Rabu, 20 Februari 2019

Semalam di Singkawang, lalu balik Pontianak.

 Karena gak nyangka bakal ke Singkawang juga, jadi pesen hotelnya sudah telat, sudah deket banget Cap Go Meh. Tapi di hotel ini gak begitu masalah, karena ada pantainya.
Omong-omong, perjalanan dari Semitau ke Singkawang itu sekitar 13 jam dengan mobil.



 Sudah lama gak main ke pantai, enak deh. Sepi, pula, jadi bebas main air.

 Mau makan Choi Pan.

 Pesan 40 biji buat berenam.

 Lalu habis.

 Tahun lalu di stadion ada tempat jalan di atas kaca, gak tau sih Blogger gak pernah lihat di gugel, tapi papa lihat di yutup. Masalahnya tahun ini sudah ganti singa.





 Tugu khatulistiwa.


 Langitnya bikin galau ih.

 Makanan terakhir di pusat Pontianak sebelum balik ke Jakarta: Mi kepiting!

Oke, gini, Waktu pergi hanya bawa 7 terbawah itu, plus TTS + Sudoku. Di Bandara mau ke Malaysia, sambil nunggu, Blogger beli nomor 8 dan 9. Lalu sehari sebelum pulang, di Mega Mall Pontianak, Author beli nomor 10 dan 11. Untung beli, karena semua habis di bandara. 1 Light Novel itu mungkin hanya sekitar 30-40 menit, padahal isinya sekitar 200an halaman tapi ada beberapa halaman yang isinya memang gambar doang. Omong-omong, Blogger tidak baca dalam kamar, karena posisinya lebih enak buat isi TTS. Jadi lembar TTS yang habis adalah 72. Dan ini belum dengan 1 E-Book yang habis terbaca saat antri di bagian imigrasi.

Dua Malam di Semitau





























 Semitau itu jarang ada orang tau. Mungkin itu sebabnya dikasih nama semi(sebagian)tau. Itu kampung papa, daripada orang bingung, jadi selalu bilang di Pontianak aja. Jaraknya sekitar 500an Km dari Pontianak, sekitar 11 jam pakai mobil. Kesana hanya satu jalan, bener-bener satu, gak ada cabang, untung sudah diaspal. Perjalanan kesana itu anggap aja mau ke puncak, tapi ini lebih ngeri, mungkin karena ada jembatan yang bener-bener dari kayu.

Apa? Air keran? Keluarnya air sungai Kapuas, jadi kayak susu coklat. Sejernih-jernihnya itu teh yang kurang celup. Jadi Blogger sampai beli air galon untuk bilas badan (bukan mandi). Padahal, selain tentang air, Blogger mau aja lebih lama disini.



 Ada puskesmas kecil dan klinik yang cukup besar untuk ukuran Semitau, tapi ini adalah satu-satunya sekaligus yang pertama untuk rumah sakit. Posisinya ada di ujung banget, dimana tanah sekitarnya masih kosong.

Ini hidangan malam terakhir di Semitau, di rumah temen sekolah papa. Ada durian hutan (Blogger kurang suka duren), ada kerupuk basah, dan ada bakwan ikan bilis. Ikan bilis itu sedikit lebih besar dari ikan teri. Mama Blogger sesekali bikin bakwan teri, jadi Blogger gak masalah makan bakwan bilis ini. Tapi karena kebanyakan, sampai sekarang masih agak batuk.