Jumat, 24 Mei 2019

Akazukin Chacha: salah satu fandom pertama Blogger

Judul entri ini panjang ya, biar deh, soalnya memang bener. Berbeda dengan Harry Potter, Detective Conan, Digimon, Doraemon, Kobo-chan, P-Man, Power Rangers, Barbie, Naruto, Ninja Hattori, dan beberapa fandom yang Blogger masukin sejak kecil lainnya, Akazukin Chacha masuk dalam kategori fandom yang Blogger masukin tanpa dituntun orangtua atau ikut Koko. Beneran. Sejumlah fandom yang Blogger sebut tadi itu bisa Blogger tahu karena dikenalin oleh Mama. Sedangkan untuk Akazukin Chacha, Blogger nonton animenya (secara tidak berurutan) lewat stasiun televisi swasta zaman awal SD, dan Blogger sangat menyukainya.

Saat itu, yang pasti, Blogger gak tahu kalau itu adalah adaptasi dari manga. Jadi ketika Blogger sedang cari-cari manga sambil nunggu kelanjutan Detective Conan, Blogger nyaris keselek lihat judul beserta sampulnya. Bagi yang belum sadar, di Indonesia ini dikenal sebagai Si Penyihir Chacha. Di situs manga online yang Blogger temukan, manganya, belum selesai diterjemahin. Entah maksudnya memang gak ada bahan atau memang penerjemahnya hiatus, tapi gapapalah.

Ketika baca manganya, Blogger langsung nostalgia. Memang tidak pernah nonton berurutan dari awal sampai akhir, tapi ada beberapa adegan yang Blogger inget ada di animenya. Lucu dan bikin geregetan sendiri. Padahal kalau dari segi artwork, enggak istimewa. Jalan ceritanya juga sebenernya mungkin karena targetnya untuk anak-anak jadi cuman buat hiburan aja. Jadi kalau sekarang Blogger ikutin serialnya, dengan cara pikir Blogger yang sekarang, agak bingung aja kenapa Blogger bisa suka banget.

Karakter-karakternya gak begitu Blogger inget (berikut dengan plotnya). Hampir semua tiba-tiba Blogger inget karena lihat di manganya. Sebelum baca manganya, hanya empat karakter yang Blogger ingat dari serial ini: Chacha (iyalah, dia tokoh utamanya), Ria (nama resminya adalah Riiya, tapi sebelum baca manga dan cek wiki, selama ini Blogger tulisnya 'ria'), Sai (nama resminya adalah Shiine, entah kenapa Blogger bisa ingetnya 'sai', maap banget, beneran), dan Seravi (nama resminya adalah Seravy, dan dia adalah salah satu cinta pertama Blogger bahkan sebelum tahu Hatake Kakashi). Iya, Blogger lupa tentang Dorothy, tapi saat baca manganya, langsung inget tentang relasi Seravy dengan Dorothy.

Tentang Seravy, beneran deh, Blogger selalu inget tentang dia (bersama dengan tiga karakter lainnya). Kemudian sekitar kelas lima atau enam, Blogger kenal Nakayoshi, saat itu masih awal-awal muat manga Mamotte Lollipop (atau Sweet Lollipop), bahagia saat lihat tokoh Will muncul. Saat itu, Blogger memang bukannya mikirin Akazukin Chacha setiap saat, cuman sesekali inget, langsung teringat fandom tersebut saat lihat tokoh Will. Mereka bukan mirip, sama sekali bukan. Tapi tokoh Will spontan mengingatkan Blogger pada Seravy, dan Aquamarine seperti Elizabeth padahal beda banget spesiesnya. Malah sekarang, Blogger jadi kepikiran bahwa Nina seperti Chacha, Zero seperti Riiya, dan Ichii seperti Shiine. Perihal Zero-Riiya dan Ichii-Shiine itu lebih karena faktor rambut sih, karena sikap mereka terbilang jauh dari mirip.

Ketika entri ini dibuat, itu sudah sekitar dua bulan sejak Blogger baca manganya, tapi belum sempet nonton animenya, karena nonton ulang Detective Conan baru sekitar episode 800an.

Rabu, 22 Mei 2019

The Werewolf Game, tanpa Remus Lupin dan Jacob Black

The Werewolf Game, atau yang aslinya adalah The Mafia Game, adalah permainan menggunakan peran tertentu yang bisa dimainkan dalam satu kelompok yang setidaknya terdiri dari lima pemain, dan diperkenalkan pertama kali oleh Dmitry Davidoff pada tahun 1986, atau begitulah kata beberapa situs.

BLOGGER BELUM PERNAH MAIN THE WEREWOLF GAME SAMA SEKALI.

Beneran. Tapi, permainan-serupa-tak-sama pernah Blogger mainkan. Seperti, Blogger gak tau nama aslinya, tapi ada peran polisi-pencuri-warga-algojo-hakim-jaksa, itu sempat nge-trend saat Blogger SD. Disitu, peran pencuri jadi mirip Werewolf. Pernah juga tahun lalu Blogger main Undercover, cara mainnya agak beda sih, dan menuntut semua orang tanpa terkecuali harus berpikir keras----kapan-kapan Blogger nulis tentang ini kalau ingat. Tapi sekali lagi, untuk permainan Werewolf, Blogger belum pernah main.

Walau belum pernah main, Blogger tetap tahu cara mainnya, karena ketika sedang sangat naik daunnya di Indonesia, murid-murid Blogger selalu main itu bahkan ketika retreat, sehingga Blogger jadi tahu cara mainnya. Di Youtube banyak juga video-video permainan ini, dan kelamaan Blogger berpikir bahwa iya itu seru. Disitu Blogger mulai tertarik untuk bikin fanfiksi yang bertemakan TWG tapi para karakternya bukan 'main', makanya fanfiksi The Vampire Game muncul.

Tapi, karena pengetahuan Blogger tentang TWG hanya berdasarkan nonton orang main menggunakan kartu dan narator, Blogger jadi gak yakin bisa membuat cerita yang karakternya bukan main melainkan memang ada kasus yang harus dipecahkan. Disitu Blogger ingat pernah ada fanpage di FB yang taruh manga Jinrou Game chapter satu. Sebenarnya menarik, tapi karena mengerikan, saat pertama kali lihat itu Blogger tidak tertarik baca lebih lanjut. Nah, demi kepentingan ngetik fanfiksi, Blogger memaksakan diri untuk baca manga-nya sampai habis.

Dari sekian banyak peran yang ada di TWG, setidaknya ada tiga peran yang menarik bagi Blogger.
  1. Twins. Mungkin ada banyak versi, tapi yang jelas akan ada dua orang yang dapat peran ini. Mereka akan tahu siapa 'kembaran' mereka satu sama lain, berarti setidaknya mereka tahu bahwa kembaran mereka bukan Werewolf sehingga mereka bisa saling percaya.
  2. Cupid. Menurut situs-situs yang Blogger baca, peran ini masuk ke bad side, berarti peran pendukung kemenangan Werewolf, karena tujuan mereka harusnya memasangkan Villager dengan Villager untuk menjadi pasangan, sehingga kalau Villager yang satu mati ya berarti yang dipasangin dengannya akan ikut mati, dan itu akan mempermudah kemenangan Werewolf. Masalahnya, Cupid hanya bisa pakai kekuatannya di malam pertama, sisanya dia jadi Villager biasa, dan dia sendiri pun gak bakal tahu mana yang good side, maupun bad side
  3. Lovers. Ini beda dengan pasangan yang kena panah cintanya Cupid. Orang yang dapat kartu Lovers ini bisa memasangkan dirinya dengan siapa pun, bisa gonta-ganti pasangan tiap malam kayak playgirl/boy. Dia ada di good side, sebisa mungkin memasangkan diri dengan Werewolf, karena jika si peran Lovers ini atau pasangannya mati maka yang satu akan mati juga. Iya, dia kan gak tau siapa yang Werewolf, lalu pas di malam dia pasangin diri dengan Werewolf ternyata malah kena Werewolf ya berarti pasangannya yang adalah Werewolf itu juga ikut mati bareng dia.
Ketiga peran favorit Blogger ini tentang pasangan semua ya, entah kenapa bisa begitu. Terutama yang nomor dua dan tiga, itu bisa jadi bumerang baik untuk pihak sendiri maupun pihak lain, makanya itu jadi menarik. Penjelasan lebih lengkap tentang ketiganya bisa dicari lewat internet. Kayaknya ketiganya juga hampir gak pernah dipakai dalam permainan TWG biasa, Blogger pun belum pernah lihat permainan menggunakan ketiga peran ini di dunia nyata maupun Youtube, bisa tahu tentang mereka hanya karena manga Jinrou Game serta saat cari referensi arti peran demi bikin fanfiksi. Iya, jadi peran dalam TWG tidak melulu Villager-Werewolf-Guardian-Seer, ya, terutama kalau pemainnya di atas 15 orang. Kalau ditelusuri, peran-peran dalam TWG banyak yang menarik kok, kayak Bartender, Prince, Hunter, berbagai macam jenis Werewolf seperti Alpha-Beta-Lone Wolf, bahkan ada kartu Vampire juga. Cuman, yah, gitu, semakin banyak pemainnya bakal semakin lama juga durasi mainnya.

Senin, 20 Mei 2019

Boruto episode 107

#TIMANJING


Apa? Kamu #timkucing ? Yah, berarti kita gak jodoh /bukan.


Episode kemaren memang bikin ngakak gara-gara berhubungan dengan Icha-Icha Paradise, dan Kakashi super duper OOC sangat. Tapi episode ini agak bikin perasaan adem (tentang Kakashi) karena memang itu Kakashi banget, seperti zaman dia masih jadi guru Tim 7.

Blogger gak fangirlingin Kiba, tapi episode ini membuat Blogger sangat senang karena dia manggil Kakashi dengan sebutan 'Kakashi sensei'. Iya tau angkatan Naruto semua masih manggil Kakashi dengan embel-embel sensei, bukannya Hokage (walau saat jadi Hokage aktif) atau Rokudaime atau malah Kakashi-sama. Tapi karena ini sudah next-gen, sangat wajar kalau panggilan sensei untuk Kakashi hampir gak pernah terdengar. Dari episode kemarin, Guy manggil Kakashi hanya dengan nama, sedangkan Mirai dengan sebutan Kakashi-san. Makanya saat ada Kiba, lalu dia manggil Kakashi dengan sebutan sensei, itu Blogger seneng banget.

Dan Kakashi itu #timanjing walau dia gak bawa Pakkun dan lainnya.


Hal lain yang bikin Blogger seneng adalah karena Boruto sama sekali tidak muncul atau bahkan tidak disebut sama sekali. Gini, saat filler dengan tim lain, Boruto tetep muncul walau hanya sekedar numpang lewat untuk satu dialog. Episode kemaren dia juga muncul saat Mirai lagi OTW ketemu Kakashi dan Guy. Tapi episode ini bener-bener gak ada. Keluar dari judul utama banget sih, tapi dia memang gak ada fungsinya di tema Mirai ini.

ITU TOLONG SHINO DIKASIH PASANGAN YANG LAIN SELAIN KURAA-MA.
Kiba udah bertahun-tahun (kalau gak salah) dengan Tamaki, Shino masih jomblo. Kakashi dan Guy juga jomblo sih, tapi Shino jomblo ngenes.

Cuplikan untuk episode selanjutnya cukup membuat Blogger seneng juga, karena ada Tenten. Banyak yang gak suka Tenten, dan Blogger juga gak begitu demen dengan dia. Kalau banyak orang bilang Sakura adalah tokoh yang gak berguna, maka Blogger akan bilang bahwa Tenten masih lebih gak berguna lagi. Tapi Blogger gak benci dia, biasa aja. Dan karena ada Guy, Blogger seneng aja muncul Tenten, mengingat murid Guy yang tersisa tinggal dia dan Rock Lee.

Tentang Arc (?) beberapa episode ini, mungkin maksudnya tentang jati diri Mirai kali ya? Karena sudah dua episode berlalu dan tidak ada pertarungan yang serius. Kakashi dan Guy benar hanya liburan saja, dan tingkah mereka seperti hanya untuk lawak saja. Tapi dibilang fokus ke Mirai juga agak-agak ngambang sih.

Undercover Princess oleh Connie Glynn

Ini adalah novel pertama dalam serial The Rosewood Chronicles, karangan Connie Glynn.
Pertama, Blogger gak pernah dengar/lihat nama sang penulis sebelum memutuskan untuk mengambil buku ini di toko buku. Setelah dicek, ternyata memang ini novel debutnya. Walau debut, ternyata dia sudah lebih dulu dikenal sebagai seorang Youtuber.
Kedua, sampul depannya tidak begitu menarik, setidaknya bagi Blogger pribadi. Simpel, bersih, gak berantakan, oke sih. Cuman yah dengan judul dan sampul begitu, Blogger yakin isinya drama banget (DAN MEMANG IYA). Ketika ke toko buku saat itu, Blogger sedang incar Finale (Stephenie Garber) dan The Red Scrolls of Magic (Cassandra Clare) tapi gak nemu. Daripada tangan kosong, Blogger keliling-keliling dan memutuskan untuk beli Undercover Princess ini.
Ketiga, sinopsisnya tidak sesuai dengan isinya sama sekali, dan Blogger sebal.

Ceritanya benar-benar drama. Soal putri kerajaan, penyamaran, sosok pelindung, sekolah asrama, tanpa sihir. Beneran, untunglah tanpa sihir. Kalau ada sihir, Blogger langsung mikir ini semacam gabungan Harry Potter dan Hex Hall. Apalagi pembagian asramanya itu loh, Harry Potter banget kesannya.

Permasalahan dan klimaks yang ada cukup oke, pengembangan plotnya walau agak lambat juga cukup dipahami. Tapi menurut Blogger pribadi agak kurang seru dan atau menegangkan. Memang membuat penasaran soal siapa yang mengirim surat pada Lottie, tentang kenapa Leviathan melakukan itu, tapi tidak seru.

Klise besarnya juga ada. Itu tuh, tentang 'tokoh yang paling mencurigakan/diminta untuk dijauhi sebenarnya bukan penjahat yang sesungguhnya'.

Tentang Lottie dan Ellie, Blogger gak bisa bilang senang dengan karakter mereka. Pada pertengahan awal, Blogger suka sikap Lottie lalu merasakan ketidakkonsistenan pada Ellie. Pertengahan akhir, Lottie terasa menyebalkan, sedangkan Ellie menjadi menarik.
Soal ketidakkonsistenan Ellie itu maksudnya gini. Dari awal Ellie ingin masuk Rosewood dan bersikeras ingin jadi rakyat biasa, tapi kok bisa-bisanya dia sangat bitchy terhadap Lottie di awal pertemuan? Itu maksudnya apa? Sekali lagi, Ellie yang bersikeras mau ke sekolah ini, bukannya dia dipaksa kesitu loh.

Tentang Jamie, dia di novel ini maksudnya dijadiin tokoh untuk difangirlingin gitu ya? Penokohannya kurang greget. Blogger bisa merasakan dia menarik, tapi, gimana ya. Kayak, awal dateng udah menarik, lalu biasa aja, kemudian menarik menarik menarik, eh tetiba jadi biasa aja. Gitu. Mungkin di buku kedua akan diperjelas.

Blogger paling suka penempatan tokoh dan pembagian peran disini. Tapi dibanding jalan cerita, Blogger banyak mendapatkan soal karakterisasi di novel ini.

Status pairingnya masih tanda tanya. Apakah ini akan menjadi Ellie x Jamie, Lottie x Jamie, atau bahkan Ellie x Lottie. Buku pertama benar-benar seperti pengenalan tokoh dan situasi. Menurut spoiler buku kedua yang tersebar, Lottie adalah bi, dan itulah yang Blogger gak mau. Gini, Blogger lahir, besar, dan tinggal di Indonesia, yang secara lingkungan telah diajarkan untuk menjadi straight. Blogger gak mau permasalahin kalian yang enggak straight atau bi, itu urusan kalian, Blogger biasa aja. Tapi kalau Blogger, saat baca/nonton, pengennya mereka straight, atau setidaknya jangan bi. Iya, Blogger cengin beberapa pasangan yaoi, tapi ya sampai situ aja.

Kembali soal cinta segitiga yang entah benar iya atau enggak di novel ini, selain gak ingin Lottie bi, Blogger juga sangat mengharapkan novelisnya fokus ke jalan ceritanya, jangan terlalu digali untuk romancenya. Iya, romansa akan menambah daya tarik, tapi Blogger lebih mengharapkan drama dengan Leviathan, bukan cinta segitiga. Lagian, Ellie x Jamie itu terasa seperti Winter x Jacin di The Lunar Chronicles, sedangkan Lottie x Jamie itu mainstream.


Fiuh.

Sekarang tentang perbedaan sinopsis dengan isi novel.
Pertama, LOTTIE TIDAK TEROBSESI MENJADI SEORANG PUTRI. Versi sinopsis bahasa Inggris, dia terobsesi pada DONGENG, dan itulah yang benar. Jika dia ingin menjadi seorang putri, maka dia gak perlu mengoreksi kesalahpahaman yang terjadi di sekolahnya, dan main mengiyakan saja di awal orang salah paham.
Kedua, LOTTIE DAN ELLIE TIDAK BERTUKAR IDENTITAS. Kalau mereka benar tukaran, harusnya jadi kayak serial TV 100% Senorita dari Taiwan (di Indonesia kenalnya Twins). Mereka masih menggunakan nama Lottie Pumpkin dan Ellie Wolf. Iya, untuk beberapa adegan Lottie harus menjadi Eleanor, dan Ellie menjadi kerabat yang datang, tapi mereka tidak bertukar identitas, mereka berpura-pura. Versi sinopsis bahasa Inggris itu lebih benar, karena memang 'Lottie pura-pura jadi putri agar Ellie bisa lebih menjalani hidup sebagai gadis biasa'.

Blogger gak tau kenapa sinopsis versi Indonesia dengan Inggris beda gitu. Tapi yang pasti, kopian yang Blogger punya ini, sinopsisnya ngaco, malah terasa seperti The Prince and the Pauper.

Novel Undercover ini bagusnya sedang-sedang aja. Kalau tertarik dengan keputri-putrian, silakan baca. Dramanya bagus, Blogger suka kepribadian putri Ellie yang tidak anggun.

Minggu, 19 Mei 2019

The Eleventh Striker, bukan film kesebelas

Itu adalah movie keenambelas Detective Conan. Beneran, ke-16, bukan 11, beda dengan judul. Padahal di film ke 15, semua serba 15 termasuk judul. Sedangkan film ke 16 ini, selain tentang pelatihan keenambelas, semuanya tentang sebelas, kecuali kalau ternyata ada 16-16 yang tidak disebut secara harafiah.

Menurut Blogger, petualangan Conan di movie ini mungkin yang paling menyenangkan sekaligus menegangkan (dinilai dari 16 film) untuk tokoh Conan, karena ini adalah tentang sepakbola. Memang, dia pernah sangat menguasai materi saat film The Phantom of Baker Street, tapi ya begitu saja, dia tidak benar menjadi Sherlock Holmes, hanya masuk ke dunia yang ia gilai itu. Tapi sepakbola adalah hal favorit Shinichi selain misteri, dan Blogger sangat menikmati saat melihat Shinichi, dalam wujud Conan, bisa bermain bola tanpa khawatir mendapat curiga dia bukan anak kecil. Jadi, seakan, ia menjadi dirinya sendiri. Shinichi tampak menikmati tiap kali mendapat pelajaran tentang permainan bola, lalu menjadi 'pahlawan' karena mengaplikasikan apa yang ia pelajari di awal film ini. Makanya Blogger bilang, bahwa petualangannya di film ini mungkin yang paling menyenangkan sekaligus menegangkan bagi seorang Kudo Shinichi yang terperangkap dalam wujud Edogawa Conan.

Oke, sekarang tentang film secara keseluruhan.

Ada lima tersangka. Dalam ledakan stadion pertama kali, Blogger tahu dua orang dari Nichiuri itu bukan pelakunya. Si Bapak, di awal sangat aneh memperlihatkan foto anaknya tanpa ngasih tahu maksudnya, memang bisa jadi motif, tapi Blogger pikir bukan dia. Kemudian Pemain Bola, motifnya terlalu gimana gitu, kecuali kalau dia punya motif lain yang, seperti biasa dalam film DC baru ketahuan masa lalunya di pertengahan akhir. Sedangkan Mantan Pemain yang digiring ke kantor polisi, Blogger pikir bukan.

Payahnya, Blogger sempet pikir pelakunya KK, gara-gara kain merah yang sama dengan yang dikasih ke Conan. Jika benar dia, semua jadi klise. Tapi mikir lagi, gak mungkin, karena Anak Kecil yang di foto itu umurnya masih terlalu muda saat meninggal untuk masuk Liga Jepang.

Saat mulai ledakan stadion kedua, Nichiuri yang Cowok jelas bukan pelakunya. Pemain Bola, karena gak kelihatan sama sekali sejak ketemu Kogoro di awal, Blogger gak curigain dia. Mantan Pemain punya alibi, jadi Blogger pikir dia inosen. Lalu ada Si Bapak, dia punya motif terbesar sejauh ini, tapi Blogger masih pikir bukan dia. Dengan kata lain, di antara lima tersangka, Blogger lebih mencurigai Nichiuri Cewek.

Eeeeehh ternyata, yang dimaksud dengan pengalihan dan alibi itu malah Mantan Pemain. Tuh kan, kebiasaan DC, motif-motif terselubung baru dibuka ketika sedang dipaparin kebenarannya. Ya kalau begitu penonton juga gak bakal bisa nebak dengan sempurna.

Lagi-lagi Blogger kecewa dengan epilognya. Gak masalah kalau terungkap apa yang terjadi di masa lalu saat Shinichi main bola oleh Ran, tapi Blogger lebih ingin tentang bagaimana Kogoro-Megure-dan kepolisian lainnya mengurus bom yang ada di tempat Ran dan Sonoko, apalagi Kogoro gak tau kalau anaknya ada disitu. Pokoknya tau-tau di epilog mereka udah selamat dan bilang gak nyangka ada bom di tempat mereka.

Sabtu, 18 Mei 2019

Zordon vs William Mitchell

Kalau lihat atau dengar nama Zordon, kalau Blogger, otaknya langsung nyantol ke Power Rangers. Dan memang, entri kali ini tentang Power Rangers. Lalu, siapa William Mitchell? Dia adalah komandan di Power Rangers Lightspeed Rescue, paling terkenal dengan panggilan Kapten Mitchell. Asal tahu aja, ketika mau ngetik entri ini Blogger bahkan lupa bahwa nama depan sang kapten adalah 'William'. Makasih Om Gugel udah ingetin.

Beda kepemimpinan, beda peraturan, dan itu wajar. Ini terjadi di season 8 serial Power Rangers. Bagi yang ikutin Power Rangers dari season 1, pasti bisa langsung merasakan perbedaan besar Mighty Morphin dengan Lightspeed Rescue di episode pertama PRLR.

Zamannya Zordon, ketika ia merekrut lima remaja sebagai tim Power Rangers pertama, setidaknya dia kasih dua peraturan: tidak boleh pakai kekuatan Ranger untuk kepentingan pribadi, dan harus merahasiakan identitas sebagai Ranger. Peraturan pertama masih dilakukan sampai season 26 yang sedang tayang, karena hal klise yakni orang yang terpilih menjadi Ranger BIASANYA adalah orang baik atau orang yang kemudian menjadi baik. Sedangkan peraturan kedua, sama sekali tidak dipakai di season 8.

Balik sebentar ke In Space, pada episode terakhir, mereka mengabaikan peraturan nomor dua dari Zordon. Tapi itu bisa diwajari, karena maksudnya biar warga jangan terluka lebih lanjut. Tapi toh setelahnya, di Lost Galaxy, walau tidak ada yang menyuruh atau memberitahu, Galaxy Ranger merahasiakan identitas mereka sampai akhir.

Bagaimana dengan PRLR?

MEREKA MALAH BERUBAH JADI RANGER DI HADAPAN ORANG BANYAK PADA EPISODE PERTAMA.

Kacau. Dan Kapten Mitchell sama sekali tidak mempermasalahkan itu, atau setidaknya tegur atau apa lah. Kenapa enggak berubah dari markas lalu keluar ke jalan sudah jadi Ranger? Kenapa tidak mengevakuasi seluruh warga yang sedang ada di jalan itu, setelah kosong, baru jadi Ranger? Kenapa harus dipamerin?!

Di universe mereka, kelima orang itu terutama Dana sadar bahwa ada generasi Power Rangers sebelum mereka, yang identitas selain Space Ranger dirahasiakan, kenapa gak diikutin?! Karakter Joel itu dapat dipahami dan wajar, sifatnya realistis di dunia nyata. Kalau setelahnya dia menjadi sok hebat, itu wajar, karena dari awal sifatnya seperti itu. Masalahnya, ketika mereka berlima berubah jadi Ranger dihadapan orang-orang, yang menyebabkan warga tahu mereka adalah Power Rangers, Joel bisa jadi makin besar kepala. Omong-omong, yang Blogger permasalahkan adalah warga biasa ya, bukan orang-orang di markas.

Di Mighty Morphin, peraturan dari Zordon tentang tidak boleh pakai kekuatan semena-mena, Blogger paham maksudnya. Tapi tentang harus merahasiakan, Blogger gak paham kenapa saat itu. Maksudnya, ya kalau ketahuan kenapa? Toh setidaknya kalau identitas mereka diketahui, warga bisa langsung kontak mereka kalau ada monster, atau para guru akan memaklumi kalau mereka gak masuk sekolah. Kemudian, Blogger nonton (ulang) episode 8 PRLR, dan menjadi paham, bahwa itu adalah salah satu konsekuensi terlanggarnya aturan Zordon nomor dua.

Pertama kali nonton episode 8 itu, Blogger masih sekitar SD, dan tidak ada subtitle, dubbingnya pun masih asli bahasa Inggris, jadi Blogger gak bener-bener paham apa yang terjadi antara Chad dan Brian si berandal. Sekarang, Blogger nonton ulang, dan baru paham. Brian yang tahu bahwa Kelsey dan Chad adalah Ranger Kuning dan Biru, nantang Chad berkelahi sambil bilang bahwa mereka gak bisa apa-apa tanpa kekuatan Ranger. Itu, makanya Zordon suruh generasi pertama rahasiain, biar Ranger jangan terprovokasi warga umum seperti yang nyaris dilakukan Kelsey. Seenggaknya, kalau identitas mereka masih rahasia, Brian hanya akan cengin pemuda-pemudi yang mereka temukan seperti dia cengin pasangan yang lain. Nah, karena dia tahu mereka Ranger, jadilah seperti itu.

Menjadi Ranger yang harus melawan monster dan membantu warga dengan jam kerja yang tak menentu sambil menjadi warga normal saja sudah sulit, sekarang Ranger di season 8 harus dihadapkan tatapan mata warga yang telah tahu mereka Ranger. Tim ini harus siap kalau suatu saat ada yang memang gak demen sama mereka lalu dengan sinis bilang 'kan kamu Power Ranger, gini aja kok gak bisa?', atau 'mentang-mentang Ranger, sombong banget.' , dan sejenisnya. Mungkin itu bisa melatih mental dan ketulusan Ranger atau apa, tapi itulah dia, Zordon gak ingin timnya pusing soal itu.

Kapten Mitchell, bagi Blogger, tetap adalah salah satu mentor terbaik yang dimiliki Power Rangers. Dia bisa ambil keputusan ini-itu dengan benar, serta melatih para Ranger sesuai bidangnya. Dia setia memantau anak buahnya, dan tidak pilih kasih walau Dana (dan setelahnya Ryan) adalah anaknya sendiri. Dia tahu kapan harus jadi komandan, kapan harus jadi seorang ayah. Karakterisasinya baik, mungkin lebih baik dari Zordon.
Hanya saja, minusnya cuman di bagian bahwa dia tidak melarang Ranger membeberkan identitas mereka.

Kamis, 16 Mei 2019

Tessa Gray, lebih Mary-Sue daripada Clary dan Emma

The Infernal Devices sampai saat ini masih menjadi serial terfavorit Blogger dari semua karya Cassandra Clare, sedangkan The Dark Artifices itu maksudnya bukan yang paling buruk tapi memang Blogger paling tidak suka yang serial itu. Tapi semua karya Cassandra Clare yang Blogger baca suka semua kok, cuman bintangnya aja ada yang lebih banyak dari yang lain.

Yang membuat Blogger sangat suka TID dibanding yang lain adalah karena Will dan Jem adalah pasangan parabatai terbaik yang ada di Shadowhunter Universe. Itu pendapat Blogger. Kisah per-parabatai-an mereka ini diceritakan sangat baik, mungkin karena masing-masing dari mereka berdua punya kisah kompleks. Sedangkan kasus Jace dan Alec, yang kompleks hanya Jace---bukan berarti Alec gak kompleks, tapi bagi Blogger itu gak sebanding. Lalu soal di TDA, gak usah diomonginlah. Hal lain yang membuat Blogger seneng TID adalah karena dia prekuel atau awal mula dari cerita utama yakni The Mortal Instruments, jadi setiap nemu nama orang atau marga yang ada di TMI tersebut di TID, Blogger langsung berfangirlingan sendiri. Hal berikutnya, ini menurut Blogger, tapi dari serial yang lain, karakterisasi tokoh TID adalah yang paling baik, feelnya nyampe semua.

Secintanya Blogger pada Will Herondale serial TID, Blogger sangat gak suka dengan tokoh Tessa Gray yang menjadi tokoh utama di serial ini.
Tunggu, memang sih Blogger hampir gak pernah menjadikan tokoh utama sebagai tokoh favorit, malah lebih sering masuk daftar tokoh yang kurang disenangin. Tapi khusus untuk Tessa, yah, dia renking satu untuk tokoh TID yang Blogger paling gak suka. Blogger juga gak seneng dengan karakter Clary dan Emma, mereka semua sangat terasa mary-sue atau terlalu sempurna, tambah lagi mereka menyebalkan. Padahal penokohan selain ketiga tokoh utama ini bagus-bagus banget loh, porsi setiap orang pas, tapi kenapa tokoh utamanya, yang kebetulan perempuan semua, dibuat begitu sempurna?

Sebenarnya, di Clockwork Angel, Blogger seneng dengan Tessa, dan turut bersimpati atas apa yang dia alami. Apalagi dia senang membaca, berarti setidaknya dia tidak seegois Jessamine yang karakterisasinya sangat kuat dari awal sampai akhir. Tapi, di Clockwork Prince, Blogger mulai gak suka dengan Tessa, karena dia begitu plin-plan tentang dia maunya sama Will atau Jem. Gini, wajar kalau orang suka lebih dari satu orang dan bisa pas orang-orang tersebut suka balik, dan itu terjadi pada Tessa. Blogger gak masalah, karena berarti salah satu konflik sampingannya ya itulah. Tapi, di novel kedua itu, tampak seperti Tessa ingin kedua orang itu. Kacau. Yah, setidaknya di bagian-bagian terakhir Tessa berhasil 'menepis' Will dan berusaha fokus untuk tetap dengan Jem. Tapiiii, Clockwork Princess adalah puncak ke-mary-sue-an Tessa Gray, karena ujungnya memang dia mendapatkan keduanya.

Oke, gak di waktu bersamaan sih, tapi Tessa-nya sendiri yang bilang bahwa dia gak bisa mencintai Will kalau gak mencintai Jem. Mungkin maksudnya dia mencintai kedua cowok itu sebagai satu pribadi atau apa, Blogger gak tahu. Tapi yang pasti Tessa mengakui bahwa dia cinta keduanya. Wajar, oke, tapi lu harus milih, woi, jangan mentang-mentang keduanya mau sama elu dan masing-masing mau ngalah sama yang lain lantas lu ayok aja, gimana sih. Hidup ini gak seindah dan semudah itu ferguso. Iya, Jem 'mati', makanya Tessa bisa nikah dengan Will. Tapi Tessa bilang dia masih teuteup selalu cinta Jem. Kalau dia pengen setia, ya berarti dia akan tetep nunggu Jem aja. Jangan mentang-mentang setelah Will mati kemudian Jem balik lantas elu jalan sama dia lagi.

Clary, dia mary-sue. Cinta segitiga itu wajar. Cewek suka sama cowok yang baru dia temui tanpa sadar teman kecilnya selalu suka, itu klise, tapi Clare berhasil membuat versinya sendiri. Setidaknya, antara Simon dan Jace, Clary bisa belajar untuk milih. Lalu Sebastian atau Jonathan atau siapa pun itu, Clary tidak dengan atas dasar cinta. Jadi kasusnya beda dengan Tessa.

Emma, entahlah, Blogger tetap berpikir dia sama mary-sue-nya dengan Clary. Tapi apa pun yang dia lakukan di TDA, itu karena dia belum sadar dan berusaha menyangkal, beda dengan Tessa yang sadar dan ingin keduanya.

Mengenyampingkan tentang betapa tidak sukanya Blogger terhadap Tessa Gray, jalan cerita The Infernal Devices itu sangat baik. Secara berurutan, serial novel ini Blogger kasih 6, 5, 5 dari 5 bintang. Novel ketiga tetap Blogger kasih nilai lima, karena Blogger seneng bagian akhir dimana ada narasi yang menceritakan soal rumah tangga Will dan Tessa dan itu manis, serta sinkronisasi dengan TMI. Apalagi di edisi yang Blogger punya, pembatas bukunya bagus. Kalau bukan karena hal-hal tersebut, Blogger sudah akan kasih sekitar 4.94, salahkan Tessa ya.