenya gak bener copy paste dari episode-episode sebelumnya sih, mereka tetep nyisipin cerita yang membuat adanya kilas balik ini, tapi tetep aja Blogger kurang suka.
Kilas balik pertama dalam anime ini adalah ketika angkatannya Boruto mau ujian Chuunin. Tepat episode sebelum ujian dimulai, guru pada Next Gen minum sambil ngobrol mengenai perkembangan para murid. Disitu walau gak detil tapi banyak kilas baliknya.
Nah, yang kedua ini, intinya ada pada Mitsuki. Iya tahu beberapa episode belakangan Blogger hobi nanyain keberadaan Orochimaru, tapi ya gak gitu juga lah.
Jadi ceritanya di episode ini Mitsuki gak enak badan, makanya konsultasi ke
Mungkin ini semacam filler untuk menuju Arc baru, sekaligus memperlihatkan perkembangan Mitsuki. Mungkin. Dari sejak sadar ini adalah semacam episode kilas balik, Blogger udah geregetan pengen skip-skip aja, tapi ternyata Orochimaru ada banyak komentar tentang apa yang dia lihat, jadinya Blogger gak bisa main skip.
Untungnya, seperti yang Blogger bilang, kilas balik ini ada ceritanya kenapa mereka ber-kilas-balik-ria, gak cuman sekedar kasih lihat kisahnya sudah sejauh mana.
Tentang preview, sekalipun ada tampang Kakashi, Blogger gak sampai jerit, karena memang sudah tahu. Di facebook, Blogger sudah dapat kabar bahwa Arc selanjutnya berdasarkan novel, dan tokoh pentingnya adalah Mirai, Guy, dan Kakashi. Jadi fangirling gila-gilaannya sudah saat dapat kabar itu, tinggal tunggu harinya aja.
Kamis, 02 Mei 2019
Tamat, Tapi Ada Lanjutannya
Entah sudah berapa banyak jumlah novel yang Blogger baca, yakin juga pasti banyak yang bacaannya berkali lipat dari Blogger. Dari semua novelis yang karyanya sudah Blogger baca, setidaknya ada dua yang menganut prinsip 'tamat tapi ada lanjutannya'. Maksudnya gini, jadi mereka bikin serial namanya ABC, setelah ceritanya selesai tiba-tiba mereka bikin serial DEF yang berlatar setelah atau sebelum atau barengan dengan ABC, atau semacam panduan/ensiklopedia khusus fandom bersangkutan----'universe'-nya sama. Enggak salah, itu hak mereka, dan Blogger sebagai penggemar serial yang dimaksud pun senang dapat asupan terus. Tapi, sesenengnya Blogger, tetap aja sesekali mikir 'buset, itu orang belom bisa move on dari universe ABC apa?'.
Sampai sini mungkin udah ada yang kepikiran salah satu atau mungin kedua novelis yang dimaksud, atau mungkin ada yang kepikiran novelis lain selain yang Blogger pikirkan saat ngetik entri ini. Keduanya cukup terkenal walau belum tentu semua orang udah baca karya mereka. Kedua orang itu adalah Rick Riordan dan Cassandra Clare. Kalau novel-novel yang Blogger baca dijumlahkan berdasarkan pengarang, maka novelnya Riordan itu yang paling banyak gara-gara dia punya banyak semacam guidebook, disusul Clare. JK Rowling juga bikin buku dalam novel sih, tapi jumlahnya tetap kalah dibanding novelnya Clare. Dan kita gak ngomongin tentang jumlah halaman.
Disini bukan maksudnya nyindir, sekali lagi Blogger senang dapat asupan terus-menerus.
Mungkin Riordan pernah buat buku yang gak nyambung dengan Percy Jackson sama sekali, atau Clare diluar Pemburu Bayangan, mungkin, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, kedua fandom tersebut walau tidak sampai sebesar Harry Potter, merupakan 2 (dari sekian banyak, mungkin) fandom yang selalu dapat asupan yang baru.
Tentang dunia Percy Jackson, awalnya Blogger sama sekali gak tertarik, benar-benar. Koko punya novelnya pertama sampai ketiga, dan Blogger yang saat itu novel yang baru dibaca hanyalah Harry Potter - The Hunger Games - Divergent kepengen baca novel lain tapi begitu liat artwork yang ada dalam novel PJO langsung gak minat. Lagian, saat itu, pikirnya judul setiap bab kok begitu banget---padahal sekarang demen novelnya Riordan salah satu alasannya karena judul perbabnya. Lalu, saat itu, Blogger lebih tertarik dengan novel fantasi yang pakai dunia bikinan pengarangnya, bukan mendaurulang mitos yang sudah ada. PJO itu tentang dewa-dewi yang dari awal memang diyakini oleh bangsa Yunani, dan Blogger merasa gimana gitu kalau pakai 'karakter' yang 'memang ada'.
Suatu ketika Blogger nyerah, karena pengen baca novel baru tapi belom sempet ke toko buku, ya sudah baca PJO. LALU KETAGIHAN. Blogger inget saat itu sekitar kelas 11 atau 12, setelah baca novel ketiga langsung ke perpustakaan sekolah untuk pinjem yang keempat. Habis itu, lucunya, novel kelima walaupun ada di perpus tapi gak pernah kesampaian pinjem. Selalu telat ambil, kepinjem orang duluan. Pada akhirnya Blogger titip Pustakawati beli novel kelima.
Itu adalah zaman Blogger gak pernah kepikiran cari rekomendasi buku lewat internet, jadi gak tau tentang Heroes of Olympus. Padahal sekarang, dari semua serial di fandom ini, HOO itu favorit Blogger sepanjang masa mungkin karena ada Jason Grace. Dari situ Blogger pinjem The Kane Chronicles dari perpus. Ada Magnus Chase juga, dia sebelas duabelas sama TKC, Blogger kurang suka.
Naaaahh, konsep 'tamat tapi ada lanjutannya' ini paling kena di The Trials of Apollo. Jalan ceritanya gak masalah sih, dia lanjutan dari HOO. Blogger gak akan permasalahin apa yang terjadi di The Burning Maze walau yang satu itu membuat Blogger sangat ingin ketemu Rick Riordan untuk hajar dia habis-habisan gara-gara apa yang dia perbuat pada Jason Grace, tapi kejadian TToA itu bisa terjadi padahal bukan Apollo yang jadi tokoh sentral. Walau bahagia setiap baca ada karakter dari serial sebelumnya muncul di serial ini, tapi ya gitu, lanjut mulu.
Kemudian tentang dunia Pemburu Bayangan. Dari konsep ini oke banget, walau katanya bermula dari fanfiksi Harry Potter dan (banyak yang bilang) Clare kurang punya kepribadian yang baik. Mengesampingkan kedua hal itu, fandom ini dikasih asupan cerita yang kreatif.
Pertama kali Blogger tahu The Mortal Instruments itu saat kuliah dan jalam ke toko buku liat novel TMI tebel berjejer. Saat itu, kamar kos gak ada bacaan, dan Blogger pikir itu lumayan. Yaudah baca. Akhir dari novel pertama agak gantung untuk salah satu misteri, jadi Blogger baca lagi lanjutannya sampai kelar. Saat itu, buku keenamnya memang belum ada. Kemudian suatu hari Blogger main ke rumah sepupu. Ceritanya teman dia yang punya rental buku memutuskan untuk tutup dan pindah, tapi kiriman buku baru keburu datang sebelum dihentikan. Jadi, karena banyak novel baru, dia kasih banyak ke sepupu Blogger, dan ketika Blogger datang kebagian juga salah satunya adalah novel ketiga The Infernal Devices. Dari situ baru tahu ada prekuel TMI, jadi mulai baca dari novel pertama TDI. The Bane Chronicles dan Tales from Shadowhunter Academy oke kok, Blogger suka, dan anggap TFSA itu seperti semacam epilog TMI. Eeeeehh, ternyata muncul The Dark Artifices. Disini Blogger udah mulai mikir tentang 'tamat tapi ada lanjutannya'. Untungnya, sama seperti yang dilakukan Riordan pada The Kane Chronicles dan Magnus Chase, Clare pakai elemen yang lain. TDA masih tentang dunia yang sama dengan TMI, tapi Clare mencari permasalahan yang baru dari peraturan yang ada di TID dan TMI.
Daaaaannn, mungkin belum mau move on, Clare bikin serial The Last Hours yang novel pertamanya baru keluar September (di Indonesia mungkin Oktober), lalu katanya diundur jadi Maret 2020 (di Indonesia berarti sekitar April). Jangan sedih, ini bukan lanjutan dari TDA, melainkan TID sebelum alur waktunya nyatu dengan TMI. Secinta-cintanya Blogger pada Will Herondale, gak gitu jugalah. Omong-omong, TLH ini serial loh, bukan satuan seperti TBC dan TFSA, dengan kata lain dia bukan spin off. Hal pertama yang Blogger kurang senang adalah karena Clare bikin serial alurnya lompat-lompat, berarti seharusnya alurnya itu TBC, TID, TLH, TMI, TFSA, TDA----tapi urutan publikasinya malah TMI, TID, TBC, TFSA, TDA, TLH. Pusing gak lu? Sama sini juga. Itu sah aja sih, kan kalau namanya ide juga gak bisa diatur kapan muncul tentang apa.
Mungkin ada fandom lain yang begitu, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, yang novelnya kebetulan Blogger baca dan sampai sekarang masih menunggu kelanjutan dari sang penulis, hanya dua itu.
Eh iya, omong-omong, tentang Cassandra Clare dan gosip bahwa TMI berawal dari fanfiksi (punya dia) Harry Potter, gini, berarti maksudnya kasus yang sama dengan Fifty Shades of Grey dengan Twilight Saga, kan? Blogger pribadi gak begitu masalah. Sudah baca Twilight Saga tapi baru baca novel pertama FSOG, jadi gak bisa begitu ngoceh. Tapi tentang TMI dan HP, gini, sekalipun iya dari fanfiksi, toh Clare bisa membuat universe-nya sendiri alias dunia Pemburu Bayangan sampai lebih dari satu seri----dia bisa memikirkan setelah dan sebelum TMI. Blogger gak bilang JKR lebih payah karena hanya bisa buat satu seri HP tanpa sekuel/prekuel, tapi setiap orang beda-beda. Ada yang mau pindah genre atau bikin fandom baru, ada yang mau tetep lanjutin universe-nya. Sah aja kok, gak ada peraturannya.
Sampai sini mungkin udah ada yang kepikiran salah satu atau mungin kedua novelis yang dimaksud, atau mungkin ada yang kepikiran novelis lain selain yang Blogger pikirkan saat ngetik entri ini. Keduanya cukup terkenal walau belum tentu semua orang udah baca karya mereka. Kedua orang itu adalah Rick Riordan dan Cassandra Clare. Kalau novel-novel yang Blogger baca dijumlahkan berdasarkan pengarang, maka novelnya Riordan itu yang paling banyak gara-gara dia punya banyak semacam guidebook, disusul Clare. JK Rowling juga bikin buku dalam novel sih, tapi jumlahnya tetap kalah dibanding novelnya Clare. Dan kita gak ngomongin tentang jumlah halaman.
Disini bukan maksudnya nyindir, sekali lagi Blogger senang dapat asupan terus-menerus.
Mungkin Riordan pernah buat buku yang gak nyambung dengan Percy Jackson sama sekali, atau Clare diluar Pemburu Bayangan, mungkin, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, kedua fandom tersebut walau tidak sampai sebesar Harry Potter, merupakan 2 (dari sekian banyak, mungkin) fandom yang selalu dapat asupan yang baru.
Tentang dunia Percy Jackson, awalnya Blogger sama sekali gak tertarik, benar-benar. Koko punya novelnya pertama sampai ketiga, dan Blogger yang saat itu novel yang baru dibaca hanyalah Harry Potter - The Hunger Games - Divergent kepengen baca novel lain tapi begitu liat artwork yang ada dalam novel PJO langsung gak minat. Lagian, saat itu, pikirnya judul setiap bab kok begitu banget---padahal sekarang demen novelnya Riordan salah satu alasannya karena judul perbabnya. Lalu, saat itu, Blogger lebih tertarik dengan novel fantasi yang pakai dunia bikinan pengarangnya, bukan mendaurulang mitos yang sudah ada. PJO itu tentang dewa-dewi yang dari awal memang diyakini oleh bangsa Yunani, dan Blogger merasa gimana gitu kalau pakai 'karakter' yang 'memang ada'.
Suatu ketika Blogger nyerah, karena pengen baca novel baru tapi belom sempet ke toko buku, ya sudah baca PJO. LALU KETAGIHAN. Blogger inget saat itu sekitar kelas 11 atau 12, setelah baca novel ketiga langsung ke perpustakaan sekolah untuk pinjem yang keempat. Habis itu, lucunya, novel kelima walaupun ada di perpus tapi gak pernah kesampaian pinjem. Selalu telat ambil, kepinjem orang duluan. Pada akhirnya Blogger titip Pustakawati beli novel kelima.
Itu adalah zaman Blogger gak pernah kepikiran cari rekomendasi buku lewat internet, jadi gak tau tentang Heroes of Olympus. Padahal sekarang, dari semua serial di fandom ini, HOO itu favorit Blogger sepanjang masa
Naaaahh, konsep 'tamat tapi ada lanjutannya' ini paling kena di The Trials of Apollo. Jalan ceritanya gak masalah sih, dia lanjutan dari HOO. Blogger gak akan permasalahin apa yang terjadi di The Burning Maze
Kemudian tentang dunia Pemburu Bayangan. Dari konsep ini oke banget, walau katanya bermula dari fanfiksi Harry Potter dan (banyak yang bilang) Clare kurang punya kepribadian yang baik. Mengesampingkan kedua hal itu, fandom ini dikasih asupan cerita yang kreatif.
Pertama kali Blogger tahu The Mortal Instruments itu saat kuliah dan jalam ke toko buku liat novel TMI tebel berjejer. Saat itu, kamar kos gak ada bacaan, dan Blogger pikir itu lumayan. Yaudah baca. Akhir dari novel pertama agak gantung untuk salah satu misteri, jadi Blogger baca lagi lanjutannya sampai kelar. Saat itu, buku keenamnya memang belum ada. Kemudian suatu hari Blogger main ke rumah sepupu. Ceritanya teman dia yang punya rental buku memutuskan untuk tutup dan pindah, tapi kiriman buku baru keburu datang sebelum dihentikan. Jadi, karena banyak novel baru, dia kasih banyak ke sepupu Blogger, dan ketika Blogger datang kebagian juga salah satunya adalah novel ketiga The Infernal Devices. Dari situ baru tahu ada prekuel TMI, jadi mulai baca dari novel pertama TDI. The Bane Chronicles dan Tales from Shadowhunter Academy oke kok, Blogger suka, dan anggap TFSA itu seperti semacam epilog TMI. Eeeeehh, ternyata muncul The Dark Artifices. Disini Blogger udah mulai mikir tentang 'tamat tapi ada lanjutannya'. Untungnya, sama seperti yang dilakukan Riordan pada The Kane Chronicles dan Magnus Chase, Clare pakai elemen yang lain. TDA masih tentang dunia yang sama dengan TMI, tapi Clare mencari permasalahan yang baru dari peraturan yang ada di TID dan TMI.
Daaaaannn, mungkin belum mau move on, Clare bikin serial The Last Hours yang novel pertamanya baru keluar September (di Indonesia mungkin Oktober), lalu katanya diundur jadi Maret 2020 (di Indonesia berarti sekitar April). Jangan sedih, ini bukan lanjutan dari TDA, melainkan TID sebelum alur waktunya nyatu dengan TMI. Secinta-cintanya Blogger pada Will Herondale, gak gitu jugalah. Omong-omong, TLH ini serial loh, bukan satuan seperti TBC dan TFSA, dengan kata lain dia bukan spin off. Hal pertama yang Blogger kurang senang adalah karena Clare bikin serial alurnya lompat-lompat, berarti seharusnya alurnya itu TBC, TID, TLH, TMI, TFSA, TDA----tapi urutan publikasinya malah TMI, TID, TBC, TFSA, TDA, TLH. Pusing gak lu? Sama sini juga. Itu sah aja sih, kan kalau namanya ide juga gak bisa diatur kapan muncul tentang apa.
Mungkin ada fandom lain yang begitu, Blogger gak tau. Tapi yang pasti, yang novelnya kebetulan Blogger baca dan sampai sekarang masih menunggu kelanjutan dari sang penulis, hanya dua itu.
Eh iya, omong-omong, tentang Cassandra Clare dan gosip bahwa TMI berawal dari fanfiksi (punya dia) Harry Potter, gini, berarti maksudnya kasus yang sama dengan Fifty Shades of Grey dengan Twilight Saga, kan? Blogger pribadi gak begitu masalah. Sudah baca Twilight Saga tapi baru baca novel pertama FSOG, jadi gak bisa begitu ngoceh. Tapi tentang TMI dan HP, gini, sekalipun iya dari fanfiksi, toh Clare bisa membuat universe-nya sendiri alias dunia Pemburu Bayangan sampai lebih dari satu seri----dia bisa memikirkan setelah dan sebelum TMI. Blogger gak bilang JKR lebih payah karena hanya bisa buat satu seri HP tanpa sekuel/prekuel, tapi setiap orang beda-beda. Ada yang mau pindah genre atau bikin fandom baru, ada yang mau tetep lanjutin universe-nya. Sah aja kok, gak ada peraturannya.
Rabu, 01 Mei 2019
Cepat Kaya di The Sims 3
Blogger bukan Gamer yang jago main banget, tapi lumayan setia kalau demen dengan suatu game. Seperti game Mana Khemia yang dimainin di PS2, Blogger tamatin itu sudah 19 kali. Jadi iya, kalau kepincut dengan suatu game, bakal dimainin terus sampai tiba-tiba berasa malas atau bosan atau nemuin yang baru. Beberapa game yang Blogger mainin seperti keluarga besar The Sims, itu memang gak ada tamatnya, jadi bosan ya bosan deh lu. Tapi memang kadang kalau lagi mau, ya dimainin terus, kalau lagi malas ya dianggurin terus. Nah, entri ini diketik ketika beberapa hari ini main terus dengan data yang baru.
Hidup ini tidak seindah dan semudah Sims. Beneran. Dan Blogger bukan omongin tentang cheat-nya. Asal kalian tahu ya, kalau pakai cheat entar bakal ada bug kedepannya. Pernah, awal-awal kenal cheat 'motherlode', sekitar SMA, Blogger langsung terapin ke data yang sedang Blogger main sampai kena bug. Sayang banget gak bohong karena data yang Blogger mainin itu sudah cicit dari Sim awal. Dan saat itu Blogger main The Sims 3 tanpa expansion pack apa-apa. Ketika dapat expansion pack, Blogger semangat main lagi, dan tanpa tahu tentang bug, main pakai 'motherlode' lagi, dan ternyata bugnya lebih ngaco.
Jadi, kehidupan di The Sims itu sudah mudah, jangan terlalu dipermudah lagi karena nanti efeknya kayak narkoba, ngerusak aja.
Emang sih, pakai cheat bakal lebih mudah dapatin Simoleons, tapi sama seperti di kehidupan nyata, duit yang didapat secara manual lebih terasa nikmat.
Cara termudah untuk Sims punya banyak Simoleon (di The Sims 3, ya, Blogger hanya benar-benar main disitu) adalah dengan nulis. Blogger lupa adanya di expansion pack mana, tapi cukup jadi freelance writer.
Gini, kalau bener kerja (career), lu hanya dapat uang dari sekian hari dari jam sekian sampai jam sekian. Kalau bolos atau telat, ya gaji hariannya bakal kurang. Belum lagi karena waktunya terikat, Sims gak bisa punya waktu leluasa untuk kembangin skill. Simoleon yang didapat jelas lebih pasti, tapi ya begitulah, hanya segitu.
Lalu, kalau ambil profesi (profession / active career), itu lebih susah lagi dapat uangnya kalau bener-bener cari uang dari situ doang. Terutama di awal-awal, panggilannya gak seberapa dan bisa mendadak walau sudah dibatasi jamnya. Jadi berasa walau pun bebas ngapain aja saat gak kerja, tapi tetap terikat. Kalau Blogger, dibanding profesi, mending ambil karir sekalian.
Paling enak memang freelance, padahal kalau di dunia nyata memang agak gimana gitu. Dari semua daftar freelance, dari Blogger, paling gampang cari Simoleon lewat nulis. Setiap nulis sampai satu bab bakal dibayar tergantung genre kalau gak salah minimal 7-8 Simoleon. Terus kalau bukunya kelar bakal dibayar. Terus saat hari Minggu, selama 6 minggu bakal dikasih royalti jumlah harga buku. Dan yang pasti, waktunya sama sekali gak terikat. Kalau ambil freelance painter, kalau Sim-nya udah biasa lukis, bakal jadi cepet sih, tapi bayarannya hanya kalau lukisan itu dijual. Fotografer, Alkemis, Pemancing, dll itu juga sama, hanya dapat uang ketika mendapat atau membuat barang yang bersangkutan lalu dijual, kemudian dapat uang lagi kalau naik level dalam trek karir.
Beneran ya, ketika Blogger sadar sendiri tentang hal ini, Blogger langsung main dengan Sim yang baru, lalu kerjaannya beneran hanya ngetik dan lukis. Kenapa 'dan lukis'? Karena, ngetik itu bakal ngurangin meteran 'fun', dia bisa stres, jadinya Blogger suruh dia ngelukis setelahnya, toh selesai lukis juga hasilnya bisa jadi duit juga. Tampaknya kalau royalti mingguannya sudah di atas 100k Simoleon, gak ngetik sama sekali selama seminggu pun gakpapa, tapi Blogger gak pernah sampai dia absen sih. Makanya saat royalti sudah melimpah, rumah sudah besar, semua tempat udah dikuasai, Simoleon sudah berpuluhjuta (TANPA CHEAT), Blogger bisa tiba-tiba bosan sendiri. LOL.
Jadi bagi yang pengen main The Sims 3 dan pengen cepet kaya disana tapi gak mau terikat waktu yang seperti di karir dan profesi, berikut adalah trait yang biasa Blogger kasih ke Sims:
5 trait pertama ini yang paling penting, bisa dibagi sih, atau tuker-tuker dengan 5 trait yang dibawah kalau memang bikin 2 Sim. Tapi dari Blogger, kesembilannya sudah diurutkan dari yang paling utama. Tolong diingat lagi, ini hanya trait untuk cepat kaya tanpa terikat jam karir dan profesi.
(karena menerbitkan buku di dunia nyata jauh lebih sulit daripada di The Sims series) dengan bekerja, kayaknya kerjaan yang bikin cepat kaya adalah jadi dokter (Medical). Tapi karir yang membuat kamu banyak waktu luang (setelah level 10) adalah di militer dengan jadi astronot yang hanya kerja sehari (benar-benar SEHARI, seriusan, cek sendiri aja) dalam seminggu, tanpa tambahan apa-apa (di politik perlu minta dana, di edukasi perlu bikin seminar, bisnis perlu rapat, dokter bakal ada panggilan mendadak di luar jam kerja, dst). Kalau mau nulis dan karir, mungkin jadi astronot cukup oke, tapi awal-awal militer kamu gak bakal punya waktu untuk sampingan apa-apa, jadi nulisnya harus dari sebelum militer atau ketika sudah astronot.
Lagi-lagi, terserah situ sih.
Hidup ini tidak seindah dan semudah Sims. Beneran. Dan Blogger bukan omongin tentang cheat-nya. Asal kalian tahu ya, kalau pakai cheat entar bakal ada bug kedepannya. Pernah, awal-awal kenal cheat 'motherlode', sekitar SMA, Blogger langsung terapin ke data yang sedang Blogger main sampai kena bug. Sayang banget gak bohong karena data yang Blogger mainin itu sudah cicit dari Sim awal. Dan saat itu Blogger main The Sims 3 tanpa expansion pack apa-apa. Ketika dapat expansion pack, Blogger semangat main lagi, dan tanpa tahu tentang bug, main pakai 'motherlode' lagi, dan ternyata bugnya lebih ngaco.
Jadi, kehidupan di The Sims itu sudah mudah, jangan terlalu dipermudah lagi karena nanti efeknya kayak narkoba, ngerusak aja.
Emang sih, pakai cheat bakal lebih mudah dapatin Simoleons, tapi sama seperti di kehidupan nyata, duit yang didapat secara manual lebih terasa nikmat.
Cara termudah untuk Sims punya banyak Simoleon (di The Sims 3, ya, Blogger hanya benar-benar main disitu) adalah dengan nulis. Blogger lupa adanya di expansion pack mana, tapi cukup jadi freelance writer.
Gini, kalau bener kerja (career), lu hanya dapat uang dari sekian hari dari jam sekian sampai jam sekian. Kalau bolos atau telat, ya gaji hariannya bakal kurang. Belum lagi karena waktunya terikat, Sims gak bisa punya waktu leluasa untuk kembangin skill. Simoleon yang didapat jelas lebih pasti, tapi ya begitulah, hanya segitu.
Lalu, kalau ambil profesi (profession / active career), itu lebih susah lagi dapat uangnya kalau bener-bener cari uang dari situ doang. Terutama di awal-awal, panggilannya gak seberapa dan bisa mendadak walau sudah dibatasi jamnya. Jadi berasa walau pun bebas ngapain aja saat gak kerja, tapi tetap terikat. Kalau Blogger, dibanding profesi, mending ambil karir sekalian.
Paling enak memang freelance
Beneran ya, ketika Blogger sadar sendiri tentang hal ini, Blogger langsung main dengan Sim yang baru, lalu kerjaannya beneran hanya ngetik dan lukis. Kenapa 'dan lukis'? Karena, ngetik itu bakal ngurangin meteran 'fun', dia bisa stres, jadinya Blogger suruh dia ngelukis setelahnya, toh selesai lukis juga hasilnya bisa jadi duit juga. Tampaknya kalau royalti mingguannya sudah di atas 100k Simoleon, gak ngetik sama sekali selama seminggu pun gakpapa, tapi Blogger gak pernah sampai dia absen sih. Makanya saat royalti sudah melimpah, rumah sudah besar, semua tempat udah dikuasai, Simoleon sudah berpuluhjuta (TANPA CHEAT), Blogger bisa tiba-tiba bosan sendiri. LOL.
Jadi bagi yang pengen main The Sims 3 dan pengen cepet kaya disana tapi gak mau terikat waktu yang seperti di karir dan profesi, berikut adalah trait yang biasa Blogger kasih ke Sims:
Iya tahu satu Sim (dari young adult) hanya bisa punya 5 trait (bisa 7 kalau social group influence-nya tinggi serta lulus universitas), tapi Blogger biasanya bikin 2 Sims. Maksudnya, biar yang satu cari duit (dengan nulis), satunya lagi buat menuhin kebutuhan atau setidaknya membuat jangan sampai mereka keluarin duit untuk sekedar panggil tukang servis atau bahkan maid. Bisa juga Sim nomor dua ini cari duit 'sampingan'. Yang pasti nomor 1-3 itu Blogger kasih ke Sim nomor 1.
Genius
Artistic
Bookworm
Handy
Natural Cook
Computer Whiz
Kleptomaniac
Neat
Lucky
Hopeless Romantic
5 trait pertama ini yang paling penting, bisa dibagi sih, atau tuker-tuker dengan 5 trait yang dibawah kalau memang bikin 2 Sim. Tapi dari Blogger, kesembilannya sudah diurutkan dari yang paling utama. Tolong diingat lagi, ini hanya trait untuk cepat kaya tanpa terikat jam karir dan profesi.
- Genius: sekalipun misalnya kamu gak mau jadi Writer, trait ini sangat membantu. Naikin level skill bisa sedikit lebih cepat, dan kalau menciptakan sesuatu seperti buku atau lukisan hasilnya bisa jadi lebih baik. Perfectionist juga bisa bikin hasil karya lebih baik lagi, tapi waktunya bisa lebih lama. Jadi terserah situ sih.
- Artistic: dari deskripsi dalam game, Sim yang artistik bisa menciptakan lukisan yang bagus dan juga menulis dengan baik. Ini akan membantu dalam meningkatkan mutu lukis dan nulis.
- Bookworm: mempercepat Sim baca buku. Semakin banyak buku yang dibaca, maka hasil tulisannya akan semakin bagus, sekaligus lebih cepat selesai juga. Dan untuk naikin level skill juga lebih mudah kalau yang ada bukunya.
- Handy: karena selalu pakai komputer, sesekali mungkin akan rusak. Apalagi kalau masih misqueen, barang-barang yang di rumah masih murah dan mungkin gampang rusak juga. Nah daripada panggil mekanik melulu, setidaknya Sim yang handy bisa betulin barang-barang itu lebih baik dari Sim yang enggak handy.
- Natural Cook: nah ini yang buat 'menuhin kebutuhan' yang Blogger bilang tadi. Sebenernya ini gak begitu penting, tapi lumayan buat naikin level skill, toh bukunya juga banyak.
- Computer Whiz: Blogger gak pernah kasih trait ini ke Sim pertama, karena tujuan trait ini untuk Blogger adalah agar Sim bisa hack dan menghasilkan duit dari jam 9 malam sampai 7 pagi. Bisa aja sih jadinya kerjaan samping Writer adalah hacking dan bukan lukis, terserah situ deh, tapi kalau Blogger sih enggak. Biar kalau ada waktu lebih, Sim nomor satu langsung ngetik.
- Kleptomaniac: hanya bisa nyolong 3 kali sehari saat hari gelap dan saat gak ada orang di tempat itu. Dibanding Computer Whiz, Blogger lebih mau kasih trait ini ke Writer. Lumayan nambah penghasilan (dengan jual hasil curian) sekaligus biar gak terlalu bosan di rumah terus.
- Neat: trait ini buat Sim kedua. Ada enak dan gak enaknya. Enak karena gak perlu datangin maid untuk bersih-bersih. Gak enak karena kalau ada yang kotor sedikit dia langsung dapat moodlet negatif dan kadang gak mau mengerjakan apa dengan barang yang bersangkutan. Wajar sih.
- Lucky: terutama awal main, sedih banget kalau udah misqueen kok masih bisa kecolongan maling. Nah kalau pakai trait ini, akan meminimalisir kemungkinan kemalingan itu. Setidaknya barang yang kamu beli gak bakal pindah tangan. Tapi trait ini gak begitu penting kalau tujuan utamanya 'cepat kaya'. Malah kalau memang sebegitu gak pengen kecolongan, mending Sim Kedua dikasih trait ini lalu ambil karir kriminal dan jadi pencuri, kalau gak salah rumah pencuri (karir) gak bakal kemalingan.
- Hopeless Romantic: cara kedua mudah kaya di The Sims 3 selain nulis adalah dengan kawin-cerai. Gak mesti sama yang kaya, sama maid pun silakan. Kalau nikah, kamu bakal dapat uang sedikit dari pernikahan, lalu suruh pasangan itu beserta keluarganya pindah ke rumah kamu biar dapat uang lebih dari hasil jual rumah kemudian depak mereka keluar. Bisa juga kamu yang pindah ke rumah pasangan kalau memang rumahnya bagus, karena kayaknya kalau jual rumah yang memang punya kamu hasilnya bisa lebih banyak. Omong-omong, setelah nikah itu, langsung ceraikan, cari yang lain, ulangin. Bejad banget sih, tapi trait ini akan sangat bantu untuk melakukannya. Dari Blogger, biasanya dikasih ke Sim nomor 2, biar Sim pertama fokus nulis aja. Tapi kalau Sim nomor 2 itu sudah Computer Whiz dan atau Kleptomaniac, mungkin akan ribet kalau dikasih ini juga. Kalau teuteup mau dikasih semua, ya harus pinter bagi waktu biar gak berasa ribet. Seperti misalnya Senin-Jumat hacking-swiping, Sabtu dan Minggu kawin cerai. Terserah sih.
Lagi-lagi, terserah situ sih.
Langganan:
Postingan (Atom)